Thursday, June 16, 2016

Di Sini, Polisi Mau Naik Pangkat Harus Bisa Baca Alquran





Polisi yang beragama Islam harus bisa membaca Alquran dengan baik jika ingin mengajukan kenaikan pangkat. Itulah syarat yang ditetapkan di Kepolisian Resor (Polres)  Biak Numfor, Polda Papua. Syarat itu ditetapkan oleh  Kapolres Biak Numfor AKBP H. Hadi Wahyudi. SIK .

Seperti terlihat di foto, tampak Sebanyak 30 personil  polisi  muslim melaksanakan kegiatan mengaji bertempat di mesjid Al Hafidz Polres Biak Numfor yang dibimbing oleh ustadz H. Muh. Adnan. MA, dan diawasi langsung oleh Kabag Ops Kompl Achmad Fauzan. S.Ag.

Menurut  Kapolres Hadi Wahyudi. anggota Polres Biak Numfor yang mengusulkan kenaikan pangkat harus bisa baca Alquran  dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan setiap personilnya. 

Ternyata tidak cuma polisi beragama Islam yang dikenai syarat berkenaan keagamaan. Polisi beragama Nasrani yang mengusulkan kenaikan pangkat harus menguasai khotbah puji-pujian. Saat ini personil yang beragama nasrani sebanyak 58 personil bertempat di gereja Siloam Polres Biak Numfor mengikuti tes membawakan khotbah puji-pujian yang di bimbing oleh Wakapolres Kompol Rudolf Yabansabra. SH dan Kabag Sumda AKP Corry Krey.


Seluruh personil yang akan mengusulkan kenaikan pangkat nampak sangat antusia mengikuti kegiatan tersebut, kutip Humas Polres Biak Numfor.



Polres Biak Nomfor dibawah kepemimpinan Hadi Wahyudi terbilang sering melakukan kegiatan keagamaan untuk perosnilnya. Belum lama ini juga digelar pembinaan rohani dan mental personil Polres dan Subden IV Brimob Biak. 

Bertempat di mesjid Al Hafidz Polres Biak Numfor  Kapolres dan para perwira serta anggota yang beragama islam. giat tersebut dilaksanakan pembacaan Surah yasin yang di pimpin oleh Ustadz H. Muh. Adnan. MA.

Ditempat yang berbeda juga dilaksanakan giat binroh untuk personil yang beragama nasrani bertempat di Gereja Siloam Polres Biak Numfor. Hadir pada giat tersebut Wakapolres  para perwira dan anggota yang beragama nasrani. giat dipimpin oleh Pendeta Niko Zulkifli  dengan judul khotbah Jalan Menuju Surga.


Di tengah pemberitaan perilaku oknum polisi yang kurang baik, terasa sekali terjadi upaya revolusi mental di Polres Biak ini. Semoga benar-benar bisa menguatkan mental para polisi di sana.



Cicip Sate Paling Lezat di Padang





Saat ke rumah makan padang, salah satu menu kuliner favorit saya adalah sate padang. Selain tekstur satenya yang kering dan empuk, juga bumbu satenya nya berbeda dengan bumbu sate kebanyakan di pulau Jawa.

Di kota asalnya, tentu saja sate padang bertebaran di berbagai sudut. Tapi beberapa teman pecinta kuliner di Padang, Suamtera Barat, merekomendasikan saya mencicipi sate paang di Kedai sate Cipta Rasa di Jalan Simpang Kalumbuk.

Dari hotel saya menginap saya harus bergerak ke arah perkampusan Andalas, lalu belok ke jalan kecil tapi ramai dilalui truk pasir. Daerah ini memang dekat sungai yang pasirnya banyak digali. 

Akhirnya saya tiba di pondok sate yang penampilannya sederhana, tapi jumlah kendaraan yang parkirnya lumayan padat. Tanda pondok sate ini memang banyak pelanggannya. aya yang datang berdua, langsung memesan dua porsi sate padang.

Sambil menunggu saya melihat dapur pondok sate ini. Semua peralatannya sedehana khas kuliner tradsional. Ditambah penggunaan arang untuk pembakaran dan penghangatan. Apalagi ketika sate disajikan dengan alas daun pisang.






Saya mencoba mencicipi sate daging sapi yang pipih. Tekstur dagingnya sangat ramah dengan gigi seumuran saya. Yang paling jura adalah bumbu satenya yang meruntuhkan anggapan saya tentang bumbu-bumbu sate padang yang enak di Jakarta dan Bandung. Rasa jahe, lengkuas, kunyit dan cabenya terasa  menyebar di semua bagian lidah saya. Diseruput bumbunya saja pun enak.

Ketupat pelengkap sate pun pulen, enak dicampur dengan bumbunya.Apalagi sate ini disajikan dengan bawang goreng yang gurih dan renyah. Top markotop.

Konon, pondok sate ini merupakan langganan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno sejak lama. Maklum, kediaman orangtua  Pak Gubernur tak jauh dari pondok sate ini. Sayangnya akses jalan tidak dibenahi ya. Padahal dekat dengan kediaman orangtua Gubernur yang jalannya lebih rapi.

(Tulisan dan Foto: Benny Rhamdani)



Inilah 3 Hotel Terbaik di Blitar





Pernah ke Blitar?

Blitar dikenal sebagai tempat Bapak Proklamator Indonesia Ir. Soekarno dikebumikan. Bahkan kota ini dijuluki sebagai kota Proklamator karena begitu melekatnya nama Ir. Soekarno di Blitar.  Terletak di Propinsi Jawa Timur, Blitar salah satu daerah yang memiliki daya tarik dari segi sejarah. Blitar menurut sejarah adalah tempat Laskar PETA (Pembela Tanah Air) melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Saat itu tepatnya pada tanggal 14 Februari Laskar PETA melakukan perlawanan terhadap penjajah Jepang dibawah kepemimpinan Soeprijadi. Itulah beberapa sejarah yang terekam di bumi Blitar. Selain terkenal dengan sejarahnya, Blitar memiliki tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.  Pantai dan Gua adalah beberapa obyek wisata yang dapat ditemui di Blitar.

Pantai Tambak Rejo, Pantai Jolo Sutro, dan Pantai Gondo Mayit adalah beberapa pantai yang memiliki keindahan alam yang asri di Blitar yang marak dikunjungi oleh wisatawan. Sedangkan untuk obyek wisata gua, Gua Embultuk menjadi salah satu yang paling populer di Blitar.

Potensi wisata ini sedikit banyak ikut mengembangkan sektor bisnis perhotelan. Hal ini terbukti dengan terdapat beberapa hotel yang biasa dijadikan tempat menginap wisatawan yang berkunjung ke Blitar. Berikut ini adalah 3 Pilihan Hotel Terbaik yang ada di Blitar yang dapat kamu akses melalui situs Traveloka.

1. Patria Palace Hotel


Patira Palace Hotel adalah salah satu hotel terbaik di Blitar yang dapat kamu pilih untuk dijadikan tempat penginapan. Hotel ini terletak di Jalan Mastrip Nomor 56, Blitar. Lokasi Hotel ini cukup mudah dijangkau karena dekat dengan fasilitas publik di Kota Blitar. Air Terjun Coban Rondo, Museum Angkut, Jatim Park dan Stadiun Kanjuruhan adalah beberapa tempat menarik yang dapat dijangkau dari hotel ini.

Fasilitas yang terdapat di hotel ini antara lain adalah layanan kamar, WiFi, Kafe, Fasilitas Rapat, Fasilitas Komputer/Internet, Ruang Keluarga, Laundry, Resepsionis yang siap melayani selama 24 Jam dan layanan antar-jemput Bandara.

Tarif menginap di hotel ini juga cukup terjangkau, mulai dari Rp300.000 sampai dengan Rp1.000.000/malam. Cukup murah bukan? Tapi tak perlu khawatir, pelayanan yang diberikan cukup prima.

                                      Sumber Foto : traveloka


2. Patria Plaza Hotel


Hotel terbaik lainnya yang recommended di Blitar adalah Patria Plaza Hotel. Hotel ini terletak di Jalan Kartini Nomor 10 Blitar, Jawa Timur. Fasilitas yang ditawarkan hotel ini cukup lengkap, diantaraya layanan kamar, WIFi, Kafe, fasilitas rapat, proyektor yang bisa digunakan untuk keperluan rapat/bisnis, ruang keluarga untuk bersantai bersama keluarga, area bebas asap rokok, TV Kabel, toko, laundry, dan porter.

Hotel ini juga dapat menjangkau beberapa tempat menarik seperti Museum Angkut,Jatim Park, Air Terjun Coban Rondo dan Stadion Kanjuruhan. Tarif menginap yang ditawarkan hotel ini adalah Rp275.000/malam. Sebuah pilihan cerdas bermalam di hotel dengan harga yang terjangkau dan pelayanan yang prima.

                                                                  Sumber Foto : traveloka

3. Hotel Tugu Blitar


Hotel yang satu ini terbilang hotel dengan fasilitas cukup lengkap di Blitar. Hotel yang terletak di Jalan Merdeka Blitar, Jawa Timur ini menyediakan fasilitas antara lain seperti layanan kamar, surat kabar, taman bermain untuk anak, layanan medis, laundry, porter, WiFi, restoran, ruang rapat, Bar, tempat penitipan anak, kafe, salon kecantikan, layanan pijat, dan Spa.

Untuk penyandang disabilitas di hotel ini menyediakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Hotel ini juga menjangkau beberapa tempat menarik seperti Air Terjun Coban Rondo, Jatim Park, Museum Angkut, dan Stadion Kanjuruhan.

Tarif menginap yang ditawarkan di hotel ini mulai dari Rp368.000/malam. Dengan fasilitas yang cukup lengkap tentu menjadi sebuah piliihan cerdas menginap di hotel ini.

                                                          Sumber Foto : tuguhotels

Itulah 3 pilihan hotel terbaik yang cukup populer di Kota Blitar, berdasarkan penilaian situs Traveloka ketiga hotel tersebut mendapat rating diatas 8 dari 10. Hal ini tentu menjadi catatan positif ketiga hotel tersebut di mata para pengunjung yang menginap di hotel tersebut.

Mengunjungi tempat wisata bersejerah, ditambah dengan ke tempat wisata alam seperti Pantai yang terdapat di Blitar akan semakin lengkap dengan menginap di hotel-hotel terbaik. Selain memberikan hak tubuh untuk berisitirahat yang berkualitas, menginap di hotel-hotel terbaik jika cermat dapat menghemat budget sekian persen.

Sunday, June 12, 2016

Ogah Ngabuburit di Mall, Polisi Muda Ini Pilih Jualan Ta'jil




Di beberapa tempat, saya kadang merasa miris melihat pemuda pada Bulan Ramadan malah menyia-nyiakan waktu dengan jalan-jalan ke mal, pinggir pantai, boncengan naik motor tak keruan. Untungnya, masih ada juga yang mengisi waktu ngabuburit dengan ibadah, berbagi, atau berbisnis. Salah satunya adalah seorang anggota brimob muda bernama Asep Setiawan,

Sejak awal puasa, pemuda berusia 23 tahun ini sepulang dinas tak berleha-leha. Polisi berpangkat brigadir polisi dua (bripda) memilih untuk berdagang tajil buka puasa. 

"Sebagai perantau, aku  harus pandai bersosialisasi dengan lingkungan dan perbanyak mencari keluarga atau saudara angkat. Tiga tahun  di sini, aku mengenal ibu kantin di kantor tempatku kerja. Karena aku supel, akhirnya aku jadi dekat dengan  ibu kantin layaknya seorang adik dan kakak. Bahkan aku juga dekat dengan  suami dan anak-anaknya," ucap pria asal Bandung, Jawa Barat ini. Nama kakak angkatnya adalah Rahayu.

Beberapa waktu menjelang Bulan Suci Ramadhan,  Asep bercerita pada Rahayu ingin cari kegiatan  selama bulan puasa setelah pulang berdinas. Rahayu  menyarankan  agar Bripda Asep jualan ta'jil Ramadhan di depan rumah makan dia, Rumah Makan Ayam Pelangi. Bripda Asep sempat bingung apa yang mau dijualnya. Rahayu pun kemudian memberi saran beberapa jenis dagangan.

Bripda Asep tentu tak sanggup menyiapkan semua itu karena harus berdinas. Akhirnya, dia menyerahkan pembuatan gorengan dan agar-agar kepada kakak angkatnya. "Kebetulan Kak Rahayu juga punya rumah makan dan ada dua karyawan yang mau membantu," tambah Bripda Asep.

Lataran posisi kantor dinas dekat dengan tempat jualan, Bripda Asep dapat langsung berubah tuga menjadi pedagang tajil di sore hari. Kadang juga kalau ada piket atau kesibukan di kantor Bripda Asep minta tolong kepada Rahayu untuk menggantikannya  jualan.

Alhamdulillah, pembeli di lapaknya ramai. Bahkan tak sedikit teman kantor Bripda Asep yang jadi langganannya. Apakah tidak merasa gengsi? Masih muda, polisi lagi, jualan ta'jil di lapak? Pertanyaan itu beberapa kali terlontar dari orang yang membeli.

"Saya tidak tidak perlu merasa malu. Selagi kita mencari rejeki yang halal mengapa harus malu?" ucap Bripda Asep. "Memang rezeki yagn dihasilkan tidak seberapa banyak. Tapi  dari pada mgabuburit ke mall nggak jelas, ya mending jualan aja. Bisa nambah rezeki,nambah silaturahmi juga. Alhamdulillah sejauh ini jualannya laris,semoga Berkah. Aamiin," doanya.

Dan lagipula, Bripda Asep tak perlu lagi repot mencari ta'jil untuk berbuka sekarang. Jika masih ada sisa, dia bisa menikmati barang dagangannya sendiri. 

Wednesday, June 8, 2016

Bripda Juan Jelaskan Akun Palsu dan Minta Maaf Kepada Deddy Corbuzzier









Deddy Corbuzzier kembali meradang di media sosial. Pasalnya, rekan kerjanya di sebuah stasiun TV, Chika Jessica,  dilecehkan di akun Instagram. Di akun Chika itu sebuah akun @haris_p_ menuliskan hal yang tidak senonoh. Dan yang membuat banyak pihak gerah, akun itu memasang foto pria memakai seragam polisi.

Tudingan pun mengarah kepada Juan Haris Panjaitan, anggota Polsek Medan Sunggal, sebagaimana yang diakui pemilik akun tersebut.

Sebagai pegiat media sosial, saya tahu bahwa akun itu palsu. Foto-foto yang dipakai akun @haris_p_ mencuri dari akun instagram polisi dengan nama akun @juanhaspari . Mungkin karena foto-fotonya tampak ganteng maka akun @haris_p_ ingin memanfaatkannya.

Saat saya hubungi, Juan Haspari mengaku kaget begitu ada kasus yang melibatkan dirinya di media on-line . "Saya baru tahu ketika ada teman yang ngasih kabar," jelas polisi berpangkat Bripda ini.
  
Setelah mengecek kebenarannya perasaan tak nyaman pun muncul di diri Juan. "Perasaan saya jadi nggak enak tentu saja. Karena pasti ada dampak buruk bagi orang yang nggak tahu kalau itu akun fake (palsu)," tambah Juan.


Lantaran merasa nggak enak perasaannya, Juan pun memasang foto penjelasan sekaligus permohonan maaf kepada Deddy Corbuzier. Sebetulanya sih nggak terlalu  perlu, karena sebenarnya Juan sendiri merupakan korban.

"Saya sarankan buat mereka yang masih memakai akun palsu, sebaiknya jangan diteruskan. Karena itu banyak dampak buruknya bagi yang dipalsuin dan korban, " tutup Juan.

Tuesday, June 7, 2016

Bripda Haekal, Anggota Brimob Pertama yang Jadi Presenter Berita



Wajah polisi ganteng ini tak asing lagi karena kerap tampil di layar kacar. Bripda Handy Aziz Haekal menjadi salah satu presenter dari Polda Metro Jaya yang siaran di TV One. Bagaimana ceritanya anggota Satuan Brimob ini bisa jadi presenter berita ya?

“Awalnya saya sedang tugas di Bandara Soekarno Hatta tiba-tiba ada yang menelepon saya. Ternyata dari Polda Metro Jaya. Saya disuruh merapat ke ruang Media Management Center (MMC) untuk seleksi calon presenter TV .  Saya bingung, soalnya saya belum paham soal presenter. Jadi presenter itu di luar tugas Brimob dan cuma saya yang dipanggil dari  Brimob,” ujar pria berpangkat Brigadir Polisi Dua alias Bripda ini.

Proses seleksi diikuti pria yang biasa disapa Haekal ini. Hasilnya, dia diterima menjadi anggota MMC Polda Metro Jaya. “Proses yg dilalui  pertama dilihat adalah proporsi berat badan  dan tinggi badan, terus harus bisa public speaking juga,” jelasnya.


Haekhal tak langsung bisa muncul di tv. “Sebelum tampil di tv  saya digembleng  oleh para pelatih, yakni Bu Ninik, Pak Darwin, dan Pak Piyus Pope.  Saya senang dilatih mereka karena mereka sangat berpengalaman di dunia entertaint dan merekalah yg melahirkan NTMC Polri.  Para pelatih sangat sabar dan profesional dalam memberikan ilmunya,” tutur pria asal Bekasi, Jawa Barat ini.


 Rasanya pertama tampil di depan kamera  menurt Haekhal  bercampur-campur. “T egang sudah pasti, nervous  apalagi. Tapi  saya mendapat support dari semua rekan-rekan yang bisa membuat saya tampil lebih baik,” kata polisi yang mahir bermain sulap ini.

Di sisi lain, Haekhal tak menampik muncul rasa bangga. “Kebanggaan saya karena bisa menunjukkan bahwa angoota  Brimob pun bisa diandalkan untuk tugas di luar tugas pokok Brimob. Dan setahu saya tuh baru saya anggota Brimob yagn jadi presenter di TV,” ungkap Haekhal yang sempat diminta menurunkan berat badannya empat kilogram sebelum tampil di layar kaca ini.

Sunday, June 5, 2016

Pertaruhkan Nyawa Demi Rp50.000 di Pasia Nan Tigo, Padang


Berebut mengambil keranjang ikan. (Foto: Benny)


Alvin, 23 tahun, berdiri  bersama sekitar belasan orang sebaya dengannya di pinggir pantai Pasia Nan Tigo. Koto Tengah, Padang, Sumatera Barat, Hari masih pagi, dan deburan ombak dari arah  Samudera Hindia begitu tinggi.  Pandangan Alvin dan kuli angkut lainnya sama ke arah satu perahu besar yang menurunkan tangkapan ikannya ke perahu kecil sekitar 1 kilometer dater dari tepi pantai.

Perahu kecil itu kemudian berjuang menepi ke pantai. Tapi tidak mudah karena ombak terus mengombang-ambing, begitu jaraknya hanya 100 meter dari pantai, lusinan kuli-kuli angkut itu berlarian menjemput kapal lecil. Orang-orang di atas kapal mencoba menahan kapal dibantu kuli-kuli di bawahnya. Setelah perahu kian menepi, kuli pun berebut mengangkat keranjang sebagai wadah  ikan tangkapan.

Membawa ke darat. (Foto: Benny)


Santai setelah bekerja sambil menunggu kapal berikutnya. (Foto Benny)


Ada yang berhasil mengangkut, tapi banyak yang dengan tangan hampa lantaran kalah dalam perebutan dan jumlah keranjang tidak sebanyak biasanya. Alvin termasuk yang beruntung kali ini.

"Saya sudah lima tahun lebih jadi kuli angkut ini," ungkap Alvin yang langsung nyebur begitu lulus SMA. Pengalamannya ini, membuat Alvin dianggap ahli dibandingkan teman-temannya yang masih 2-3 tahun mengangkut ikan.

Menaruh keranjang di pelelangan. (Foto: Benny)


Penghasilan Alvin bervariasi antara Rp200.000-300.000 per hari. Semua tergantung perahu kecil yang merapat dan isi tong yang harus diangkutnya ke pantai. Jika tong plastik itu berisi ikan-ikan besar dia bisa mendapat upah sekitar Rp50.000 per angkut. Jika isinya ikan teri bisa di bawah itu.

"Pekerjaan di sini individual. Tidak ada berkelompok. Jadi siapa yang kuat dan cepat dia akan mendapat upah banyak," jelas Alvin.

Melihat resiko yang saya lihat cukup besar, Alvin tak menampik jika jam terbang memang dibutuhkan. "Teman saya ada yang kepalanya kena bentur kapal dan harus dibawa ke rumah skit. Ada juga yang kakinya sobek sampai berdarah banyak," jelas Alvin.

Tentu tak ada asuransi yang menjamin nyawanya dalam pekerjaan ini. Sehingga Alvin harus mengandalkan keahliannya berdasarkan pengalaman. Toh meskipun mengandung resiko, Alvin mengaku suka dengan pekerjaannya. Tak terpikr untuk beralih profesi. "Selama masih gesit dan tenaga kuat saya masih ingin dengan pekerjaan ini. Penghasilannya buat saya sih luamay bisa buat kebutuhan diri sendiri," kata Alvin yang masih lajang ini.

Potensi Wisata


Suasana pasar ikan di Pasia Kandang. (Foto: Benny)



Kehidupan Alvin dan teman-temannya hanya bagian kecil dari wisata nelayan yang bisa saya nikmati di Pasia Nan Tiga. Saya juga bisa melihat aktivitas nelayan yang menjual ikannya kepada pembeli dalam partai besar. Biasanya, pembeli akan mengolahnya jadi hidangan siap makan. Ada juga yang dijual kepada pedagang ikan keliling.

Sebagian lagi dijual di pasar yang disebut Pasia Kandang yang terhubung langsung dengan lokasi kampung nelayan. Bagi warga Padang yang ingin mendapatan ikan segar tentu sangat mudah menemukan aneka jenis ikan. Selama tahu harga standar dan kualitas ikan, tentu tak sulit melakukan transaksi.

Bahkan telur penyu pun dijual di sini. (Foto: Benny)

Umumnya warga yang datang adalah ibu-ibu rumah tangga dalam rangka memenuhi kebutuhan dapaurnya. Ada pria yang belanja telur penyu untuk kebutuhan kesehatan vitalitas, maupun membeli hewan laut yang jarang ditangkap seperti gurita.

Begitu terasa kekayaan alam  Indonesia saat berada di kawasan perkampungan nelayan Dan jenis perkampungan nelayan seperti ini juga sangat potensial bagi wisata daerah tentunya. Karena banyak orang yang belum pernah melihatnya secara langsung, contohnya ya saya ini.

(Foto dan Tulisan: Benny Rhamdani)



Wednesday, June 1, 2016

Mengintip Hukum Cambuk di Aceh





Hukum cambuk di Nanggroe Aceh Darussalam masih terdengar unik bagi sebagian masyarakat Indonesia lainnya, yang belum menerapkan hukuman syariat Islam. Saya kemudian bertanya kepada  Andika Fatahilah, staff Seksi Tindak Pidana Umum, Kejaksaan Negeri Sabang, NAD, untuk mengenal sedikit tentang hukum cambuk ini.

"Masyarakat yang tertangkap petugas dan terbukti melanggar ‘batas’, muda-mudi maupun pria dan wanita dewasa yang bukan muhrim bisa terancam hukuman. Sudah menjadi hukum yang berlaku khusus di Aceh, larangan bagi pasangan yang bukan muhrim berdua-duaan di tempat gelap atas kerelaan kedua belah pihak. Perbuatan ini disebut khalwat/mesum," jelas Andika. "Selain khalwat, ada lagi larangan melakukan perbuatan pidana yang disebut maisir/judi dan meminum khamar/minuman keras."

Pihak Kejaksaan sebagai eksekutor akan berkoodinasi dengan Dinas Syariat Islam agar mempersiapkan podium atau panggung yang biasanya di halaman atau pekarangan masjid untuk  prosesi hukuman cambuk.

"Para terdakwa akan dijemput di rmah tahanan dengan mobil tahanan kejaksaan kemudian digiring ke lokasi elaksanaan hukuman cambuk. Di sana turut hadir unsur Muspida, pejabat terkait, polisi, dokter, dan juga dari Satpol PP,  juga WH (Wilayatul Hisbah) atau polisi syariat," lanjut pria pemilik akun instagram @dikagoka ini.

Jaksa penuntut umum akan menunjuk algojo dalam eksekusi cambuk tersebut. Terdakwa terlebih dahulu diperiksa kondisi kesehatannya oleh tim dokter.

"Sebelumnya telah dilakukan persidangan di mahkamah syariah dan di situ pula ditetapkan jumlah hukuman cambuk yang akan diterima terdakwa berdasarkan keputusan hakim yang berpedoman dari tuntutan jaksa penuntut umum," tambah Andika.


Jaksa Penuntut Umum membacakan hasil keputusan sidang dari Mahkamah Syariah. Yang dibacakan didepan khalayak ramai. Hukuman cambuk biasa nya dilaksanakan setelah Shalat Jumat, dan disaksikan oleh seluruh masayakat sekitar.

Begini urutan prosesinya:

-. Terdakwa di panggil untuk menuju panggung mengenakan baju putih.

-. Setelah tiba di atas panggung, lalu Jaksa Penuntut Umum akan memanggil algojo.

-. Setelah terdakwa dan algojo dia atas panggung tiba.

-. Jaksa Penutut Umum akan memerintah kan algojo untuk menyambuk terdakwa sesuai dengan aba-aba.

-. Di depan Unsur Muspida, Para Pejabat, dan masyarakat yang hadir menyaksikan.

-. Sesuai dengan aba-aba dari Jaksa Penuntut Umum sang algojo mendaratkan pukulan rotan yang telah disediakan ke bagian punggung para terdakwa sesuai dengan jumlah cambukan yang telah ditetapakan.

-. Setelah cambuk selesai para terdakwa kembali digiring ke tempat pemeriksaan dan dilakukan pemeriksaan oleh tim dokter.

 "Biasanya  masyakat antusias ingin menyaksikan siapa pelanggar syariat yang dicambuk. Untuk mencegah anarkisme masyarakat dan juga hal-hal yang tidak diinginkan, hadir pula polisi dan TNI," papar Andika.

 Tentu ada batasan dan pengawasan untuk proses hukum cambuk ini. Anak-anak dilarang menyaksikan kegiatan tersebut karena mengandung unsur kekerasan.


Foto-foto:  Andika Fatahilah

Tuesday, May 31, 2016

Lima Alasan Bertandang ke Jembatan Siti Nurbaya di Padang









Saat bertandang ke Padang, Sumatera Barat, seorang teman menyarankan saya untuk mampir ke Jembatan Siti Nurbaya di malam hari jika cerah. Saya belum tahu alasan teman saya menyuruh saya mampir ke sana. Tapi begitu browsing, ternyata lokasinya sangat dekat dengan hotel menginap, saya pun memutuskan ke sana.


Akhirnya, saya menemukan kesimpulan lima alasan jembatan sepanjang 165 meter ini pantas dikunjungi.


Latar Novel

Jembatan ini membentang di atas Sungai/Muara Batang Arau yang menghubungkan kota Padang dan wilayah Seberang Padang. Jika dilanjutkan belok ke kanan bisa menuju Gunung Padang yang merupakan latar cerita kisah Siti Nurbaya karangan Marah Rusli.

Teman saya tahu bahwa saya merupakan penggemar sastra, sehingga bisa merasakan setting berlangsungnya cerita Siti Nurbaya. Bahkan terdapat makan Siti Nurbaya di dekat area tersebut. Bukankah Siti Nurbaya karya fiksi?


Jadi begini, kebetulan tempat saya bekerja menerbitkan buku kedua karya Marah Rusli, bertajuk Memang Jodoh. Dalam wasiat kepada ank-anaknya, Marah Rusli hanya mengizinkan karyanya itu diterbitkan jika semua tokoh di dalam karyanya meninggal. Banyak yang berpendapat Siti Nurbaya pun ditulis berdasarkan kisah nyata.  Mungkin iya atau tidak.


Kuliner


Saya datang dua kali ke jembatan ini, malam hari dan pagi. Pada malam hari jembantan ini sesak oleh motor dan mobil yang parkir, tidak hanya dari Padang, tapi juga provinsi lain. Sambil melihat lampu-lampu perahu, pengunjung bisa makan kuliner setempat, mulai dari jagung bakar sampai pisang bakar.

Saya memilih pisang bakar. Pisang yang digunakan pisang kepok, dan dibakar memakai arang tempurung. Aromanya membuat saya lapar mendadak. Setelah dibakar, pisang dipipihkan dan ditaburi meisis dan keju. Rasanya cocok dengan suasana malam di jembatan.

Latar Foto


Beberapa orang saya lihat juga berfoto bersama ataupun memoto keadaan sekitar.  Waktu terbaik sebenarnya saat sore yang cerah dan matahari akan tenggelam. Sayangnya saya tidak mendapat momen ini karena kota Padang sepanjang sore terus diguyur hujan.

Perpaduan bukit, jembatan, kehidupan muara memang sangat menarik untuk ditangkap kamera. 


Kota Tua

Pesona kawasan sekitar Jembatan Siti Nurbaya adalahbangunan-bangunan tua zaman Belanda. Mulai dari Jalan Pondok, Niaga, Kelenteng hingga jalan Batang Arau di dekat jembatan merupakan kawasan kota tua Padang. Di kawasan ini saya melihat kelenteng dan masjid yang umurnya sudah sangat tua.

Kaum pendatang seperti Tionghoa, Nias, Mentawai dan Batak banyak bermukim di sini.


Oleh-oleh


Di turunan Jembatan Siti Nurbaya kita akan melihat sebuah pusat oleh-oleh terkenal, yakni keripik balado Christine Hakim. Tentu saja kios oleh-oleh lainnya bertebaran. Bagi yang ingin oleh-oleh lain juga tersedia di sini.

^_^






Monday, May 30, 2016

Es Krim Tempurung Cantik Ini Bikin Betah di Pantai Pariaman







Duduk di pinggir Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatera Barat, belum lengkap tanpa menikmati kuliner satu ini. Namanya Es Krim Tempurung. Penampilannya sangat cantik. Rasanya juga cocok di lidah sambil memanjakan mata melihat keindahan pantai.

Saya menemukan kedai es krim ini di antara barisan kuliner di Pantai Gandoriah saat haus-hausnya karena terus bejalan menelusuri pantai. Saya lagsung tertarik melihat standing banner yang terpampang di depan kedai, dan segera memesannya.


Bu Tini yang menerima saya langsung membuatkan pesanan kami. Pertama, dipilih satu butir kelapa muda, lalu dibelah dua. Daging kelapa kemudian diserut dan dipisahkan. Barulah tempurungnya digunakan sebagai cawan es krim vanilla. Tidak cuman es krim, daging kelapa yang tadi dicampurkan dengan kolang-kaling, potongan pudding, meisis warna-warni, dan wafer cokelat.


Saya menyukai penampilannya. Dan begitu mencicipi es krimnya saya langsung suka suka. Pasalnya, es krim yang disajikan rasa manisnya pas buat ukuran saya. Tidak terlalu manis. Kolang-kaling membuat tekstur sendiri dalam mengunyah es krim. Sementara rasa wafer dan meisis cokelat memeprkaya rasa es krim ini.

Sungguh saya menyukainya seingga mampu menghabiskan sajian nikmat ini. Padahal biasanya saya kurang begitu suka daging kelapa serut. Tapi karna kelapa muda dan teksturnya lembut, saya malah nyaris ingin memesannya untuk dibawa ke Bandung. Tapi nggak mungkin sepertinya.

Bu Tini menjelaskan, varian es krimnya sudah dijualnya selama satu tahun. Dia berani mengklain sebagai penjual es krim pertama di Sumatera Barat. "Kami pernah lihat juga di televisi ada yang membuat seperti ini di Surabaya. Tapi dia memulainya baru tiga bulan," jelas Bu Tini.


Ada lagi yang bikin istimewa kuliner ini, air kelapanya tidak dibuang. Melainkan disajikan kepada pelanggan disebuah gelas dengan es batu. Rasanya ... bikin nagih.

Saat saya meningalkan dan membayar, harganya pun relatif murah Rp.12.000. Siapa yang nggak pengen borong buat oleh-oleh coba?