Tuesday, October 23, 2012

[BUKU] Novel Anak AWAS INI RAHASIA - Tamat


Bab 1
Boleh Nyontek Asal Bayar

“Simpan dulu bukumu atuh, Nisa. Memangnya semalaman kamu belajar kurang cukup, ya?” usik Bu Ramli di meja makan saat sarapan.
Nisa menyimpan buku di tangannya itu ke sisi piring nasi gorengnya.
“Kasihan dikit  dong sama Ibu. Pagi-pagi sudah komat-kamit baca mantra biar nasi gorengnya sedap,” tambah  Pak Ramli setelah menyuap sesendok nasi ke mulutnya.
Nisa memandang ayahnya sesaat. Ia tersenyum kecil. “Wah, Ayah, kumisnya berfungsi ganda. Bisa buat saringan nasi goreng segala,” ledek Nisa.
Pak Ramli buru-buru mengusap kumisnya.
“Ayah pasti sengaja nyisain di kumis. Buat bekal di kantor nanti,” timpal Faris, kakak Nisa yang duduk di bangku satu SMU.
“Euleu-euleuh, Mana cukup! Ayah mah makannya nggak boleh kurang dari sepiring,” sahut Bu Ramli dengan logat sundanya yang kental. Ia mengalihkan perhatiannya ke Nisa. “Nisa, biarpun kamu simpan, bukan berarti kamu teh bisa membacanya sambil makan!”
Ups! Nisa  menggeser buku bacaan IPS itu lebih jauh. “Hari ini ulangan pertama Nisa di kelas baru. Nisa nggak mau nilai ulangan nanti jelek. Akan Nisa buktikan biarpun Nisa pindahan dari Bandung, nggak kalah pintar sama anak-anak Jakarta,” ujarnya.
Keluarga Pak Ramli memang baru seminggu pindah dari Bandung. Tepatnya di daerah utara   kota Jakarta. Mereka harus pindah karena Pak Ramli mendapatkan promosi jabatan dari kantornya, dari kepala cabang jadi wakil direktur di kantor pusat di sebuah rumah sakit swasta.
Setelah acara sarapan pagi beres, Nisa ikut berpamitan pada ibunya. “Ngomong-ngomong kalung Ibu sudah ketemu belum?”
Wajah Bu Ramli yang tadi ceria kembali kusam. Nisa jadi merasa bersalah menanyakannya. Padahal menurut Nisa ibunya tak perlu semurung itu kehilangan kalungnya saat pindah rumah. Itu cuma kalung imitasi dengan liontin dari kaca. Bisa kok dicari gantinya di toko dengan harga murah. Tapi Bu ramli bersikukuh harus menemukan kalung kesayangannya itu. Ada-ada saja memang!
Pak Ramli mengantar Nisa lebih dulu ke sekolah dengan mobilnya. Lagi-lagi Nisa sibuk dengan bahan ulangannya di dalam mobil. Bahkan ketika turun di depan gerbang sekolah, ia berjalan sambil membaca buku di tangannya.
“Aduh, rajinnya teman baruku! Kamu mau ulangan atau tes jadi astronot?” sapa  Mila, teman sebangku Nisa yang mencegat di pintu kelas.
“Kamu sih enak sudah banyak yang hapal,” timpal Nisa sambil masuk kelas.
“Siapa bilang? Aku cuma nggak mau terlalu ngotot belajar. Kata Bu Miftah, ulangan hari ini soalnya pilihan ganda.”
“Biar pilihan ganda tetap saja harus belajar. Nggak mungkin asal tembak.” Nisa menyimpan tasnya ke laci meja. Ia mengamati teman-teman sekelasnya. Mereka tampak tak seserius dirinya menghadapi ulangan nanti. Sebagian yang sudah datang malah ngobrol soal sinetron semalam di teve atau malah membaca komik yang mereka bawa dari rumah. Heran, kok sekolah bawa komik sih?
“Aku bisa membantu mendapat nilai tinggi. Ya, antara delapan atau sembilan. Asalkan kamu mau membayar uang dua ribu,” kata Mila setengah berbisik.
Nisa mendelik. Hah, bagaimana caranya?
“Kamu tahu Farhan, kan? Dia murid paling jenius di kelas enam ini. Hanya dengan membayarnya dua ribu, kamu boleh mencontek jawaban ulangannya,” tambah Mila.
“Masya Allah! Nggak ah. Aku nggak mau pakai cara curang begitu. Aku masih punya otak yang bisa kupakai berpikir,” tolak Nisa buru-buru.
“Terserah kamu deh. Aku cuma ngasih tahu. Ngg … jangan kamu bilang hal ini pada Bu Miftah. Awas, ini rahasia,” pinta Mila sambil meninggalkan Nisa. Mulutnya bersenandung merdu. Mila memang punya bakat hebat sebagai penyanyi. Suaranya sangat merdu. Bahkan kata-teman-temannya, bersin pun ia tidak pernah fals. Dan setiap tahun ia mengeluarkan album kaset yang sangat laris sejak umur lima tahun.
Nisa menghela napasnya. Jadi itu sebabnya teman-teman di kelasnya tampak santai menghadapi ulangan hari ini. Hanya dengan uang dua ribu mereka bisa memperoleh nilai tinggi. Mereka tinggal mencontek dari… Farhan.
Ya, Nisa ingat sosok Farhan. Murid cowok itu penampilannya tidak seperti anak jenius yang Nisa kenal. Tidak berkacamata seperti kutu buku kebanyakan. Tidak juga kurus seperti anak yang sering berada di perpustakaan daripada berolahraga. Dan dia selalu datang tepat saat bel masuk.
Teng ning teng teng ning ning teng!
Farhan masuk ke kelas, langsung menuju bangku di barisan tengah. Hmmm, tempat yang strategis untuk memberi contekan ke segala penjuru kelas. Tapi bagaimana caranya?
Nisa akhirnya menghampiri Farhan.“Han, kudengar kamu suka memberi contekan di waktu ulangan, ya?” tanyanya langsung.
“Ya. Asal bayar dua ribu. Tapi untukmu … karena murid baru, aku kasih diskon deh. Seribu juga nggak apa-apa,” jawab Farhan enteng.
“Gratis pun aku nggak mau. Itu cara curang. Bagaimana kalau aku mengadukan kecuranganmu itu pada Bu Miftah?”
“Silakan saja. Tapi kamu harus menjelaskannya pada mereka,” kata Farhan sambil menunjuk teman-temannya.
Nisa tak bisa berkata lagi karena seluruh tatapan mata di kelas mengarah padanya. Ia kembali ke bangkunya. Nisa yang penasaran tak sabar menunggu detik-detik ulangan IPS tiba.
Bu Miftah masuk tiga menit kemudian. Membagikan kertas soal dan lembar jawaban. Seisi kelas mulai sibuk membaca soal. Tapi  sebagian besar belum juga membuat jawaban. Nisa berusaha mengerjakan soal-soal itu sambil sesekali melirikan matanya ke Farhan. Tap!
Farhan dengan cepat menyelesaikan duapuluh soal di depannya. Ia mengangkat lembar jawabannya hingga mudah dibaca dari belakang dan sampingnya. Lalu secara berantai hasil jawaban itu menyebar ke seluruh kelas. Kecuali Nisa! Dan mereka yang mendapat contekan itu harus membuat sendiri  dua atau tiga jawaban salah. Agar nilai mereka tidak sama sekelas hingga mengundang kecurigaan Bu Miftah.
“Selesai tidak selesai, harap kumpulkan semua lembar jawaban. Ayooo!” seru Bu Miftah satu setengah jam kemudian.
Nisa menarik napasnya. Ia merasa lega berhasil menjawab soal-soal itu, meski tak begitu yakin akan betul semua. Rasanya Nisa tak sabar menunggu waktu dua hari untuk mengetahui nilainya.
Dua hari kemudian Bu Miftah membagikan nilai ulangan itu. Nilai tertinggi seperti biasa dipegang Farhan. Selebihnya antara delapan dan sembilan. Nisa nyaris tak percaya ketika tahu Mila yang mengaku tak belajar itu mendapat nilai sembilan, sama dengannya yang susah payah belajar.
Ini tidak adil! Pekik Nisa dalam hati. Hatinya memberontak.
Tapi cukup beranikah Nisa? Ia harus melawan teman-teman sekelasnya kelak.
****


    






Bab 2
Demi Kebenaran

“Kamu serius mau mengadu pada Bu Miftah? Aduh, mendingan jangan. Nanti kamu bisa-bisa dimusuhi teman sekelas,” cegah Mila beberapa detik setelah bel istirahat berbunyi.
“Ya. Aku melakukannya demi kebenaran. Demi kebaikan teman-teman juga. Termasuk kamu. Biar teman-teman nggak dirugikan,” tegas Nisa sambil berdiri.
“Tapi menurutku, kami memang nggak rugi,” kilah Mila yang memang sulit mengatur waktu untuk belajar karena sibuk dengan urusannya penyanyi laris. Apalagi belakangan ia mulai ikut main sinetron dan jadi bintang iklan.
“Belum kamu rasakan sekarang. Tapi, nanti kalau ujian bagaimana? Pengawas kita bukan guru sendiri, tapi dari sekolah lain. Kamu nggak bisa nyontek sembarangan.”
“Oh, kalau ujian pasti aku akan belajar.”
“Mana bisa begitu? Kok belajarnya cuma mau ujian? Kamu nggak akan siap dengan cara begitu!” Nisa bergegas meninggalkan kelas tanpa menunggu jawaban Mila. Ia menuju ruang guru dan menemui Bu Miftah. Nisa melaporkan semua hal yang diketahuinya tentang kecurangan Farhan.
Bu Miftah tampak gusar. Ia segera meminta Nisa kembali ke kelas dan memanggil Farhan. Puluhan pasang mata di kelas langsung menatap sinis saat Nisa meminta Farhan menemui Bu Miftah di ruang guru. Mereka memang tidak menyerang dengan kata-kata. Tapi Nisa langsung merasa mereka memusuhinya.
Ketika bel tanda masuk berbunyi lagi, Farhan kembali ke kelas. Tak ada tanda penyesalan di wajahnya. Ia melangkah ringan ke bangkunya dan meraih tasnya.
“Kamu diberhentikan, Han?”
“Diskorsing, ya?”
“Berapa lama?”
Suasana di kelas persis tayangan berita seorang menteri yang diserbu wartawan. Tapi Farhan tak menyahutinya. Ia terus melenggang meninggalkan kelas.
Sejak itu Nisa merasa jadi orang asing di kelas. Tak ada yang mengajaknya bicara. Bahkan, Mila tak mau menoleh padanya sedetik pun. Lalu ketika pulang sekolah, tampak beberapa murid kasak-kusuk seperti merencanakan sesuatu untuk Nisa.
*****
“Seharusnya kamu sadar bahwa caramu itu telah membuat teman-temanmu tambah  malas belajar. Dan akhirnya mereka akan jadi bodoh selamanya. Atau memang kamu ingin pintar sendiri?”
Kata-kata Bu Miftah terngiang kembali di telinga Farhan saat berjalan pulang. Ia sendiri tidak menginginkan cara itu kalau saja ia memiliki uang  cukup untuk membiayai sebuah proyek rahasia yang sedang ia kerjakan.
Awalnya Farhan minta tolong pada Mila untuk meminjamkannya uang. Mila menyanggupinya asal Farhan mau mengerjakan pe-er yang tak sempat diselesaikannya. Lalu, beberapa tugas sekolah seperti prakarya, mengarang, dan menggambar dikerjakan Farhan pula. Dia mendapat bayaran dari itu semua. Lama-lama teman-teman sekelasnya yang lain mengikuti jejak Mila. Sampai akhirnya, untuk urusan ulangan pun mengandalkan Farhan.
“Kamu Ibu skorsing selama dua hari. Dan kamu harus menulis surat permohonan maaf serta janji untuk tidak mengulanginya yang ditandatangani kedua orangtuamu,” demikian Bu Miftah menutup ceramahnya tadi.
Farhan hanya menelan ludah karena hukuman itu buatnya terasa berat. Artinya ia akan mengalami kesulitan biaya untuk meneruskan proyek rahasianya.
Tak terasa Farhan sudah memasuki mulut gang menuju rumahnya. Ditatapnya sebentar langit yang mulai mendung. Musim hujan sebentar lagi tiba. Hal itu membuat hatinya kian gelisah.
Daerah tempat tinggal Farhan memang mencemaskan di musim hujan. Perkampungan dengan rumah yang padat, serta saluran air yang tak terurus dan dipenuhi sampah, membuat daerah itu rawan banjir. Belum lagi air pasang laut yang tak seberapa jauh itu. Malah saat banjir tahun lalu, permukaan air sampai seleher orang dewasa. Membuat semua penduduk di daerahnya harus mengungsi. Perabotan rumah banyak yang jadi korban. Yang menyedihkan, buku-buku koleksi Farhan rusak semua.
Aku harus buru-buru menyelesaikan proyekku, Farhan membatin sambil mempercepat langkahnya.
Sampai di rumah ia hanya menemukan kakaknya yang hendak berangkat sekolah siang di SMU. Ayah dan ibunya belum pulang. Mereka kerja di pabrik garment yang sama. Ibu sebagai buruh, ayahnya sebagai satpam.
“Lho, hari gini kok sudah pulang?” tanya Farah heran.
“Diskorsing. Gara-gara mulut bawel murid baru di kelasku.”
Farah tertawa. Ia sudah tahu banyak tentang kecurangan Farhan. “Aku sudah bilang ratusan kali, sepandai-pandainya menyimpan bangkai … bau busuk tetap akan tercium juga,” katanya kemudian.
“Aduh, jangan bilang-bilang bangkai dong. Aku belum makan nih. Bisa-bisa nanti jadi malas makan.”
“Memangnya siapa yang masakin kamu daging? Tuh, aku tadi cuma bikin sayur lodeh sama semur tahu.  Mana ada bangkai tahu atau lodeh!”
Farhan garuk-garuk kepala meski tak gatal. Ngadu omongan dengan kakaknya memang tidak akan menang.
“Terus, kamu pasti dendam dong sama anak baru itu?” selidik Farah kemudian.
“Dia tuh cewek, Kak. Nggak mungkin aku tonjok mukanya. Biar saja teman-teman yang membalasnya.”
“Wah, main keroyokan!”
“Biarin! Aku nggak nyuruh mereka kok!”
“Nggak nyangka adikku sejahat itu. Mestinya kamu malah harus berterima kasih karena dia sudah nyadarin kamu.”
“Wueekkk! Nggak akan pernah deh!”
“Oh, ya?”
“Sampai kapan pun!”
“Aku nggak percaya.” Farah hapal betul sifat adiknya.
Farhan ngeloyor ke kamarnya karena tak berdaya berdebat dengan kakaknya itu.
*****
“Banjirrrrrr! Banjirrrr!”
Suara itu terdengar berisik di telinga Farhan, membuatnya terbangun dari tidur. Ia sempat bingung karena sekelilingnya gelap. Oh! Pasti aliran listrik dipadamkan. Farhan buru-buru meraih lampu senter di bawah kasurnya. Nyala!
Plung! Farhan terkejut ketika menurunkan kakinya dari dipan. Ternyata air sudah masuk ke rumahnya. Sampai selutut malah. Buru-buru Farhan keluar dari kamarnya.
“Ibu bangunkan dari tadi malah ngorok terus!” seru Ibu yang tengah sibuk mengangkat beberapa perabot di ruang tamu bersama Ayah. “Amankan sendiri barang-barangmu!”
Farhan segera menuruti kalimat Ibu. Dilihatnya, Farah juga tengah sibuk menyelamatkan sepatu sekolahnya. Hah! Farhan ingat sepatunya dan beberapa koleksi bukunya di kolong tempat tidur. Ketika Farhan melongoknya, sebagian koleksinya sudah terendam. Buru-buru Farhan menyelamatkan hartanya yang lain.  
Hujan yang terus turun walaupun tak deras, membuat Farhan tak bisa nyenyak tidur. Itu sebabnya ketika berangkat sekolah matanya masih terasa berat.
“Kamu begadang yah, semalam?” tanya Mila yang melihat kedatangan Farhan.
“Biasalah, banjir. Kalau jadi kamu sih, enak. Punya rumah di kawasan bebas banjir, tingkat lagi …” timpal Farhan.
“Kalau kamu terus begadang … bisa gawat dong. Besok kita sudah mulai tes. Sementara kamu harus tenang belajar …. Maksudku, biar bisa ngasih jawaban yang benar,” ujar Mila lagi.
“Ya, habis gimana lagi. Masak sih keluargaku harus pindah ke perumahan elit kayak kamu. Nggak mungkin.”
Mila terdiam sebentar. “Gimana kalau kamu saja yang pindah untuk sementara waktu? Pokoknya selama musim banjir dan tes. Di rumahku masih ada kamar yang bisa kamu tempati untuk sementara. Pasti mamaku nggak keberatan.”
Farhan manggut-manggut. “Baiklah, nanti sore kalau hujan lebat … aku pasti langsung mengungsi ke rumahmu,” sahut Farhan.
Seharian itu hujan tak turun. Hanya menjelang Magrib terlihat langit sangat gelap. Ibu pulang kerja lebih cepat dari biasanya.
“Ayah hari ini dinas malam. Lembur. Jadi sebaiknya kita harus lebih siap-siap kalau sewaktu-waktu banjir datang,” kata Ibu cemas. Ia langsung menyibukkan diri memindahkan beberapa barang.
“Tapi, Bu … Farhan tadi sudah janji sama Mila menginap di rumahnya. Besok Farhan sudah tes. Kalau nggak belajar ….”
“Ibu nggak melarang kamu menginap kok. Pergi saja kalau memang menurut kamu itu baik,” timpal Ibu seperti biasa.
Farhan menelan ludah mendengar kalimat ibunya. Akhirnya ia memutuskan menelepon Mila.
“Maaf ya, aku nggak jadi nginap,” jelas Farhan pada Mila.
“Pasti nggak diizinkan ibumu. Kalau begitu biar aku saja yang ngomong,” bujuk Mila.
“Bukan kok. Aku sendiri yang memutuskan. Kupikir-pikir, masak sih keluargaku kerepotan banjir di sini, aku enak-enakan nginap di rumah mewah bersamamu.”
“Terserah kamulah!” Mila kecewa.
Ternyata keputusan Farhan itu tepat. Pada malam harinya, hujan turun dengan deras. Semua warga di jalan itu harus mengungsi. Banjir yang datang lebih tinggi dari biasanya. Hampir seleher orang dewasa. Banyak orang yang harus kehilangan harta bendanya. Malah ada pula korban jiwa karena terseret arus banjir.
Farhan dan keluarganya terpaksa mengungsi ke stadion olahraga terdekat. Kebetulan tribun di stadion itu cukup tinggi dan luas. Saat itulah pertama kali Farhan merasakan jadi orang yang mengungsi ke tempat darurat.
“Sebenarnya mengungsi ke rumah Mila jauh lebih menyenangkan,” pikir Farhan. Tapi, ia yakin Ayah dan Ibu tak akan mau. Dan Farhan tak mau kalau hanya dirinya yang mengungsi ke rumah mewah Mila, sementara Ayah, Ibu dan kakaknya harus tinggal di tempat penampungan darurat.
Karena banjir itu pula sekolah harus mengundurkan jadwal tes. Rupanya cukup banyak murid yang jadi korban banjir.
“Banjirrr! Banjirrrrr!”
Hah!
Farhan tersentak kaget. Wah, rupanya ia terjaga dari tidur siangnya. Mimpi buruk tentang peristiwa banjir yang terjadi tahun lalu.
Farhan mengusap matanya. Di depannya, tergeletak beberapa peralatan kerja yang berhubungan dengan proyek rahasianya. Mengingat mimpinya tadi, Farhan jadi kembali bersemangat mengerjakan proyek rahasianya yang tertunda sebentar tadi karena mengantuk.
“Aku nggak mau mengungsi untuk kedua kalinya,” tekad Farhan.
*****
                 


Bab 3
Hati-Hati, Ya!

“Assalamu`alaikum! Bisa bicara dengan Mila?” sapa Nisa usai mendengar nada sahutan di telepon.
“Wa `alaikumsalam. Dari siapa nih?”
“Dari Nisa. Ini pasti Mila. Kamu nggak sibuk syuting?” tanya Nisa hati-hati.
“Nggngng …” Mila ragu menjawab.
“Aku mau minta maaf karena tidak mau mendengar nasihatmu. Tapi sungguh aku merasa apa yang kulakukan tadi pagi itu baik untuk kita semua kok. Tapi kalau kamu pikir aku salah, aku mau minta maaf. ”
“Aku juga minta maaf karena ikut memusuhimu. Karena ….”
“Aku tahu. Kamu nggak enak kalau tidak ikut-ikutan temanmu yang lain, kan? Tak apa-apa kalau memang itu pilihanmu.”
“Begitulah …” Mila berterus terang.
“Wah, aku lega karena kamu ternyata nggak benar-benar memusuhiku. Aktingmu boleh juga hari ini. Habis rasanya aneh dimusuhi teman sebangku. Tapi … kalau kamu memang tidak bisa bicara denganku karena harus pura-pura di depan teman-temanmu, besok teruskan saja begitu. Yang penting aku tahu hatimu baik padaku,” sahut Nisa.
“Iya. Dan jangan bilang siapa pun kamu bicara denganku di telepon. Awas, ini rahasia!” Mila diam sebentar seperti mencari kalimat yang cocok untuk dibicarakan. “Boleh aku tahu, kamu takut kecoak nggak sih?”
“Kalau cuma satu atau dua sih nggak. Tapi kalau banyak jijik juga.”
“Wah, kalau aku sih lihat bayangannya saja bakalan lari. Syukur deh kalau memang kamu nggak setakut aku.”
“Memangnya kenapa?”
“Ng … nggak apa-apa. Sudah dulu ya, aku ditunggu mamaku nih. Sore ini ada pentas di pesta ulang tahun anak teman mamaku. Assalamu`alaikum! Hati-hati, ya!”
“Wa `alaikumsalam.”
Klik. Nisa menyimpan gagang telepon ke tempat semula. Tugas dari kakaknya telah dijalankan dengan baik.
Ya, sepulang sekolah Nisa menceritakan pengalamannya di kelas pada Bu Ramli dan Faris. Atas saran Faris, Nisa diminta menelepon beberapa teman di kelasnya untuk menjelaskan segalanya. Tapi, Nisa hanya punya lima nomor telepon. Empat lainnya sudah ditelepon, tapi mereka langsung menutup gagang telepon begitu Nisa menyebutkan namanya. Cuma Mila yang masih berbaik hati.
Tapi apa maksud Mila  mengucapkan kalimat ‘hati-hati, ya!’ tadi? Pikir Nisa.
*****

Hari Kamis pagi hujan turun rintik-rintik. Namun, tetap saja udara yang Nisa rasakan di Jakarta tak sesejuk di Bandung. Saat masuk kelas ia langsung merasakan tatap permusuhan dari semua temannya. Bahkan, Mila tak menyapanya seperti hari-hari sebelumnya.
Beberapa detik setelah  bel tanda masuk berbunyi, sosok Farhan tak muncul ke kelas. Seisi kelas mulai yakin dengan gosip yang beredar bahwa Farhan diskorsing selama dua hari. Hati mereka bertambah kesal pada Nisa.
Bu Refa, guru kesenian, mengisi pelajaran pertama di kelas.
“Berhubung hari ini hujan, untuk menghangatkan kelas, Ibu akan menilai kalian menyanyi satu persatu di depan kelas. Lagu yang kalian nyanyikan bebas. Asal tidak lebih dari tiga menit,” ucap Bu Refa setelah semua murid selesai berdoa bersama.
Keruan seisi kelas jadi riuh. Hanya beberapa murid yang tampak tenang. Apalagi Mila. Ia memang paling suka pelajaran menyanyi. Tapi kebanyakan langsung berkeringat, terutama murid cowok. Tidak heran kalau kemudian terjadi beberapa kejadian lucu.
Ada yang menyanyi sambil menatap lantai. Ada juga yang terus melihat ke langit-langit kelas yang seolah  akan rubuh menimpanya. Bahkan, tidak sedikit yang nyanyi dengan irama terburu-buru sehingga belum sampai di ujung lagu, mereka sudah berlari ke bangku. Ketika Mila mendapat giliran, seisi kelas mendengarnya dengan seksama. Mila membawakan lagu dari salah satu albumnya.
“Anisa Putri!” Bu Refa memanggil giliran berikutnya.
 Nisa maju ke depan kelas diiringi celetukan beberapa mulut temannya.
“Sebelumnya saya minta maaf karena lagu yang saya nyanyikan ini bukan lagu terkenal. Lagu ini diciptakan oleh ibu saya, dan sering dinyanyikan sewaktu saya masih kecil ….”
“Huhhhhhh!” terdengar sorak mengejek.
“Mau nyanyi pakai pidato segala,” susul suara lainnya.
Nisa menarik napasnya sebentar. Dengan nada yang riang ia mulai melantunkan lagu yang diberi judul Beri Aku Senyummu.
Kadang aku bertanya
Mengapa pelangi serupa itu
Melengkung ke bawah seolah langit sedang bersedih
Namun ketika kulihat warnanya
Baru kutahu langit selalu tersenyum
Karena itulah
Tak akan kusimpan senyumku
Pada siapa saja
Agar kudapat senyum dari semua orang
Beri aku senyummu …
Karena senyum itu indah
Beri aku senyummu …
Karena senyum itu ibadah

Bu Refa secara reflek bertepuk tangan begitu Nisa mengakhiri lagunya. Sebetulnya Mila kagum dengan nyanyian Nisa, tapi ia menahan dirinya untuk ikut bertepuk tangan. Ia mengeluarkan secarik kertas dan menulis sebaris kalimat.
‘Lagumu bagus, suaramu merdu.’
Ketika Nisa duduk ke bangkunya, Mila menyodorkan kertas itu. Nisa hanya tersipu sambil mengangguk pelan. Biar bagaimanapun, Nisa bangga dipuji oleh penyanyi terkenal seperti Mila.
Usai pelajaran kesenian, Bu Miftah mengajar pada jam berikutnya. Seisi kelas langsung tegang, karena Bu Miftah ternyata mengadakan ulangan mendadak.
“Nilai ulangan kemarin tidak Ibu catat. Sebagai gantinya hari ini kalian harus mengulangnya,” seru Bu Miftah sambil membagi-bagikan soal ulangan dan lembar jawaban.
Keringat membasahi sebagian besar teman-teman Mila. Nisa meskipun kaget, tetap yakin ia masih mengingat bahan pelajaran yang dibacanya.
Ketika bel tanda istirahat berbunyi, sebagian besar murid belum menyelesaikan ulangan mereka. Tapi Bu Miftah memaksa mereka segera mengumpulkan lembar jawaban. Bahkan beberapa murid terpaksa berlari karena Bu Miftah langsung keluar kelas tanpa menunggu lama lagi.
Nisa yang masih diasingkan memutuskan untuk mengisi waktu istirahat di perpustakaan. Setelah menemukan dua judul buku yang menarik, ia menghampiri petugas perpustakaan untuk meminjamnya ke rumah. Saat kembali ke kelas, tampak beberapa teman barunya berkumpul di dekat pintu. Mereka tidak mau membalas senyum yang diberikan Nisa.
Nisa menarik tasnya dari laci meja untuk memasukkan buku yang dipinjamnya. Tapi ada yang aneh. Resleting tasnya … Nisa membuka tasnya dan … dua ekor kecoa melompat dari dalam tasnya. Nisa melonjak-lonjak karena kecoa itu hinggap di bajunya.
“Tolong ….”
Bruk! Nisa tertungkup di mejanya.
Mereka yang melihatnya cekikikan. Tapi, sepuluh detik kemudian mereka cemas. Nisa tak juga bergerak.
“Wah, Nisa pingsan!” teriak Mila sambil berlari mendekati teman sebangkunya.
“Ambilkan minyak angin!”
“Bawa minum!”
“Jangan-jangan dia jantungan, makanya pingsan.”
“Gawat, dong.”
“Kamu sih, bikin rencana aneh!”
“Siapa? Bukan aku! Dia nih!”
“Enak saja. Dia tuh!”
“Nanti kalau dia ngadu pada Bu Miftah bisa gawat.”
“Nggak ngadu juga, kalau terus pingsan gini lebih gawat!”
 “Berisik!”
Mila yang juga pernah pingsan segera memberi pertolongan. Dia memberi aroma minyak angin di sekitar hidung Nisa. Perlahan mata Nisa terbuka. Mila mengipasi wajah Nisa dengan buku. Sebagian berusaha berbaik hati memberikan minum.
Nisa meneguk air minum yang disodorkan. Ia menyeka dahinya.
“Aduh, syukur kamu bangun. Aku sudah cemas nih,” ujar Mila kemudian.
 Nisa manggut-manggut. “Aku nggak apa-apa kok,” sahutnya.
“Jangan kamu ceritakan pada Bu Miftah, ya,” pinta Mila. “Kami minta maaf. Kecoa itu memang kami yang masukan ke dalam tasmu.”
Nisa manggut-manggut lagi.
Ya, Nisa tahu hal itu. Ia sudah curiga ketika melihat resleting tasnya tidak tertutup sempurna. Itu bukan kebiasaannya. Dan ia juga teringat tentang percakapannya di telepon kemarin. Tentang kecoa. Tentang kalimat ‘hati-hati, ya!’ dari Mila. Tadi Nisa hanya pura-pura kaget untuk memberi pelajaran pada mereka.
“Tapi .…” kata Nisa kemudian, ”aku minta kalian juga tidak memusuhiku lagi.”
Beberapa anak menyanggupi, karena setelah ulangan mendadak tadi, mereka baru mengerti bahwa mencontek saat ulangan hanya akan membuat mereka tergantung pada Farhan. Mereka jadi malas belajar. Tapi ada juga yang menolak. Mereka masih berpihak pada Farhan. Di kelas itu jadi ada dua kelompok. Hanya Mila yang berpihak pada keduanya.
“Oh, iya ini coklat dariku. Sebagai tanda minta maaf karena ikut memusuhimu,” tiba-tiba terdengar suara di belakang Nisa.
“Wah, terima kasih. Bagaimana kamu tahu aku suka coklat?” timpal Mila sambil memandang  Lana yang duduk di meja di belakangnya.
“Aku tahu semua yang kamu suka. Bahkan pita rambut, warna tas, buku, pensil, dan kaos kaki yang kamu suka pun aku tahu,” tambah Lana sambil berdiri mendekati Nisa.
Nisa mengamati Lana. Ya, Ampun! Nisa baru menyadarinya …. Kini Lana berpenampilan seperti bayangan diri Nisa di cermin. Benar-benar semuanya mengikuti Nisa.
“Boleh nggak, nanti sore aku main ke rumahmu? Aku juga ingin melihat koleksi buku dan mainan di kamarmu, biar aku bisa juga mengoleksinya,” tanya Lana.
Nisa buru-buru menggeleng. “Jangan dulu deh. Nanti sore aku harus latihan silat di gelanggang remaja,” kilah Nisa buru-buru.
“O, ya?!” Lana tersenyum penuh arti.
*****

Begitu sampai rumah, Nisa langsung menceritakan semua kejadian di kelas pada abangnya. Mulai dari soal kecoa sampai perihal Lana yang tiba-tiba jadi bayangannya.
“Benar-benar menyebalkan. Rasanya aku punya bayangan lebih dari satu,” umpat Nisa kesal. “Rupanya Lana mengikuti semua yang kupakai. Ia juga terus mengikuti ke mana aku pergi.”
“Mungkin dia mengagumimu. Makanya dia menirumu,” timpal Faris.
“Iya, tapi bikin kesal.”
“Lama-lama … dia juga capek sendiri kok.”
Nisa menarik napasnya. Ternyata kakaknya tak punya jalan keluar yang manjur. Akhirnya Nisa memutuskan bersiap-siap latihan silat. Ia mengemasi barang yang harus dibawanya. Dulu, sewaktu di Bandung Mila memang sudah ikut perkumpulan silat Gagak Emas. Kebetulan di gelanggang remaja dekat rumahnya ada juga pengurus cabang perguruan itu.
“Kamu punya bakat hebat jadi pesilat tangguh. Sebaiknya kalau pindah ke Jakarta nanti, kamu teruskan latihanmu,” begitu pesan guru silatnya di Bandung.
Nisa sebenarnya ikut latihan silat hanya untuk berolahraga. Ia tidak ingin jadi pendekar. Tapi, ayahnya mendukung Nisa agar terus berlatih silat. Sejak tiga hari lalu Nisa sudah resmi menjadi murid di perguruan silat itu. Sore ini adalah latihannya kedua.
Ups! Betapa terkejutnya Nisa begitu melihat seseorang yang sudah lebih dulu sampai di tempatnya latihan. Ya, Lana! Dia datang lengkap dengan mengenakan pakaian silat.
“Hai, Nisa! Kaget, ya?”  sapa Lana. “Mulai hari ini, aku juga latihan silat di sini.”
“Lho, bukannya kamu sudah ambil kursus balet dan piano?” tanya Nisa bingung.
“Iya sih. Tapi aku tinggalin. Habisnya bosan. Sepertinya latihan silat bisa bikin lebih berani sepertimu,” sahut Lana.
 Nisa hanya mengelengkan kepalanya. Ia berusaha mengabaikan kehadiran Lana agar latihannya bisa konsentrasi. Tapi lagi-lagi Lana mirip bayangannya. Kalau Nisa lari, Lana ikut di belakangnya. Nisa melompat, Lana melompat juga. Bahkan, Nisa ke toilet pun ikutan!
Menyebalkan! Umpat Nisa dalam hati. Akhirnya ia pulang ke rumah sambil terus menggerutu.
*****
   

Bab 4
Proyek Rahasia

Farhan terus berkutat di kamarnya. Sejak Ibu dan ayahnya tahu bahwa dirinya diskorsing, Farhan langsung mendapat hukuman tidak boleh keluar kamar. Bagi Farhan itu bukan masalah, karena kamarnya juga laboratorium tempatnya membuat proyek rahasia.
Setelah banjir tahun lalu reda, ayahnya membuatkan kamar untuknya serta gudang di loteng. Dengan demikian jika banjir tiba Farhan tak perlu kelimpungan mengurus buku-bukunya, dan ayahnya bisa menyelamatkan beberapa benda berharga ke gudang.
Di atas meja belajarnya, Farhan menggelar kertas lebar tempat ia menggambar rancangan proyek rahasianya. Tangannya kemudian memberi tanda beberapa bagian dari rancangan yang sudah dibuatnya. Kemudian ia mengeluarkan beberapa rangkaian elektronik dari lemarinya. Besarnya  beraneka ragam. Ia memang masih harus membetulkan beberapa bagian yang ternyata keliru dari perkiraannya.
Tangan Farhan dengan cermat mengotak-atik rangkaian itu. Sebentar tangannya memegang solder timah, lalu ia mengambil beberapa alat elektro seperti resistor, dioda, transistor, dan lainnya. Lalu, ia membawa seember air ke kamarnya. Bereksperimen lagi. Gagal. Mencoba lagi.
Tuk … tuk … tuk.
Farhan buru-buru menyembunyikan proyek rahasianya itu karena mendengar ada yang mendekati pintu kamarnya.
“Han, ada temanmu di ruang tamu tuh!” suara nyaring Bu Rahmat terdengar kemudian.
Farhan meninggalkan kamarnya. Upppss! Ia tersentak ketika melihat sosok yang datang. Nisa dan seorang cowok jangkung yang wajahnya hampir mirip dengan Nisa. Mereka tengah duduk di bangku tamu.
“Maaf, mengganggu kamu nih. Kenalkan ini abangku, Faris!” sapa Nisa sambil berdiri.
Farhan yang masih terkejut langsung menyalami Faris. Ah, pasti Nisa tahu rumahku dari Mila, pikirnya. Ya, Mila memang beberapa kali ke rumah Farhan kalau minta tolong dibuatkan  tugas sekolah.
“Aku ke sini mau ngasih photo copy bahan pelajaran hari ini,” kata Nisa sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.
“Untuk apa?”
“Untuk kamu pelajari. Kamu kan diskorsing sama Bu Miftah gara-gara aku, meski itu kesalahanmu. Biar di rumah, kamu masih bisa mengikuti pelajaran yang tertinggal dari salinannya.”
“O, begitu yah. Sebenarnya nggak usah serepot itu. Di sini banyak kok teman sekelas kita.”
“Tapi yang mau pinjamkan catatan mereka apa ada?” sindir Nisa.
Farhan menggaruk kepalanya. Memang tidak ada sih. Malah mereka yang sering menyalin buku catatan Farhan. “Baiklah, terima kasih,” kata Farhan kemudian. Kurang enak juga jika ia tidak menghargai jerih payah Nisa, sampai mengantarkannya ke rumah pukul delapan malam begini.
Nisa dan Faris lantas berpamitan pada orangtua Farhan. Mereka di antar Farhan sampai mulut gang. Ternyata mereka membawa mobil sedan yang diparkir di sisi jalan.
“Wah, lain kali kalau ke sini jangan bawa mobil,” ucap Farhan.
“Memangnya kenapa? Aku nggak bermaksud pamer kok. Ini kan sudah malam, lagian khawatir hujan,” tanya Nisa.
“Bukan begitu. Di sini rawan. Kalau cuma hilang ban serep masih untung. Kadang-kadang ada yang cuma disisain kaca spionnya,” canda Farhan.
 Nisa dan Faris tertawa. Tapi mereka tetap merasa cemas. Ketika tahu rumah Farhan di daerah ini pun mereka sudah was-was. Kata orang daerah ini sarang garong. Tapi, syukurlah, malam ini mereka ternyata aman-aman saja kok.
Farhan segera kembali ke rumah. Dilihatnya Farah menyambutnya penuh senyum di ruang tamu.
“Sampai kapan bisa musuhan nih? Orang sebaik dia tuh susah di dapat. Ini malah kamu musuhin! Giliran si malas kayak temanmu yang artis itu malah kamu tolong,” komentar Farah.
Farhan menjulurkan lidah dan lari menuju kamarnya.
Proyek rahasianya harus segera diwujudkan.
*****
Mila tak beranjak dari depan televisi. Buku pelajaran di tangannya hanya dipegang tanpa dibaca. Sesekali ia mengipas dengan buku itu.
“Masih lama?” tanya mamanya mendekat.
“Lima menit lagi. Aduh … kalau nggak masuk gimana, nih?” Mila tampak cemas.
Malam ini di salah satu stasiun televisi swasta akan mengumumkan nominasi calon peraih artis terbaik. Ada artis dewasa maupun anak. Beberapa tahun lalu Mila selalu menjadi artis penyanyi cilik terbaik, lalu artis sinetron cilik terbaik. Tapi tahun lalu ia hanya sampai masuk nominasi. Saingan Mila semakin banyak dan hebat. Makanya tahun ini ia cemas kalau tak sampai masuk nominasi.
Waktupun berjalan dengan lambat. Mila semakin tegang ketika acara yang ditunggunya tiba. Mestinya Mila berada di acara itu. Tapi papanya melarang pergi karena diselenggarakan malam hari, sementara besok pagi ia harus sekolah.
“Horeeeee! Masuk!” teriak Mila ketika namanya disebut. Ia melonjak-lonjak seperti sudah dipilih menjadi artis penyanyi terbaik tahun ini, padahal baru nominasi. Pengumuman finalnya masih sebulan lagi. Biasanya, antara waktu sebulan itu, artis-artis yang masuk nominasi akan sibuk mencari publikasi agar nama mereka makin terkenal dan meninggalkan kesan baik di hati masyarakat. Maklum, keputusan artis terbaik ini memang berdasarkan pemilihan masyarakat melalui surat, telepon, sampai internet.
Mama Mila mengecupnya sambil berbisik, “Kamu harus jadi yang terbaik seperti dulu lagi!”
Mila manggut-manggut. Ucapan mamanya selalu merasuk pikirannya. Mama memang sangat ambisi agar Mila selalu menjadi yang terbaik sebagai artis. Berbeda dengan papanya yang justru berharap Mila bisa berprestasi di sekolah. Papanya sering meminta agar Mila mau masuk sekolah favorit, tapi mamanya malah memasukkan Mila ke sekolah biasa yang bisa dengan mudah izin karena harus syuting.
Telepon rumah maupun telepon seluler terus berbunyi. Mereka banyak yang memberi selamat dan dukungan. Dua jam kemudian Mama Mila mendapat telepon dari seseorang.
“Bagaimana, Tante? Proyeknya jadi?”
“Jelas jadi dong. Tapi ini proyek rahasia.”
“Oke deh, Tante.”
Klik.
“Dari siapa, Ma? Memang punya proyek apa sih, Mama?” tanya Mila yang menguping.
“Dari Om Pram. Kamu akan dikontrak eksklusif sebagai bintang cilik kalau bisa jadi artis cilik terbaik lagi tahun ini.”
Mila menggigit bibirnya. Di telinganya terngiang nama-nama nominasi artis cilik lainnya. Mereka begitu hebat, bahkan penjualan kaset mereka banyak yang melebihi penjualan kaset Mila. Mereka juga lebih sering diberitakan di televisi atau di tabloid ketimbang Mila.
Tiba-tiba Mbok Iyah menghampiri mereka. Dikabarkan ada tamu yang datang hendak bertemu mama Mila dan Mila. Ternyata tamu itu datang dari sebuah  lembaga penyantun anak-anak terlantar.
“Kami akan mengadakan pengumpulan dana untuk anak-anak terlantar, sekaligus untuk menghibur mereka. Untuk itu kami berharap Mila bersedia menyanyi pada acara kami besok,” kata seorang lelaki setengah baya dengan peci hitam yang mengkilat.
“Wah, Mila tentu saja tidak keberatan. Tapi Bapak sudah tahu honor yang harus dibayar, kan?” sahut mama Mila.
Dua lelaki itu saling memandang. “Jumlah itu terlalu besar. Bisakah kami membayar semampu kami? Karena ini acara amal.”
“Maaf, Pak, bukannya kami nggak mau beramal. Tapi sekarang ini banyak panitia palsu yang bilang acara amal, tapi duitnya nggak disumbangin. Jadi, kalau nggak bisa membayar sesuai standar honor Mila selama ini, kami terpaksa menolak,” ujar mama Mila.
“Tapi tempo hari … ketika kami bicara dengan Mila, katanya bersedia ….”
“Ah, Mila nggak tahu apa-apa soal manajemen acaranya. Saya yang mengurus. Dia tinggal datang dan menyanyi kok.”
Dua lelaki itu akhirnya pulang dengan langkah gontai.
“Ma, kalau mereka mengadu pada wartawan nanti gimana? Bisa-bisa pembaca mengira Mila sombong dan tak peduli anak-anak telantar,” tanya Mila kemudian.
“Ah, gampang. Kamu tenang saja deh!” Seperti biasa mama Mila merasa dirinya paling berkuasa atas segala kegiatan Mila.
Mila menarik napasnya.
*****

Bab 5
Mila Hilang

Hari Sabtu Farhan kembali masuk sekolah. Orang yang pertama akan ditemui adalah Mila. Proyek rahasianya nyaris selesai. Tinggal menunggu satu komponen lagi yang harus dibelinya dengan harga mahal. Satu-satunya jalan adalah minta tolong Mila. Itu sebabnya ia datang lebih awal dari biasanya. Sengaja ia berdiri di pintu gerbang sekolah.
“Wah, sekarang jadi penjaga gerbang, yah?” ledek Nisa ketika melihat Farhan.
Farhan tidak menyahut. Ia masih ingin menjaga jarak dengan Nisa. Apalagi di depan teman-teman sekelasnya. Rasanya gengsi. Apalagi ia sudah mendengar dari teman-temannya bahwa Nisa berhasil mengambil hati beberapa teman sekelasnya. Mereka berencana membuat kelompok belajar untuk mengejar ketinggalan belajar.
Tahu Farhan tak menyahutinya, Nisa langsung berjalan menuju kelasnya. Ia kaget karena biasanya Mila sudah datang lebih dulu darinya. Itu memang kebiasaan Mila, agar bisa menyalin pe-er yang lupa dikerjakannya di rumah dari teman-temannya.
Ketika bel masuk berbunyi Mila tak juga masuk. Selain Mila, ternyata Lana juga tak masuk sekolah. Tapi ada surat keterangan sakit dari dokter tentang Lana. Sementara Mila tak ada pemberitahuan sedikit pun. Teman-temannya berpikir hari ini pasti Mila izin karena ada kegiatan keartisannya. Mila memang dapat perlakuan khusus dari Kepala Sekolah. Katanya, dengan adanya Mila di sekolah ini, maka sekolah swasta ini pun jadi diminati banyak orang.
Ternyata dugaan mereka salah. Mila tak menyampaikan izin ke sekolah. Bu Miftah malah sempat bertanya pada seisi kelas.
“Apakah di antara kalian ada yang melihat Mila dalam perjalanan sekolah tadi?” tanya Bu Miftah. “Menurut mamanya di telepon, Mila tadi berangkat sekolah dengan taksi.”
Hah? Nisa ikut bingung. Jangan-jangan .…
Satu jam kemudian seisi kelas gempar. Apalagi ketika mereka melihat mama Mila datang ke sekolah sambil terisak-isak. Tak lama kemudian datang beberapa wartawan ke sekolah mereka.
Wah, ada apa sih ini? Sepertinya heboh sekali.
Saat istirahat akhirnya berita pun menyebar. Mila hilang. Kemungkinan besar diculik. Ada juga yang mencurigai Mila kabur. Tapi, apa alasannya?
Farhan gelisah. Ia masih berharap besar pada Mila. Ya, Mila harus ditemukan.
“Han, aku ada perlu sama kamu,” ucap Nisa mengejutkan Farhan.
“Perlu apa?”
Nisa memandang sekitarnya. Setelah yakin obrolan mereka tak didengar teman yang lain, Nisa berkata, ”Kita  harus menemukan Nisa.”
“Huh, gimana caranya? Memangnya gampang?”
“Mungkin bisa kita selidiki dari petunjuk-petunjuk.”
“Heh, kamu pasti kebanyakan menghayal jadi detektif ya?’
“Sedikit. Tapi bukan itu sebabnya. Mila itu teman kita.”
“Aku tahu. Tapi mendapat petunjuk dari mana? Lagi pula apa kamu yakin Mila diculik? Polisi saja belum dilaporin kok.”
“Katanya kalau lapor polisi harus menunggu 24 jam baru dianggap hilang. Atau ada permintaan tebusan baru dianggap diculik.”
“Jadi, kamu yakin Mila diculik?”
“Sebenarnya nggak juga. Tapi .…” Nisa memutuskan  untuk menceritakan obrolannya semalam dengan Mila di telepon.
Mila mengadu tentang sebuah rencana yang dibuat mamanya. Siang ini Mila akan diculik rombongan penjahat. Lalu nanti mereka akan meminta tebusan sangat tinggi.
“Mengapa Mila  menceritakan rencana itu padamu?” tanya Farhan bingung.
“Entahlah. Setahuku mulutnya memang  nggak bisa megang rahasia. Buktinya, aku tahu soal contekan bayaran itu darinya. Juga soal kasus kecoa, hingga aku bisa pura-pura pingsan.”
Farhan manggut-manggut. Ia tahu kasus kecoa itu dari teman-temannya. Sebenarnya ia sudah menduga Nisa hanya berpura-pura pingsan.
“Kamu tahu maksud mama Mila merencanakan itu?” tanya Nisa menguji.
“Ah, pasti nyari sensasi. Biar namanya dimuat di koran dan teve.”
“Ya, kupikir juga begitu. Hanya yang tidak kumengerti, mengapa tiba-tiba rencana ini berubah. Mestinya ia menghilang nanti sepulang sekolah.”
“Jangan-jangan … Mila benar-benar diculik,” tebak Farhan.
“Atau mungkin ia kabur .…”
“Kabur? Kenapa?”
“Mungkin dia nggak setuju dengan rencana mamanya itu. Kalau memang setuju, pasti ia akan berusaha menjaga rahasianya.”
Farhan mengangguk setuju. “Kalau begitu kita harus melacak, ke mana kira-kira Mila kabur.”
“Ke mana melacaknya?”
“Ke orang yang dekat dengannya di rumah.”
“Mamanya itu?”
“Mungkin pembantunya. Sepertinya, Mila sangat tertekan dengan sikap mamanya selama ini.” Farhan memang termasuk dekat dengan Mila. Karena ‘bisnis curang’ itu. Sering Mila mengadu soal keinginannya memberontak dari mamanya. “Menurut Mila, mamanya banyak mengatur Mila. Walau hasilnya bisa membuat Mila terkenal seperti sekarang ini, tapi sesungguhnya Mila ingin juga merasa seperti kita. Bisa bebas bermain, ikut belajar kelompok ….”
“Begitu, ya?”
“Biar lebih yakin, kita tanyakan sama pembantunya. Aku kenal dekat dengannya. Kadang kalau aku main ke tempat Mila, kami sering ngobrol.”
“Baiklah. Nanti sore kita ke rumah Mila. Tapi, mudah-mudahan saja Mila sudah kembali.”
“Amin!” harap Farhan.
*****
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, sebenarnya Nisa ingin buru-buru pulang. Tapi ia teringat pada Lana yang tak masuk hari ini. Nisa jadi berencana mampir dulu menjenguk Lana. Kebetulan rumah Lana searah dengan rumah Nisa.
Ternyata Lana benar-benar sakit. Ia tergeletak lemas di tempat tidurnya. Tapi begitu melihat Nisa, Lana langsung pura-pura ceria.
“Kamu sakit apa sebenarnya, Lan?” tanya Nisa sambil mengamati kamar Lana. Wah, untung tidak ada barang yang sama dengan kamarnya!
“Aku kecapekan. Gara-gara latihan silat kemarin,” jawab Lana.
“Soalnya kamu belum biasa latihan seperti kemarin.”
“Tapi, kenapa kamu sehat-sehat saja sekarang?” tanya Lana.
“Karena aku latihan silat sudah sejak umur tujuh-delapan tahun. Jadi aku sudah terbiasa. Menurutku, kamu terlalu memaksakan diri ikut latihan silat.”
“Sebenarnya ….” Lana menggantung kalimatnya. “Aku ikut latihan silat karena ingin sepertimu. Menurutku, kamu adalah anak perempuan paling sempurna di kelas. Kamu cantik, malah lebih cantik dari Mila yang artis. Lalu kamu pintar, bisa mendapatkan nilai tinggi tanpa mencontek dari Farhan. Dan … kamu pemberani. Kamu tidak takut berhadapan dengan Farhan dan teman-teman sekelas.”
Nisa merasa dadanya mengembang dipuji seperti itu. Tapi Nisa sadar, Lana menilainya terlalu berlebihan. “Kupikir semua anak perempuan bisa jadi cantik, asal ia mau tampil percaya diri dan tidak berlebihan. Terus, semua juga bisa pintar kalau rajin belajar. Dan … kamu juga bisa jadi pemberani kalau mampu mengusir rasa takutmu. Biarlah diri kita hanya takut sama Allah,” ujar Nisa berusaha bijak. Sebenarnya, Nisa hanya meniru kalimat tadi dari ucapan ibunya, lho!
Lana manggut-manggut.
“Coba kamu pergilah ke tukang fotokopi, lalu mintalah tukang fotokopi menggandakan uang kertas yang kamu punya. Apa akan sama? Apa akan jadi lebih baik? Ataukah hasilnya juga sama harganya?”
Lana berpikir sebentar, lalu menggeleng.
“Begitu juga dirimu. Kalau kamu cuma meniru penampilan dan gerak-gerikku, itu nggak akan membuatmu jadi seperti apa yang kamu inginkan. Kata ibuku, modal utama yang terpenting adalah percaya diri. Aduhhhh, maaf ya kalau aku jadi cerewet begini!”
“Nggak apa-apa. Aku suka kok mendengarnya.”
“Kalau begitu, mulai besok kamu harus jadi dirimu sendiri lagi. Jangan pernah jadi pengekor orang lain,” tegas Nisa.
“Ya, baiklah!” janji Lana.
Nisa bernapas lega. Ia mulai merasa bayangan yang mengganggunya mulai pergi menjauh.
*****
 Farhan dan Nisa ke rumah Mila sorenya. Mama Mila tidak di rumah, begitu pula papanya. Mereka sedang mengadakan ‘jumpa pers’ di sebuah hotel. Hal itu menguntungkan penyelidikan Farhan dan Nisa. Mereka pura-pura membantu Mbok Iyah yang sedang merapikan taman rumah Mila yang luas.
“Iya, Mbok  sangat kehilangan nih. Sedih rasanya,” isak Mbok Iyah.
“Apa sebelumnya, Mila nggak bilang apa-apa sama Mbok Iyah?” tanya Farhan sambil mencabuti beberapa daun pohon  kembang sepatu yang  kecoklatan.
“Nggak, tapi … Non Mila sempat cerita pada Mbok kalau ia kesal sama mamanya gara-gara menolak permintaan panitia yang datang semalam,” papar Mbok Iyah. Ia kemudian menceritakan kejadian semalam.
“Memangnya panitia itu dari mana sih, Mbok? Mbok tahu?” selidik Nisa.
Mbok Iyah menggeleng. “Tapi tiga hari sebelumnya mereka pernah menelepon Mila. Dan kalau tidak salah, Mila mencatat nomor telepon mereka ….”
“Di mana mencatatnya? Boleh kami lihat?” tanya Farhan.
“Paling di koran yang disimpan dekat meja telepon. Non Mila punya kebiasaan menulis sesuatu sambil menelepon di koran kok.”
“Kalau begitu kita cari yuk, Mbok .…”
“Lho, memangnya Non Mila diculik panitia itu?”
“Bukan begitu. Kita coba saja dulu,” kilah Farhan tak mau asal menuduh.
Mbok Iyah mempersilakan Farhan dan Nisa masuk dan mencari tumpukan koran di meja telepon. Mata Nisa segera menemukan koran bertanggal tiga hari lalu. Ia langsung mencari catatan di antara huruf-huruf koran itu. Sampai di pojok halaman tengah koran itu, akhirnya Nisa menemukan tulisan tangan Mila yang dikenalnya.
Pak Zulkarnaen 84500xx.
“Ini mungkin nomornya!” seru Nisa.
Farhan buru-buru melihatnya. Ia juga yakin itu nomor telepon yang mereka cari. Tanpa berpikir lama lagi, mereka menelepon nomor tersebut. Akhirnya mereka mendapatkan alamat panitia penyelenggara pentas amal bagi anak-anak telantar itu.
“Yuk, kita ke sana!” ajak Nisa.
“Tapi tempatnya lumayan jauh nih. Aku sih nggak masalah. Kamu gimana?”
“Kita ke rumahku dulu. Nanti aku bicarakan sama kakakku. Syukur kalau dia mau mengantar kita.”
“Baiklah,” sahut Farhan.
*****


Bab 6
Kisah Sedih Mila
 Farhan dan Mila baru saja turun dari bajaj ketika suara siulan terdengar dari belakang mereka. Mereka menoleh karena mereka tahu, hanya Mila yang biasa bersiul seperti itu.
“Ssst, jangan bertindak mencurigakan!” bisik Mila sambil mendekati kedua temannya. “Ajak aku masuk ke rumahmu, Nis.”
Nisa menuruti. Ia masih bingung dengan kehadiran Mila yang tiba-tiba. Lebih bingung lagi, Mila berpenampilan tidak seperti biasanya. Ia memakai kaos dan celana panjang gombrong, menggulung rambutnya sampai tertutup topi, ditambah memakai sepatu sport. Persis anak cowok!
“Aku sengaja menyamar karena takut ketahuan wartawan, polisi, atau anak buah mamaku,” jelas Mila setelah masuk ke rumah Nisa.
Nisa segera memperkenalkan kedua temannya pada Bu Ramli. Setelah itu giliran Mila yang menceritakan segala kegiatan sejak menghilang pagi tadi.
“Aku tadi pergi ke rumah yatim piatu tempatku dulu diasuh sebelum diangkat mamaku,” Mila mengawali ceritanya.
Nisa dan Farhan terperangah. Jadi Mila hanya anak angkat? Ini benar-benar rahasia besar yang dibocorkan Mila tentang dirinya.
“Umur dua tahun aku diangkat jadi anak. Dirawat dan dibesarkan. Mama kemudian sengaja mengarahkan diriku agar bisa jadi artis, karena mamaku juga dulu pernah jadi artis, tapi tidak seberapa terkenal karena keburu menikah,” papar Mila lancar.
“Oooo …,” gumam Nisa dan Farhan kompak.
“Mulanya aku sih senang-senang saja, tapi lama-kelamaan jadi beban juga. Kadang aku kepengen berhenti, tapi … aku nggak berani bilang sama mamaku. Takut mengecewakannya. Mamaku sudah   susah payah bikin aku jadi artis terkenal ….” Mata Mila mulai berair. Ia berusaha menahannya agar tak menitik.
“Lalu, mengapa kamu hari ini kabur dari rumah sekolah?” tanya Farhan.
“Seperti yang kuceritakan pada Nisa semalam. Aku benar-benar bingung. Tiba-tiba mamaku membuat rencana yang menurutku aneh. Aku pura-pura diculik. Biar namaku kembali terkenal, karena belakangan aku kalah populer dengan artis-artis cilik lainnya. Tapi menurutku ini konyol. Bagaimana kalau kemudian ketahuan bahwa penculikanku itu cuma sandiwara? Bisa-bisa masyarakat malah membenciku dan mamaku. Itu sebabnya tadi pagi aku memutuskan kabur dan pergi ke panti asuhanku dulu,” Mila mengakhiri ceritanya dengan isak tangis yang tak tertahan.
“Sudahlah, Mila, kami mengerti kesedihanmu ….” hibur Nisa.
“Sebaiknya kita bicarakan apa rencanamu berikutnya? Kupikir lebih baik kamu menelepon dulu mamamu. Pasti mamamu sangat sedih mengkhawatirkanmu .…”
Mila menggeleng. “Aku belum mau meneleponnya sekarang. Aku … aku pengen menyanyi di sebuah acara yang sudah kujanjikan akan kudatangi. Aku ingin menyanyi di sana. Karena sesungguhnya, aku juga anak telantar sebelumnya. Hanya saja aku lebih beruntung dari mereka.” Mila melirik jam dinding sebentar. “Acaranya pukul setengah delapan malam. Tinggal dua jam lagi. Kalian mau mengantarku, kan?”
 Farhan dan Nisa tak punya jawaban lain kecuali mengangguk.
*****
Farhan, Faris, Nisa, dan Mila pergi diantar Pak Ramli ke sebuah gedung kesenian selepas shalat Isya. Di depan gedung terbentang spanduk bertuliskan “Malam Peduli Anak Telantar”. Tanpa kesulitan mereka berhasil bertemu ketua panitia acara itu.
“Alhamdulillah, rupanya Mila berubah pikiran. Kami sungguh-sungguh berterima kasih,” sambut Pak Zulkarnaen, sang ketua panitia.
Mila segera dipersilakan menuju belakang panggung untuk dirias. Sementara Farhan, Faris, Nisa, dan Pak  Ramli dipersilakan duduk di antara undangan terhormat lainnya. Di barisan depan memang diperuntukkan bagi tamu terhormat yang telah menyumbang untuk acara itu. Sementara di bagian belakang dipadati anak-anak telantar yang sengaja diundang gratis dari berbagai pelosok kota Jakarta.
Acara pun dimulai. Rupanya sebagian acara diisi oleh anak-anak jalanan. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, dan melawak. Di puncak acara, Mila muncul melantunkan beberapa lagu dari album kasetnya. Beberapa wartawan yang hadir sangat terkejut dengan kemunculan Mila, karena sampai sore tadi Mila masih dikabarkan hilang diculik.
Dan yang lebih mengejutkan lagi … ketika Mila menyelesaikan lagu terakhirnya, tiba-tiba dari balik panggung muncul mama dan papa Mila dengan membawa setangkai bunga. Mila jelas terkejut. Tapi belum sempat ia berkata, mamanya sudah memeluknya sambil menangis.
“Maafkan Mama, Mila … Maafkan Mama …,” bisik mama Mila.
Mila mengangguk dan tersenyum. Jarinya mengusap air mata mamanya.
Kejadian mengharukan itu membuat penonton bertepuk tangan.
Farhan dan Mila saling memandang sambil tersenyum. Rencana mereka berhasil. Diam-diam mereka sudah bersepakat untuk merancang kejadian ini.
Tanpa sepengetahuan Mila, Bu Ramli tadi sempat menelepon ke rumah Mila.  Bu Ramli meminta agar mama Mila mau mengikuti rencana ini. Dengan demikian kekecewaan di hati Mila dapat hilang. Bahkan Bu Ramli menyampaikan keluhan Mila yang sempat didengarnya.
“Astagfirullah. Rupanya saya benar-benar telah khilaf. Saya terlalu ambisi mewujudkan cita-cita saya dulu yang belum kesampaian pada Mila,” sesal mama Mila di telepon.
Ketika mereka pulang, hujan turun rintik-rintik. Semua merasa lega dengan akhir cerita kaburnya Mila. Kecuali Farhan yang masih cemas. Apalagi ketika hujan semakin deras.
“Han, besok hari Minggu. Kamu menginap saja di rumah kami. Ini sudah larut malam,” ajak Faris ketika di dalam mobil.
“Tapi aku belum bilang sama orang rumah,” tolak Farhan berdalih.
“Kamu bisa kasih tahu lewat telepon, kan? Lagi pula di luar hujan deras,” timpal Nisa sambil menujuk ke luar jendela mobil.
“Tenang saja deh. Kamu bisa tidur bareng di kamarku, kok. Nggak bakal disuruh tidur di gudang,” bujuk Faris.
“Wah, jadinya F2 dong. Farhan dan Faris. Untung bukan F4. Hehehehe,” Nisa tertawa kecil.        
“Baiklah. Tapi aku telepon dulu nanti. Kalau diizinkan aku menginap,” sahut Farhan akhirnya. Ternyata Farhan diizinkan orangtuanya untuk menginap di rumah keluarga Pak Ramli.
“Jangan lupa shalat Subuhnya, jangan sampai kesiangan!” hanya itu pesan ayahnya.
Sebelum benar-benar tertidur, Farhan berusaha menarik hikmah dari peristiwa yang dihadapinya hari ini.
Ya, rahasia … begitu banyak rahasia dalam hidup seseorang. Sampai kadang-kadang orang tersiksa karena harus menyimpan rahasianya. Seperti rahasia tertekannya Mila pada sikap mamanya. Dan justru setelah rahasia itu terbuka, segalanya jadi lebih baik. Memang kadang-kadang, membuka rahasia merupakan hal terbaik.
*****

Bab 7
Rahasia Farhan
Setelah shalat Subuh berjamaah, Farhan membantu Faris mencuci mobil yang kotor karena lumpur yang dilewati semalam.
“Kak Faris, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Farhan sambil menyikat ban mobil.
“Boleh, asal jangan susah-susah,” jawab Faris.
“Apa Kak Faris saat ini punya rahasia?”
“Hah? Wah, jelas saja ada. Kok pertanyaanmu aneh begitu?”
“Kalau boleh tahu, kenapa Kak Faris menyimpan rahasia itu?”
Faris berpikir sebentar. “Karena aku akan malu kalau sampai rahasia itu diketahui orang lain,” jawabnya kemudian. “Kalau kamu bagaimana?”
“Ya, saat ini aku punya satu rahasia besar. Aku juga merahasiakannya karena takut dan malu kalau diketahui orang.”
“Mau berbagi rahasiamu denganku? Aku jamin rahasiamu akan kupegang,” Faris mengangkat dua jarinya tanda bersumpah.
Farhan sedikit ragu. Tapi kemudian terlontar juga tentang proyek yang selama ini dirahasiakannya.
Setahun lalu di tempat tinggal Farhan, banjir datang tiba-tiba di malam hari, ketika semua orang tertidur lelap. Hingga menelan korban harta dan bahkan nyawa. Dari situlah Farhan bertekad menciptakan beberapa alat yang dapat menyelamatkan penduduk di saat banjir. Ada alat pemantau banjir yang akan dipasang di saluran air, hingga bila permukaan air mencapai tinggi yang mengkhawatirkan akan membunyikan alarm. Lalu pompa hidrolik yang dapat berfungsi otomatis memompa air yang meninggi. Sampai sistem penguapan air yang dapat dengan cepat menyurutkan banjir. Dengan otaknya yang jenius itu Farhan belajar dengan cepat dari buku dan bereksperimen sendiri membuat semua alat itu.
   “Wah, hebat juga kamu. Hal hebat seperti itu kenapa kamu rahasiakan?” komentar Faris.
“Jujur saja, aku pasti akan dianggap sinting jika mengatakan pada tetangga-tetangga di sekitar rumahku. Mereka banyak yang tidak mengerti soal teknologi. Apalagi aku masih anak kecil. Aku harus membuktikan dulu alat-alatku itu pada mereka.”
Faris manggut-manggut, mengerti alasan Farhan.
“Sekarang sudah musim hujan. Proyek rahasiaku sudah hampir beres, tapi masih ada beberapa komponen yang harus kubeli. Kalau saja uangku cukup, pasti sudah kuselesaikan hari ini juga .…”
“Oh, begitu yah? Pantas saja kamu berbuat curang di kelas dengan memeras teman-temanmu …” tiba-tiba di belakang terdengar suara.
Muka Farhan jadi pucat. Ia tak menyangka Nisa ada di belakangnya.
“Tapi jangan khawatir, kalau kamu mau menunjukkan proyekmu itu padaku, maka aku akan membantumu. Kupikir ayah juga tak keberatan. Kalau kurang juga dananya, kita bisa minta pada Mila. Dia kan artis laris,” lanjut Nisa.
“Sungguh?” tanya Farhan serius.
“Gini-gini aku juga senang teknologi. Apalagi yang bermanfaat. Kalau kamu mengajarkan padaku tentang teknologi semua karyamu itu, aku akan menyumbang dari uang tabunganku. Ya, anggap saja bayar biaya les darimu.”
“Aku juga ikut les darimu dong,” sahut Faris. “Nanti pagi sekalian mengantarmu pulang, tunjukkan padaku penemuanmu itu, ya!”
Farhan hanya mengangguk senang. Satu lagi bukti, membuka rahasia ternyata dapat meringankan beban. Tentu saja asal pada orang yang tepat.
“Kak Faris, mau nggak berbagi rahasia punya Kak Faris itu?” tanya Farhan dalam perjalanan pulang.
Faris tersenyum sebentar. “Rahasia paling besar dalam hidupku adalah … saat ini aku lagi suka sama seseorang. Tapi aku masih malu mengatakan perasaanku padanya …” Faris sedikit pucat mengatakannya.
“Wah … itu sih bukan urusan anak kecil! Itu rahasia orang gede!” protes Farhan. 
“Nggak juga. Kalau cuma suka pada seseorang, bukan hanya urusan orang gede. Dan untuk mengatakannya, kenapa mesti malu. Memangnya salah kalau kita punya rasa suka pada seseorang?” susul Nisa. Hihihi, padahal ia sendiri merahasiakan perasaan sukanya pada Farhan. Suka karena Farhan teman yang baik dan cerdas.
Ups! Tiba-tiba mata Farhan menangkap sesuatu di pojok dalam bagian mobil yang sedang dibersihkan. Sebuah kalung!
“Kak Faris, ini kalung siapa yang jatuh?” tanya Farhan sambil meraih kalung itu.
Faris dan Nisa tersentak kaget. Itu kalung ibu mereka yang sedang dicari-cari. Wah, pasti Ibu akan senang, pikir Nisa. Buru-buru Nisa membawanya ke dalam rumah.
“Bu, ini kalungnya ditemukan Farhan di bagasi mobil. Eits, nggak boleh diambil dulu sampai Ibu cerita alasan Ibu sampai sangat menyayangi kalung ini,” Nisa memberikan syarat.
Ibu terdiam sebentar. Matanya menerawang. “Kalung itu pemberian sahabat dekat Ibu ketika kuliah dulu. Dialah yang banyak membantu Ibu kalau kesulitan belajar. Lalu suatu ketika ia memberi hadiah pada Ibu kalung itu. Dan sehari kemudian, Ibu nggak menyangka sahabat ibu itu meninggal dunia karena tertabrak ….”
Nisa menggamit lengan ibunya dan menyerahkan kalung itu ke dalam genggaman Bu Ramli. “Maafkan Nisa, Bu. Nisa sudah bikin Ibu jadi sedih,” ucap Nisa kemudian. Ia tak menyangka rahasia di balik kalung itu begitu menyedihkan. Pantas kalau ibunya sangat menyayangi kalung itu.
“Tak apa-apa kok. Ibu hanya terkenang sedikit. Kamu tahu apa yang Ibu dapatkan dari peristiwa itu? Ternyata, rahasia terbesar dari Allah adalah takdir,” ucap Bu Ramli lembut.
Nisa berusaha mencerna dan memasukkan kalimat Bu Ramli ke dalam hatinya. Suatu hari nanti, mungkin Nisa baru akan memahaminya.
*****
Faris dan Nisa berdecak kagum ketika melihat peralatan yang dibuat Farhan. Ada sebuah rangkaian elektronik berupa alarm banjir, lalu pompa hidrolik banjir yang masih membutuhkan pipa panjang, dan mesin penguap banjir yang juga masih membutuhkan lempengan konduktor.
“Kamarmu jadi bengkel sekaligus laboratorium. Wah, aku belum pernah mewujudkan impianku sampai seperti ini,” puji Faris. Ia tulus memuji. Selama ini dirinya sudah merasa paling pintar di antara teman-temannya untuk urusan elektro dan teknik fisika. Tapi rupanya, Farhan yang masih duduk di kelas enam esde (SD?) jauh lebih jenius dari dirinya. Padahal, kalau Faris mau melakukan segala eksperimen, ayahnya pasti akan memberinya dukungan biaya dengan mudah. Tidak mesti bersusah payah seperti Farhan.
Farhan memberitahu cara kerja barang-barang kreasinya itu dengan detil. Nisa tak henti-hentinya memuji Farhan. Ia juga mengakui Farhan jauh lebih jenius dari dirinya. Keinginannya untuk membantu Farhan makin menggebu-gebu. Tapi, begitu tahu bahwa biaya yang masih diperlukan Farhan jumlahnya cukup besar, Nisa jadi memeras otaknya.
“Kita harus minta bantuan Mila kalau begitu,” usul Nisa. “Tapi jangan minta begitu saja. Kita harus mengadakan pertunjukan, lalu uangnya bisa disumbangkan buatmu. Bagimana? Insya Allah, Mila nggak akan keberatan membantu kita.”
Faris mendukung rencana itu. Akhirnya mereka bersepakat menemui Mila hari itu juga. Beruntung Mila ada di rumah bersama keluarganya. Mila melonjak girang ketika kembali bertemu dua sahabatnya.
“Aduh, aku senang kalian tidak bermusuhan lagi. Ke mana-mana selalu kompak,” sambut Mila sambil mempersilakan masuk.
Mama dan papa Mila turut senang. Mereka terus berterima kasih atas usaha Farhan dan Nisa menolong mereka. Sengaja langsung menjamu teman-teman Mila dengan hidangan istimewa.
Tanpa ragu-ragu, Faris mewakili Farhan dan Nisa menceritakan keinginan mereka untuk mencari dana dengan mengadakan konser pertunjukkan Mila. Nama konser itu “Pentas Dana Mencegah Banjir”.
“Wah, aku mau tuh!” seru Mila. “Bolehkan, Ma?”
Mama Mila langsung mengangguk mantap. “Kalau Mila pikir itu baik, Mama sih setuju saja,” sahutnya. Wah, mama Mila sekarang sudah berubah. Pikirannya tidak lagi melulu bagaimana membuat Mila lebih terkenal. “Kapan rencananya konser itu dibuat? Nanti akan Tante bantu menghubungi teman-teman Tante untuk ikut mengurusnya. Bagaimana kalau dua minggu lagi? Ya, itu waktu yang cukup kok.”
Semua mengangguk setuju.
*****


Bab 8
Konser yang Gagal?

Persiapan demi persiapan yang dilakukan telah membuat Farhan dan Nisa sibuk. Mereka merasa beruntung teman-teman sekelas, bahkan satu sekolah mendukung mereka. Tiket konser yang tak seberapa mahal itu sudah terjual banyak.
Tapi dua hari menjelang konser, tiba-tiba Mila terserang demam. Wah, gawat! Ketika diperiksa ke dokter pribadinya, ternyata Mila terkena gejala thypus. Ini bukan penyakit sepele meskipun baru tahap awal.
“Jangan cemas, deh. Insya Allah, aku pasti masih bisa tampil,” ujar Mila ketika Farhan dan Mila menjenguknya di kamar.
“Sebaiknya jangan dipaksakan. Kami khawatir sakitmu malah tambah parah,” sergah Farhan.
“Iya. Turuti kata doktermu supaya istirahat,” tambah Nisa.
“Doakan saja aku biar cepat sehat,” saran Mila tersenyum. Ia tampak tetap bersemangat. “Kalaupun aku tidak sanggup, akan kupinta mamaku mencari artis penggantinya. Atau mungkin … kamu juga bisa menyanyi di konser itu, Nisa. Aku suka lagumu dan suaramu sewaktu menyanyi di depan kelas tempo hari.”
Farhan cekikikan. Ia memang tidak pernah mendengar Nisa menyanyi. Kalau mengaji sih pernah ia dengar ketika menginap tempo hari. Memang suara Nisa merdu dan nyaring. Tapi, apa suara mengaji dan menyanyi bisa disamakan?
“Ah, aku belum berani,” kilah Nisa tersipu. “Meski sebenarnya aku juga … ah ini sebenarnya rahasiaku … aku juga pengen jadi penyanyi sepertimu. Ngg …, aku malu ngomong sama ayahku. Habis, dari keluarga Ayah dan ibuku tidak ada yang jadi artis. Tidak ada turunan.”
“Lho, memangnya jadi penyanyi itu harus turunan? Siapa yang bilang?” sergah Mila. “Coba saja dulu. Nanti sore kamu bisa berlatih dengan Om Bram. Dua hari cukup kok untuk berlatih. Bawakan saja lagu ibumu itu. Apa judulnya? Beri Aku Senyummu, kan?”
Nisa mengangguk. Ia merasa lega karena telah menyatakan impiannya yang selama ini dirahasiakan di hatinya.
“Memangnya kamu nggak khawatir, nanti dapat saingan artis penyanyi baru?” tanya Farhan.
Mila menggeleng. “Aku sudah tidak mau lagi takut tersaingi siapa pun. Menurutku, siapa pun berhak jadi yang terbaik,” jelas Mila.
“Aduh, omonganmu jadi kayak orang dewasa gitu sih! Aku jadi tersinggung,” sela Farhan.
“Tersinggung kenapa?”
“Soalnya aku sampai sekarang kadang masih cemas takut tersaingi di kelas oleh Nisa,” Farhan mengaku.
“Hah!” Nisa terkejut. “Mana mungkin aku menyaingimu! Kamu jauh lebih pintar dariku. Dengan hanya membaca sekali saja, kamu bisa mengingat semuanya. Sedang aku harus belajar mati-matian untuk itu. Itu pun hasilnya masih di bawahmu.”
 “Tapi masih lebih baik dariku. Sudah bodoh, malas belajar, dan curang!” timpal Mila sambil tertawa.
Begitulah manusia. Kadang ia memiliki kehebatan di bidang tertentu, tapi masih ada yang lebih hebat lagi. Dan orang yang hebat di satu bidang, belum tentu menguasai bidang lainnya. Bahkan, ada juga yang menguasai banyak bidang, tapi tak mencapai prestasi tinggi. Lain orang, lain kemampuan. Begitu beragamnya manusia di bumi ini. Itulah yang membuat kehidupan jadi lebih berwarna, pikir Nisa.
*****
Farhan tidak menduga Nisa memiliki kemampuan menyanyi yang hebat. Ia menyadarinya ketika melihat Nisa latihan di studio Om Bram. Dengan bantuan mama Mila, Nisa bisa ikut berlatih. Namun Farhan masih sedikit khawatir dengan rencana konser itu. Meskipun sudah dicarikan artis pengganti, Farhan tetap berharap Mila tetap tampil di konser itu.
Dan keajaiban terjadi. Mila dinyatakan sembuh oleh dokternya. Ini sunguh hal yang luar biasa. Menurut dokter, selain rajin minum obat, dorongan kuat di hati Mila juga membantu penyembuhannya.
“Juga doa dari kalian,” tambah Mila senang. “Lagi pula kalau aku tidak sakit dulu, mungkin kita nggak pernah tahu kalau ternyata Nisa juga ingin jadi penyanyi. Iya, kan?”
Semua tertawa mendengarnya.
Malam Minggu di sebuah gedung kesenian di Jakarta, pentas seni untuk mencari dana mencegah banjir itu pun digelar. Bangku di dalam gedung penuh terisi. Banyak pula artis yang datang, juga beberapa pejabat penting. Semua berkat kerja keras teman-teman mama Mila. Meski waktu persiapan hanya dua minggu. Tapi semua panitia adalah orang yang sudah terbiasa mengerjakan pentas pertunjukan.
“Rasanya hanya aku yang gugup malam ini,” ucap Nisa pada Mila di ruang rias. Wajahnya jadi terlihat berbeda ketika penata rias menggarap muka dan rambutnya. Nisa jadi merasa seperti seorang artis sungguhan.
“Ah, aku percaya kamu bisa mengatasinya. Soal gugup sih biasa. Tapi nanti kalau di pentas itu semua akan hilang,” hibur Mila sambil merapikan rambutnya.
Konser pun dimulai. Penampilan Mila sangat memukau. Yang tak kalah mengejutkan adalah tampilnya Nisa menyanyikan lagu ciptaan ibunya. Dengan gaun biru, serta diiringi beberapa penari latar, Nisa menyanyi dengan merdu. Semua teman sekelasnya yang datang ikut menyanyi di bagian refrain. Terutama Lana yang memang mengagumi Nisa. Ia bernyanyi paling nyaring!
“Beri aku senyummu karena senyum itu indah …
Beri aku senyummu karena senyum itu ibadah ….”
*****

Bab 9
Penutup
Hujan yang turun di Jakarta makin deras. Farhan sudah menyelesaikan proyeknya. Semua peralatan kreasinya sudah terpasang dibantu Faris dan beberapa tetangganya. Ternyata Pak Lurah sangat mendukung usaha Farhan.
“Lain kali kalau ada proyek yang bermanfaat bagi masyarakat di sini, jangan sungkan membicarakan pada Bapak,” pesan Pak Lurah setelah memimpin kerja bakti membersihkan saluran air sekaligus mengumumkan pada masyarakat soal temuan Farhan.
Sementara itu, Mila dinyatakan sebagai artis cilik terbaik pilihan masyarakat tahun ini. Semua itu karena dukungan publikasi yang gencar. Ada yang mengungkit soal identitas Mila yang ternyata anak angkat dari sebuah panti asuhan, ada yang bercerita soal niat tulus Mila membantu teman sekelasnya membuat sebuah eksperimen, juga rencana Mila yang akan lebih berkonsentrasi dengan urusan sekolah. Sebuah publikasi yang bagus tanpa rekayasa seperti yang dilakukan banyak artis.
Untuk mensyukuri keberhasilannya itu, Mila mengundang teman-teman sekelasnya mengadakan acara di panti asuhannya dulu. Sebuah acara yang meriah. Tidak hanya menghibur teman-teman sekelas Mila saja, tapi juga para penghuni panti. Lagi-lagi Nisa ikut menguji kemampuannya bernyanyi.
“Bunda, bagaimana sih masa kecil Mila dulu waktu di panti?” tanya Farhan pada pemilik panti di sela-sela acara.
“Wah, Mila itu sangat cengeng sekali. Setiap menit pasti nangis. Kalau sudah nangis, suara jeritannya sampai terdengar ke jalan raya. Mungkin itu sebabnya suara Mila jadi nyaring dan bagus seperti sekarang ini,” tutur perempuan setengah baya itu.
“Hah! Mila cengeng!?” seru Nisa dan Farhan kompak
Pipi Mila merona. “Aduh, kalian nanti jangan bilang siapa-siapa tentang masa kecilku yang cengeng itu. Awas, ini rahasia!” ancam Mila kemudian.
“Iya, deh! Dengan catatan … kalau nggak lupa!” sahut Nisa.
Mila cemberut. Matanya yang bulat membesar.
Farhan dan Nisa tertawa melihatnya. Wah, rupanya jika satu rahasia terungkap, masih ada rahasia lainnya dalam hidup seseorang. Hidup ini memang penuh rahasia kok! Ada yang kemudian terungkap, tapi ada juga yang terus jadi rahasia.
Nah, bagaimana dengan kalian? Kalian mau berbagi rahasia dalam hidup kalian? Kalau menjadi beban, percayakan rahasia itu pada orang terdekatmu, ya!

Salemba, 2003
******