Thursday, October 25, 2012

[BUKU] Dongeng Benny Rhamdani RAMBUT TITO & BEL AJAIB - Tamat







Nyi Koneng

Sejak kecil, putri tunggal Bu Onih mengidap penyakit aneh. Pada tubuhnya, membercak kuning pada beberapa bagian. Lama-kelamaan, bercak kuning itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Itu sebabnya semua penduduk kampung memanggilnya Nyi Koneng.
Bu Onih sudah membawa Nyi Koneng berobat ke segala tempat, namun tak satu pun tabib yang mampu menyembuhkannya. Akhirnya, Bu Onih jatuh sakit. Sampai suatu pagi, saat Bu Onih merasa penyakitnya kian parah, ia memanggil Nyi Koneng.
“Anakku, semalam Ibu bermimpi bertemu dengan seorang tabib. Ia memintamu agar pergi menemuinya di kaki Gunung Wetan,” pesan Bu Onih pelan.
“Mana mungkin aku meninggalkan Ibu yang sedang sakit,” kilah Nyi Koneng sedih.
“Pergilah secepatnya! Kakek tua itu menunggumu,” tambah Bu Onih. Setelah mengucapkan kalimat itu, ia menutup matanya dan mengembuskan napas terakhir.
Nyi Koneng sedih karena ia kini menjadi yatim piatu. Setelah penduduk kampung menguburkan ibunya, Nyi Koneng menjalankan amanat ibunya. Seorang diri ia menuju Gunung Wetan. Ia memakai baju yang menutupi sekujur tubuhnya agar orang-orang yang berpapasan dengannya tidak ketakutan.
Sampai di kaki Gunung Wetan, Nyi Koneng jatuh pingsan. Ia tidak menghitung sudah berhari-hari berjalan. Ketika sadar, ia mendapatkan dirinya terbaring di atas dipan bambu. Nyi Koneng terperanjat ketika melihat seorang lelaki tua berdiri di dekatnya.
“Tidak perlu takut, Anakku. Akulah yang akan menyembuhkan penyakitmu itu. Selain itu, aku akan mengajarkanmu cara mengobati penyakit, sehingga kelak kamu kembali ke desamu dan bisa menyembuhkan banyak orang. Bersediakah?” tanya lelaki tua itu.
Nyi Koneng hanya mengangguk. Selanjutnya, ia tinggal bersama kakek yang dipanggilnya Tabib Guru.  Berminggu-minggu, Nyi Koneng menjalani pengobatan penyakit kulitnya. Setelah sembuh, selama berbulan-bulan ia belajar menjadi tabib. Hingga akhirnya, Tabib Guru menyuruhnya untuk kembali ke kampungnya.
“Pulanglah ke kampungmu untuk mengamalkan ilmu yang sudah kamu dapat di sini. Banyak orang yang pasti akan memerlukan pertolonganmu. Satu pesanku, jangan takabur dengan kepandaianmu,” pesan Tabib Guru.
“Baiklah, Tabib Guru,” jawab Nyi Koneng.
Dengan perasaan sedih, Nyi Koneng meninggalkan Tabib Guru untuk kembali ke kampungnya. Nyi Koneng  kembali tinggal di rumahnya yang dulu. Kepala Kampung yang baik hati merawat rumah itu dengan baik, sehingga Nyi Koneng bisa kembali menempati rumahnya.
“Ajaib benar, Nyi Koneng. Kamu sungguh-sungguh sembuh. Maukah kamu mengantar putraku menemui tabib itu? Sudah hampir satu bulan batuknya tak kunjung sembuh,” kata Kepala Kampung yang menyambutnya.
“Bapak tidak perlu membawanya ke tempat yang jauh. Aku sendiri dapat mengobatinya,” jawab Nyi koneng.
Kepala Kampung semula tak begitu percaya. Tapi setelah dua hari putranya membaik begitu dirawat Nyi Koneng, Kepala Kampung percaya kini Nyi Koneng sudah menjadi seorang tabib.
Kabar itu segera tersiar ke seluruh kampung. Dalam waktu singkat, rumahnya sering dikunjungi masyarakat yang ingin berobat. Hingga suatu hari, datang pedagang kaya dari tempat jauh berobat padanya. Nyi Koneng pun segera mengobatinya.
“Nyi Koneng, karena kau menyembuhkan penyakitku, aku memberimu sekantong uang emas ini,” kata pedagang kaya itu.
“Tidak perlu, Pak. Aku mengobati orang hanya untuk menolong,” tolak Nyi Koneng.
“Tapi, bukankah untuk bertahan hidup kamu juga perlu uang? Lihatlah pakaianmu, rumah, serta perabotannya. Seharusnya, kau menarik bayaran dari setiap orang yang datang,” hasut pedagang itu.
Sepeninggal pedagang kaya itu Nyi Koneng merenung lama dalam keluarga. Lama-lama, ia terpengaruh ucapannya. Hingga akhirnya, Nyi Koneng mulai menarik bayaran kepada setiap orang yang datang berobat. Kepada pembantunya ia menyuruh agar setiap orang yang datang ditanya lebih dulu jabatan dan pekerjaannya.
“Suruh ia pergi ke tabib lain kalau hanya seorang buruh atau pedagang kecil,” tolak Nyi Koneng kepada pembantunya.
Sementara rumah Nyi Koneng telah berubah seperti istana. Tamu yang datang kepadanya hanyalah keluarga bangsawan, pedagang kaya, dan tuan tanah.
Hingga suatu hari, pembantunya melapor pada Nyi Koneng, ada pengemis tua yang ingin berobat padanya. Tanpa melihatnya lebih dulu, Nyi Koneng meminta pembantunya untuk mengusir pengemis itu.
“Suruh ia pergi secepatnya. Nanti, tamu yang lain tak mau masuk,” teriak Nyi Koneng.
“Tapi, ia memaksa. Bahkan, ia tak mau pergi,” kata pembantunya gugup.
“Biar aku yang mengusirnya,” Nyi koneng gusar. Ia berjalan ke teras rumah.
Alangkah terkejutnya  Nyi Koneng ketika melihat tamu yang tengah berdiri di teras rumah.
“Tabib … Guru. Kapan datang? Mari masuk …,” Nyi Koneng terbata-bata gugup.
Tabib Guru menggeleng. “Kamu telah berubah menjadi perempuan yang sombong dan tamak, Nyi Koneng. Maka penyakitmu yang dulu akan kukembalikan padamu,” seru Tabib Guru.
Nyi Koneng menjadi panik ketika kulitnya lambat laun menguning. Tak hanya di sebagian tempat, tapi sekujur tubuhnya. Herannya Nyi Koneng tak bisa mengobati penyakitnya itu. Kemampuannya mengobati penyakit sudah lenyap.
Karena malu, Nyi Koneng bersembunyi di bawah tanah. Namun, tiba-tiba saja istana yang dibangunnya ambruk dan menguburnya.
Beberapa waktu kemudian, di tempat itu tumbuh tanaman yang umbi akarnya berwarna kuning. Tanaman itu kemudian banyak digunakan sebagai bahan untuk obat-obatan. Dalam bahasa Sunda, tanaman itu disebut koneng karena diyakini merupakan jelmaan Nyi Koneng.

·        Catatan: 
Koneng dalam bahasa Sunda dapat berarti warna kuning dan tanaman          kunyit.





Rambut Tito & Bel Ajaib

Tito tinggal di daerah pertanian yang subur. Hari-harinya banyak dihabiskan di ladang membantu orangtuanya. Meski rajin, Tito punya kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan. Ia malas merapikan dan memangkas rambutnya.
Suatu hari, terjadi keajaiban pada dirinya. Saat itu, tiba-tiba hujan deras ketika Tito berada di ladang. Belum sempat Tito berteduh, sebentuk kilat menyambarnya. Hebatnya, Tito tak celaka sedikitpun. Hanya saja rambutnya memiliki kekuatan seperti sebuah magnet.
Keanehan yang dialami Tito dijadikan bahan permainan oleh temannya.
“Lihat, itu Tito mau ke ladang. Ayo, kita kerjain dia!” teriak teman-teman sebaya Tito.
Mereka melempar sendok, potongan kawat, sendok bekas ke dekat Tito. Tap! Dengan cepat, benda-benda logam itu menempel pada rambut Tito. Giliran Ayah Tito yang sibuk pada malam harinya mencabuti benda-benda pada rambut Tito.
Keadaan itu berlangsung lama. Rambut Tito makin tumbuh seperti semak-semak karena tak seorang pun  mampu mencukurnya. Gunting dan pisau cukur mereka langsung menempel di rambut Tito. Kini, penduduk desa malah melarang Tito keluar dari rumahnya.
“Jangan biarkan Tito pergi dari kamarnya!” protes para penduduk. Sebab, setiap Tito melewati rumah mereka, semua jadi berantakan.
Tentu saja hal ini membuat Tito sedih. Ia tidak dapat membantu ayahnya di ladang.
“Ayah, apakah rambut ini tidak dapat kembali normal seperti dulu?” tanya Tito di kamarnya yang semua terbuat dari kayu.
“Sebenarnya, ada satu cara untuk menghilangkan keanehan rambutmu itu, Anakku,” kata Ayahnya. “Tapi, kau harus menemui Raja di istananya. Raja kita mememiliki sebuah bel ajaib yang dapat mengabulkan satu permintaan setiap bulan. Mudah-mudahan saja bulan ini Raja belum meminta apa pun kepada bel ajaib itu.”
“Tapi, bagaimana caranya aku bisa menemui Raja?” tanya Tito bingung.
“Kau punya paman yang menjadi koki istana. Bawalah surat dariku dan temuilah pamanmu. Mungkin ia dapat mempertemukanmu dengan Baginda Raja,” usul Ayah Tito.
Tengah malam, Tito berangkat. Ibu Tito membuatkan kerudung tebal untuk menutupi kepala Tito.
Pertemuan Tito dan Paman Kiko berlangsung penuh haru. Paman Kiko baru sekali melihat Tito ketika masih bayi.
Tito segera menyerahkan surat dari ayahnya. Setelah membaca surat itu, Paman Kiko baru mengerti alasan Tito menemuinya dengan penutup kepala.
“Tito, bersabarlah. Nanti, aku akan menyampaikan keinginanmu saat makan malam pada Baginda Raja,” kata Paman Kiko sambil meminta Tito istirahat.
Saat makan malam tiba, Paman Kiko langsung memberitahukan perihal Tito pada Baginda Raja. Kemudian Raja meminta agar Tito menghadap padanya. Ia tertarik melihat keanehan Tito.
Masih dengan penutup rambut, Tito menghadap Raja di ruang pertemuan. Namun belum sempat ia bercerita, tiba-tiba kepala pasukan istana menghadap Baginda Raja dengan tergesa-gesa.
“Maaf, Baginda Raja. Saya harus melaporkan hal penting kepada Baginda,” kata kepala pasukan itu.
“Cepatlah katakan!” seru Baginda Raja.
“Seorang jago panah dari kerajaan seberang telah menyusup ke dalam istana untuk membunuh Baginda Raja. Karena itu, kami meminta Raja untuk berhati-hati kepada setiap orang yang mendekati Baginda Raja,” lapor Baginda Raja.
Raja berpikir sebentar. Ia melirik ke arah Tito dengan curiga.
Tahu-tahu, seorang yang menyamar jadi pengawal istana muncul sambil mengeluarkan busurnya. “Hahaha … berita itu benar. Akulah si Jago Panah itu,” teriak orang itu.
Sssssyut …!
Anak panah dilepaskan ke arah Raja. Bersamaan itu Tito langsung membuka penutup kepalanya. Anak panah langsung berbelok dan menempel di rambut Tito. Benda-benda logam di sekitar Tito ikut menempel. Keadaan yang berantakan itu langsung dimanfaatkan untuk menangkap si Jago Panah.
Raja berterima kasih pada Tito. Ia pun langsung mengeluarkan bel ajaib. Sambil membunyikan bel ajaib itu, Raja berteriak, “Bel ajaib! Biarkan rambut Tito kembali seperti semula!”
Jeguerrrr …!
Sebentuk petir keluar dari rambut Tito. Selama beberapa saat, Tito pingsan. Ketika sadar, Tito melihat rambutnya sudah tak lagi seperti magnet.
Kalian tahu apa yang kemudian dilakukan Tito? Ia mencari tukang cukur dan merapikan rambutnya yang gondrong tak keruan. Ia berjanji akan menjaga rambutnya tetap rapi dan terawat.
*****


 

 

 

Hilangnya Koki Istana


Sudah waktunya dapur istana menyiapkan makan siang. Namun, sang kepala koki istana,  Pak Kiko, belum juga datang. Para pembantu Pak Kiko segera melaporkan hal tersebut pada Patih Garda.
“Kalian sudah lama bekerja dengan Pak Kiko. Pasti kalian tahu masakan yang biasa disajikan untuk keluarga istana. Tak perlu menunggu Pak Kiko. Masaklah segera!” Patih Garda malah membentak.
Tujuh koki pembantu Pak Kiko segera memasak. Hidangan itu lalu disajikan di meja makan.
“Aku tidak melihat Pak Kiko menyapa kami siang ini. Kemana Pak Kiko?” tanya Pangeran Sulung kepada pelayan.
“Pak Kiko belum juga datang ke istana. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengannya,” jawab si pelayan.
“Jadi, semua makanan kali ini bukan masakan Pak Kiko?” tanya Putri Bungsu.
“Ayolah, kalian semua makan saja,” bujuk Raja Sagalaya.
Namun, baru beberapa suap makanan, tiba-tiba Pangeran Sulung meletakkan sendok dan garpunya. Begitu juga Putri Bungsu. Ada yang kurang dari hidangan itu.
Mengetahui ada yang tidak beres, Patih Garda memanggil ketujuh koki pembantu. Semua langsung gemetar ketakutan.
“Ampuni kami, Patih. Kami sudah memasak hidangan tersebut seperti biasa kami lakukan bersama Pak Kiko. Tidak ada bumbu yang kami kurangi atau tambahkan,” kata salah seorang koki.
“Mungkin saja tanpa sepengetahuan kami, Pak Kiko punya bumbu rahasia,” kata pelayan yang lain.
Tiba-tiba, seorang pengawal istana melapor pada Patih Garda. Ia membawa segulung surat yang ditemukannya di pintu gerbang istana. Segera Patih Garda membaca isi surat itu.
“Baginda Raja yang Mulia, koki istana telah kami culik. Jika ingin dikembalikan dengan selamat, serahkan dulu seratus karung emas pada kami. Kami tunggu tebusan itu di hutan perbatasan sebelah selatan sore ini. Dari kami, Gerombolan Macan Hitam.”
Raja Sagalaya terkejut mendapat laporan dari Patih Garda. Tebusan yang mereka minta sangat banyak. Namun, Raja Sagalaya tak punya pilihan lain. Raja sekeluarga sangat menyayangi Pak Kiko.
“Baginda, izinkan hamba yang mengatur semuanya,” pinta Patih Garda.
“Baiklah, kuserahkan tugas ini padamu,” titah Raja Sagalaya.
Bergegas Patih Garda membawa sepasukan prajurit berkuda, juga seratus karung berisi keping emas yang diangkut dalam beberapa gerobak. Rombongan itu lalu bergerak menuju hutan di sebelah kerajaan.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan menancap di salah satu karung pada gerobak paling depan. Sepucuk surat terikat di pangkalnya.
“Patih Garda yang bijaksana, suruhlah prajuritmu berhenti sampai di sini. Biarkan Patih sendiri yang membawa gerobak-gerobak itu. Dari kami, Gerombolan Beruang Hitam.”
Patih Garda menuruti permintaan itu. Ia meneruskan perjalanan dengan tenang seorang diri. Hingga di perbatasan, ia bertemu dengan puluhan lelaki bertampang seram.
“Hahaha …, kami bangga kerajaan ini mau mengeluarkan seratus karung emas hanya untuk ditukar dengan seorang koki,” teriak si Brewok, kepala gerombolan penjahat.
“Jangan terlalu lama. Serahkan segera koki kami!” seru Patih Garda.
Seorang penjahat segera menarik Kiko yang terikat tangannya ke hadapan Patih Damar. Namun sebelum menyerahkan Pak Kiko, mereka membuka ikatan karung dalam gerobak yang ada di bagian depan. Setelah yakin karung itu berisi kepingan emas, Pak Kiko diserahkan kepada Patih Garda.
Namun, ketika Patih Garda mendapatkan Pak Kiko, ia tiba-tiba berteriak, “Serang!”
Aha! Rupanya, hanya sepuluh karung di gerobak depan saja yang berisi kepingan emas. Sembilan puluh karung lainnya berisi prajurit istana yang gagah perkasa. Mereka langsung menyerbu dan menangkap gerombolan penjahat itu.
Perjalanan pulang, Patih Garda dan Pak Kiko duduk bersisian di kereta perang.
“Kalau boleh tahu, apakah Pak Kiko punya bumbu rahasia saat memasak? Tadi siang, semua pembantu Pak Kiko tak ada yang bisa memasak selezat Pak Kiko,” tanya Patih Garda.
“Ada, namanya bumbu cinta. Aku selalu menanamkan rasa cinta pada pekerjaanku. Aku juga menanamkan rasa cinta pada keluarga kerajaan,” jawab Pak Kiko.
Patih Rangga manggut-manggut. Rupanya, bumbu rahasia Pak Kiko sangat sederhana, yakni memasak dengan penuh cinta.
******











Karena Suka Membaca

Lagi-lagi, Inot terlambat bangun. Akibatnya, ia harus terburu-buru pergi mandi dan berganti pakaian.
“Percuma tergesa-gesa begitu, Not. Kereta penjemput pekerja istana baru saja berangkat,” ujar Bu Bayang di pintu kamar.
“Tidak apa-apa, Bu. Aku jalan kaki saja,” timpal Inot.
“Ya, tapi kamu bisa terlambat sampai di istana. Pantas saja Pak Dorman hanya memberimu pekerjaan sebagai penyapu istana,” ujar Bu Bayang kesal. “Aku kan sudah bilang, jangan suka membaca hingga larut malam. Tukang sapu istana tidak usah banyak membaca. Kamu bukan pustakawan atau tabib.”
Inot tidak menimpali. Ia segera meninggalkan tempat tinggal para pekerja istana. Jauh di atas bukit, ia melihat titik hitam. Rupanya, kereta penjemput sudah menjauh.
Inot memutuskan berjalan memintas hutan. Jalan itu hanya diketahui Inot, lantaran ia selalu melalui jalan itu bila terlambat pergi ke istana. Pertama kali melewati jalan itu, Inot merasa ngeri melihat banyak pohon besar,tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Ia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Kreeek …! Telinga Inot menangkap suara itu. Ia segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ada seorang anak perempuan berdiri dengan wajah cemas.
“Siapa kamu? Mengapa berada di sini? Hei, kamu kelihatan gelisah sekali!” sapa Inot seraya mendekati anak perempuan itu.
“Namaku … Gege. Aku tinggal di hutan ini bersama nenekku. Dia sedang sakit parah,” jelas Gege.
“Kalau begitu, biar kupanggil tabib untuk nenekmu,” Inot menawarkan bantuan.
“Tidak perlu. Yang kubutuhkan bukan itu, tapi orang yang bisa membaca,” kilah Gege.
“Wah, kebetulan aku bisa membaca, kok!”
“Sungguh? Oh, beruntung sekali! Ayo ikut denganku.” Gege melangkahkan kakinya diikuti Inot.
Mereka jalan menembus hutan. Gege menceritakan tentang dirinya.
“Sebenarnya nenekku itu adalah seorang tabib istana. Karena telah lanjut usia, ia berhenti kerja. Nenek ingin mewariskan ilmunya padaku, tapi aku tak dapat membaca. Aku sangat malas belajar membaca. Apalagi kita-kitab nenek sangat tebal. Tapi kini, begitu nenek jatuh sakit, aku tidak bisa menolongnya,” tutur Gege sambil berjalan.
“Kenapa nenekmu tidak mengobati sendiri?” tanya Inot heran.
“Mata nenek sudah rabun dan sudah pikun. Umurnya saja sudah seratus lebih. Nah, itu rumah kami!” tunjuk Gege.
Mereka sampai di sebuah rumah mungil berdinding kayu. Gege langsung membuka pintu rumah. Terlihat oleh Inot seorang nenek tengah berbaring di atas dipan.
“Ini kitab yang harus kamu baca. Lalu, di lemari itu ada kendi berisi ramuan yang harus kamu pilih sesuai petunjuk kitab,” ujar Gege seraya menyerahkan kitab tebal pada Inot.
Setelah menanyakan dulu kondisi nenek Gege, Inot segera membaca kitab itu. Dicarinya jenis ramuan yang cocok dengan penyakit nenek Gege. Inot lantas membuat ramuan dan meminta nenek Gege meminumnya.
Mata Gege bersinar ketika melihat keadaan neneknya kemudian membaik.
“Aku sudah lebih sehat sekarang. Siapa namamu?” tanya nenek Gege.
“Namaku Inot, tukang sapu halaman istana,” jawab Inot.
“Tidak kusangka, seorang pekerja sepertimu dapat membaca. Kamu berbakat untuk menjadi seorang tabib. Apa kamu bersedia?” tanya nenek Gege lagi.
“Ten … tu sa … ja,” jawab Inot girang.
“Kalau begitu, datanglah ke sini setelah selesai bekerja untuk mempelajari kitab-kitabku. Juga sekalian tolong ajari Gege membaca.”
“Oh, tetapi pekerjaanku teramat banyak. Terkadang sore hari baru selesai. Lagi pula, aku tidak punya kuda untuk mencapai tempat ini dengan segera.”
“Jangan khawatir!” sahut Gege sambil mengambil sebatang sapu. “Ambillah ini untukmu. Sapu ini bisa terbang melebihi kecepatan seekor kuda. Hanya, aku tidak tahu mantranya. Bacalah sendiri di buku cokelat itu.”
Inot mengambil buku yang ditunjuk. Di buku itu, tertulis aneka mantra untuk menjalankan sapu itu. Mulai dari mengawali, belok kiri, belok kanan, berputar, atau berhenti. Bahkan, sapu itu bisa diperintahkan dengan mantra khusus untuk melakukan apa saja.
“Oh, maaf aku harus segara berangkat kerja. Pasti aku terlambat,” tiba-tiba Inot teringat pekerjaannya.
“Bawa saja sapu dan buku petunjuknya. Kamu bisa sampai ke istana dengan cepat,” saran nenek Gege.
Inot menuruti permintaan nenek Gege. Karena Inot anak yang cerdas, ia langsung hafal beberapa mantra setelah membaca. Sapu itu lantas membawa Inot ke istana lewat angksa. Wusss .…
Untung, Pak Dorman yang menjadi pengawas pekerja istana tidak melihat kedatangan Inot. Seperti biasa Inot bekerja menyapu halaman istana.
Setahun berlalu, Inot sudah menguasai banyak ilmu pengobatan dari kitab-kitab yang dibacanya. Sesekali, nenek Gege ikut mengajar, terutama memperkenalkan jenis obat-obatan dari tetumbuhan. Sementara itu, Gege mulai lancar membaca.
Suatu hari, Raja Pundre terserang penyakit yang membuatnya tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Beberapa orang tabib berusaha mengobatinya, namun gagal. 
 Inot ikut mencoba mengajukan diri untuk mengobati Raja Pundre. Tapi, para pengawal menghalanginya. Inot lantas menyerahkan sebuah lencana pada Patih Gufa. Mengetahui lencana itu hanya diberikan pada orang-orang yang dipercaya Raja Pundre, Inot diperbolehkan mengobati Raja Pundre.
 Setelah minum obat hasil ramuan Inot, perlahan kesehatan Raja Pundre membaik. Inot langsung diangkat menjadi tabib istana. Banyak orang yang terkejut melihat seorang tukang sapu istana menjadi tabib istana, terutama Bu Bayang!
“Bagaimana caranya kamu bisa mengobati Raja Pundre, Not?” tanya Bu Bayang heran.
“Jawabannya mudah. Aku bisa mengobati Raja Pundre karena aku suka membaca,” jawab Inot singkat.
Ya, jawaban itu selalu dikatakannya bila ada yang bertanya tentang kemampuannya. Inot berharap banyak orang yang akan gemar membaca seperti dirinya.
******

 

Komal & Kodi


Di sebuah pinggir kota, terdapat telaga kecil yang airnya bening. Para pedagang sering beristirahat di telaga itu untuk mencuci muka atau menghilangkan rasa haus.
Di telaga itu, tinggal dua ekor katak bernama Kodi dan Komal. Walaupun bersaudara, sifat mereka sangat berlainan.
Suatu hari, datang penjual gerabah dengan gerobaknya ke telaga itu. Namun, malang nasibnya. Ketika hendak mencuci muka, cincin emas di jari manisnya terlepas dan tenggelam ke dasar telaga.
“Aduh, sialnya aku! Cincinku jatuh dan aku tak bisa berenang,” keluhnya.
“Salah sendiri! Kalau tidak bisa berenang jangan dekat-dekat telaga ini,” timpal Komal mengagetkan.
Pedagang gerabah itu terkejut. Dia langsung memiliki harapan begitu melihat ada katak di dekatnya.
“Maukah kau menolongku mengambilkan cincinku yang terjatuh. Istriku bisa marah kalau tahu cincin pernikahan kami itu hilang,” pinta pedagang gerabah.
“Aku tidak mau!” jawab Komal ketus.
Pedagang itu terus memohon. Namun, Komal tetap menolak. Tak lama kemudian, Kodi datang. Pedagang gerabah itu langsung minta tolong pada Kodi.
“Tunggulah sebentar,” ujar Kodi, lalu segera menyelam ke dasar telaga. Tak lama, ia muncul dengan cincin emas. Diberikannya cincin emas itu pada pedagang gerabah.
“Terima kasih atas kebaikanmu. Sebagai balas budi, kuberikan kau hadiah.” Pedagang gerabah memberikan sebuah mangkuk keramik kecil untuk Kodi. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya.
“Heh, untuk apa mangkuk itu? Kita tidak memerlukannya,” ejek Komal.
“Ya, saat ini mungkin tidak perlu. Tapi, akan kusimpan,” sahut Kodi.
Beberapa hari kemudian, singgahlah seorang pedagang minyak keliling ke telaga itu. Nasibnya pun sedang sial. Kacamatanya terjatuh saat ia hendak mencuci muka.
“Bagaimana aku bisa pulang tanpa kacamataku,” gumam tukang minyak itu.
“Pakai tongkat saja!” seru Komal sambil tertawa mengejek.
Tukang minyak mengamati dengan saksama sumber suara yang didengarnya. Samar-samar ia melihat sekor katak dekat kakinya.
“Hei, maukah kau mengambilkan kacamataku?” pinta tukang minyak itu.
“Tidak!” jawab Komal langsung.
“Biar aku yang menolongmu,” tiba-tiba Kodi datang dan membantu mengambil kacamata tukang minyak.
“Terima kasih. Sebagai hadiah, aku berikan sebotol minyak tanah dan korek api. Mungkin kau memerlukannya suatu hari nanti,” kata tukang minyak. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
“Heh, hati-hati dengan hadiah itu. Bisa-bisa telaga ini kebakaran," komentar Komal.
”Aku akan hati-hati menyimpannya,” sahut kodi.
Pada hari lain, singgah pedagang kain ke telaga itu. Karena tidak hati-hati, jam tangannya tercebur ke telaga.
“Aduh, arloji kenang-kenangan ayahku tercebur. Siapa yang bisa membantuku mengambilkannya?” gumam pedagang kain itu.
“Aku bisa. Tapi, kau harus memberiku sekantong uang emas,” kata Komal tiba-tiba.
“Daganganku belum laku. Aku hanya punya beberapa keping uang perak.”
“Tenang saja. Biar aku yang membantu,” ujar Kodi yang muncul kemudian. Ia menceburkan diri ke dasar telaga dan mendapatkan arloji milik pedagang kain. Kodi segera memberikan arloji itu kepada pemiliknya.
“Terima kasih. Atas kebaikanmu, kuberikan kau sehelai kain,” kata pedagang kain, lalu meninggalkan telaga.
Komal tertawa melihat Kodi menerima kain itu. Tapi, Kodi menyimpan pemberian itu.
Beberapa waktu kemudian, datanglah musim kemarau. Lambat laun air telaga menyusut dan semak-semak di sekitarnya meranggas. Tidak ada lagi serangga yang datang ke telaga itu. Komal dan Kodi mulai kekurangan makanan.
Suatu malam, mereka mulai kelaparan karena sudah dua hari tidak makan.
“Coba kalau kau dulu meminta sesuatu yang bisa kita makan, saat menolong orang-orang itu. Pasti saat ini kita tidak kelaparan. Barang-barang yang mereka berikan itu tidak berguna,” ejek Komal kepada saudaranya.
Kodi terdiam sebentar. Tiba-tiba, ia mendapat ide. Kodi menuangkan sedikit minyak tanah ke mangkuk keramik di dekatnya. Ia menyobek kain dan memintalnya menjadi sumbu. Ujung sumbu lalu dibakar api. Maka jadilah barang-barang hadiah itu sebuah pelita yang menerangi mereka.
“Kodi, kita tidak perlu cahaya. Yang kita perlukan adalah makanan,” protes Komal.
“Tenang, Saudaraku. Apa kau tidak tahu, serangga paling senang melihat cahaya,” timpal Kodi.
Benar saja apa yang dikatakan Kodi. Tak lama kemudian, banyak serangga mendekati pelita itu. Mereka segera memangsa serangga itu hingga cukup mengisi perut mereka.
Komal akhirnya sadar, ternyata barang-barang pemberian yang dikumpulkan Kodi itu berguna juga. Komal bangga memiliki saudara yang baik hati dan cerdik.