Tuesday, October 23, 2012

[BUKU] NOVEL PRINCESS HAMESHA -Tamat

Aku Tidak Pesek

                “Farah! Jangan lewat sana!”
                Aku menengok. Shirley berlari mendekatiku dengan napas tersengal.
                “Tadi, aku lihat Dave dan gerombolannya di sana,” bisik Shirley. Kulihat jepit berbentuk capung di rambutnya bergoyang. Pagi ini, pasti dia membayangkan dirinya seorang Putri Capung.
                “Biar saja. Aku tidak takut. Aku harus buru-buru ke kelas sebelum Mrs. Angel menghukumku.” Aku melanjutkan langkahku.

Shirley yang juga tidak mau terlambat masuk kelas langsung mengekor. Kami menyusuri lorong lantai satu menuju sayap kiri bangunan sekolah yang luas.
                Dave adalah siswa kelas enam yang menyebalkan. Tubuhnya kurus seperti gagang sapu nenek sihir. Dia anak seorang multimiliuner. Mungkin orangtuanya paling kaya dari semua orang kaya di Winston International School.
                “Hai, Pesek!” Dave langsung mengejek begitu melihatku. Dia berdiri di depan kelasnya. Hanya beberapa meter sebelum pintu kelasku.
                “Pesek! Pesek!” beberapa anak lelaki di dekat Dave ikut meledek.
                Ya, Allah … beri aku kesabaran. Kata ibu, aku tidak pesek. Paling tidak, hidungku tidak sepesek ibu. Ya, walaupun tidak semancung teman-temanku yang berdarah murni Inggris. Tapi sungguh, aku tidak mau punya hidung seperti mereka yang justru menakutkanku.
                “Anak perempuan pendek, hidungnya pesek!” Dave makin kencang meledek.
                DUG!
                Entah kapan tepatnya. Tahu-tahu kepalan tanganku bersarang ke hidung Dave. Karena kerasnya, Dave sampai kesakitan. Dia malah lantas berguling-guling di lantai sambil menutup hidungnya dan menjerit.
                Sepuluh menit kemudian ….
                Aku harus duduk tegak di depan Bapak Kepala Sekolah, Mr. Smith. Aku berusaha menikmati pidato panjang Mr. Smith berjudul “Pentingnya disiplin, larangan kekerasan di sekolah dan menghormati sesama teman”. Sebenarnya, judul itu mungkin akan lebih panjang lagi kalau saja ayah dan ibu tidak buru-buru masuk ke ruangan Mr. Smith.
                Ibu langsung menenangkanku. Bicara dalam bahasa Inggris sebentar, lalu memakai bahasa Indonesia. Terus terang aku lebih suka mendengar ibu berbahasa Indonesia. Meski aku lahir di London, memiliki ayah berkebangsaan Inggris dan aku sendiri berwarga negara Inggris, tapi aku merasa sebagian diriku orang Indonesia.
                “Kamu tidak apa-apa?” tanya ibu.
                “Kurasa Dave yang apa-apa, Bu,” jawabku. “Biar tahu rasa dia. Tadi Dave mengatai aku pendek dan pesek.”
                “Ibu sudah bilang berulang kali, kamu tidak pendek dan pesek. Dia menghinamu karena iri. Lihatlah kulitmu yang bagus. Mereka tidak punya kulit sepertimu. Matamu biru seperti mata Ayah. Rambutmu perpaduan rambut Ibu dan Ayah. Semua yang ada di dirimu merupakan perpaduan yang indah antara Ibu dan Ayah,” jelas ibu sambil membetulkan letak kerudungnya.
                Ayah masih bicara dengan Mr. Smith. Dengan bahasa Inggris tentu saja.
                “Baiklah Mr. Edward, semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Sampai jumpa!” Mr. Smith menjabat ayah.
                Ayah dan ibu mengajak aku keluar ruangan Mr. Smith.
                “Hari ini, kamu tidak usah sekolah dulu. Bermain saja di rumah,” kata ayah kemudian.
            “Apakah ini hukuman buatku dari Ayah?” tanyaku.
                “Dari Ayah? Buat apa Ayah menghukummu? Ayah setuju sekali dengan apa yang telah kamu lakukan. Anak lelaki yang berani meledek anak perempuan itu sama dengan pengecut. Dan kamu berhak meninjunya. Hahaha …!”
                “Ayah ini bagaimana? Biar bagaimanapun, berkelahi itu tidak baik,” potong ibu.
                “Aku tidak berkelahi. Aku hanya memukulnya sekali,” kataku.
                “Uuuh, Ayah sama anak sama saja!” seru ibu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
                Aku dan ayah tertawa.
                Oh iya, aku harus bercerita sedikit tentang ayah. Namanya Mr. Sam Edward. Ayah bekerja sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan biro perjalanan wisata. Dulu, hobinya jalan-jalan. Kalau pergi jalan-jalan, sering tidak tanggung-tanggung tujuannya. Bahkan, sampai ke Indonesia. Itu sebabnya, ayah bisa bertemu ibuku, lalu mereka menikah.
Ayahku tinggi besar, bermata biru dan berkulit putih. Beliau sangat mencintai ibu, sehingga mereka menikah. Ayah mau beralih agama menjadi seorang Muslim yang taat. Oh iya, ayah sendiri yang meminta agar aku memanggil ayah, bukan daddy.
            Hmmm …, tidak adil juga kalau aku tidak bercerita tentang ibu. Menurutku, ibu adalah wanita tercantik di dunia ini. Ibu masih sekolah sepertiku. Bedanya, ibu sekolah lagi untuk mengambil gelar master di bidang komputer. Ibuku asli orang Indonesia, tepatnya dari Bandung.
                Ngomong-ngomong seperti apa, ya, kota Bandung?
                Ibu dan ayah bilang aku pernah ke Bandung ketika umur delapan bulan dan dua tahun. Jadi, aku tidak ingat apa-apa sekarang. Rencananya, baru tahun ini kami akan ke Bandung lagi. Sekalian berlebaran dengan kakek dan nenekku. Biasanya sih, setiap tahun kakek dan nenek yang datang ke London diajak Ayah.
                Ah, sudah ya. Aku tidak mau cerita tentang Bandung, kakek, nenek … biasanya aku suka menangis. Dan aku benci menangis!
^-^
Keesokan harinya, aku sekolah seperti biasa. Menjelang pintu kelas, aku melihat Dave dan teman-temannya di tempat yang sama seperti kemarin. Hidungnya ditutup plester. Aku menghampirinya, untuk meminta maaf. Tapi, Dave dan gerombolannya malah lari ketakutan.
                 “Dia kapok ditinju olehmu. Mudah-mudahan dia tidak hanya takut mengganggumu, tapi juga anak perempuan lainnya,” komentar Shirley.
                “Sebenarnya, aku sudah ingin menonjoknya sejak perkemahan musim panas tahun lalu. Kamu pasti ingat, bagaimana Dave mengganggu kami yang Muslim saat shalat. Tapi, aku berusaha sabar. Untung saja, Mrs. Angel melihat ulahnya, jadi Dave kena hukuman,” kataku.
Sekolahku menampung banyak murid beragam bangsa, meski sebagian besar adalah orang Inggris. Jadi, murid yang beragama Islam memang bukan hanya aku. Ada beberapa murid berdarah (asli maupun campuran sepertiku) Arab, Persia, Spanyol, dan Turki.
                “Kurasa dia tidak kapok dengan hukuman Mrs. Angel. Makanya, dia terus mengganggumu. Baru setelah kamu tonjok, dia kapok. Hahaha!” Shirley tertawa. Mulutnya melebar seperti bunga-bunga di musim semi ini.
                Bel tanda mulai belajar berbunyi. Hari ini, Mrs. Angel mengajar lagi di jam pertama. Pelajaran matematika yang sebenarnya menyenangkan jadi menegangkan kalau diajarkan Mrs. Angel. Terutama, bagi anak-anak yang malas belajar.
                Hah? Tapi, kok Mrs. Angel datang ke kelas bersama Mr. Smith? Apa aku akan dipanggil lagi ke ruangan Mr. Smith?
                Oh … rupanya, ada seorang anak perempuan di belakang Mr. Smith. Anak perempuan  berkulit putih, berambut emas, tinggi … dan tapi kenapa mukanya cemberut? Dia pasti cantik sekali, kalau saja mau tersenyum.
                “Murid-Muridku, kenalkan ini anak baru di kelas kalian. Namanya Hamesha!” jelas Mr. Smith singkat.
                “Panggil aku Esha,” lanjut anak baru itu.
                Mrs. Angel menyilakan Esha mengambil tempat duduk di kuris yang kosong. Tepatnya di dekatku.
                “Hai, namaku Farah,” salamku ketika Esha duduk.
                “Aku tidak tanya!”
                Ufh!
^-^


Benar-benar Menyebalkan

Pelajaran olahraga selalu membuatku senang. Apalagi sepak bola. Sepertinya semester ini, Mr. Robert akan membimbing kami terus belajar sepak bola. Di Inggris, sepak bola memang jadi olahraga favorit siapa pun. Baik lelaki maupun perempuan.
                Mr. Robert membagi kami menjadi dua tim. Anak lelaki dan perempuan dicampur. Shirley senang sekali ketika tahu dirinya satu tim denganku.
                “Tim kita pasti menang. Kamu saja jadi kaptennya, Farah!” ucap Shirley yang langsung disetujui teman-teman satu timku.
                Aku langsung menyusun timku. Kupilih Dean yang besar menjadi kiper. Shirley dan Hugh di bagian belakang. Lainnya menyerang bersamaku.
                Tim lawanku dipimpin Thomas. Yang mengejutkan, Thomas memasang anak baru itu jadi penyerang utama. Entah apa alasannya. Mungkin, Esha yang mengajukan dirinya.
                Priiit! Mr. Robert meniup peluit!
                Kami mulai menendang bola. Lalu, semua yang berada di lapangan mulai bersigap. Kadang tendangan kami terarah, kadang tidak. Sebagian dari kami memang belum lihai bermain bola. Jadi, lebih banyak menendang semaunya. Yang penting keras. Syukur-syukur bisa masuk ke gawang lawan.
                 Saking semangatnya kami bermain, kadang permainan kasar terjadi. Ada yang menarik baju lawan, mendorong, bahkan ketika aku sedang menggiring bola dengan cepat  … di saat aku mendekati kotak penalti, tahu-tahu ….
                Auw! Tulang kakiku kesakitan. Aku terjatuh karena kakiku dikait. Seseorang menghalangi lariku dengan curang dari belakang. Bahkan, dia juga mendorongku. Saat aku menoleh, ternyata … Esha!
                “Hei! Kalau mengambil bola di kaki lawan, yang benar! Jangan curang!” seruku kesal sambil berusaha berdiri walau nyeri.
                “Siapa yang curang?” tanya Esha tak menerima.
                YOU!” teriakku.
                “Jangan menuduh sembarangan. Kamu saja yang payah bisa sampai jatuh!” balasnya.
                “Kamu sengaja!”
                “Kalau tidak bisa main bola bilang saja! Dasar pesek!”
                Arrrgggg! Mengapa selain Dave, ada orang yang mengejek aku pesek? Apakah aku benar-benar pesek? Tidak! Aku tidak pesek. Aku pernah melihat anak-anak Indonesia di kantor Kedutaan Besar Indonesia di London. Hidungku jauh lebih mancung dari mereka. Ya, aku tidak pesek!
                “Hentikan! Ayo kalian berdua keluar dari lapangan!” teriak Mr. Robert.
                Aku menunduk lalu melangkah keluar lapangan. Shirley mendekatiku.
                “Farah, jangan pedulikan jika ada orang yang mangatakan hidungmu pesek. Percayalah, mereka adalah orang yang tidak mengenal siapa kamu. Mereka tidak tahu kamu pintar, rajin, menyenangkan ….”
                Thank you, Shirley.”
                Aku merasa lega dihibur Shirley. Kalimatnya seperti es krim yang meleleh di atas kepalaku yang mendidih. Sebenarnya, aku kesal terhadap Esha karena mengait kakiku, bukan karena mengatai hidungku.
                Hm …, anak baru yang menyebalkan!
                Tim sepak bolaku akhirnya menang tipis dengan skor 5-4. Kami terus membicarakannya hingga di ruang ganti pakaian. Meskipun begitu, kami berusaha tidak mengejek teman-teman kami yang kalah.
                Obrolan kami di ruang ganti tiba-tiba berubah jadi kacau, ketika terdengar suara jeritan.
                “TIKUS!!!”
                “Aaaaah!”
                “Auw! Auw!”
                Aku terkejut. Bukan karena tikus, tapi karena jeritan teman-teman perempuanku. Juga suasana yang mendadak tak beraturan. Tapi, di mana tikusnya?
                “Itu!” teriak Shirley sambil berdiri di atas kursi. Aku heran dengan Shirley. Dia biasa akrab dengan kumbang yang paling menyeramkan, juga berbagai jenis ulat daun yang benar-benar jelek. Tapi, mengapa dia seperti melihat monster dari planet paling jauh ketika melihat seekor tikus.
                Aku mendekati tikus itu. Aneh, tikusnya tidak lari. Begitu kupegang, aku langsung tahu itu cuma tikus mainan. Sekilas memang mirip tikus asli.
                “Dasar penakut semua!”
                Aku menoleh. Ternyata, Esha yang berkata. Sambil tersenyum sinis, ia kemudian merogoh sesuatu dari locker-nya, lalu melemparkannya ke kerumunan teman-temanku.
                “Auw!” jerit mereka.
                Rupanya tikus mainan lainnya. Itu artinya yang melempar tikus mainan tadi pun adalah Esha.
                “Jangan ulangi perbuatanmu! Kamu tidak tahu, teman kita ada yang lemah jantung. Bagaimana kalau dia pingsan?” tanyaku sambil mendekati Esha.
                “Bukan urusanku,” sahut Esha sambil pergi meninggalkan ruang ganti.
                Kami semua menarik napas.
                “Seharusnya, kan, kita-kita yang ngerjain dia karena anak baru. Kenapa malah jadi dia yang ngerjain kita?” tanya Shirley.
                “Anak baru itu menyebalkan sekali!” sahut Bertha yang bertubuh gemuk.
                “Ya, benar-benar menyebalkan!” sahut lainnya.
                Aku yakin sekali akan ada perbuatannya yang lebih menyebalkan lagi. Karena biasanya, murid-murid yang menyebalkan memang selalu menyebalkan. Mereka tidak pernah kapok.
^-^
Aku tidak tahan menceritakan tentang anak baru itu kepada ibu. Apalagi ibu kemudian menanyakan tentang kakiku yang memar. Ya, sampai rumah aku baru merasakan nyeri di kakiku karena dikait saat main bola tadi.
                “Pokoknya, anak baru itu benar-benar menyebalkan. Bahkan, saat pulang sekolah tadi, dia menempeli rambut Brandon dengan permen karet,” tuturku sambil membiarkan ibu membaluri kakiku dengan krim.
                “Laporkan saja kepada kepala sekolah, biar dia dihukum,” saran ibu.
                “Sudah. Tapi, kepala sekolah tidak melakukan apa-apa. Memanggil ke ruangan beliau saja tidak, apalagi menghukum. Kenapa, ya, bisa ada anak baru yang menyebalkan seperti Esha?”
                “Dulu, waktu ibu masih sekolah sering juga menemukan anak-anak menyebalkan begitu. Biasanya, mereka melakukan itu untuk mencari perhatian. Umumnya anak-anak yang tidak pandai. Karena itu, mereka membuat ulah dengan kenakalannya agar mendapat perhatian orang lain,” jelas ibu.
                “Tapi, Esha tidak bodoh. Tadi dia menjawab semua pertanyaan matematika yang sulit dari Mrs. Angel. Ya, walaupun dengan gayanya yang menyebalkan.”
                “Hm … kalau begitu … mungkin dia sengaja membuat ulah, agar tidak disukai kamu dan teman-temanmu. Juga agar tidak disukai guru-guru dan kepala sekolah.”
                “Kenapa begitu? Itu artinya dia tidak ingin disukai kami semua.”
                “Mungkin memang itu maunya. Sebabnya, karena dia tidak ingin sekolah di Winston.”
                Aku tertawa kecil. “Aku belum pernah mendengar ada orang yang tidak mau sekolah di Winston. Sekolahku terkenal dan favorit banyak orang,” kataku.
                “Iya, Ibu tahu itu. Makanya, Ibu pilihkan Winston untukmu karena Ibu ingin kamu sekolah di tempat yang terbaik.”
                “Terus, bagaimana dulu Ibu menghadapi teman-teman yang menyebalkan di sekolah,” tanyaku walau aku yakin tahu jawabannya.
                “Bersabar. Jangan ladeni. Makin diladeni, akan makin berulah.”
                Tuh, benar, kan? Pasti ibu akan menjawab seperti itu. Berbeda sekali bila aku bertanya kepada ayah. Pasti ayah akan menyuruhku menonjok hidung teman yang menyebalkan.
Ibu menghela napas sebentar lalu melihat jam. “Sudah masuk waktu Shalat Magrib. Shalat dulu, yuk!”
                Aku mengikuti ibu. Sebelum shalat aku mengirim SMS ke ayah yang masih di kantor agar tidak lupa Shalat Magrib, dan berharap agar ayah bisa jadi imam saat Shalat Isya nanti.
                Setelah Shalat Magrib berjamaah bersama ibu, aku berdoa sendiri. Sebuah doa khusus kupanjatkan agar Esha bisa jadi anak yang menyenangkan mulai besok.
^-^



Dia Seorang Princess!

                Aku berangkat sekolah seperti biasanya diantar ibu. Masuk di gerbang Winston International School, suasana sudah ramai. Sekolah ini memang sangat favorit. Dan boleh disebut sekolah lengkap, karena mulai dari preschool sampai universitas ada dalam satu kawasan. Hanya berbeda gedung.
                Gedung untuk anak sekolah dasar ada di utara. Sementara itu, untuk anak sekolah yang lebih senior di selatan. Gedung universitas di bagian barat. Di timur merupakan lokasi gedung olahraga yang komplet.
                 Saat masuk koridor, aku melihat Esha. Buru-buru aku menyusulnya.
                “Selamat pagi, Esha,” sapaku saat berjalan sejajar dengannya.
                “Hmmm …!”
                “Mengapa kamu tidak membalas salamku?” tanyaku.
                “Untuk apa? Aku tidak minta kamu memberi salam kepadaku,” sergah Esha sambil terus berjalan.
                “Kamu tidak suka kepadaku?”
                “Tepatnya, kepada semua orang di sini,” tegas Esha.
                “Kenapa?”
                “Karena kalian menyebalkan.”
                Aku menelan ludah. Bukankah dia yang sebenarnya menyebalkan?
                “Oke, maafkan kami kalau telah membuatmu kesal,” kataku kemudian.
                “Tidak perlu.”
                Kami hampir sampai di depan pintu kelas enam. Kulihat Dave bersama anak lelaki lainnya. Jumlah mereka makin banyak. Dan melihat mereka yang terus memandang ke arah Esha, aku yakin sebentar lagi mereka akan melontarkan ejekan.
                “Hei, Pipi Besar! Pipi Tembem!” ledek Dave sambil tertawa.
                Aku melotot ke arahnya. Tapi, Dave tidak peduli karena matanya bukan tertuju kepadaku.
                BUG!
                Tahu-tahu saja Esha maju dan langsung menonjok hidung Dave yang masih diplester. Dave langsung berguling-guling sambil berteriak kesakitan.
                Ya … kalian pasti bisa menduga kejadian berikutnya. Dave harus masuk klinik, dan Esha dipanggil ke ruang kepala sekolah. Karena aku bersama Esha, akhirnya aku diminta ikut ke ruang kepala sekolah.
                Aku hanya sebentar berada di ruang Mr. Smith. Aku diminta menceritakan kejadian tadi. Setelah itu, aku boleh kembali ke kelas.  Tapi, aku tidak langsung ke kelas. Aku menunggu di depan ruang Mr. Smith.
                Tak lama lagi, pasti orangtua Esha akan datang dipanggil Mr. Smith. Nah, aku ingin tahu seperti apa orangtua dari murid baru yang menyebalkan itu. Ups! Aku ralat. Dia tidak lagi menyebalkan. Soalnya, dia sudah berani meninju hidung Dave.
                “Tidak bisa, Mr. Smith,” terdengar suara Miss Cathy, sekretaris Mr. Smith.
                “Ya, mereka pasti sibuk. Selalu begini kalau kita menerima seorang princess sekolah di sini. Ada saja keonaran,” timpal Mr. Smith.
                “Maaf. Kita tidak boleh menyebutnya seorang princess. Bukankah begitu permintaan orangtuanya?” Miss Cathy mengingatkan.
                Hah? Seorang princess?! Jadi, Esha adalah seorang putri kerajaan? Kerajaan mana, ya? Yang jelas bukan di Inggris. Aku tahu siapa saja yang berhak menyandang gelar princess di Inggris.
                “Kalau begitu, biarkan dia kembali ke kelas,” kata Mr. Smith.
                Ups! Sebelum ketahuan, aku buru-buru masuk ke kelas.
                Hm …, jadi Esha benar seorang princess. Princess Hamesha!
^-^
Saat istirahat, aku pergi ke ruang perpustakaan. Aku menuju komputer yang memiliki jaringan internet. Siswa di sekolah ini bebas memakai fasilitas yang ada di perpustakaan. Di sini tidak hanya tersedia buku, tapi juga perangkat audio dan video. Sebenarnya, kalau kita membawa notebook atau laptop, kita bisa membuka internet gratis di mana pun di lingkungan sekolah. Karena sekolah memberi fasilitas hotspot.
                Aku membuka mesin pencari Google. Lalu, kuketik Princess Hamesha. Klik! Setelah menunggu beberapa saat, aku menemukan beberapa situs yang memuat data tentang Princess Hamesha. Ketika kubuka salah satunya, aku terkejut!
                Ternyata, Esha benar-benar seorang princess. Dia adalah putri dari Kerajaan Zapnaland. Hmmm …, kerajaan yang namanya baru kukenal. Sebuah kerajaan kecil. Wow, ini penemuan yang menghebohkan buatku.
                Oke, aku memang tahu beberapa orang princess, juga pernah bersalaman dengan mereka. Tapi, memiliki teman dan sekelas dengan seorang princess baru kualami saat ini. Norak, ya, aku? Tapi sungguh, aku dari dulu selalu membayangkan punya teman seorang princess. Kalian pasti suka membaca dongeng-dongeng tentang princess, kan? Kehidupan mereka di istana yang megah, pasti membuat kalian iri.
                Hm …, berhubung aku tidak mungkin mendadak menjadi seorang princess, jadi punya teman seorang princess pun sudah membanggakan tentunya.
                “Farah, kamu sedang apa? Kok ketawa sendiri?”
                Aku kaget. Ternyata, Shirley sudah berada di belakangku. Tangannya membawa buku ensiklopedi tentang serangga. Dia memang penggila serangga.
                “Tidak apa-apa,” kataku sambil menutup website yang baru kubaca. Aku ingin menyimpan rahasia yang baru kuketahui ini. “Tadi aku browsing internet tentang serangga. Kubaca ada kupu-kupu jenis baru di Sulawesi.”
                “Oh itu. Aku sudah tahu. Bahkan yang paling baru, ada kumbang gajah ditemukan di daerah Haiti,” timpal Shirley. “Kamu mau tahu? Ada, lho, kumbang ….”
                Aku menahan napas. Aku harus bersiap-siap mendengar ceramah panjang tentang serangga. Salah aku juga memulai percakapan tentang serangga. Ya, biarlah, asalkan rahasia Princess Hamesha tidak bocor.
                Bagiku, sangat menyenangkan bila aku punya rahasia dan bisa menyimpannya selama mungkin. Aku bukan jenis orang yang suka berbagi rahasia.
^-^

“Sampai di park besok pagi, ya!”
                Aku mengangguk kepada Shirley. Setiap Sabtu pagi —kami hanya sekolah lima hari dalam seminggu— kami punya kebiasaan datang ke taman— biasa kami sebut park. Shirley suka membawa sepedanya, lalu mencari aneka serangga di taman. Aku sendiri lebih suka membaca.
            “Aku boleh ikut?”
                Aku menoleh. Esha? Dia bicara kepadaku?
                “Tentu saja boleh. Datang saja ke park sekitar pukul sembilan, di dekat air mancur,” aku langsung menyahut sebelum Shirley mendahului. Kurasakan Shirley menyikutku pelan. Muka Shirley tampak kesal. Shirley memang tak menyukai Esha, sama seperti teman lainnya di kelas.
                Esha mengangguk dan sedikit tersenyum.
                “Aneh, kenapa dia tiba-tiba mau ikut kita?” tanya Shirley setelah Esha pergi ke sebuah mobil mewah yang menjemputnya. “Mudah-mudahan, dia sudah sadar dengan kesalahannya selama ini.”
                “Amin,” sahutku sambil melangkah menghampiri mobil ibu yang menjemputku.
                Esok harinya, pukul sembilan aku sudah berada di park ‘menaiki’ skateboard-ku. Setiap Sabtu dan Minggu, taman ini dua kali lipat ramainya dikunjungi orang. Ada yang datang bersama keluarganya, bersama teman, dan ada juga yang bersama hewan piaraan.
                Shirley datang lima menit setelah aku. Dia datang dengan sepedanya, dan segala macam benda untuk menangkap serangga. Terus terang, aku pernah memprotes Shirley.
                “Kamu ini penggemar serangga atau musuh serangga, sih? Kenapa, sih, harus sampai menangkapi serangga? Biarkan saja dia bebas,” kataku entah berapa kali aku ucapkan.
                Shirley hanya cengengesan tidak menanggapiku. Akhirnya, aku pun capai memprotesnya. Ya, aku sering juga berharap agar Shirley suatu malam bermimpi dikerubuti belalang afrika atau capung raksasa, biar dia kapok. Hmmm …, tapi sampai detik ini keinginanku itu belum terkabul.
                Tak lama kemudian, aku melihat sosok Esha menuju taman sambil berlari. Dia memakai jeans sepertiku. Warnanya ungu muda. Membuat Esha tampak lebih cantik dari biasanya. Tapi, wajahnya sama sekali tidak memancarkan kecantikan. Dia kelihatan cemas dan tergesa-gesa.
                “Hai, Farah! Shirley!” sapa Esha sambil mendekatiku.
                “Hai, Esha. Kenapa kamu seperti tergesa-gesa begitu?” tanyaku heran.
                “Hmmm …, tidak apa-apa,” jawabnya mencoba berahasia. “Bisakah kita ke sebuah tempat yang lebih tertutup dengan cepat?”
                 “Tentu saja! Naik saja di belakangku!” kata Shirley.
                Esha langsung dibonceng oleh Shirley. Aku meluncur sejajar dengan papan rodaku. Shirley membawa kami masuk ke bagian dalam taman, lalu melewati sebuah lorong jembatan, dan akhirnya menembus ke sebuah jalan tua yang jarang dilewati.
                “Wah, asyiknya! Kamu pandai sekali bersepeda,” puji Esha setengah berteriak.
                Aku melihat Shirley tersenyum dengan hidung merah.
                Esha menoleh ke belakang cukup lama, membuatku penasaran.
                “Ada apa, sih?” tanyaku. Ternyata Shirley juga menanyakan hal yang sama.
                “Aku lagi dikejar-kejar komplotan penjahat,” jawab Esha.
                “Kenapa memangnya?” aku khawatir. Aku tahu Esha adalah seorang princess, pasti banyak penjahat yang ingin menculiknya. Kemungkinan besar itu yang ditakuti Esha. Tapi saat ini, aku harus pura-pura tidak tahu siapa diri Esha. Setidaknya sampai dia sendiri yang mengaku.
                “Aku melihat mereka merampok sebuah toko. Lalu, mereka mengejarku sampai ke taman tadi,” jelas Esha. “Tapi sepertinya, sekarang sudah aman.”
                “Syukurlah kalau begitu. Jadi, sekarang kita mau ke mana? Kalau ke taman nanti akan bertemu penjahat-penjahat itu,” kata Shirley.
                “Ke rumahku saja,” ajakku.
                Esha berpikir sebentar. “Boleh saja. Aku juga ingin tahu rumah anak perempuan yang jago main sepak bola,” kata Esha.
                “Horeee!” Shirley bersorak. Ya, tentu saja dia bersorak. Dia sudah lama kularang ke rumahku. Habis, kerjanya hanya mengacak-acak kamarku. Dan dia paling suka menghabiskan makanan di kulkas.
                Kemudian, kami berjalan ke rumahku melalui jalan-jalan kecil. Tiba di rumah, ibu dan ayah menyambut kami dengan senang. Dan seperti biasa, ibu langsung menyiapkan makanan khusus buat kami. Inilah sebenarnya acara yang disukai Shirley.
                “Kamarmu bagus, ya. Rapi. Banyak bukunya, jendela kamarmu …,” Esha memotong sendiri ucapannya. Kulihat bibirnya bergetar dan wajahnya memucat.
                “Kenapa?” tanyaku.
                “Lihat, itu para penjahat itu! Dia masuk ke depan rumahmu,” kata Esha.
                Aku melihat ke bagian depan rumah. Iya, ada dua orang masuk dan disambut ayah. Seorang lelaki dan seorang wanita dewasa. Mereka tampak rapi mengenakan jas biru tua. Sama sekali tidak seperti perampok.
                “Aku harus kabur dari sini ….”
                “Tenang saja. Ayah tidak akan membiarkan penjahat itu menangkapmu,” kataku.
                “Tapi, bagaimana kalau dia membohongi  ayahmu?” tanya Shirley.
                Ketakutan Shirley beralasan. Ternyata, ayah ngobrol panjang dengan dua orang itu dan mempersilakan dua tamu tak diundang itu duduk. Ayah lalu masuk ke kamarku.
                “Esha, dua pengawal pribadimu ingin memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja. Mereka tidak keberatan kamu main di sini, tapi mereka tetap akan menjagamu karena memang itulah pekerjaan mereka,” kata ayah.
                Shirley melongo. Aku juga.
                Esha mengangguk. “Baiklah. Sebenarnya, aku tidak suka dikawal,” kata Esha kemudian dengan nada pasrah.
                Ayah pun kembali menemui dua orang tamu itu.
                “Kamu punya dua pengawal pribadi?” tanya Shirley bingung.
                “Sebenarnya ….”
                “Esha katakan saja kalau kamu seorang princess,” potongku cepat.
                Esha terkejut. Shirley langsung menatapku.
                Aku langsung mengambil data-data yang kuambil dari internet dan kucetak. Semua tentang Princess Hamesha.
                “Jadi … jadi ….” Shirley tak berhasil menyelesaikan kalimatnya.
                “Ya, aku memang seorang princess,” Esha akhirnya mengakui.
^-^


 Di Zapnaland!

                “Wah, pasti enak ya, jadi princess?”
                Aku menyikut Shirley agar tak berlebihan terhadap Esha.
                “Ya, memang. Tapi juga sedikit menyiksa,” jawab Esha.
                “Menyiksa? Memakai pakaian bagus, punya pengawal pribadi, tinggal di istana? Ayolah. Aku yakin, bahkan tidak ada seorang pun yang membiarkan keringatmu menetes karena panas matahari.” Shirley bingung.
                “Itulah yang orang lihat. Tapi, ada hal lain yang tidak dilihat orang. Misalnya saja, aku tidak bisa bebas ke tempat yang aku suka. Aku harus dikawal ke mana-mana sebenarnya itu adalah suatu siksaan, aku jadi tidak bebas. Aku juga tidak bisa sembarangan pergi, bahkan untuk mengunjungi temanku. Semuanya sudah diatur dan harus sesuai dengan agenda. Bahkan, aku tidak bisa sekolah di sekolah yang aku suka ….”
                “Maksudmu, kamu sekolah kita itu bukan pilihanmu?” tanyaku.
                “Iya. Terus terang saja begitu.”
                “Memangnya kenapa? Sekolah kita itu berkelas internasional, lengkap, terkenal, gurunya hebat-hebat …,” tanya Shirley.
                “Aku tidak bilang sekolah kita jelek. Malah sangat bagus. Tapi juga sangat … mahal,” jawab Esha.
                “Mahal? Kamu, kan, seorang princess? Masa sekolah kita dibilang mahal?”  giliran Shirley yang bingung.
                “Mahal untuk ukuran rakyat di negeriku. Sebenarnya, aku lebih suka sekolah di negeriku. Walaupun fasilitasnya tidak lengkap, tapi aku tidak perlu menghambur-hamburkan uang milik rakyatku di sini. Bukankah sekolah di mana saja sebenarnya sama?” tanya Esha.
                Aku hanya terdiam. Antara setuju dan tidak setuju dengan alasan Esha. Aku jadi ingat cerita ibu tentang anak-anak di Indonesia dengan bangunan sekolah yang hampir ambruk.
                “Jadi, karena kamu tidak suka di sekolah kita, makanya kamu cari gara-gara terus agar dipulangkan?” tanya Shirley.
                “Ya, itulah salah satu cara yang aku lakukan. Aku ingin membuat pihak sekolah jengkel, juga kalian. Biar aku dipulangkan dan sekolah di negeriku saja. Termasuk aku kabur tadi karena aku ingin dianggap nakal. Aku lebih suka di negeriku, bisa bersama orangtuaku dan rakyat negeriku.”
                “Orangtuamu tidak di sini?” tanya Shirley.
                “Tidak. Nanti siapa yang memimpin kerajaan? Aku tinggal bersama paman dan bibiku yang menjadi seorang diplomat di sini. Lagi pula, kami punya pesawat jet kerajaan. Orangtuaku bisa datang kapan saja aku mau.”
                “Oh ya?” Shirley makin melongo kagum.”Aku jadi ingin melihat negerimu. Apa, ya, namanya? Zapnaland?”
                “Iya, Zapnaland,” sahutku.”Aku juga ingin melihat negerimu.”
                “Bagaimana kalau sekarang kita main ke negeriku? Kalian tidak ada acara, kan?”
                Aku dan Shirley langsung meloncat-loncat girang di atas tempat tidurku tanpa menjawab pertanyaan Esha.
^-^

                Kami berada di sebuah pesawat jet yang mewah. Aku pernah melihat di TV tentang pesawat jet mewah. Dan kurasa yang kutumpangi ini jauh lebih mewah dari yang kulihat itu. Hmmm …, semuanya lengkap di pesawat ini. Sampai-sampai aku tidak merasa sedang terbang di angkasa, tapi di sebuah kamar hotel yang mewah.
                Shirley lebih norak lagi. Dia mengamati setiap gelas kristal yang dilihatnya. Seolah gelas-gelas itu benda langka yang tidak akan ditemuinya lagi sampai tua nanti. Keluarga Shirley memang keluarga kaya dan terpandang, tapi keluarganya hidup dalam kesederhanaan. Jadi, tidak heran kalau tingkahnya begitu. Noraknya sering kumat.
                Aku rasa kami baru terbang sebentar ketika diberitahu pesawat akan mendarat.
                “Sudah sampai, ya?’ tanya Shirley.
                “Iya,” jawab Esha.
                Seorang pelayan langsung membantu kami memasang sabuk pengaman. Tak lama kemudian, pesawat mendarat. Saat aku turun, aku merasa takjub melihat pemandangan di depanku.
                “Wow, indah sekali!” seruku karena melihat hamparan laut yang luas. Ternyata, landasan pesawat ini berada di sisi pantai.
                Sebuah mobil mewah menjemput kami. Esha langsung mengajakku masuk.
                “Masih jauh istanamu?” tanyaku penasaran.
                “Tidak. Itu dia menaranya!” tunjuk Esha saat mobil mulai melaju.
                Aku melihat beberapa menara menjulang di kejauhan. Makin lama, makin jelas bangunan yang memiliki menara itu. Wow, indahnya! Subhanallah! Tentu saja ini bukan pertama kali aku melihat istana. Di Inggris, banyak sekali istana. Termasuk Istana Buckingham yang sangat terkenal itu. Tapi, istana di Zapnaland ini benar-benar berbeda. Perpaduan antara istana di Asia dan Eropa.
                “Kerajaan kami pernah dijajah Inggris. Jadi, bangunan di sini banyak terpengaruh oleh bentuk bangunan di Inggris. Kami juga menggunakan dua bahasa, yakni English dan Zapnish. Tapi, bahasa Zapnish sekarang mulai berkurang peminatnya. Orang-orang lebih suka berbahasa Inggris,” jelas Esha.
                Mobil yang kami tumpangi mulai memasuki kawasan pemukiman penduduk. Wow, ternyata rakyat di Zapnaland ini beraneka rupa. Mereka tampak beragam. Tapi, cantik dan tampan semua.
                Hampir semua rakyat yang di pinggir jalan berhenti dan melambaikan tangan ke mobil kami. Rupanya, mobil ini sudah dikenal sebagai mobil pribadi Esha.
                “Nanti kami harus memanggil namamu seperti biasanya atau princess?” tanyaku.
                “Panggil Esha saja!”
                Sepuluh menit kemudian, kami mulai memasuki halaman istana yang indah. Ada taman bunga beraneka warna dan air mancur yang cantik. Serombongan pengawal menyambut kedatangan kami.
                Esha kemudian membawa aku dan Shirley ke ruang tengah untuk menemui orangtuanya.
                “Ini orangtuaku, Ratu dan Raja Axtary,” Esha kemudian memperkenalkan.
                Kami langsung membungkuk memberi hormat kepada orangtua Esha. Mereka tampak senang. Esha juga mengenalkan aku dan Shirley dengan Ibu Suri kerajaan, yakni nenek Esha.
                “Selamat datang di Zapnaland. Silakan bermain sepuasnya,” kata Raja Axtary sambil tersenyum.
            Aku dan Shirley mengelilingi istana didampingi Esha. Karena luasnya, kami menaiki kendaraan khusus seperti troli bermesin. Setiap tiba di sebuah ruangan, aku hanya bisa berdecak kagum. Ruangan paling kusuka adalah perpustakaan istana yang lengkap. Sementara itu, ruang favorit Shirley adalah dapur istana. Dasar!
            “Princess, ada beberapa putra-putri bangsawan yang hendak menemui Anda di taman. Raja meminta Princess menemui mereka dan mengenalkan teman-teman Princess,” lapor seorang pengawal ketika kami tengah berada di ruang khusus penyimpanan benda bersejarah.
            “Baiklah,” kata Esha. Tapi, mukanya tampak tidak suka mendengar kabar itu. “Huh, teman-teman yang menyebalkan itu!”
            Aku heran mendengar Esha berkata demikian. Memangnya, seperti apa sih, putra-putri bangsawan itu?
            Kami bertiga menuju taman istana. Di sana, kami melihat dua anak lelaki dan dua anak perempuan yang langsung menunduk hormat ketika melihat Esha.
            “Hai, kenalkan ini dua temanku Farah dan Shirley. Dan mereka ini adalah Phil, Blake, Melinda, dan Lakisha,” kata Esha gantian memperkenalkan kami.
            Mereka tersenyum.
            “Princess, bagimana keadaan kota London terakhir?” tanya Phil.
            “Ya, masih banyak orang Inggris di sana,” jawab Esha.
            Aku menahan tawa mendengar jawaban Esha.
            “Apakah Princess satu sekolah dengan princess dari Inggris atau negara lainnya?” tanya Melinda.
            “Ya, Shirley ini seorang Princess dari kerajaan Belalangnesia dan Farah adalah Princess dari Browninesia,” ucap Esha membuat tawaku hampir meledak.
            “Kamu salah. Kerajaanku namanya adalah Seranggeria. Kami pernah menjajah Nigeria,” ucap Shirley dengan muka serius.
            Kulihat empat anak-anak bangsawan itu terpana dengan muka mereka yang tampak bodoh.
            “Bagaimana dengan mode pakaian di London? Apakah Princess membawa jenis baju-baju paling tren di sana?” tanya Lakisha.
            “Sebenarnya, aku ingin membawanya. Tapi, aku tidak yakin kalian akan menyukainya. Di sana, sedang tren pakaian dengan bahan daun pisang dari asia,” jelas Esha.
            Kali ini, aku benar-benar tidak bisa menahan tawa. Keempat anak bangsawan itu langsung melihat ke arahku.
            “Maaf, aku harus membenarkan ... pakaian yang sedang tren bukan dari daun pisang. Mana mungkin, kan? Yang benar adalah dari untaian sayap capung,” kataku ikut membual seperti Esha.
            “Sudahlah. Aku minta maaf karena tidak bisa berlama-lama menemui kalian. Aku sedang kedatangan dua tamu istimewa,” kata Esha kemudian.
            “Apakah nanti malam kita akan berpesta?” tanya Phil.
            “Aku tidak tahu. Tunggu saja pengumumannya nanti,” kata Esha seraya mengajak aku dan Shirley segera menyingkir dari hadapan empat anak bangsawan itu.
            Begitu kami benar-benar sudah jauh, aku tidak kuat lagi tertawa terbahak-bahak. Begitu juga Shirley.
            “Belalangnesia? Browninesia? Seranggeria? Nama kerajaan mana itu? Aku baru mendengarnya,” kataku.
            “Ya, dan mereka sepertinya benar-benar memercayai setiap ucapanmu. Termasuk tren baju dari daun pisang!” tambah Shirley.
            “Begitulah anak-anak bangsawan itu. Mereka selalu percaya dengan semua bualanku. Apalagi yang berhubungan dengan kemewahan. Mereka hanya memikirkan itu,” kata Esha.
            “Sebenarnya pertanyaan mereka juga aneh-aneh. Mereka, kan, bisa mendapat jawabannya dengan mudah dari bacaan buku atau internet,” kataku.
            “Mereka itu anak-anak malas. Mana pernah mereka membaca atau memanfaatkan internet untuk menambah pengetahuan mereka,” kata Esha.
            “Tapi mereka anak bangsawan. Pasti mereka punya komputer di rumah mereka,” ucap Shirley.
            “Ya memang punya. Cuma paling juga dipakai untuk main game. Mereka sesungguhnya bukan teman-temanku.”
            “Lantas di mana teman-temanmu? Apakah kamu memang tidak punya teman?” tanyaku.
                “Aku akan mengajak kalian bertualang bertemu teman-temanku!” ajak Esha kemudian.
                Kami turun dari troli. Esha mengajak ke sebuah ruangan yang lumayan gelap di belakang perpustakaan. Lalu kami menuruni tangga dan menelusuri lorong yang panjang.
                “Ih, seram sekali di sini. Kita mau ke mana, Esha?” tanya Shirley ketakutan.
                “Tenang saja. Kalian ikuti aku saja,” jawab Esha yang berjalan di depan sambil membawa senter.
                 Terus terang saja aku juga merasa takut. Belum lagi ditambah bau yang lembab. Bagaimana kalau tiba-tiba ada monster? Hm …, mungkin terlalu berlebihan. Okelah, jangankan monster. Ada serangga tak terlihat tiba-tiba hinggap di mukaku, pasti aku akan menjerit.
                Alhamdulillah, ketika kami sampai di ruang yang lebih terang, semua berjalan lancar. Esha kemudian mendorong pintu besar. Wow! Kami tiba di sebuah dapur besar. Dan aku melihat lima orang sedang bekerja di dapur itu. Ini tampaknya bukan dapur sembarangan karena aroma yang tercium seperti dapur kue.
                “Princess Esha!” seorang perempuan bertubuh gemuk langsung memeluk Esha.
                Esha kemudian memperkenalkan kami. Perempuan itu bernama Nyonya Rao. Dia pemilik pabrik kue yang kami datangi. Sepertinya, dia sangat suka memeluk anak kecil. Tapi terus terang, aku kurang suka dipeluknya karena dadaku langsung terasa sesak.
“Aku biasa main ke sini lalu menyamar menjadi rakyat biasa. Biar aku bisa tahu keadaan di negeriku yang sebenarnya,” jelas Esha.
“Kalian pasti teman-teman Princess Esha di London? Maukah kalian bermain perang roti bersama kami?” tanya Nyonya Rao kemudian.
“Perang roti?” aku dan Shirley bertanya bersamaan.
PLUK!
Tahu-tahu sebentuk adonan tepung menempel di dahiku. Rupanya, Esha yang melemparku. Nyonya Rao kemudian menyorongkan adonan tepung lainnya untukku. Aku membalas lemparan tadi ke Esha.
PLUK! Lemparanku meleset karena Esha mengelak. Malah mengenai Shirley. Shirley membalas, tapi mengenai Nyonya Rao. Wah, suasana ruangan makin kacau ketika tepung dan adonan roti bertebaran dilemparkan oleh kami. Hmmm …, jadi ini yang dinamakan Perang Roti.
“Cukup … cukup!” teriak Nyonya Rao seperti wasit pertandingan.
Kami semua berhenti. Lalu, kami semua tertawa berbarengan karena ternyata muka kami sudah dilumuri tepung sehingga jadi putih semua.
                Kami bertiga langsung berganti pakaian dengan yang lebih sederhana. Esha mengenakan rambut palsu berwarna cokelat, ditambah tompel kecil di pipinya. Aku benar-benar pangling dengan penampilannya. Benarkah dia seorang princess?
                Selesai berganti penampilan, kami keluar menaiki tiga sepeda yang disediakan Nyonya Rao.
                “Aku sering menyamar seperti ini. Untuk bermain dengan teman-teman terbaikku!” kata Esha penuh semangat.
^-^


Ladang Stroberi

Kerajaan Zapnaland subur dan makmur. Menurut Esha, sumber penghasilan utama rakyat Zapnaland berasal dari perkebunan buah dan bunga. Semuanya dijual ke negara-negara di Eropa dan Asia. Terutama buah stroberi.
                Aku penggemar stroberi. Mataku langsung terbelalak ketika kami sampai di sebuah perkebunan stroberi yang luas. Aku sudah ingin memetik buah stroberi yang paling dekat dengan sisi jalan ketika sebuah suara berteriak di belakangku.
                “Heh! Jangan dipetik dulu. Itu belum masak!” itu suara anak lelaki.
                Saat kutoleh, ternyata di belakang kami sudah berdiri seorang anak lelaki yang umurnya mungkin dua tahun di atas kami.
                “Shasha?!” teriaknya ragu.
                “Hai, Nathan! Aku Shasha! Dan mereka adalah teman-temanku ....”
                Aku dan Shirley menyebut nama kami masing-masing. Aku sedikit geli mendengar nama samaran Esha di sini. Shasha? Hm …, menurutku itu nama samaran yang sama sekali tidak kreatif. Mengapa tidak sekalian saja dia menyebut dirinya bernama Victoria.
                “Mereka keponakan Nyonya Rao yang sedang berlibur,” tambah Esha.
                “Namaku Nathan. Kupikir kalian ini gerombolan anak-anak bangsawan kerajaan yang sering mengacau di pertanian.”
                “Mengacau? Memangnya, mereka sering melakukan apa saja?” tanya Esha.      
                “Macam-macam. Mulai dari memetik buah-buahan di sini tanpa izin, melempari anak-anak pertanian dengan kue yang mereka bawa, mengolok-olok kami ….” 
                “Kamu mengenal nama mereka?”
                “Ya, tentu saja. Melinda, Lakisha, Blake, dan Phil. Ah, kenapa kalian tanya mereka? Kalian memangnya kenal?” tanya Nathan.
                 “Tidak. Tapi setidaknya, kami bisa berhati-hati kalau bertemu mereka,” jawab Esha. “Kamu sendirian? Mana teman-teman yang lain?”
                “Mereka ke air terjun. Aku menggantikan ayah mengawasi perkebunan ini. Ayahku sedang sakit.”
                “Ayahmu sudah dibawa ke dokter?” tanya Shirley.
                “Belum. Kamu, kan, tahu di Zapnaland ini jumlah dokter sangat sedikit. Kalau tidak salah hanya sepuluh orang. Dan biasanya, mereka lebih mengutamakan melayani perawatan kesehatan para bangsawan atau orang-orang kerajaan. Hanya dua dokter yang bertugas untuk rakyat. Tapi, mereka semua sedang sibuk. Jadi, ayahku harus menunggu giliran pemeriksaan,” jelas Nathan.
                “Kenapa, ya, dokter di sini hanya sedikit?” tanyaku.
                “Karena di Zapnaland tidak ada sekolah kedokteran. Kalau mau sekolah dokter harus ke luar negeri. Padahal, sekolah ke luar negeri itu mahal. Hanya anak-anak bangsawan yang mampu. Tapi, kebanyakan dari mereka itu bodoh dan malas sekolah. Bahkan kudengar, Princess Hamesha menolak sekolah di luar negeri.”
                “Mungkin dia tidak mau menghambur-hamburkan uang kerajaan,” kata Esha yang telinganya panas.
                “Kalau Princess Hamesha sekolah dengan sungguh-sungguh dan berhasil lalu kembali ke Zapnaland untuk mengabdi kepada rakyat, kurasa kita semua tidak keberatan, kan?” ucap Nathan.
                “Iya juga,” kataku memotong, sebelum Esha sewot.
                “Aku dan beberapa temanku yang lain mungkin tidak punya kesempatan sekolah lebih tinggi. Mungkin kami hanya bisa meneruskan pekerjaan orangtua kami menjadi petani. Karena itu, kami berharap mereka yang punya uang untuk sekolah lebih tinggi, bisa berhasil lalu mengabdi di kerajaan. Misalnya, mereka sekolah jadi dokter. Sehingga, kami yang bertani di sini bisa tetap sehat untuk bekerja,” ucap Nathan sambil menatap langit.
                “Obrolan yang serius,” Shirley mengeluh sambil memegang perutnya.”Apakah bisa kita seling dengan memakan stroberi?”
                Nathan tertawa. Lalu, dia mengajak kami menuju satu petak kebun stroberi yang sudah matang. Kami langsung berebut memetiknya sambil tertawa riang. Beberapa buah kami makan langsung begitu dipetik. Sebagian lagi, kami masukan ke ujung baju bagian depan yang kami buat menjadi keranjang sementara.
                Kami duduk di sisi jalan menyantap stroberi yang kami petik. Shirley tak mau diam ketika melihat belalang meloncat di rerumputan. Naluri serangganya kumat.
                Esha mengajak kami bermain teka-teki.
                “Binatang apa yang sombong?” tanya Nathan.
                Aku langsung berpikir keras. “Kuda. Karena dia sangat gagah,” jawabku.
                “Salah. Yang benar kura-kura. Soalnya ke mana-mana dia selalu pamer rumahnya yang dibawanya,” jelas Nathan.
                Aku, Shirley, dan Esha tertawa.
                “Binatang apa yang bodoh?” tanya Nathan lagi.
                “Itu gampang sekali. Keledai!” teriak Shirley.
                “Salah. Yang benar kura-kura. Soalnya, dia terus membawa rumahnya. Padahal, dia bisa menyimpannya biar jalannya tidak lamban,” jelas Nathan.
                Kami tertawa bareng lagi.
                “Nah, sekarang binatang apa yang cuek?” tanya Nathan.
                “Aku tahu! Pasti jawabnya kura-kura lagi,” kata Esha buru-buru.
                “Kenapa begitu?” tanya Shirley.
                “Karena biarpun di sebut sombong dan bodoh, dia masih terus membawa rumahnya ...,” jelas Esha.
                Kami tertawa bersama. Tapi, tawa kami terhenti ketika mendengar suara mobil hendak melewati jalan.
                “Itu pasti rombongan anak-anak menyebalkan itu!” kata Nathan.
                Aku melihat sebuah mobil jip dengan kap terbuka melaju. Saat melintas di depan kami, mobil itu berhenti. Anak-anak yang berada di mobil itu, langsung melempari kami dengan aneka jenis sampah.
                 “Hahahahaha. Dasar anak-anak kampung! Bodoh semuanya!” teriak mereka sambil kemudian menyuruh sopir mereka untuk melajukan jip mereka.
                Aku langsung melempar kulit pisang yang nyangkut di kepalaku. Kulihat Esha langsung menggeram karena bajunya dilempari telur. Shirley dan Nathan sama-sama kesal dilempari sisa roti cokelat.
                “Mereka tidak bisa dibiarkan!” maki Esha.
                “Kamu tidak bisa membalas mereka. Ya, namanya juga anak-anak bangsawan …,” ucap Nathan. “Sudahlah. Daripada kesal, mendingan kalian bergabung dengan teman-teman di air terjun. Pasti kalian akan terhibur!”
^-^

          Kami harus bersepeda sekitar tiga kilometer untuk mencapai lokasi air terjun. Kalau jalannya rata atau menurun mungkin akan terasa mudah. Tapi, kami harus mengayuh sepeda di jalanan mendaki.
                Keringat yang menetes langsung terlupakan begitu saja, ketika aku melihat sebuah pemandangan yang indah. Air terjun dengan telaga yang indah. Air terjunnya tidak besar ataupun tinggi. Mungkin sekitar sepuluh meter tingginya. Tapi, airnya lumayan deras.
                Ada sekitar lima anak tengah bermain di telaga tempat mengalirnya air terjun itu. Telaga yang bening yang membuatku ingin berenang seketika.
                “Hei, Shasha! Ke mana saja kamu? Kudengar pergi berlayar, ya?” tanya seorang anak lelaki bermata hijau.
                “Iya. Begitulah,” jawab Esha. “Oh iya, kenalkan ini dua keponakan Nyonya Rao.”
                Aku dan Shirley langsung berkenalan dengan dua anak lelaki dan tiga anak perempuan. Mereka adalah Rihana, Julian, Wilson, Gabby, dan Marsya.
                Kami langsung bermain di sekitar telaga. Mulai dari bermain mencari harta kartun sampai menangkap pelangi.  Hihihi, aku kadang masih keliru memanggil sahabat-sahabat baruku. Terlalu banyak nama yang harus kuingat dalam waktu berdekatan. Jadi, aku sedikit bingung.
                Pastinya, aku melihat Esha begitu ceria saat kami bermain. Ya, belum pernah kulihat matanya memancarkan kebahagiaan seperti saat ini.
^-^
                Sore hari kami pulang meninggalkan telaga. Kami kembali ke toko kue Nyonya Rao dan melewati lorong rahasia itu. Kupikir Esha sudah melupakan kejadian di ladang stroberi setelah melewati saat menyenangkan di telaga air terjun.
                “Pokoknya, aku akan membalas perbuatan mereka,” gumam Esha saat kami berjalan di lorong.
Sesampainya di istana, aku tidak tahu apa yang dilakukan Esha. Aku dan Shirley ditinggalkan di ruang tamu yang mewah. Tak lama kemudian, dua pelayan masuk dan mengatakan kami harus mengikuti pesta nanti malam. Karena itu, kami harus mencoba beberapa pakaian pesta yang cocok untuk nanti malam.
                Aku dan Shirley lantas diajak ke sebuah ruangan besar berisi aneka macam gaun yang indah-indah. Wow! Aku benar-benar seperti di negeri dongeng melihat gaun-gaun tersebut.
                Shirley langsung memilih gaun dengan motif kupu-kupu sesuai dengan naluri serangganya. Sementara itu, aku memilih gaun pink dengan taburan permata.
                Aku jadi ingin malam segera tiba. Seperti apa, ya, pesta malam ini?

^_^

Akhirnya, Esha memberitahuku bahwa pesta malam ini adalah pesta mendadak dengan undangan khusus keluarga bangsawan. Mereka akan diundang makan malam bersama lalu ada pengumuman penting.
                “Pengumuman apa?” tanyaku.
                “Ini akan menjadi kejutan buat semuanya. Terutama anak-anak menyebalkan itu,” kata Esha.
                “Aduh, kamu bikin aku penasaran,” kata Shirley.
                Ya, aku pun penasaran. Tapi, aku tidak mau terlalu penasaran juga. Aku ingin menikmati pesta istana ini. Aku ingin menikmati gaun yang kupakai, suasana pesta, dan melihat tamu-tamunya.
                Tepat pukul delapan malam pesta dimulai. Aku dan Shirley mendapat tempat duduk terpisah dengan Esha. Ya, Esha duduk dengan deretan keluarga kerajaan. Bagiku tidak masalah, sehingga aku dapat menikmati susana pesta ini dengan leluasa, termasuk memerhatikan tamu-tamu yang datang.
Tamu yang diundang tidak hanya orangtua, tapi juga anak-anak mereka. Termasuk empat anak bangsawan menyebalkan itu. Mereka duduk berdekatan dengan aku dan Shirley.
                Acara diawali dengan makan malam bersama. Sambil menyantap makan malam kami dihibur penyanyi istana bersuara indah.
                “Auw! Apa ini?” teriak Melinda tiba-tiba sambil berdiri.
                Aku melihat ada belalang hinggap di pundaknya. Belalang berukuran lumayan besar. Phil buru-buru mengibaskan belalang itu. Tapi, belalang itu malah hinggap di hidung seorang nyonya bangsawan. Nyonya itu langsung teriak sambil melompat-lompat kegelian. Belalang itu dikibaskan dan hinggap di sendok sup seorang pria bangsawan yang hendak memasukkan sup ke mulutnya. Langsung saja dia melemparkan sendok sup itu.
                Keadaan jadi kacau karena meja makan jadi berantakan dengan beberapa orang yang kegelian dan ngeri akan dihinggapi belalang itu.
                Aku langsung menatap Shirley.
                Sorry, itu belalang terbesar yang aku tangkap di ladang stroberi tadi. Kupikir, dia tidak akan terbang dari lenganku,” kaya Shirley tanpa perasaan bersalah.
                Suasana kacau berakhir ketika pelayan istana menangkap belalang itu. Keadaan kembali tenang.
                Sebenarnya, aku berharap kejadian tadi lebih kacau lagi. Misalnya, ada sup tumpah di gaun Melinda, salad yang hinggap di kepala Blake, atau sendok yang melayang ke muka Phil. Soalnya, aku benar-benar kesal dengan ulah mereka di ladang stroberi.
                Usai makan malam, Raja Axtary menyampaikan pengumuman dalam suasana khidmat. Tak ada yang berani bersuara sedikit pun saat Raja menyampaikan pengumuman.
                “Sehubungan dengan sistem pendidikan di kerajaan kita yang terus ditingkatkan. Mulai esok hari, akan diberlakukan jumlah PR untuk anak-anak bangsawan tiga kali lebih banyak. Sebanyak lima puluh soal matematika setiap hari harus diselesaikan dengan baik. Pelanggaran bagi yang tidak mengerjakan adalah hukuman bagi seluruh anggota keluarganya bekerja di ladang stroberi ....”
                Aku terhenyak mendengar pengumuman itu. Dan kulihat semua tamu undangan pesta langsung berwajah pucat. Sebaliknya, wajah Esha tampak puas dengan pengumuman yang baru saja disampaikan oleh ayahnya.
                Aku membayangkan betapa susah payahnya anak-anak bangsawan itu mengerjakan lima puluh soal matematika setiap hari. Aku saja mengerjakan PR setengahnya sudah sakit kepala. Tapi biarlah, sesekali anak-anak bangsawan itu harus tahu bagaimana memanfaatkan waktu mereka untuk belajar lebih banyak, kan?
                “Aku lebih baik jadi kepompong daripada jadi anak bangsawan yang harus mengerjakan lima puluh soal matematika setiap hari,” bisik Shirley.

^__^


Terperangkap!

                Aku benar-benar tidak bisa membuka mataku seusai pesta. Acara seharian yang padat membuat badanku pegal-pegal dan tak kuasa lagi menahan kantuk. Apalagi ditambah tempat tidur yang sepuluh kali lebih empuk dari punyaku.
                BRUK!
                Aku langsung tak ingat apa-apa begitu merebahkan badanku.
                “Bangun ... ada sesuatu yang harus kutunjukkan kepada kalian!”
                Aku bangun dengan perasaan terkejut. Yang kulihat pertama kali adalah wajah Esha. Aku langsung melihat jam dinding. Masih pukul lima. Oh, untung aku tidak bangun kesiangan.
                Aku buru-buru berwudhu dan Shalat Subuh. Sementara itu, Esha masih susah payah membangunkan Shirley yang masih terlelap. Selesai shalat, Shirley baru terbangun. Kulihat wajah Shirley tampak kusut.
                “Aduh ... bau apa, sih?” tanya Shirley sambil menutup hidungnya.
                Esha buru-buru menyembunyikan kaus kaki Shirley. Dia tadi membaui kaus kaki itu ke hidung Shirley agar bangun. Aku bersyukur tidak sesusah itu untuk bangun. Pasti aku langsung muntah kalau disodori kaus kaki Shirley.
                “Ayo bangun dan ikuti aku! Ada yang harus kalian lihat!” ajak Esha.
                Kami hanya diberi waktu lima menit bersiap-siap mengikuti Esha. Lagi-lagi kami diajak menuju sebuah lorong rahasia, cuma kali ini lebih terang. Tak begitu lama berjalan, kami akhirnya sampai di ujung lorong. Samar-samar, aku mendengar suara deburan ombak.
                “Sepertinya kita mendekati laut?” tanyaku.
                “Iya. Aku ingin mengajak kalian menikmati proses terbitnya matahari di pantai,” kata Esha.
                “Wow!” aku dan Shirley berteriak takjub.
                Akhirnya, kami sampai di mulut sebuah gua, lalu tiba di sebuah pantai berpasir yang indah. Aku langsung berteriak girang begitu menginjak pantai berpasir putih yang bersih ini. Shirley malah langsung ingin berenang.
                “Jangan berenang di sini. Pantainya dalam. Kita duduk saja di pantai ini sambil menikmati matahari terbit,” kata Esha sambil membuka tas bawaan berisi tiga kemasan minuman hangat.
                Kami duduk berjejer di pantai, sambil menikmati angin pantai yang segar. Mata kami sama-sama tertuju ke cakrawala. Oh, betapa indahnya cahaya matahari pagi yang baru terbit.
                Aku menikmati pemandangan di depanku sambil menghabiskan minuman hangat dalam kemasan.
                “Negerimu indah sekali, Esha. Kalau saja kita bisa ke sini setiap akhir pekan,” kata Shirley sambil mengudap makanan kecil.
                “Ya, kalau kalian sering-sering ke sini, aku yakin akan membosankan. Kerajaan kami kecil. Tidak banyak hal yang menarik untuk orang asing. Makanya, kami juga belum membuka kerajaan secara meluas sebagai daerah wisata,” kata Esha.
                “Aku malah takut kalau banyak orang asing datang ke sini, nantinya tidak sebersih seperti ini,” kataku. Aku ingat beberapa pantai di tempat wisata yang kotor karena wisatawan yang berulah jorok membuang sampah sembarangan.
                Kami semua ngobrol sampai akhirnya matahari benar-benar terbit. Esha kemudian mengajak kami kembali memasuki lorong rahasia dari mulut gua.
                “Lorong ini dulunya dibuat oleh komplotan perompak untuk menyimpan harta mereka,” jelas    Esha saat kami mulai memasuki lorong.
                Aku memerhatikan lorong yang lumayan luas ini. Tingginya sekitar dua meter. Hm … mereka yang membuat lorong ini, pasti benar-benar hebat.
                “Tapi sampai saat ini, tempat mereka menyimpan harta belum berhasil ditemukan,” tambah Esha.
                “Wow, seandainya kita berhasil menemukan harta itu ...,” gumam Shirley.
                “Aku pernah mencari jejaknya. Lihat ini!” Esha berhenti di sebuah kelokan. Tepat di bawah sebuah obor penerang, Esha menekan sebuah tombol batu.
                Sedetik kemudian, dinding di depan mereka bergeser mundur lalu ke samping. Sebuah pintu menuju lorong lainnya.
                “Yuk, kita masuk!” ajak Esha sambil menyalakan lampu senter karena lorongnya lebih gelap.
                Walalupun sedikit ragu, aku menyusul masuk. Shirley menguntit di belakangku.
                “Hati-hati. Ini undakan tangga. Jalannya agak menurun,” kata Esha.
                Kami menuruni anak tangga itu sampai berujung ke sebuah ruangan lain yang tak seberapa luas. Di ruang itu, Esha langsung menyoroti dinding-dindingnya yang membentuk sebuah relief. Esha pun menekan sebuah releif. Salah satu dinding pun bergeser.
                “Yuk, masuk lagi!” ajak Esha kemudian.
                Kami masuk lagi ke ruangan lain. Ruangan yang lebih luas. Di ruangan itu, aku langsung terpana. Aku melihat sebuah patung cantik berbentuk kupu-kupu.
                “Wah, cantik sekali!” teriak Shirley.
                “Awas jangan dipegang!” teriak Esha, tapi terlambat. Shirley sudah memegang patung dari pualam itu.
                Tiba-tiba, kami mendengar suara lumayan keras. Suara dinding bergeser di sekitar kami.
                “Apa yang terjadi?” kataku bingung.
                “Ayo, kita keluar!” Esha mengajak kami ke dinding yang mulai menutup. Tapi, kami terlambat mencapainya. Dinding itu keburu menutup.
                “Bahaya! Dinding-dinding ini akan bergerak mengurung kita!” jerit Esha.
                Aku memerhatikan dinding di sekitar kami. Ya, ternyata dua buah dinding yang berhadapan bergerak maju sedikit demi sedikit. Kami langsung mundur menjauhi dinding yang bergerak itu.
                “Bagaimana kita bisa keluar dari sini?” tanya Shirley panik.
                “Aku tidak tahu!” jawab Esha gugup.
                Aku langsung menatap Esha. Tidak tahu? Oh, tidak. Ini pasti ada jalan keluarnya. Aku pun mulai memukul-mukuli dinding. Barangkali saja usahaku berhasil menghentikan dua tembok itu bergeser. Atau bahkan membuat kami terbebas dari ruangan ini.
                Dinding itu makin mendesak kami. Saat menyempit itulah, dinding pun berhenti bergeser. Tapi, kami tetap panik karena tidak bisa keluar dari tempat ini.
                “Maafin aku, ya. Ini semua karena kesalahanku,” kata Shirley sambil terduduk.
                Aku dan Esha ikut terduduk. Ufh! Susah sekali bergerak. Ya, ternyata ruangan ini benar-benar menyempit.
                “Aku yang salah. Aku yang mengajak kalian ke sini. Aku juga lupa memberitahumu sebelumnya,” ucap Esha.
                “Tidak ada gunanya saling menyesali. Yang penting sekarang kita cari jalan keluarnya,” kataku berusaha tenang. Sebenarnya, hatiku juga panik. Tapi, aku pernah membaca kalau dalam keadaan berbahaya, kita jangan terlalu lama panik. Sebab, jika kita panik, kita akan sulit berpikir.
                “Dulu, pernah ada tiga orang yang terperangkap seperti ini,” kata Esha kemudian dengan napas berat.
                “Mereka berhasil bebas?” tanya Shirley.
                “Iya. Makanya, aku tahu cerita tentang mereka juga rahasia tempat ini,” jawab Esha.
                “Bagaimana mereka bebas?” tanya Shirley.
                “Mereka menemukan petunjuk di dinding. Lihatlah ini!” Esha menunjuk ke coretan di dinding. “Ini huruf yang digunakan leluhur kami dulu. Aku pernah mempelajarinya. Tunggu kubaca sebentar.”
                Aku berdoa agar Esha segara membacanya.
“Setiap orang harus mengakui kesalahannya terhadap teman-temannya,” kata Esha kemudian.
                Aku dan Shirley saling berpandangan. Kami sama-sama tidak mengerti.
                “Menurut ceritanya, tiga orang yang terperangkap itu bisa keluar dari perangkap ini, setelah masing-masing saling mengakui kesalahan dengan dua teman lainnya. Terutama, kesalahan yang tidak diketahui teman-temannya. Begitu,” jelas Esha.
                “Oh, kalau begitu kita mulai saja biar bisa segera bebas. Biar aku saja yang memulai,” kata Shirley tak sabar.
                Aku menunggu pengakuan Shirley.
                “Sekarang aku mengaku bersalah untuk Farah dulu. Aku mengaku bersalah karena tidak mau mendengarkan nasihatmu agar tidak menangkapi serangga lagi. Tapi mulai saat ini, aku akan berhenti melakukannya. Sekarang, aku bisa merasakan betapa tidak enaknya dikurung. Mungkin saat ini perasaanku sama dengan perasaan serangga yang kutangkap dan kumasukkan ke toples,” ucap Shirley panjang.
                “Oh, aku senang sekali mendengarnya,” kataku.
                “Sekarang untuk Esha. Aku mengaku bersalah pernah berniat mencelakakanmu karena aku jengkel sekali dengan ulahmu di sekolah. Tapi setelah aku mengenalmu lebih dekat, niat itu hilang. Sekarang aku sudah mengenalmu lebih dekat. Kadang kita memang sering salah menduga sesorang karena tidak mengenalnya lebih dekat,” kata Shirley.
                “Ya, kebanyakan memang seperti itu. Sekarang giliranmu dulu,” timpal Esha sambil menujukku.
                “Aku bersalah untuk Shirley. Terus terang, aku masih belum sepenuhnya terbuka kepadamu. Padahal, kamu adalah sahabatku. Kadang aku masih menyimpan rahasia. Tidak mau berbagi rahasia denganmu. Misalnya, ketika kamu bertanya kepadaku di perpustakaan beberapa waktu lalu. Aku menjelaskan kepadamu sedang mencari informasi tentang serangga di internet. Padahal, aku sedang melacak rahasia Esha sebagai princess,” kataku.
                “Ya, aku sering kecewa karena kamu selalu menutupi suatu rahasia. Bagiku tidak masalah kamu punya rahasia. Tapi, aku tidak mau kalau sampai kamu berbohong kepadaku. Bilang saja hal itu rahasia, pasti aku akan memahami,” jawab Shirley.
                “Untuk Shirley, aku juga punya satu kesalahan. Hampir mirip dengan Shirley, aku juga pernah berniat jahat terhadapmu. Terutama, setelah kamu menendang kakiku saat main bola hingga aku terkilir,” lanjutku.
                “Tapi, aku benar-benar tidak sengaja,” kata Esha.
                “Sekarang giliranmu,” kataku dan Shirley serempak.
                “Aku minta maaf atas kesalahanku yang banyak pada kalian. Terutama, di sekolah di awal-awal perkenalan kita. Kupikir kalian sama menyebalkannya dengan anak-anak bangsawan di sini. Ternyata tidak. Satu hal kesalahanku yang paling besar dan kalian harus maafkan adalah ....” Esha menarik napas sebentar.
                Aku menegakkan kupingku karena ingin tahu kelanjutan kalimat Esha.
                “Maafkan, ya, aku berbohong tentang perangkap ini. Sebenarnya, aku sengaja melakukannya. Dan aku sudah tahu jalan keluarnya bukan dengan cara seperti ini. Tapi dengan ...,” Esha meloncat-loncat tiga kali di lantai yang diinjaknya.
                “ESHAAA!” aku dan Shirley sama-sama berteriak nyaring.
                Tiba-tiba, dinding yang mengurung kami bergeser mundur.
                “Jadi, kamu sengaja ngerjain kami, ya?” tanya Shirley.
                “Jangan marah dulu. Aku, kan, udah minta maaf tadi,” ucap Esha sambil cengengesan.
                Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain bersyukur dalam hati. Duh, untung ini semua hanya permainan Esha. Tahu begini, aku tidak perlu khawatir tadi.
                Kami segera keluar dari lorong rahasia itu sambil mendengarkan suara Shirley yang terus mengomeli Esha!

^-^

                Kami baru saja selesai sarapan di meja makan istana ketika tahu-tahu pelayan menyodorkan baki berisi roti dan secarik kertas di atasnya.
                “Ini pasti pesan dari Nyonya Rao,” bisik Esha sambil mengambil kertas itu. Esha membacanya sebentar.
                “Kenapa?” tanyaku heran karena melihat wajah Esha kemudian tampak murung.
                “Ayah Nathan meninggal ....”
                Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun .…” Aku bergumam seketika.
                Esha kemudian memutuskan menghadiri secara khusus acara pemakaman ayah Nathan. Kami pun resmi mendatangi upacara pemakaman ayah Nathan. Esha tidak menyamar. Nathan sepertinya kaget melihat kami. Dia tidak mengenali Esha sama sekali.
                Suasana berkabung itu membuatku sedih.          
                “Kalau saja banyak dokter di negeriku ini, pasti tidak akan ada orang yang akan meninggal karena terlambat mengobati penyakitnya,” gumam Esha berbisik di saat kembali ke istana.
^-^

               
               
               
Ada Apa dengan Shirley?

Aku pernah membaca tentang istilah workaholic. Biasanya, istilah itu dipakai untuk orang-orang dewasa yang giat bekerja. Dan sepertinya, aku harus mengarang sendiri istilah untuk orang yang giat bersekolah. Mungkin cocoknya schoolaholic. Dan saat ini orang yang paling tepat menyandangnya adalah Esha.
Esha berubah dengan cepat tidak seperti yang pertama kukenal. Dia berubah jadi anak yang menyenangkan. Semua teman sekelasku bingung dengan perubahannya. Apalagi melihat Esha akrab denganku dan Shirley.
“Kejahilan apa lagi yang dia siapkan untuk kita?” tanya Hugh.
“Kurasa tidak ada. Dia memang sudah benar-benar berubah,” jawabku.
“Aku tidak percaya. Orang tidak bisa berubah secepat itu,” kata Thomas.
 “Aku percaya,” kilahku. Iya, dengan pengalaman yang kami lewati bersama, aku yakin Esha memang sudah benar-benar berubah.
Esha jadi biasa sering datang pagi. Dia akan menunggu kedatanganku di dekat pintu masuk gedung sekolah, sambil menyapa dan tersenyum kepada teman-teman yang lalu lalang. Begitu melihatku datang, Esha langsung menyambutku. Lalu, kami melangkah bersama ke kelas.
Si Pengganggu Dave akan kabur begitu melihat kami akan melewati pintu kelasnya. Padahal, kami tidak pernah mengancamnya dengan kata-kata ataupun tatapan mata kami.
Di kelas, Esha selalu duduk dekat denganku. Saat olahraga bola atau lainnya, dia juga selalu berusaha satu tim denganku. Bahkan sepulang sekolah pun, kami masih sering bersama.
Banyak kesamaan pada hobi kami. Esha suka membaca sepertiku. Esha juga suka browsing ataupun mengisi blog di Internet.
“Farah, Ibu senang kamu punya sahabat baru. Tapi, ke mana Shirley?” tanya ibu seminggu setelah aku pulang dari Zapnaland.
“Shirley? Ah ... dia baik-baik saja. Kami di sekolah masih bermain bersama. Ya, walaupun kadang dia suka menghilang entah ke mana. Ibu kan tahu, dia lebih asyik bermain dengan serangga-serangganya,” jawabku.
“Bagus kalau begitu. Jangan hanya karena sahabat baru, sahabat lama kamu lupakan begitu saja.”
Aku mengangguk. Tapi, di hatiku menyesal juga telah membiarkan Shirley. Sebenarnya, aku tidak benar-benar menelantarkan Shirley. Beberapa kali aku mengundang Shirley saat Esha main ke rumahku. Tapi, Shirley selalu menolak. Di jam-jam istirahat di sekolah pun, aku sering melihat Shirley menghilang sebelum aku mengajaknya main bersama.
Esok paginya, ketika datang ke sekolah, aku menemui Esha di pintu gerbang. Ketika Esha mengajakku masuk, aku menahannya.
“Kita tunggu Shirley dulu,” kataku.
“Dia pasti datang kesiangan. Kalau kita nunggu dia, pasti akan kesiangan juga,” kilah Esha.
Aku melihat arlojiku. Ya, tak lama lagi jam masuk akan berbunyi. Pasti tak lama lagi kami akan kesiangan kalau tak segera masuk.
“Kita tunggu dua menit dulu,” usulku.
“Okay!” timpal Esha.
Dua menit berlalu Shirley belum datang juga. Akhirnya, kami memutuskan masuk ke kelas. Beberapa saat setelah aku duduk di bangku, Shirley masuk tergopoh-gopoh ke kelas.
“Shirley, hampir saja terlambat,” kataku.
Shirley menoleh sebentar, lalu diam tak menanggapi kalimatku. Ada apa dengan Shirley?
Aku berjalan mendekatinya. Tapi, Shirley menjauhiku. Aku terus mendekatinya. Tapi dia malah membentakku, “Aku tidak mau bersahabat lagi denganmu!”
Aku terkejut. “Kenapa Shirley?”
“Huh!” Shirley malah berpaling muka.
Aku kembali ke tempat dudukku.
“Ada apa dengan Shirley?” tanya Esha.
“Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba saja berteriak dan marah-marah kepadaku.”
“Kalau begitu, biarkan saja dulu. Nanti kalau sudah tenang, dia akan baik lagi sama kita.”
“Amin,” kataku berharap.
Aku berharap saat istirahat atau berganti pelajaran Shirley akan berubah sikap. Tapi, harapanku ternyata tidak terkabulkan. Sampai pulang sekolah, Shirley tetap menolak bicara denganku.
“Mungkin besok, dia akan membaik. Nanti aku coba bertanya kepadanya,” ucap Esha.
Ternyata esok harinya, Shirley masih bersikap sama. Teman-teman sekelas pun merasakan ada hal yang tidak beres dalam persahabatanku dengan Shirley.
“Kalian sepertinya sedang bermusuhan, ya?” tanya Joan.
“Pasti gara-gara kamu sekarang akrab dengan Esha,” kata yang lain.
“Ya, Shirley cemburu dan merasa kesal karena kamu menelantarkannya.”
“Atau jangan-jangan Esha dibelakang menjelek-jelekkanmu kepada Shirley sehingga dia membencimu.”
Duh, pusing juga mendengar komentar teman-temanku. Kupikir, aku harus menyelesaikan masalah ini.
Malam harinya, aku dan Esha sengaja berkunjung ke rumah Esha. Mrs. Collins menyambut kami di depan pintu.
“Apa kabar Farah dan Esha? Masuklah. Shirley sedang di kamarnya di atas,” kata Mrs. Collins.
“Kabar kami baik,” jawabku dan Esha sambil masuk ke ruang tengah.
Kami duduk bersama. “Ada yang harus kami sampaikan Mrs. Collins. Tentang perubahan sikap Shirley terhadap kami,” kataku langsung.
Mrs. Collin tersenyum mendengarnya. “Oooh itu. Shirley memang sengaja melakukannya,” jawab Mrs.Collins.
“Sengaja?” aku kaget. “Kenapa?”
“Semua dimulai ketika Shirley pulang bersama kalian dari Zapnaland. Dia langsung membuang semua koleksi serangganya. Lalu, dia mengatakan kepadaku untuk mengubah kebiasaan buruknya terhadap serangga. Tentu saja, aku sebagai ibunya merasa senang. Tapi, hal itu ternyata tidak mudah begitu saja dilakukan. Kami kemudian konsultasi dengan seorang psikolog. Akhirnya, kami mendapat saran agar Shirley mencari kegiatan baru yang bisa mengalihkan pikirannya dari serangga,” tutur Mrs. Collins.
“Apakah itu?” tanyaku.
“Shirley mengambil kelas drama di luar sekolah. Ternyata baru beberapa hari mengikuti kelas drama itu, Shirley menyukainya. Dia berhasil melupakan serangganya sedikit demi sedikit. Gurunya di kelas drama mengatakan Shirley sangat berbakat berakting. Dia kemudian ditawari sebuah peran untuk pementasan ....”
 “Ya, peranku sebagai putri yang jahat dan galak .…”
Aku mendongakkan kepalaku. Kulihat Shirley menuruni tangga dan menghampiri kami. Shirley langsung memeluk aku dan Esha bergantian.
“Maafin aku, ya. Aku sudah menjadikanmu sasaran latihan dramaku,” kata Shirley sambil tersenyum.
Aku langsung menepuk kepalaku. Kemudian aku melempar bantal kursi di dekatku ke arah Shirley. Esha dan Mrs. Collins terbahak-bahak melihat aku dan Shirley kemudian berguling-guling di karpet.
Hatiku lega rasanya karena semua berakhir dengan baik. Kami bertiga kembali menjadi sahabat sejati. Aku, Shirley, dan Esha. Kehadiran Princess Hamesha, bukan penghalang bagi persahabatan aku dan Shirley. Esha justru membuat hari-hari kami semakin menyenangkan.

^-^
Penculikan

Akhir pekan, aku dan Esha sudah mencatat rencana untuk melihat pementasan drama Shirley. Aku diantar ayah hingga di depan gedung pertunjukan. Ayah dan ibu tidak bisa ikut menonton karena ada acara sendiri malam ini.
Aku menunggu Esha di lobi gedung. Tak lama kemudian, aku melihat Esha datang dengan dua pengawal yang mengikutinya.
“Aduh, maaf ya aku agak terlambat. Tadi aku minta para pengawalku tidak ikut. Sampai aku marah-marah. Tapi mereka keberatan,” katanya sambil mendengus kesal.
“Sudahlah tidak apa-apa mereka ikut menonton juga,” kataku.
“Eh, kita ke belakang panggung, yuk. Aku ingin melihat persiapan Shirley,” ajak Esha sambil menarikku.
Aku menurutinya berjalan ke samping gedung. Dua petugas keamanan sempat menanyai kami. Ketika kami keluarkan kartu undangan khusus. Mereka mempersilakan kami masuk jalan khusus. Tapi, dua pengawal Esha tidak bisa masuk meskipun mereka sempat memaksa.
Akhirnya, Esha tersenyum karena bisa lepas dari kawalan dua orang bertubuh tegap itu. Kami terus berjalan melewati gang yang sepi. Tiba-tiba .…
“Hupf!”
Mulutku disekap seseorang dari belakang. Paru-paruku jadi sesak. Tubuhku sulit digerakkan.Tapi, aku sempat melihat dua orang datang menyekap Esha dan membawanya pergi dari pandanganku.
Esha diculik! Dan orang yang menyekapku membiarkanku tergeletak lemas di lantai.
Jantungku berdegap keras. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku langsung berjalan kembali keluar. Kutemui dua pengawal Esha yang berdiri di lobi.
“Ada beberapa orang yang menculik Esha. Mereka kabur dari pintu belakang,” kataku buru-buru.
Dua pengawal itu langsung mengambil telepon genggam mereka sambil bergerak cepat menghilang dariku.
Aku makin kebingungan. Entah apa yang harus kulakukan. Aku terduduk.
“Farah, apa yang kamu lakukan di sini? Ayo masuk! Pertunjukkan sebentar lagi dimulai. Lho, mana Esha?”
Aku menoleh. Shirley datang mengenakan kostum pementasannya.
“Esha ... tadi .…” Aku bingung antara mengatakan kejadian yang sesungguhnya atau tidak.
Jika aku mengatakan hal sebenarnya, aku takut mengacaukan pertunjukkan pertama Shirley. Dia pasti tidak bisa konsentrasi. Atau bahkan tidak mau ikut pementasan. Oh, aku tidak ingin ini terjadi.
 “Sudah, masuk saja dulu. Pasti Esha nanti menyusul,” Shirley menarik tanganku.
“Esha belum tentu menyusul,” kataku akhirnya. “Ah ... dia minta maaf karena tiba-tiba ada urusan mendesak sehingga tidak bisa datang. Kalau sempat, dia akan menyusul .…”
 “Oh, jadi itu yang membuat mukamu pucat. Takut aku kecewa karena dia tidak bisa datang? Aku tidak apa-apa, kok. Nanti, biar Esha melihat pertunjukkanku dari rekaman kamera video saja.”
Aku hanya mengangguk lalu mencari tempat dudukku di dalam gedung. Tapi karena aku terus memikirkan Esha, pertunjukkan di depanku sama sekali tidak bisa kunikmati.
Oh, mudah-mudahan saja para pengawal itu berhasil mengalahkan para penculik dan menemukan Esha dalam keadaan selamat.
Ketka pementasan berakhir, aku buru-buru menemui Shirley di belakang panggung.
“Ada yang harus kukatakan kepadamu, Shirley. Tentang Esha. Dia tidak bisa datang ke sini karena tadi dia diculik,” kataku kemudian.
“Diculik?” Shirley panik bukan main.
Aku segera menelepon ayah untuk menjemputku. Shirley memberi tahu orangtuanya yang mengantar tentang penculikan Esha. Aku pun menceritakan hal yang sama kepada ayah begitu ayah menjemputku.
“Sebaiknya Farah pulang dan berdoa di rumah supaya semuanya baik-baik saja. Kasus penculikan Esha pasti sudah ditangani pihak yang berwajib,” kata ayah di dalam mobil.
Namun, kata-kata ayah belum cukup menenangkanku. Aku sama sekali tidak bisa tidur, bahkan sampai aku selesai shalat malam. Aku menunggu HP-ku berbunyi dan seseorang meneleponku, mengatakan Esha sudah diselamatkan dari tangan para penculik.
Tapi sampai aku tertidur, keinginanku tidak terkabulkan. Justru keesokan paginya, aku mendengar ayah membangunkanku yang bangun kesiangan.
“Farah, lihat di TV. Ada berita tentang penangkapan penculikan Esha,” seru ayah.
Aku segera bangun dan mengarahkan mataku ke televisi. Benar saja. Ada berita penangkapan para penculik Esha. Rupanya, pihak berwajib berhasil membebaskan Esha dari tangan para penculik.
Aku buru-buru menelepon Shirley. Ternyata, Shirley pun baru saja menonton berita itu.
“Syukurlah, Esha selamat. Mudah-mudahan saja dia tidak terluka,” harap Shirley di telepon.
Siang harinya, aku baru diizinkan menemui Esha di rumah pamannya. Shirley ikut denganku. Ketika bertemu dengan Esha, aku langsung memeluknya.
“Tenang saja, aku sudah bebas tanpa cedera sedikit pun. Kata pengawal-pengawalku, mereka bisa mengejarnya karena kamu langsung memberi tahu apa yang telah terjadi padaku. Kalau saja kamu terlambat semenit, para pengawal itu susah mencari jejak penculikku,” kata Esha.
“Soalnya hanya itu yang bisa kulakukan semalam,” jawabku.
“Shirley, maafin aku, ya. Aku tidak bisa melihat pementasan dramamu,” kata Esha kemudian.
“Jangan konyol! Aku yang merasa bersalah karena mengajakmu nonton, akhirnya kamu malah diculik,” ucap Shirley.
“Ah, kalau itu sih, aku yang salah. Ya, sekarang aku makin menyadari kalau para pengawal itu memang penting untukku. Mungkin agak mengesalkan. Tapi, aku harus memikirkan keselamatanku juga karena aku harus terus sekolah, lalu menjadi dokter untuk negeriku,” ucap Esha.
“Amin!” kataku.
“Ayahku meminta aku menenangkan pikiranku dulu di Zapnaland. Besok, aku akan berakhir pekan di Zapnaland. Kalian ingin ikut lagi?”
Aku dan Shirley langsung bersorak girang. Ke Zapnaland lagi? Siapa takut!!!!! Kalian mau ikut? Gampang, kok. Pejamkan mata kalian, lalu sebut Zapnaland tujuh kali.

^_^


Terdampar

Aku pernah membaca buku tentang seorang pria yang terdampar sendirian di sebuah pulau terpencil. Namanya Robinson Crusoe. Setelah membaca buku itu, aku selalu ingin membawa tas penuh makanan dan buku. Ya, kalau aku terdampar di pulau kecil terpencil nanti, aku tidak akan kelaparan dan kesepian.
Tapi, yang jelas aku tidak pernah membayangkan akan benar-benar terdampar. Sampai kemudian detik itu tiba. Ya, saat ini.
Asisten pilot yang bekerja kapal terbang pribadi milik Esha mengatakan bahwa pesawat tiba-tiba mengalami kerusakan. Kemungkinan, pesawat akan mendarat darurat dan belum bisa dipastikan para penumpang akan selamat.
“Sebaiknya Tuan Putri dan teman-teman terjun payung saja bersama pengawal,” saran asisten pilot itu.
Tentu saja aku panik. Bagaimana aku bisa terjun payung? Merasakannya saja belum pernah. Kurasa Shirley pun demikian.
“Kalian tidak perlu takut. Kita akan terjun tandem dengan para pengawal,” kata Esha.
Aku tahu apa yang disebut terjun tandem. Yang aku tidak tahu, apakah aku akan benar-benar berani melakukannya.
“Ayo segera bersiap!” pinta seorang pengawal.
Tiga pengawal menyiapkan perlengkapan terjun. Mereka memasang perlengkapan tersebut di tubuh mereka. Setelah itu, masing-masing merekatkan tubuh kami di tubuh mereka dengan alat khusus. Kami jadi seperti bayi kangguru yang digendong ibunya.
Saat pintu khusus dibuka, ketakutanku makin memuncak. Kulihat Esha dan pengawalnya terjun paling awal. Menyusul Shirley yang begitu pengawalnya meloncat langsung menjerit nyaring.
“Bismillahirrahmanirrahim!” Aku langsung berdoa sambil memejamkan mataku yang mengenakan kacamata khusus ketika akhirnya tiba giliranku.
WUSSS! Aku merasakan tubuhku menabrak udara dan melayang. Tak lama kemudian, aku merasakan entakan di tubuhku. Tubuhku semakin ringan melayang. Saat itulah, aku baru berani membuka mataku.
“Subhanallah!” rasa takutku mulai menghilang. Payung di atasku mekar dengan indahnya. Sementara itu, pemandangan di bawah sana sangat indah walaupun sedikit mengerikan. Aku melihat di bawah terhampar luas lautan dan beberapa pulau kecil.
Setelah beberapa menit berayun-ayun di udara, akhirnya aku dan pengawal Esha mendarat di atas pasir pantai yang basah. Perlengkapan terjun pun dilepaskan. Aku langsung berterima kasih kepada pengawal Esha yang telah membawaku.
“Shirley! Esha!” Aku berlari menuju Esha dan Shirley yang telah mendarat lebih dulu. Kulihat wajah Shirley memucat. Sepertinya dia tadi menjerit terus hingga mendarat.
“Di mana kita?” tanya Shirley kemudian.
“Aku tidak tahu. Kita terdampar,” jawab Esha.
“Lalu, bagaimana kita bisa keluar dari pulau ini?” tanya Shirley lagi.
“Kita serahkan saja kepada pengawalku. Oh, iya kalian belum kenal mereka,” ucap Esha sambil terus mengenalkan nama-nama mereka.
Semula aku kurang memerhatikan mereka karena mereka tampak serupa. Tapi, sekarang aku tahu mereka satu per satu. Mike yang terjun bersama Esha memiliki dagu panjang yang terbelah. Tim yang terjun bernama Shirley mempunyai ciri khas tahi lalat di pelipis kanannya. Sementara Brandon yang bersamaku memiliki lesung pipi saat dia bicara.
“Kita tinggal di sini dulu sambil menunggu helikopter penjemput,” kata Mike sambil memegang alat komunikasi.
“Mudah-mudahan saja tidak terlalu lama,” sahut Tim.
“Tapi, kalau kalian merasa bosan dan ingin bermain-main di sekitar sini, silakan saja. Asal jangan terlalu jauh,” saran Brandon.
Kami senang dengan izin itu. Aku langsung berlarian di atas pasir pantai yang luas ini. Shirley dan Esha ikut berlari mengejarku. Kami kemudian bermain ciprat-cipratan air laut.
“Eh, bagaimana kalau kita main ke hutan itu,” tanya Shirley kemudian sambil menunjuk ke arah hutan yang membatasi pantai.
“Mau ngapain? Cari serangga? Bukankah kamu sudah berhenti mengoleksi serangga?” tanyaku.
“Siapa tahu saja kita menemukan jenis bunga anggrek yang indah,” kata Shirley.
“Ya, itu mungkin saja. Tapi, sebaiknya tunggu sampai para pengawal itu tidak memerhatikan kita. Kurasa, mereka tidak akan mengizinkan kita ke dalam hutan,’ ucap Esha.
Kami pun bergerak sedikit demi sedikit ke arah hutan. Ketika para pengawal itu tampak sibuk mendirikan tenda, buru-buru kami berlari ke dalam hutan.
“Mudah-mudahan tidak ada bintang buas di sini,” ucap Shirley.
“Di pulau kecil seperti ini jarang sekali ada binatang buas,” kataku.
“Kalau begitu, bagaimana mungkin kita bisa menemukan anggrek di sini?” tanya Shirley.
“Bisa saja. Burung-burung sering kali menjadi pembawa bibit-bibit aneka tanaman hingga bisa menyebar ke mana-mana,” kataku membagi informasi yang kudapat dari buku bacaanku.
“Hei lihat! Ada bunga indah di sebelah sana!” tunjuk Shirley.
Aku melihat bunga indah yang ditunjuk Shirley. Bentuknya besar dan berwarna kemerahan. Aku tidak tahu bunga macam apa itu. Yang pasti bukan anggrek karena bunganya muncul dari semak-semak, bukan menempel di pohon seperti umumnya anggrek.
Shirley langsung berlari mendahului kami, seolah ingin lebih dulu memetiknya.
“Hati-hati Shirley! Jangan lari!” seru Esha.
“Aw!” belum lama Esha berkata, tiba-tiba Shirley berteriak kencang. “Tolooong!”
Aku dan Esha langsung mempercepat langkah menghampiri Shirley.
“Hati-hati!” kataku ketika mendekati Shirley. Aku bermaksud menahan Esha agar tidak melangkah terlalu mendekati Shirley.
“Shirley menginjak lumpur pengisap,” kataku setelah mengamati sebentar.
Shirley tampak panik. Kakinya tenggelam di lumpur hingga batas pinggangnya.
“Jangan banyak bergerak! Nanti kamu malah akan semakin cepat tersedot. Bertahanlah! Kami akan segera minta bantuan para pengawal,” teriakku.
Please, jangan tinggalkan aku sendirian di sini. Aku takut sekali. Jangan tinggalkan aku,” Shirley mulai menangis ketakutan.
Aku bingung. Benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Kadang-kadang, aku memang tak bisa menemukan ide apa pun jika dalam keadaan gawat. Aku hanya pasrah dan berdoa.
“Farah, kamu saja yang pergi menemui pengawal. Aku di sini menemani Shirley,” kata Esha sambil mengambil batang kayu dan menyorongkannya kepada Shirley. “Pegang kayu itu! Aku akan berusaha menahanmu sampai bantuan datang!”
Tanpa buang waktu lagi, aku langsung berlari kencang ke arah pantai sambil berteriak sekuat tenagaku,” Tolong! Tolong! Mike! Tolong!”
Aku belum sampai pantai ketika melihat Mike, Tim, dan Brandon di tengah jalan.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Mike.
“Di sana!” Aku bingung menjawabnya karena napasku masih tersengal-sengal.
Mereka tidak menunggu jawaban lengkapku, mereka langsung berlari ke arah yang kutunjuk. Aku menyusul di belakang bersama Brandon yang mengawalku.
Kulihat tubuh Shirley sudah tenggelam hingga dada, sementara Esha berusaha sekuat tenaga menahan kayu ditangannya.
“Lepaskan saja. Biar kami yang membantu,” kata Mike mengambil alih. Dia mulai mengeluarkan tali tambang dari pinggangnya dan melilitkan satu ujungnya ke pinggang. Ujung lainnya diberikan kepada Tim.
Mike melompat ke lumpur itu hingga menggapai tubuh Shirley. Setelah dia berhasil mengangkat Shirley, Tim dan Brandon menarik tambang. Mike dan Shirley akhirnya berhasil keluar dari lumpur pengisap itu.
Aku dan Esha langsung memeluk Shirley sambil menahan tangis.
“Maafin aku sudah merepotkan kalian,” kata Shirley. Sedetik kemudian, dia jatuh pingsan.
*^*^*^*^*




Princess Sejati

Kalian tentunya pernah membaca kisah-kisah princess, kan? Ada Cinderella, Snow White, Rapunzel, dan sebagainya. Kebanyakan kisah-kisah princess berakhir dengan hal yang menggembirakan. Atau lebih tepatnya lagi, bertemu dengan seorang pangeran alias prince dan menikah dengan pesta yang meriah.
Kisah Esha ini pun berakhir bahagia. Tentu saja, bukan dengan pernikahan karena kami masih sekolah. Lagi pula, kami belum bertemu dengan seorang pangeran tampan. Tapi, paling tidak saat ini Shirley sudah kembali sadar dari pingsannya. Mike yang berusaha menyadarkannya.
“Di mana kita sekarang?” tanya Shirley bingung.
Kami memang sudah berada di sisi pantai, di dalam tenda darurat. Mike tadi menggendong Shirley.
“Minumlah dulu,” kata Esha sambil menyodorkan botol minuman.
Shirley meneguknya sedikit. “Siapa kalian?” tanyanya kemudian.
“Jangan bercanda, ah,” ucap Esha.
 Aku juga berpikir Shirley tengah bercanda. Tapi, tatapan matanya memang kosong. Ia seperti asing dengan kami. Mungkinkah dia amnesia atau lupa sebagian ingatannya, gara-gara peristiwa di lumpur tadi? Wah, bisakah nanti dia sembuh?
“Ayo, kamu pasti bercanda!” kata Esha lagi.
“Ah ... ya, aku ingat sekarang. Kamu sejenis koala Australia, kan?” tunjuk Shirley kepada Esha.
Esha cemberut. Shirley pun kemudian tertawa lebar.
“Huh, kukira kamu benar-benar lupa ingatan!” teriak Esha.
“Iya. Hampir bikin aku panik dua kali,” tambahku.
Shirley tersenyum. Dilihat tubuhnya yang kotor oleh lumpur. “Wah, aku benar-benar menjijikkan sekali,” katanya sambil berdiri.
“Kamu mau ke mana?” tanyaku.
Shirley tidak menjawab. Dia malah berlari ke bibir pantai membasahi dirinya dengan air laut. Lumpur yang mengotori tubuh dan pakaiannya pun menghilang. Esha dan aku pun menyusul kembali bermain di ciprat-cipratan air laut. Seolah kami ingin menghapus kejadian menegangkan tadi dari ingatan kami.
Sekitar lima belas menit kemudian, helikopter penyelamat datang mendarat di pantai. Kami berenam langsung naik ke dalam. Aku bersyukur bisa segera meninggalkan pulau kecil itu.
“Pak, bagaimana dengan kapten pilot pesawat pribadiku? Apakah dia mendarat dengan selamat?” tanya Esha begitu kami mengudara. Dia bertanya kepada asisten pilot helikopter.
“Dua pilot dan empat kru lainnya selamat, meskipun harus mendarat dalam keadaan darurat. Kondisi pesawat hampir terbakar sebagian,” lapor asisten pilot itu.
“Oh syukurlah. Doaku dikabulkan,” ucap Esha.
Aku bangga sekali dengan sikap Esha ini. Di saat kami juga dalam keadaan tak menentu, Esha masih memikirkan nasib pilot pesawat pribadinya.
“Princess sejati ....”
“Apa? Kamu bilang apa, Farah?” tanya Esha.
“Kamu adalah princess sejati,” ulangku lebih kencang. Padahal, tadi aku hanya menggumamkan apa yang ada di hatiku. Rupanya, Esha sedikit mendengarnya.
“Maksudmu apa?” tanya Esha.
“Hatimu sungguh mulia. Hampir seperti kebanyakan princess-princess di dongeng. Tentu, kamu lebih baik dari mereka karena kamu bukan princess dalam dongeng,” jelasku.
“Ya, aku juga sependapat. Kamu seorang princess sejati. Aku melihat kesungguhan hatimu, saat menahanku sekuat tenaga agar tidak tenggelam di lumpur tadi. Padahal, itu membahayakanmu. Bisa saja kamu terseret ke lumpur itu,” tambah Shirley. “Terima kasih, Esha. Kamu benar-benar princess sejati.”
Esha tersenyum. Jemari tangan kirinya mengenggam jemariku, jemari tangan tangan kanannya menggenggam jemari Shirley.
“Terima kasih kalian telah memujiku. Aku senang kalian menyebutku Princess sejati. Tapi, aku lebih senang jika aku bisa menjadi sahabat sejati kalian,” ucap Esha kemudian.
Oh, manisnya kalimat Esha itu. Aku suka sekali mendengarnya. Dan kurasa aku ingin mengakhiri cerita ini sampai di sini. Karena inilah saat yang membahagiakan kami bertiga.
Tentu saja, jika nanti kami bertiga mengalami kejadian yang menarik, aku tidak akan lupa menceritakannya kepada kalian.

^__^
TAMAT