Wednesday, October 24, 2012

[BUKU] Dongeng Benny Rhamdani PERAMAL ISTANA -Tamat





Peramal Istana


       Shallu sangat mencintai istrinya, Rawina. Apa saja yang diinginkan istrinya, ia berusaha menurutinya. Meski untuk itu, Shallu harus bekerja keras sebagai penjual buah keliling. Sampai suatu hari, istrinya meminta Shallu untuk berganti pekerjaan.
      "Aku ingin kau jadi pejabat istana, Suamiku," pinta Rawina.
      "Mengapa harus jadi pejabat istana?" tanya Shallu bingung.
     
"Tadi siang, aku pergi ke pasar. Tapi, pasar itu ditutup untuk umum selama beberapa waktu karena ada istri pejabat istana yang sedang berbelanja. Hal ini sudah sering terjadi," cetus Rawina dengan nada iri.
      Shallu yang malang terpaksa berpikir keras untuk mewujudkan keinginan istrinya. Keesokan harinya, ia membeli tikar, dupa, buku-buku ramalan, dan seperangkat alat yang biasa digunakan para tukang ramal lainnya. Kemudian, ia menggelar perabotannya tak jauh dari gerbang istana.
      Kebetulan saat itu, sang Ratu yang hendak mandi menyuruh seorang dayangnya untuk menyimpan anting-antingnya di tempat aman. Dayang yang tahu bahwa dirinya sering pelupa, menyimpannya di lubang tembok kamarnya. Tak lupa ia menyimpan sehelai rambut sebagai tanda di lubang itu.
    Tapi, kesibukan lainnya membuat dayang itu lupa. Maka, ketika sang Ratu bertanya tentang anting-antingnya, dayang itu kalang kabut mencarinya. Masalahnya, anting-anting itu adalah perhiasan kesayangan ratu. Hukuman terberat bisa saja ditimpakan padanya.
      Dayang pelupa itu berusaha kabur dari istana. Tapi, di pintu gerbang ia melihat seorang peramal tengah duduk serius. Dayang berharap peramal itu dapat membantunya.
      "Saya dalam bahaya, Pak. Saya lupa tempat menyimpan anting-anting Ratu. Jika Bapak dapat mengingatkan saya tempatnya, saya akan berterima kasih sekali," kata dayang itu.
      Peramal itu tidak lain adalah Shallu. Ia sedang melamun saat dayang itu datang. Diingatnya wajah istrinya yang cantik. Yang membuatnya jatuh cinta kepadanya adalah rambut istrinya yang panjang dan hitam mengilat.
"Ya, rambut itu … rambut itu," gumam Shallu.
      Dayang itu terkejut mendengar kata-kata Shallu. Ia segera teringat lubang tembok yang ditandai rambutnya. Segera saja ia kembali ke istana setelah mengucapkan terima kasih. Dicarinya anting-anting milik Ratu. Sambil menyerahkan anting-anting Ratu, dayang itu langsung menceritakan tentang si peramal kepada baginda Raja.
      Tidak berapa lama kemudian, Shallu pun diminta untuk bekerja di istana. Ia diangkat Raja sebagai peramal istana. Rawina merasa bangga dengan pengangkatan itu. Namun, Shallu malah menjadi cemas, karena ia memikirkan akibat yang harus ditanggungnya jika Raja mengetahui hal yang sebenarnya.
      Beberapa hari setelah Shallu menjadi peramal istana, Raja memanggilnya untuk sebuah tugas. Shallu diminta menangkap pencuri yang telah mengambil sejumlah perhiasan milik Ratu.
      "Aku memberimu waktu tujuh hari. Jika gagal, kau dan istrimu akan dihukum," titah Raja.
      Shallu semakin bingung. Jika hukuman itu untuknya saja, bukan masalah. Tapi, ia tidak mau istrinya ikut dihukum. Akhirnya, begitu tiba di rumah ia hanya dapat menyerahkan tujuh butir kacang yang dimasukkannya ke dalam botol kepada istrinya.
      "Berikan padaku satu butir kacang setiap malam menjelang tidur. Sehingga aku ingat, pada kacang terakhir nanti kita harus pergi meninggalkan negeri ini keesokan harinya," kata Shallu.
      Rawina hanya dapat mengangguk sambil menahan tangis. Ia mulai mengerti betapa dirinya terlalu serakah. Permintaannya membuat ia dan suaminya dalam keadaan bahaya.
      Tanpa mereka duga, jumlah kawanan pencuri perhiasan istana itu berjumlah tujuh orang. Mereka juga mendengar perintah sang Raja kepada Shallu. Maka, untuk mengetahui kehebatan Shallu, kawanan pencuri itu menyelidiki tempat kediaman Shallu.
      Pada malam harinya, salah seorang pencuri naik ke atap rumah dan mendengar percakapan Shallu dan Rawina tentang pencurian di istana. Sambil bicara, Rawina menyerahkan biji kacang kepada Shallu.
      "Suamiku, ini yang pertama," katanya sambil mengingatkan Shallu.
      Shallu memperhatikan biji kacang di tangannya. "Ya, yang pertama. Sangat hitam," sahut Shallu.
      Rupanya, pencuri itu mengartikannya lain. Dia mengira Shallu dan istrinya mengetahui kedatangannya. Segera saja ia berlari menemui pimpinan pencuri.
      "Bos, rupanya peramal itu sudah mengetahui kita. Bahkan, ia sampai tahu warna kulitku," kata pencuri yang berkulit hitam itu.
      Pimpinan pencuri itu menyuruh anak buahnya mendatangi Shallu. Hari kedua, Shallu mendapat kacang yang kecil, kebetulan pencuri yang datang pendek. Lalu hari ketiga, Shallu mendapat kacang yang gemuk, kebetulan pula pencuri yang mengamati bertubuh gempal. Semuanya bertambah yakin akan kehebatan Shallu. Hingga akhirnya pimpinan pencuri itu datang sendiri ke rumah Shallu. Pada saat itu pula, Rawina memberikan biji kacang yang ketujuh.
      "Ya, inilah yang terakhir. Dan ini yang terbesar di antara lainnya," komentar Shallu.
      Pimpinan pencuri itu merasa panik mendengarnya. Dengan cepat, ia kemudian keluar dari persembunyiannya dan bersujud di kaki Shallu. "Maafkan kami, Tuan. Kami berjanji tidak akan mencuri. Kami akan mengembalikan perhiasan yang kami curi. Tapi, tolong bebaskan kami," kata pemimpin pencuri itu.
      Shallu sangat terkejut dengan kejadian itu. Ia masih belum menyadarinya sampai kawanan pencuri itu mengembalikan seluruh perhiasan yang mereka curi. Baginda Raja sangat terkesan dengan kehebatan Shallu meski pencuri itu tidak ditangkap. Ia memberikan Shallu hadiah.
      Sehari kemudian, Rawina meminta Shallu agar mereka berkata terus terang kepada Raja karena mereka kini selalu merasa cemas. Shallu kembali berpikir keras untuk keluar dari istana. Satu-satunya jalan adalah ia pura-pura menjadi gila!
      Siang harinya, ia sengaja keluar dari kamar mandi tanpa berpakaian lengkap. Sambil berlari ia menuju ruang singgasana Raja. Tentu saja orang-orang bingung melihat tingkahnya. Apalagi ketika kemudian Shallu menggendong baginda Raja.
      Tapi lagi-lagi, keajaiban terjadi. Tiba-tiba, atap di atas singgasana Raja roboh. Beberapa orang tewas seketika, namun baginda Raja selamat karena digendong Shallu.
      "Dia benar-benar pejabat istana yang setia. Mengetahui Raja akan celaka, dia keluar dari kamar mandi meski belum selesai berpakaian untuk menyelamatkan Raja," seluruh rakyat membicarakan kehebatan Shallu.
      Raja semakin sayang terhadap Shallu. Namun demikian, Shallu dan Rawina memutuskan untuk berterus terang sehingga Raja pun menyadari bahwa tidak ada satu hal pun yang dapat diramalkan oleh manusia.
Shallu tetap diangkat menjadi pejabat istana. Jabatannya bukan sebagai peramal, melainkan penasihat Raja.


^_^

TIGA TERSANGKA

Putri Kajal terkejut ketika membuka peti kayu tempat ia menyimpan tiara emas semalam. Benda berharga itu sekarang sudah tidak ada di tempatnya lagi. Padahal, pagi ini ia bermaksud mengunjungi kerajaan tetangga. Dan seperti biasa ia harus mengenakan tiara emas itu.
Tanpa banyak buang waktu, Putri Kajal langsung melaporkan kejadian itu pada Raja Salman. Keruan saja Raja Salman terkejut. Ia sudah menugaskan dua pengawal di pintu kamar Putri Kajal, jadi bagaimana bisa seorang pencuri masuk ke dalam kamar putri kesayangannya.
 Raja Salman segera menitahkan Patih Rangga menyelesaikan masalah ini. "Aku percaya kau bisa menyelesaikan kasus ini seperti biasanya," titah Raja Salman di hadapan Patih Rangga.
Patih Rangga mengangguk menyatakan kesanggupannya. Ia segera menanyakan pengawal yang bertugas menjaga kamar Putri Kajal semalam. Akhirnya didapat keterangan, ada tiga orang yang memasuki kamar Putri Kajal. Mereka adalah para pengasuh Putri Kajal yang memang mempunyai hak istimewa dapat memasuki kamar Putri Kajal dengan leluasa.
"Sekarang juga, aku menginginkan mereka menghadapku satu per satu," seru Patih Rangga kemudian.
Pengasuh pertama seorang wanita yang rambutnya sudah memutih. Ia telah mengasuh Putri Kajal sejak masih bayi. Atas permintaan Patih Rangga ia mulai menuturkan semua yang dilakukannya semalam.
"Hamba masuk ke kamar Tuan Putri tak lama setelah Tuan Putri tertidur. Seperti biasa, hamba hanya membetulkan letak selimut Tuan Putri," papar pengasuh pertama.
"Apa kau tidak melihat kotak kayu tempat menyimpan tiara emas itu semalam?" selidik Patih Rangga.
"Hamba melihatnya. Peti itu seperti biasa ada di atas meja rias. Tapi, hamba tidak berani menyentuhnya tanpa seizin Tuan Putri," jawab sang pengasuh.
Patih Rangga berpikir sebentar. Ia kemudian menyuruh pengasuh pertama keluar dan menitahkan pengasuh kedua menghadapnya. Pengasuh kedua lebih muda dari pengasuh pertama. Ia bertugas mengasuh Putri Kajal sejak masa kanak-kanak. Seperti sebelumnya, pengasuh kedua diminta menceritakan hal yang dilakukannya semalam di kamar Putri Kajal.
"Hamba menyiapkan pakaian Putri Kajal untuk dikenakan hari ini. Itu sudah menjadi tugas hamba," tuturnya.
"Apa kau melihat peti kayu tempat Tuan Putri menyimpan tiara emas itu?"
        "Ya, tentu saja. Tapi, hamba tidak berani menyentuh peti itu tanpa izin Tuan Putri," jawab pengasuh kedua.
Patih Rangga menganggukkan kepalanya. Ia menyuruh pengasuh kedua keluar dan pengasuh ketiga dimintanya masuk. Pengasuh ketiga paling muda di antara yang lain. Ia baru mengasuh ketika Putri Kajal menginjak usia remaja. Patih Rangga segera memintanya menceritakan semua yang dilakukannya semalam di kamar Putri Kajal.
"Tugas hamba adalah mempersiapkan perhiasan yang akan dipakai Putri Kajal hari ini. Tapi, hamba sama sekali tidak tahu dengan hilangnya tiara emas itu. Hamba tidak berani menyentuhnya kecuali seizin Tuan Putri," tutur pengasuh ketiga.     
Patih Rangga mengerutkan keningnya. Ia kemudian menyuruh dua pengasuh sebelumnya masuk kembali. Bahkan, Putri Kajal dimintanya ikut bergabung. Suasana jadi begitu tegang karena biasanya Patih Rangga memang dapat segera menyelesaikan masalah apa pun yang terjadi di dalam istana.
"Terus terang saja, aku tidak bisa menemukan siapa yang telah mencuri tiara emas milik Putri Kajal. Ketiga pengasuh yang menjadi tersangka dalam masalah ini semuanya lepas dari tuduhan pencurian. Untuk itu, aku hanya bisa memutuskan kesalahan pada Putri Kajal. Tentu saja bukan sebagai pencuri, melainkan telah lalai menjaga barang berharga miliknya sendiri. Dan untuk kelalaiannya itu, Tuan Putri harus menerima hukuman. Selama sebulan, Putri Kajal tidak boleh keluar dari kamar, kecuali tiara emas itu dapat ditemukan," Patih Rangga mengeluarkan keputusan.
Putri Kajal terkejut. "Itu tidak adil, Patih Rangga. Lagi pula apa yang dapat kulakukan selama sebulan di dalam kamar? Aku juga ingin bermain di halaman istana, mengunjungi rakyatku, membaca di perpustakaan, menyanyi di pendopo, dan lain-lainnya seperti biasa,” protes Putri Kajal.
Patih Rangga tak mengeluarkan suara. "Putusan ini tidak bisa diubah kecuali oleh Baginda Raja Salman," kata Patih Rangga kemudian.
Putri Kajal menitikkan air mata. Ia mulai menangis sedih. Ayahnya pasti tidak akan memenuhi permintaannya agar Patih Rangga mengubah keputusannya karena dia tahu ayahnya begitu menghargai setiap keputusan Patih Rangga.
Tiba-tiba saja, pengasuh pertama bersujud di depan Patih Rangga. "Ampuni Putri Kajal, Patih Rangga. Hambalah yang bersalah telah mengambil tiara emas milik Putri Kajal. Tapi, hamba tidak bermaksud mencurinya, hamba hanya menyembunyikannya untuk sementara waktu. Malam tadi, hamba masuk ke dalam kamar dan mengambil tiara emas itu dari dalam kotak kayu. Hamba tahu tidak ada yang akan dicurigai dari kami bertiga karena kami tidak pernah menyentuh kotak itu tanpa seizin Tuan Putri. Tiara emas itu masih ada di dalam kamar. Hamba menyembunyikannya di kolong lemari pakaian," tutur pengasuh pertama.
"Mengapa kau lakukan itu?" tanya Patih Rangga.
"Hamba mempunyai seorang anak lelaki di perbatasan kerajaan. Ia pemilik sebuah kedai. Kemarin, ia datang menemuiku dan menceritakan ada segerombolan penjahat yang mabuk di kedainya. Saat mabuk itu, seorang penjahat bercerita punya rencana untuk merampok Tuan Putri saat melintas perbatasan. Mereka mengincar tiara emas milik Putri Kajal. Hamba tidak ingin terjadi hal merugikan Tuan Putri, makanya sengaja hamba sembunyikan tiara itu agar Tuan Putri tidak jadi pergi hari ini," kata pengasuh pertama.
"Seharusnya, kau memberitahukan hal itu padaku. Tapi baiklah, aku mengampunimu. Sekarang ambilkan tiara emas itu. Tuan Putri tetap akan berangkat hari ini," titah Patih Rangga.
Patih Rangga segera menyusun rencana menjebak gerombolan penjahat yang akan merampok Putri Kajal. Berkat kecerdikannya dan kesigapan prajurit istana, dua puluh penjahat berhasil diringkus.
"Masalah ini tidak hanya selesai dengan ditemukannya tiara emas milik Putri Kajal dan siapa pencurinya. Bahkan, tidak cukup selesai dengan membatalkan rencana kepergian Putri Kajal. Kerajaan harus mampu mengatasi kejahatan yang menjadi penyebabnya," kata Patih Rangga ketika memberi laporan terhadap Raja Salman usai menjalankan tugas.
****






NYI HERANG
(pemenang 2 Lomba Dongeng Bobo 2001)

Pada awal bulan ketujuh, Raja Sagalaya selalu membuka lowongan kerja untuk abdi istana. Hal ini sekaligus untuk mengurangi pengangguran di negerinya. Banyak perempuan yang melamar sebagai pelayan istana. Di antara mereka, ikut juga seorang gadis kecil berpakaian dekil. Ia menggendong seekor anak ayam dan menawarkan pada pelamar yang sedang antre.
“Mengapa kau jual anak ayam itu?” tanya seorang perempuan muda.
“Induknya mati. Aku tidak mampu merawatnya lagi,” jawab pemilik anak ayam itu.
Perempuan muda itu akhirnya membeli anak ayam itu.
“Mengapa Kakak ingin membelinya?” tanya gadis kecil kumal itu.
“Karena nasib anak ayam ini sama denganku. Hidup sebatang kara di dunia ini,” jawab perempuan muda.
Gadis kumal itu kemudian pergi. Tak lama kemudian, datang dua petugas istana menghampiri si perempuan muda.
“Siapa namamu?” tanya salah satu petugas.
“Namaku Nyi Herang dari Kampung Cipancar,” jawabnya.
“Kamu dipersilakan langsung bekerja di istana hari ini juga. Tugasmu adalah sebagai pelayan pribadi Puteri Bungsu,” ujar petugas istana.
Nyi Herang terkejut dengan pengangkatan tersebut. Demikian juga dengan pelamar lainnya. Tapi, setelah petugas istana itu menjelaskan, barulah semua mengerti. Ternyata, gadis kecil yang menjual anak ayam itu adalah Puteri Bungsu yang menyamar. Puteri Bungsu rupanya ingin mencari sendiri pelayan untuk dirinya.
Nyi Herang sangat bahagia pada hari pertamanya bekerja. Ia memang sangat ingin bekerja sebagai pelayan istana. Tujuan utama Nyi Herang sebenarnya bukan untuk mencari nafkah, melainkan … balas dendam!
Ya, Nyi Herang ingin membalas dendam pada Pangeran Sulung. Dua bulan lalu, Nyi Herang berjualan di pasar menemani ibunya. Saat itu, kebetulan Pangeran Sulung sedang berkunjung mengawasi harga-harga di pasar ditemani pasukannya. Namun, saat berada di dekat gerobak dagangan Nyi Herang, tiba-tiba kuda Pangeran Sulung mengamuk. Rupanya, kuda itu kaget melihat belut yang dijual Nyi Herang, hingga Pangeran Sulung terjatuh. Naasnya, ibu Nyi Herang terpelanting oleh tendangan kuda yang ditunggangi Pangeran Sulung.
Sejak peristiwa itu, Nyi Herang dilarang berdagang lagi di pasar. Padahal, luka dalam ibu Nyi Herang cukup parah. Karena tidak mampu membeli obat, ibu Nyi Herang kemudian meninggal dunia.
Nyi Herang sangat sedih karena ia jadi sebatang kara. Ia pun berniat membalas dendam kepada Pangeran Sulung.
Kini, Nyi Herang sudah berhasil masuk ke istana. Ia sangat menyukai Puteri Bungsu yang baik hati. Namun, ia tetap mencari jalan untuk mendekati Pangeran Sulung dan memberinya racun. Sudah enam hari ia bekerja di istana, Pangeran Sulung belum juga tampak.
Suatu hari, Puteri Bungsu memanggil Nyi Herang agar mengikutinya. “Temani aku menemui kakakku,” pinta Puteri Bungsu.
Nyi Herang membuntuti Puteri Bungsu dengan dada berdebar. Mereka masuk ke sebuah kamar besar.  Akhirnya, saat yang dinantikan tiba juga, pikir Ny Herang.
Tapi, alangkah terkejutnya Nyi Herang ketika melihat Pangeran Sulung berbaring tidak berdaya. Apa yang terjadi dengan Pangeran Sulung?
“Kakanda, bagaimana kabarmu? Ini pelayan saya yang baru. Namanya Nyi Herang,” ucap Puteri Bungsu sambil mendekati Pangeran Sulung.
Nyi Herang memaksa bibirnya untuk tersenyum. Mata Pangeran Sulung hanya mengedip pelan. Puteri Bungsu mengecup kening kakaknya. Setelah itu, ia pamit sambil menahan isak tangisnya. Di kamar, Puteri Bungsu baru menumpahkan air matanya di depan Nyi Herang. Rupanya, selama ini ia menyembunyikan kesedihannya di depan semua orang.
“Apa yang telah menimpa Pangeran Sulung, Tuan Puteri?” tanya Nyi Herang yang tersentuh hatinya melihat kesedihan Puteri Bungsu.
“Aku sendiri tidak tahu. Awalnya, ia terjatuh dari kudanya di pasar. Tapi, kakakku hanya terkilir, belum separah tadi. Lama-kelamaan, sakitnya makin parah. Seorang tabib mengatakan, penyakit kakakku dikarenakan dendam seorang yang terluka hatinya. Sayang, Pak Tabib tidak memberitahu orangnya,” papar Puteri Bungsu sambil mengusap air matanya.
“Apakah Tuan Puteri sangat menyayangi Pangeran?” tanya Nyi Herang.
“Ya, aku sangat menyanginya. Saat ini, melihat keadaannya aku sudah seperti kehilangannya,” jawab Puteri Bungsu.
“Hamba bisa merasakan kesedihan Puetri Bunsgu. Hamba juga pernah merasakan kehilangan orang yang hamba sayangi,” timpal Nyi Herang.
Puteri Bungsu masih sesegukan.
“Percayalah, Pangeran Sulung pasti akan sembuh. Asal Tuan puteri sungguh-sungguh berdoa,” lanjut Nyi Herang.
Puteri Bungsu menganggukkan kepala.
Sore harinya, Nyi Herang pergi ke makam ibunya.
“Ibu, aku tahu Ibu tidak pernah mengajarkanku menyimpan dendam di hati. Maafkan aku, Bu. Aku telah keliru mendendam pada seseorang. Mulai sekarang, aku akan menghapus semua dendamku. Dendam ini hanya akan menambah jumlah orang yang bersedih,” gumam Nyi Herang sambil menatap gundukan tanah di depannya.
Satu minggu kemudian, kesehatan Pangeran Sulung berangsur baik. Puteri Bungsu begitu gembira. Namun, sayang ia tidak berhasil menemukan Nyi Herang, meski Puteri Bungsu telah menitahkan para prajurit  istana mencarinya.

*****



Rahasia Tarian Mohini


Ratu Raveena sangat senang menyaksikan tarian. Itu sebabnya, setiap tahun ia mengundang empat penari terbaik dari beberapa sanggar tari di negerinya untuk jadi penari istana. Tahun ini, Ratu Raveena mengundang penari Madhuri, Menakshi, Manisha, dan Mohini untuk jadi penari istana.
Seminggu dua kali, Ratu Raveena menyaksikan tarian mereka. Seperti biasa, Ratu Raveena meminta mereka menari bersama lebih dulu, setelah itu ia akan meminta salah seorang penari yang dianggapnya terbaik untuk menari seorang diri.
Akhirnya, semua mengetahui bahwa Ratu Raveena sangat menyukai tarian Mohini karena menari seorang diri. Hal ini diam-diam menimbulkan kecemburuan pada penari lainnya.
“Aku heran, bagaimana mungkin Ratu Raveena menganggap Mohini lebih baik dari kita bertiga,” ujar Madhuri di tempat tinggal para penari. Saat itu, Mohini sedang pergi keluar.
“Mungkin, Mohini menggunakan pengaruh sihir dalam tariannya sehingga Ratu Raveena terpikat padanya,” hasut Menakshi.
“Tapi, sihir itu sudah dilarang di negeri ini,” timpal Manisha.
“Kalian tahu sendiri, setiap sore seperti sekarang ini ia selalu pergi ke hutan kecil di belakang istana. Mungkin ia menemui seseorang yang bisa memberikannya kekuatan sihir pada tariannya,” kata Menakshi.
Madhuri dan Menakshi hanya menganggukkan kepala. Mohini kembali tak lama kemudian. Semua bersikap wajar di depan Mohini. Namun, kecemburuan mereka makin mendalam.
Ketika Mohini berada di kamarnya mempersiapkan diri untuk menari, secara tak sengaja kakinya menginjak duri di lantai. Duri itu cukup dalam menembus kakinya. Darah menetes ketika Mohini mencabut duri itu. Ia berusaha menahan sakit di telapak kaki dan membalutnya dengan kain tipis sehingga tak terlalu kentara.
Mohini bertekad untuk tetap menari malam itu. Sambil menahan sakit, ia berusaha menari sebaik mungkin. Namun rupanya darah terus mengalir, hingga akhirnya Mohini pingsan di tengah tariannya.
Ratu Raveena segera menitahkan dayang-dayang membawa Mohini ke tempat peristirahatan. Sambil meunggu tabib istana merawat luka Mohini, Ratu Raveena menitahkan penasihat istana untuk menyelidiki apa yang terjadi.
“Hamba menemukan duri di lantai kamar Mohini. Rupanya, ada seseorang yang sengaja meletakkan duri itu untuk mencelakai Mohini. Menurut hamba, pelakunya adalah seorang dari tiga penari lainnya,” lapor penasihat  istana kemudian.
Ratu Raveena segera memanggil tiga penari lainnya untuk menghadapnya.
“Kalian segera akui kesalahan kalian. Siapa di antara kalian yang telah sengaja mencelakai Mohini?” tanya Ratu Raveena.
Tiga penari itu tak ada yang berani membuka mulut.
“Baiklah, jika kalian tidak ada yang mengaku. Maka, kalian bertiga akan dihukum,” putus Ratu Raveena kesal.
“Ja … ngan, Ibu Ratu,” tiba-tiba terdengar suara Mohini yang mulai sadar dari pingsannya. Ia berusaha bicara sekuat tenaga untuk mencegah ketiga temannya dihukum.
 “Semua karena keteledoran hamba sendiri. Sore tadi, hamba pergi ke hutan di belakang istana. Mungkin, saat itu ada duri yang nyangkut di pakaian hamba tanpa hamba sadari. Duri itu kemudian jatuh di lantai kamar dan mencelakai kaki hamba sendiri,” papar Mohini.
“Sebenarnya, apa yang kau lakukan di hutan belakang istana?” tanya Ratu Raveena.
“Hamba hanya mematuhi nasihat guru hamba agar tidak memanjakan diri dengan duduk bermalas-malasan di tempat yang disediakan Ibu Ratu. Hamba senang bermain di hutan karena di sana hamba bisa mengamati dengan jelas gerak-gerik binatang seperti kelinci, kijang, kupu-kupu, dan lainnya. Dengan demikian, hamba dapat menari seperti gerakan mereka. Karena tarian yang diciptakan para guru kami banyak yang berasal dari gerakan yang ada di alam sekitar,” ungkap Mohini.
“Jadi, kamu berlatih menari di hutan?” Ratu Raveena terkejut.
“Benar, Ibu Ratu. Aku menari dengan iringan bunyi gesekan dedaunan serta kicauan burung hutan,” tambah Mohini.
 “Oh, sekarang aku baru mengerti mengapa tarianmu lebih baik dari yang lainnya,” ujar Ratu Raveena.
Setelah itu, Ratu Raveena mencabut keputusannya menghukum tiga penari lainnya. Ia juga meminta tiga penari lainnya agar tetap berlatih meski telah menjadi penari mahir.
Tengah malam, ketika para penari mulai terlelap, tiba-tiba Madhuri membangunkan Mohini.
“Mohini, bangunlah, Aku mau minta maaf padamu. Sekaligus aku berterima kasih atas pembelaanmu siang tadi. Sesungguhnya, akulah yang menyimpan duri-duri di kamarmu,” bisik Madhuri menyesal.
“Sudahlah, Madhuri. Kita lupakan kejadian tadi. Yang penting, kita semua harus kompak dan bersahabat,” timpal Mohini setengah mengantuk.
“Tentu saja. Aku juga ingin berlatih tari di hutan agar bisa sehebat kamu,” janji Madhuri sambil merangkul Mohini.




Penjual Tiga Pakaian


Sudah hampir satu bulan lelaki itu berjualan di sudut pasar. Dengan suara lantang, lelaki yang hanya dapat melihat dengan sebelah mata itu berteriak, ”Ayo, beli pakaian pembawa kekayaan ini! Ayo beli!”
Mulanya, banyak yang tertarik dengan teriakannya. Namun, ketika tahu harga sepotong baju sangat mahal, mereka hanya menggerutu.
“Harga baju seperti itu dua puluh keping emas? Yang benar saja. Itu sangat mahal!” seru banyak orang. Meski tak ada lagi yang mendatangi, penjual pakaian itu terus berdagang. Hingga suatu siang, lelaki bernama Arun mendekatinya.
“Pak, bolehkah aku tahu mengapa harga baju-baju ini sangat mahal?” tanya Arun.
“Karena, setelah membeli baju dariku, dia pasti akan mendapat sekantung emas dari raja,” jawab pedagang itu.
“Bagaimana caranya?” Arun penasaran.
“Oh, itu baru akan kuberitahu jika kau membelinya,” jawab si pedagang.
“Sejujurnya, aku ingin membeli baju itu. Tapi, aku tidak punya uang. Bagaimana kalau kubayar setelah kudapatkan sekantung emas dari raja?” bujuk Arun kemudian.
Pedagang baju itu kelihatan bimbang.
“Ayolah, aku tak akan menipumu,” rayu Arun.
“Baiklah, ambil baju yang satu ini. Ini adalah pakaian pertapa. Temuilah Baginda Raja dengan berpakaian seperti pertapa. Perkenalkan dirimu sebagai anak pertapa di Bukit Kabut Hijau. Ingatkan Baginda Raja bahwa lima tahun lalu beliau pernah ditolong saat tersesat di hutan,” tutur penjual pakaian.
Arun mengangguk sambil berusaha mengingat-ingat cerita lelaki di depannya. Keesokan harinya, ia segera menemui Baginda Raja dan melakukan semua yang dikatakan pedagang pakaian.
Tanpa menunggu lama, raja langsung memberikan sekantung emas kepada Arun. Beliau juga menawarkan untuk menginap dan makan malam bersama, namun Arun menolak dengan alasan harus segera pulang.
Sepulang dari istana, Arun tidak langsung menemui pedagang pakaian. Ia malah berfoya-foya menghabiskan uang yang didapatnya. Satu bulan kemudian, ia kembali menemui pedagang pakaian itu.
“Pak, maafkan aku telah ingkar janji. Uang yang diberikan Raja telah dirampok di tengah jalan,” katanya berdusta, “bagaimana bila kau jual lagi satu baju padaku?”
Melihat kesedihan Arun, penjual pakaian itu mau memaafkannya. “Kalau begitu, bawalah baju yang kedua. Menyamarlah dengan pakaian tabib itu dan katakan bahwa kau anak Tabib Sungai Hitam. Lima tahun lalu, Baginda Raja pernah berobat padanya,” tutur pedagang itu.
Keesokan harinya, Arun kembali menemui Baginda Raja. Sama seperti sebelumnya, Arun mengulangi kejahatannya. Ia menghabiskan uang itu sendirian dan baru menemui pedagang pakaian setelah uangnya habis.
“Maafkan aku sekali lagi, Pak. Uang pemberian Raja telah kusumbangkan kepada penduduk di kampungku karena mereka terserang wabah penyakit,” ujar Arun dengan muka sedih. “Sekarang, aku berjanji tak akan mengulanginya jika kau berikan baju yang ketiga.”
“Baiklah, bawalah pakaian prajurit itu. Menyamarlah kau sebagai seorang parjurit bernama Gupta. Baginda Raja akan senang menyambutmu. Ingatkan bahwa kau adalah prajurit yang hilang lima tahun lalu,” kata pedagang pakaian.
Keesokan harinya, Arun menemui Baginda Raja dengan menyamar dengan prajurit. Tetapi, alangkah kagetnya Baginda Raja ketika Arun menyebut dirinya sebagai Gupta.
“Pengawal, tangkap orang ini! Dia prajurit yang telah berkhianat padaku ketika terjadi peperangan lima tahun lalu!” teriak Baginda Raja.
Arun meronta-ronta sambil mengatakan bahwa dia bukan Gupta. Di ruang pemeriksaan Arun menceritakan segalanya, termasuk pria pedagang pakaian itu.
Prajurit kerajaan segera menjemput pedagang pakaian dan membawanya ke hadapan Baginda Raja. Ternyata Baginda Raja mengenali pedagang pakaian itu.
“Bukankah kau Mustakh, pengawal setiaku? Mengapa keadaanmu seperti ini sekarang?” tanya Baginda Raja.
Ya, penjual pakaian itu ternyata bernama Mustakh. Lima tahun lalu, setelah terjadi perang ia terserang penyakit. Karena tak terobati matanya menjadi buta sebelah. Ia malu untuk kembali ke kerajaan. Sayangnya, ia tak bisa mendapatkan pekerjaan pengganti yang pantas.
Baginda Raja terharu mendengarnya. Ia segera memberi Mustakh sebidang tanah untuk digarapnya mengingat jasa-jasa Mustakh di peperangan. Sementara, Arun tetap dihukum sebagai seorang penipu.

*****