Friday, September 28, 2012

[Traveling] Di Ketinggian Ciburial

Sehari  di Ketinggian Ciburial

Oleh Benny Rhamdani, traveler tinggal di Bandung

Jangan hanya keluar masuk factory outlet bila berwisata ke Bandung, Jawa Barat. Masih banyak  pilihan obyek wisata yang menarik, mulai dari wisata kuliner, sejarah, pertanian, hingga kesenian. Coba melangkah ke utara kota Bandung, menuju kawasan  Ciburial, Kabupaten Bandung.

Desa Ciburial selain merupakan daerah pertanian subur, juga memiliki panorama alam yang sangat indah. Kawasan Ciburial tergolong dataran tinggi karena berada pada ketinggian antara 750 s.d. 1.200 m.

Saya melakukan perjalanan wisata kali ini bersama isteri dan anak. Saya memang ingin berwisata sambil mengenalkan banyak pengetahuan kepada anak. Kami  menuju Desa Ciburial melalui Jalan Ir H. Djuanda hingga melewati terminal angkot Dago. Setelah melewati batas wilayah Kotamadya Bandung, sebenarnya kami sudah memasuki wilayah Desa Ciburial. Tapi warga kota Bandung lebih mengenalnya dengan sebutan Dago Atas atau Dago Pakar atau Bukit Dago.


Goa Jepang dan Belanda

Pilihan pertama kami adalah mengunjungi Taman Hutan Raya (Tahura) Ir Djuanda. Kami masuk melalui pintu utama dari Jalan Bukit Pakar Barat. Begitu melewati gerbang dengan tiket Rp8.500 per orang, kami langsung disambut aroma pepohonan pinus yang  menyegarkan paru-paru. 

Di taman hutan seluas 527  hektar ini, obyek yang paling menarik  adalah Goa Jepang dan Goa Belanda. Goa Jepang berjarak 600 meter dari pintu masuk Dago Pakar. Untuk masuk ke dalamnya, kita harus menyewa senter, sekaligus dengan pemandu karena di dalam goa sangat gelap gulita.

Goa buatan yang dibangun pada tahun 1942 ini cukup unik karena memiliki empat pintu yang saling terhubung di dalam kecuali pada pintu kedua yang dimaksudkan sebagai pintu pengecoh. Goa ini dulunya dibangun oleh orang-orang Indonesia yang menjadi romusha. Goa sepanjang  70 meter ke dalam ini difungsikan sebagai tempat perlindungan sekaligus pusat pertahanan Jepang di Bandung utara. 



Sepanjang perjalanan, anak saya banyak bertanya soal penjajahan Jepang. Mulai dari alasan Jepang menjajah, berapa lama menjajah, hingga  bagaimana Jepang kalah di Indonesia. Begitu pula saat memasuki Goa Belanda empat ratus meter selanjutnya. Belajar sejarah dapat, tubuh sehat juga dapat.

Untuk mencapai kedua goa ini bisa dilakukan dengan menggunakan jasa ojek. Bahkan sampai masuk melihat air terjun Curug Ciomas. Tapi kami memutuskan tetap berjalan kaki. Barulah pulangnya, karena matahari mulai menyengat, putra kami memilih menunggang kuda dengan tarif Rp.10.000 sampai mendekati gerbang utama. .


Selasar Sunaryo

Setelah dua dua jam lebih menjelajah Tahura Djuanda, dalam waktu sepuluh menit mengendarai mobil kami sudah tiba di Selasar Sunaryo. Bagi publik seni, Selasar Sunaryo Art Space bukanlah nama yang asing. Berada di Jalan Bukit Pakar Timur di No 100, tempat ini menawarkan segala bentuk karya seni yang layak untuk diapresiasi. Tujuan saya ke tempat ini adalah mengenalkan dunia seni kepada anak saya. Karena di tempat ini kita bisa melihat karya seni lukis dan karya seni patung.


Di galeri lukisan kita tidak bisa sembarangan memotret. Tak apa, yang penting kita masih bisa melihatnya. Sayangnya, saat itu tidak ada program pameran khusus. Padahal Selasar Sunaryo memiliki program yang padat, hampir 15 kali dalam setahun.

Masih di lokasi yang sama, ada tempat ngopi yang disebut Kopi Selasar. Saat kami datang, tidak tersedia tempat duduk lagi saking penuhnya. Padahal, saya berniat rehat sejenak sembari menghirup kopi di Kopi Selasar yang terkenal. Ahirnya kami memutuskan mencari tempat makan siang sekalian.

Love Lock

Di sepanjang Jalan Bukit Pakar Timur banyak sekali resto dengan berbagai jenis makanan. Karena ingin resto yang menyajikan masakan Sunda dan modern serta memiliki pilihan menu yang cocok untuk anak, maka kami memilih Lisung. Salah satu alasan paling kuat memilih Lisung, resto ini memiliki desain interior yang Indonesia banget, belum lagi view kota Bandung di kejauhan. 

Saya memilih masakan Sunda nasi tutug oncom khas Lisung. Porsi nasinya cukup besar bagi yang sedang diet. Tapi karena nikmat, ya habis juga. Apalagi ditutup dengan minum lemon freeze yang segar. Anak saya lebih memilih pizza ala Lisung yang renyah.

Satu lagi yang tidak boleh dilewatkan, Lisung juga merupakan pencetus  Love Lock pertama di Indonesia.  Berbeda dengan Love Lock di negara-negara Eropa maupun Korea, di Lisung terbuat dari Kelotok Sapi antik yg diberi gembok di bagian bawahnya.  Siapapun yang ingin mengikrarkan isi hatinya, bisa pasangan kekasih, kakak-adik, keluarga, sahabat, dapat menuliskan nama atau untaian kata-kata pada kelotok sapi ini. Biayanya Rp75.000. 

Gembok cinta akan disimpan di Lisung selama setahun. Untuk memperpanjang, cukup makan di Lisung minimal Rp100.000. Kalau putus dengan pasangan, silakan lepaskan gembok kapanpun mau. 


Lebah Madu Cikurutug

Perjalanan kami teruskan setelah shalat di masjid Agung Assalam yang sedang renovasi. Tujuan berikutnya Kampung Cikurutug yang terkenal dengan budi daya lebah madu.  Kami dikenalkan dengan Aepudin, salah seorang peternak lebah madu. Jalan menuju area peternakan harus dilalui dengan jalan kaki. Medannya pun cukup menguras tenaga karena untuk menjelajahi perkampungan ini harus mendaki undakan tangga mungkin lebih dari seratus undakan.


Aepudin menjelaskan Dalam setahun, musim kembang bisa dua kali. Paling bagus menjelang musim hujan. Lebah paling suka mengerubungi bunga kaliandra, bunga rumput, kecubung, dan baruntas. Selain dengan cara diternak, para petani juga biasa mengambil langsung lebah liar dari Tahura Djuanda.

Madu-madu yang dihasilkan dikemas dalam botol berbagai ukuran. Satu botol ukuran 630 milimeter dijual Rp75.000,00, sedangkan untuk ukuran botol kecil 300 milimeter seharga Rp40.000,00. Produk Ciburial ini sudah dipasarkan di Bandung, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, hingga Malaysia. Rasanya yang lezat dan berkhasiat untuk kesehatan, membuat madu ciburial banyak diminati. Satu lagi yang istimewa, kita bisa membeli madu dengan sarangnya.

Selain menjual madu, peternak lebah di Ciburial ini juga memfasilitasi mereka yang ingin tahu cara beternak lebah. Ada paket belajar selama seminggu bagi masyarakat umum untuk mempelajari budidaya lebah madu. Kegiatan yang paling menarik dan menantang adalah bermain dengan lebah. Para peternak mempersilakan kepada siapa pun yang berminat merasakan sensasi kepala dan tubuhnya dikerubuti lebah. Banyak yang datang hanya ingin merasakan dikerubuti lebah. Tapi kami tidak berani. Mungkin lain kali.

Aepudin juga menawarkan paket untuk kunjungan sehari lengkap dengan hidangan nasi liwet ditambah goreng ayam kampung yang dimakan di pinggir hutan bersama. Untuk sepuluh orang cukup sediakan dana Rp.300.000. tapi ini tidak termasuk madu. Untuk yang menyukai pengobatan alternatif dengan terapi sengatan lebah, di Ciburial juga bisa ditemukan.

Kolam Renang dan Spa

Semakin malam kawasan Ciburial ini semakin ramai karena pemandangan cahaya kota Bandung yang menawan. Selain di resto dan café, kita bisa singgah di villa ataupun resort yang bertebaran. Saya merekomendasikan Dago Highland yang berkelas bintang tiga. Untuk mencapai tempatnya memang harus melalui jalan turunan curam dan jug tanjakan terjal, belum lagi belokan patah dan ruas jalan yang tidak begitu lebar. Perlu kemahiran dan kehati-hatian bila mengendarai mobil sendiri.

Dago Highland memiliki pemandangan indah ke kota bandung. Tidak hanya bisa dinikmati malam keindahannya, tapi sepanjang hari. Bagi yang membawa anak, Dago Highland memiliki kolam renang yang seakan berada di sisi tebing. Bila penat jalan-jalan seharian keliling Ciburial, tersedia juga fasilitas spa untuk pijat refleksi, pijat badan sampai luluran. Kerennya, ruang spa ini juga langsung menghadap ke lembah dengan pemandangan kota Bandung.

Setelah mendapat terapi spa, letih pun hilang, tidur nyenyak. Apalagi saat malam hari, suasananya jauh dari bunyi kendaraan, dan masih terdengar suara jangkrik, katak dan burung-burung malam.




Habis Berapa:
1. Taman Hutan Raya Ir Djuanda: tiket masuk Rp.8.500/orang, mobil Rp10.000, senter Rp6.000 dan pemandu Rp15.000-Rp25.000 (tergantung nego), berkuda Rp10.000-Rp20.000 (tergantung keramaian.
2. Lisung: Harga makanan di Lisung bervariasi. Untuk yang memiliki budget rendah, kita bisa makan komplit dan minum minuman segar hanya rp.50.000. Jika mau pilihan lain pun harganya masih masuk akal. Tempat makan dan
pemandangan tidak akan membuat kita berpikir soal mahal atau murahnya.
3. Ternak madu: kunjungan pribadi gratis, tinggal membeli produk madu dari petani setempat.

Naik Apa
Desa Ciburial bisa dikunjungi dengan kendaraan pribadi dan umum. Bila belum mahir berkendaraan sebaiknya ekstra hati-hati dan mengisi bensin penuh karena jauh dari lokasi pom bensin. Untuk umum, bisa naik angkot jurusan Ciburial dari terminal Dago. Bisa juga minta diantar ojek seharian Rp.50.000-Rp75.000 tergantung nego.