Thursday, May 3, 2012

[Travelling] Jalan-jalan di 3 Kota Italia (2)


Tujuan utama saya adalah mengunjungi kota Bologna yang tengah mengadakan ajang tahunan Bologna Children’s Book Fair. Namun pesawat KLM yang saya tumpangi, hanya membawa sampai kota Milan. Begitu tiba di bandara Malpensa dan melewati imigrasi, rasanya lega karena penerbangan lebih dari 20 jam dari bandara Soekarno Hatta, singgah di Kuala Lumpur dan Amstredam, akhirnya berujung juga.



Naik KLM yang pertama kali ini, sedikit mengagetkan. Pramugarinya jauh dari bayangan orang Indonesia kalo disebutkan kata 'pramugari'. Tidak cantik, tidak muda, dan tidak langsing. Untungnya tidak menggigit pula. 

Saya harus ganti pesawat di Bandara Schipool, Amsterdam sebelum turun di Bandara Malpensa, Milan. Serunya, saya bisa ngiter-ngiter dulu di Amstredam karena transit 5 jam ini. Hayahhhh, nggak mau rugi banget ya.

Dua anjing pelacak yang membaui koper saya setelah mengambil bagasi sempat membuat saya bingung. Apakah raginang kering dan penganan gurilem khas Bandung membuat mereka mencurigai saya? Untunglah mereka mengizinkan saya melewati pintu keluar.

Sebenarnya saya ingin merasakan sensasi petulangan keluar bandara sendiri, tapi teman saya di Milan wanti-wanti akan menjemput saya. Maka saya urung naik kereta ekspres dari Malpensa menuju stasiun Milan.

Kota Kelabu, Surga Belanja

Keluar dari Malpensa, saya melintasi jalan tol yang diselimuti kabut dan sisa gerimis. Pepohonan masih mengering karena musim semi baru saja tiba. Pabrik dan gudang menandakan saya akan memasuki sebuah kota industri. Begitu keluar jalan tol, saya merasakan suasana yang sepi di kota Milan. Bangunan-bangunan berwarna kelabu, membuat suasana seperti kota mati. Padahal saya tiba pada hari Minggu.

Dina Adam, Warga Milan keturunan Indonesia, menjelaskan kebiasaan warga Milan beristirahat di rumah atau pergi ke luar kota setiap akhir pekan membuat Milan jadi tampak sepi. Belum lagi dampak krisis Eropa yang terasa benar hingga ke Milan. Sejumlah toko justru tutup di akhir pekan karena pemiliknya enggan membayar uang lembur yang lebih besar dari upah di hari kerja.


Bahkan, ketika berkunjung ke kawasan Republica untuk menyeruput kopi di sebuah kafe yang direkomendasikan, ternyata kafe itu tutup. Akhirnya, untuk melihat keramaian Milan, satu-satunya cara adalah menuju kawasan Piazza del Duomo.

Di Duomo, suasana kota benar-benar terasa karena mulai melihat banyak orang. Jalan yang bebas mobil, membuat siapapun bebas berlalu lalang. Di kedua sisi jalan, toko-toko menjual aksesoris, pakaian, sepatu, tas, dan perlengkapan busana bermerk papan atas lainnya. Semua memamerkan koleksi terbarunya. Benar-benar melambangkan Milan sebagai kota fashion.

Ketika memasuki toko LV, saya benar-benar takjub dengan interior dan pelayanannya. Yang agak mengejutkan lagi, ternyata mayoritas pembeli barang-barang luks ini adalah warga Asia. Alasan mereka, selain harganya lebih murah di Milan, koleksi terbaru lebih lengkap, juga akan mendapat pengembalian pajak yang bisa diklaim di airport.

“Padahal, warga Milan sendiri jarang beli barang-barang mewah itu. Kalau pun beli tas yang harganya mahal itu, paling seumur hidup sekali,” jelas Riska Wulandari, yang sudah setahun menikah dan menjadi warga Milan.

Saya sempat mengantar Dina Adam yang berbisnis tas-tas mewah itu ke beberapa toko. Baru tahu juga, kalau warga asing hanya boleh membeli  maksimal tiga tas. Walau akhirnya dengan bujuk rayu, bisa juga jadi empat tas. Dan entah mengapa, saya melihat wajah-wajah Asia bekerja di outlet-outlet ternama itu. Terutama sebagai kasir. Jangan-jangan karena pembelinya kebanyakan dari Asia.



Selain melihat toko dan kafe, di Duomo kita juga bisa melihat beberapa bangunan bersejarah. Sebut saja gereja San Carlo al Corso yang merupakan bangunan neoklasik di pusat Milan. Yang menakjubkan, kita juga bisa melihat gereja Katedral Milan yang kabarnya gereja katedral terbesar ke empat di dunia.

Katedral Milan dibangun berdasarkan ide bangsawan Milan bernama Gian Galeazzo Visconti yang memiliki usaha marmer. Dia bertekad membuat katedral yang seluruhnay terbuat dari marmer. Pembangunan dimulai pada 1368. Marmernya diambil dari tambang marmer milik Visconti di Gunung Candoglia yang berjarak 50 km dari Milan. Karena sulit diangkut lewat darat, maka digunakanlah kanal-kanal di Milan untuk mengangkut marmer.

Ketika melihat gereja yang memiliki ornament menarik, yang terbayang adalah betapa sibuknya dulu ketika masa pembangunan. Dan betapa hebatnya orang-orang di masa lalu itu membuat bangunan semegah ini, padahal belum tentu mereka bisa melihat bentuk bangunannya kelak. Mereka benar-benar memikirkan agar bangunan yang mereka buat bisa dinikmati orang-orang hingga beratus tahun kemudian.

Di depan Katedral, terbentang alun-alun yang biasa dipakai para turis berfoto-foto. Walaupun berada di Eropa, berhati-hatilah dengan dompet kita. Banyak sekali copet yang lihai. Jadi, waspadai dompet, ponsel dan kamera. Tidak hanya copet, kita juga akan bertemu sejumlah pedagang kaki lima yang berjualan dengan gaya manis tapi memaksa. Umumnya mereka adalah imigran dari daerah Maroko.

Saya sendiri melihat seorang pedagang gelang yang menawarkan dagangannya seolah-olah gratis demi persaudaraan dan perdamaian. Tapi bila kita memegangnya, mereka dengan sikap memaksa akan meminta kita membayar dengan harga 10 euro.

Di kawasan ini juga jangan kaget bila menemukan sejumlah pengemis menghampiri saat kita makan. Mereka tidak pura-pura cacat atau berpakaian lusuh. Tapi dari penempilan mereka, kita tahu bahwa umumnya pengemis di Milan adalah kaum Gipsi.

Tak jauh dari di depan gereja, terdapat sebuah bangunan besar Galleria Vittorio Emanuele II. Di lantainya terdapat mozaik bergambar banteng. Konon, jika kita bisa berputar 360 derajat tanpa jatuh tepat di atas testis bantengnya, kita akan kembali lagi ke Milan tahun berikutnya. Upaya menarik untuk atraksi turis.

Karena senja makin larut, saya menghabiskan sisa hari dengan mengunjungi Castello Sforzesco dengan air mancur yang indah di depannya. Rumah bangsawan Milan yang dibangun abad ke14 ini, kini digunakan sebagai museum penyimpanan karya seni berharga seperti pahatan terakhir Michelangelo the Rondanini PietĂ , karya Andrea Mantegna Trivulzio Madonna and manuscript Leonardo da Vinci Codex Trivulzianus.

Masjid Milan

Sebelum ke kawasan Duomo, saya diantar teman-teman dari  Indonesian Trade Promotion Centre mengunjungi sebuah masjid di Segrate, Milan. Hampir setengah jam perjalanan ke luar pusat kota. Masjid bernama Al Rahman ini merupakan mesjid dengan kubah dan menara pertama di itali setelah mesjid terakhir dirobohkan di Lucera pada abad ke14.  Masjid yang diresmikan 28 Mei 1988 ini sekaligus menjadi pusat kegiatan umat muslim di Milan.

Bahagia sekali ketika bisa shalat ashar di Al Rahman, karena kunjungan ke Italia lebih banyak melihat bangunan gereja. Apalagi ketika bertemu belasan muslim Italia yang tengah belajar  di salah satu ruangan bangunan masjid. Al rahman memang menjadi pusat belajar agama islam, dan bahasa Arab.


Menurut Ali Abu Syaima, Imam Al Rahman, jemaah masjid dari kota Milan berjumlah 200 orang. Tidak hanya imigran, tapi juga penduduk asli.  Jumlah ini terus meningkat karena di Italia selama tiga tahun terakhir saja sudah bertambah 2000 pemeluk baru agama Islam. “Dan kebanyakan para mualaf adalah dari kaum muda yang ingin memeluk agama Islam karena kemauannya sendiri,” jelas Ali Abu Syaima saat dijumpai. 

Dijelaskan pula, bahwa warga muslim, khususnya muslimah di Milan juga berpakaian mengikuti perkembangan mode di Milan. Mereka kebanyakan tidak mengeksklusifkan diri dengan yang berwarna gelap dan tertutup rapat. “Yang pasti masih sesuai ajaran islam,” ucapnya.

(nyambung)