Wednesday, June 20, 2012

[Travelling] Bologna si Kota Merah


(sebagian tulisan ini dimuat di majalah NOOR edisi JUNI  2012)



Bologna: Kota Tua Tapi Keren

Jangan mengaku editor buku anak jika belum pernah ke Bologna Children’s Book Fair.

Kalimat itu saya temukan beberapa tahun silam di sebuah blog milik seorang editor buku anak. Sejak itu saya bermimpi mendatangi kota Bologna, Italia. Alhamdulillah, kantor penerbit tempat saya bekerja menugaskan saya mengunjungi pameran buku tingkat Internasional yang digelar pada 19-23 Maret 2012.

Perjalanan ke Bologna merupakan kunjungan pertama saya ke benua Eropa. Hampir 20 jam penerbangan dari Jakarta karena harus singgah di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, dan Bandara Schipool, Belanda. Pesawat singgah di Milan, Italia, dan saya masih harus meneruskan dengan kereta api cepat sekitar satu jam lebih. Di atas kereta cepat dengan tiket seharga 42 Euro ini,  mata saya dihibur dua pemandangan yang berbeda.  Awalnya, saya melihat kawasan industri Milan, semakin mendekati Bologna saya dapat menikmati hamparan tanah pertanian dan rumah-rumah pedesaan yang menawan.

Kota Merah

Saya tiba di Bologna menjelang pukul 11.00. Musim semi di Bologna memudahkan saya menyesuaikan diri karena suhu udara yang masih sama dengan kota tempat tinggal saya, Bandung, saat subuh. Begitu ke luar dari stasiun kereta Bologna Centrale, saya langsung disambut bus-bus umum dan bangunan berwarna kemerahan.

Bologna adalah ibu kota provinsi Emilia-Romagna. Dikenal para traveler sebagai kota paling cantik di Italia utara. Bangunan bata merah terakota dengan atap khas, serta serambi berpilar menjadi ciri utama kota. Di Bologna juga terdapat universitas Bologna yang merupakan universitas tertua di dunia. Dominasi bata merah membuat Bologna juga sering disebut Kota Merah
 
Hotel yang saya pesan melalui Internet ternyata tidak berada di dalam kota. Saya masih harus naik bis sekitar 45 menit dari Stasiun Centrale (stasiun pusat kereta), sementara info yang dseibut di Internet hanya ditempuh dalam 10 menit. Ketika bertanya melalui  telepon ke hotel, saya diminta naik bis dari depan stasiun ke arah Centro lalu berganti bis lagi dengan no rute 96. Keinginan naik taxi muncul, tapi saya tepis karena hasrat berpetualang saya.

Saya berjalan seratus meter sambil menarik koper dan menggendong satu ransel. Saya menghampiri halte dan mencoba memahami petunjuk rute bis. Namun upaya ini sia-sia karena semua petunjuk dalam bahasa Italia, dan saya tak mengerti sama sekali dengan nama area yang ditulis.

Saya bertanya kepada beberapa orang di sekitar rute bis ke kawasan Pianoro, namun tak ada yang dapat menjawab dengan pasti. Mereka bingung karena tidak tahu kawasan tersebut, dan tidak mengerti bahasa Inggris. Orang terakhir yang saya tanyai adalah warga Itali keturunan Sudan.  Pria bernama Icheem ini tak hanya menjelaskan, tapi mengantar saya ke terminal bis luar kota, membeli tiket, dan menunjukkan bis yang harus saya tumpangi. Dia begitu baik ketika tahu saya berasal dari Indonesia dan sesama muslim.

Setelah menyimpan tas bawaan dan membersihkan badan, saya kembali menuju pusat kota karena ada pertemuan yang harus saya hadiri. Untunglah halte bus tak jauh dari hotel. Untuk meyakinkan diri, saya bertanya kepada front officer tentang bus yang harus saya tumpangi. Penjelasannya cukup membuat saya mengerti.

Persoalan justru datang ketika saya naik bis rute 96. Semestinya saya sudah membeli karcis bus sebelum naik. Alhasil saya seperti penumpang illegal. Saya mencoba bertanya cara membeli karcis kepada teman  melalui ponsel. Katanya, jika di bus tidak ada, sebaiknya segera turun di halte berikutnya. Jangan sampai saya kena razia.

Begitu tiba di sebuah halte di kawasan yang cukup ramai saya pun bergegas turun dengan tangan berkeringat. Pfuih, selamat. Teman saya langsung meminta saya mencari kios Tabaccheria, sejenis jaringan minimarket, untuk membeli karcis bis. Setelah berjalan 1 kilometer, akhirnya saya menemukannya dan membeli 20 karcis sekaligus. Saya tidak mau jadi penumpang illegal lagi di bologna. Harga tiket sekali perjalanan adalah 1,5 euro.

Saya pun melanjutkan perjalanan dengan bus rute yang sama dan turun di Via Farini yang juga akhir trayek bus tersebut. Saya benar-benar takjub melihat gedung-gedung tua dengan selasar berpilar yang juga berfungsi sebagai trotoar. Bangunan-bangunan itu berisi toko-toko yang menjual barang bermerk terkenal. Tentu saja harganya juga selangit, sangat tidak bersahabat dengan isi dompet saya.

Saya takjub juga dengan warga setempat yang terbiasa berjalan kaki untuk jarak jauh dan dengan langkah cepat. Sementara saya sudah merasa perlu istirahat untuk mengatur napas setelah berjalan beberapa ratus meter saja. Saya istirahat sejenak di taman  Piazza Cavour. Di taman seluas setengah lapangan bola ini  ini berdiri patung dada Carlo Monari (1831-1918), seorang pahlawan unifikasi Italia. Di seberang taman saya juga dapat menikmati keindahan bangunan tua Bank Italia.

Di taman inilah saya bertemu dengan pria Spanyol, Roberto, yang mengira saya orang Filipina. Begitu saya 
 menyebut berasal dari Indonesia, dia langsung menyapa,” Apa kabar?”. Ternyata Roberto pernah tinggal di Indonesia selama tiga bulan belasan tahun silam.

Roberto cukup sering ke Bologna, sehingga saya mendapat pemandu wisata gratisan keliling kawasan kota tua Bologna. Tujuan pertama adalah kawasan alun-alun Bologna yang disebut Piazza Maggiore. Saya aman terkesan tidak hanya dengan bentuk bangunan yang besar-besar, tapi juga tingginya menara-menara di sekitar. Apalagi melihat kemegahan gereja San petronio Basislica yang sedang dipugar.


Menurut Roberto, menara adalah simbol kekayaan para bangsawan pada masanya. Selain itu, menara juga menunjukkan keinginan manusia untuk semakin mendekati Tuhan.

Di alun-alun saya menemukan café di teras, yang tentu saja harganya selangit. Saya juga melihat sejumlah turis Asia, pengemis dan pengamen. Tentu saja saya bisa melihat sejumlah aktivitas mahasiswa karena masih satu area dengan Universitas Bologna. Saya sempat heran ketika melihat beberapa anak muda mengenakan mahkota daun dan dikerjain teman-temannya. Ternyata itu adalah salah satu cara untuk merayakan kelulusan.

Pengamen di sekitar Piazza Maggiore juga bukan sembarangan. Kebanyakan bertampang keren dan benar-benar mahir bermusik. Rupanya, sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa jurusan musik yang sedang berlatih. Maklum, kalau latihan di apartemen, bisa-bisa diprotes tetangga sebelah. Lagi pula, bermain musik di area publik, bisa sekaligus untuk menempa mental mereka.


Lepas dari Piazza Maggiore, Roberto menunjukkan saya patung dan air mancur terkenal Fontana di Nettuno. Patung perunggu Neptunus itu berdiri sejak 1567. Wuah, saya benar-benar kagum dengan warga Italia yang bisa menjaga peninggalan nenek moyang mereka. Oh iya, saya juga sempat mencicipi air dari kran di bawah patung Neptunus yang berwibawa itu, walaupun tanpa mitos yang minum air akan awet muda.
Banyak sekali monumen-monumen bertebaran di Bologna, mulai dari abad pertengahan sampai masa unifikasi Italia. Dan semua tampak terawat dengan baik.

Bologna Children Book Fair
Kunjungan utama saya ke Italia adalah Bologna Children’s Book Fair (BCBF). Untuk apa saya pergi jauh-jauh ke Bologna semata melihat pameran buku anak-anak? Pameran buku ini jelas berbeda dengan pameran buku lainnya. Di sini bukan ajang bursa buku seperti pameran buku di Indonesia, namun ajang bertemunya penulis, ilustrator, editor, penjual dan pembeli hak penerbitan buku, percetakan sampai pustakawan dari seluruh dunia.

Di usianya yang ke 49 tahun ini, BCBF menghadirkan 1200 peserta pameran dari 66 negara di dunia. Luas arena lebih dari 20.000 meter persegi, dan benar-benar membuat kaki kita pegal jika hanya mengunjunginya dalam satu hari. Untungnya, saya bisa menemukan café dan resto di beberapa sudut meskipun dengan harga berlipat jika kita jajan di luar.

Dari hotel tempat saya menginap di kawasan Pianoro, saya harus dua kali naik bus umum dengan harga tiket 1,5 euro per perjalanan. Begitu tiba di kawasan Piazza Costituzione, saya turun di halte tepat di gedung pameran. Setelah melewati pintu pemeriksaan kartu masuk, saya langsung tiba di ruang pameran ilustrasi buku anak-anak. Aturan memasuki BCBF sangat ketat, usia di bawah 18 tahun tidak diperkenankan masuk.

Sangat menyenangkan cuci mata di arena ini. Kita dapat melihat aneka jenis ilustrasi dengan gaya berbeda dari beberapa negara. Di arena ini kita juga bisa melihat karya pemenang Bolognaragazzi Award 2012 yang menarik.  Bolognaragazzi Award diberikan untuk kategori buku fiksi, nonfiksi, horizon baru (Arab, Amerika Latin, Asia, dan Afrika), karya pertama, dan yang terbaru untuk buku aplikasi digital.

Untuk kategori ilustrasi fiksi pemenangnya adalah Le Secret D‘Orbae (Belgia), yang menurut juri pengerjaan pengemasan craft dan ilustrasinya cocok dengan alur cerita, lalu Saltimbanques (Prancis), dan The Secret River (AS). Kategori nonfiksi pemenangnya adalah Wszystiko Gra (Polandia), Masque (Prancis), Orani (AS) dan Line Up for Yesterday (AS).


Di area yang sama saya juga bisa melihat stand khusus untuk negara kehormatan acara BCBF. Tahun ini jatuh ke Negara Portugal. Saya berharap, Indonesia bisa menjadi Negara kehormatan pada tahun-tahun mendatang.

Kunjungan saya berlanjut menemui beberapa literary agent (agen hak penerbitan buku) dan juga penerbit.  Agen hak penerbitan buku adalah lembaga jasa yang menjembatani penerbit yang ingin mendapatkan hak terjemahan dengan beberapa penerbit buku asli. Dua agen yang saya temui adalah dari Thailand dan Korea.

Setelah itu, saya mulai menyambangi stand-stand penerbit yang ditata rapi. Sekali lagi, di sini para peserta pameran tidak menjual buku, tapi hak terbit ke Negara lain. Jadi, saya tidak bisa mendapatkan fisik buku langsung. Jika ada buku yang saya minati, mereka akan mengirimkan bukunya dalam format PDF melalui e-mail. Paling yang bisa kita dapatkan hanyalah katalog.

Pengalaman ini berbeda dengan yang pernah saya dengar dari seorang editor senior yang bertandang ke BCBF 7 tahun silam. Dulu, editor sepulang dari BCBF selalu over bagasi sehingga harus mengeluarkan uang ekstra. Kalau pun saya mau meminta fisik buku yang mereka pamerkan, saya diminta menunggu sampai penutupan pameran. Karena para peserta pameran pun enggan membawa buku-buku mereka ke dalam bagasi.

Lantas, untuk apa mendatangi BCBF jika semua bisa dilakukan melalui Internet sekarang? Hal penting yang saya dapatkan sebagai editor dan juga penulis buku anak adalah silahturahmi  dengan insan perbukuan dunia melalui tatap muka terasa berbeda jika hanya dengan Internet. Dengan bertemu langsung juga bisa membangun kepercayaan dan kredibilitas. Bukan hanya untuk saya dan tempat saya bekerja, tapi juga Indonesia.

“Bagi saya penting sekali bertemu langsung dengan para editor dari negara asing. Kedatangan mereka bisa jadi keseriusan untuk berbisnis,” kata Kavi Meswania dari sebuah penerbitan buku anak di Inggris.

Selain stand penerbit, saya juga menemukan stand yang disewa secara kelompok dengan bendera satu Negara. Di dalam stand itu akan ditemui beberapa penerbit dari Negara tersebut. Satu-satunya Negara dari Asia Tenggara yang ikut serta adalah Malaysia.

Saya sempat miris, karena Indonesia tidak membuka stand di sana padahal  Indonesia punya IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). Saya sangat yakin, buku-buku anak penerbit Indonesia jauh lebih bagus dan memiliki nilai jual ketimbang dari negeri jiran tersebut.

 Agenda Padat

 Hal yang juga tidak bisa diabaikan kepentingannya selama di BCBF adalah mengikuti seminar, workshop, jumpa penulis hingga peluncuran buku. Setidaknya dalam sehari ada 20 acara di beberapa sudut. Tentu saja saya tidak bisa mengikuti semua acara. Paling tidak, dari satu-dua acara  saya bisa belajar cara mengemas acara-acara perbukuan anak agar menarik peserta.

Paling menarik adalah pengumuman pemenang The Astrid Lindgren Memorial Award ke 10. Astrid Lindgren adalah penulis buku anak berkebangsaan Swedia yang karyanya berjudul Pippi si Kaos Kaki panjang sangat melegenda di seluruh dunia. Pengumuman sendiri berlangsung di Vimmerby, kota kelahiran Astrid Lindgren, tapi disiarkan juga di ruang khusus di BCBF.

Tahun ini pemenangnya adalah Guus Kuijer dari Belanda. Penulis berusia 70 tahun ini telah menerbitkan 30 judul buku dan sudah diterjemahkan ke 10 bahasa. Saya berharap bisa memenangkan award ini suatu hari nanti, karena Astrid Lindgren banyak menginspirasi saya sebagai penulis buku anak.

Acara BCBF ini tidak hanya digelar di dalam arena. Di beberapa sudut kota Bologna juga digelar acara terkait BCBF. Acara launching seri-seri baru penerbit dari Amerika misalnya, digelar di Hotel Baglioni disertai acara makan malam. Tak jauh dari patung air mancur Neptunus, kita bisa memasuki tenda besar penjualan buku-buku anak Italia dengan harga diskon.

Itu pun tidak membuat semua orang yang tinggal di Bologna tahu tentang BCBF. Edwin Erlangga, mahasiswa Universitas Bologna jurusan Sastra Italia asal Bandung baru mengetahui keberadaan BCBF tahun ini. Padahal sudah tinggal dua tahun di Bologna. “Tahun depan saya pasti akan datang lagi,” kata Edwin yang menjadi pemandu saya selama di Bologna.

Ya, saya pun berharap tahun depan bisa datang lagi ke BCBF. Bahkan kalau bisa setiap tahun. Banyak sekali oleh-oleh ide sepulangnya.


 Megahnya Sala Borsa

Tidak heran jika ajang Bologna Children’s Book fair menjadi perhatian dunia. Di Bologna, budaya membaca buku sangat kuat. Hampir di setiap perjalanan, saya menemukan berbagai jenis perpustakaan. Mulai dari perpustakaan sekolah, perpustakaan gereja, perpustakaan wilayah.  Satu perpustakaan yang membuat saya ingin masuk ke dalamnya adalah Biblioteca Sala Borsa.

Sala borsa berada di kawasan Palazzo d’Accursio, hanya beberapa meter dari patung air mancur Neptunus yang terkenal itu. Ketika saya masuk, banyak anak-anak balita yang ikut masuk. Ternyata selain menyimpan koleksi multimedia, perpustakaan ini juga memiliki ruang penitipan anak. Di penitipan itu saya lihat koleksi buku untuk balita yang sangat lengkap.

Saya sempat terbelalak melihat luasnya perpustakaan. Di sebagian lantai dasar, sekitar 400 meter persegi lantainya terbuat dari kristal tembus pandang, sehingga saya bisa melihat reruntuhan tembok kota masa kerajaan Roma. Tak heran jika perpustakaan ini juga sering disebuat museum arsitektur Roma.
Sebelum menjadi perpustakaan, Sala Borsa pernah menjadi  kantor beberapa bank. Setelah perang dunia, sempat pula menjadi lapangan olahraga indoor untuk bola basket dan tinju, dan kemudian menjadi kantor bursa efek. Namun, sejak 2001 pemerintah setempat menjadikan bangunan tersebut sebuah perpustakaan lengkap empat lantai ke atas dan masih ada ruang bawah tanah yang biasanya dipakai untuk aktivitas anak-anak usia 9-14 tahun.

Selain membaca dan meminjam buku, pengunjung bisa menikmati koleksi DVD, majalah, Koran terbaru, juga akses Internet. Di lantai empat kita dapat melihat rencana tata ruang kota, juga beberapa ruang diskusi dan presentasi.

Seandainya saja ada perpustakaan semegah ini di Indonesia, saya ingin menjadi yang pertama masuk ke dalamnya.

(benny rhamdani)