Thursday, November 1, 2012

[BUKU] Dongeng Benny Rhamdani PRITA & POHON KENARI - TAMAT






Prita dan Pohon Kenari

        Musim hujan tiba. Hampir setiap pulang sekolah, Prita terpaksa bermain di kamarnya yang sempit. Itu sebabnya ketika sore langit tampak cerah, Prita langsung mengayuh sepedanya keluar rumah. Dia tak lupa membawa beberapa buku cerita dalam keranjang.
        Ada satu tempat yang disukai Prita di sudut taman kota. Ia biasa duduk di bawah sebuah pohon kenari yang tumbuh di sisi telaga sambil membaca buku. Tapi, oala! Prita terkejut melihat Pak Penjaga Taman sedang mengecat pohon kenari kesayangannya.
        “Mengapa batang pohon kenarinya dicat, Pak?” tanya Prita heran sambil turun dari sepedanya.
        “Bapak cuma memberi tanda pada pohon kenari sini. Biar besok, orang-orang yang bertugas menebangi pohon tua mudah mengenalinya,” jawab Pak Penjaga Taman ramah.
        “Jadi … pohon kenari ini akan ditebang?” Prita tidak percaya.
        “Pohon-pohon tua memang harus ditebang. Kami khawatir kalau pohon ini tertiup angin kencang tiba-tiba tumbang mengenai pengunjung taman. Apalagi musim hujan seperti ini, banyak angin kencang,” jelas Pak Penjaga Taman lagi. Ia lantas membenahi perlengkapan kerjanya dan meninggalkan Prita.
        Prita memandangi pohon kenari kesayangannya. Semangatnya untuk membaca buku cerita jadi hilang. Ia memikirkan nasib pohon kenari itu.
        “Kita akan berpisah selamanya. Apa kamu tidak sedih?” gumam Prita sedih.
        Ajaib!
        Tiba-tiba, Prita melihat pohon kenari itu mengangguk seolah menjawab pertanyaannya.
        “Aku tidak ingin kehilanganmu. Apakah kamu juga?” tanya Prita lagi.
        Pohon kenari itu kembali mengangguk.
        “Aku tidak bisa lagi membaca buku cerita di tempat yang nyaman. Eh, kamu suka menguping kalau aku bersuara membaca buku cerita, ya?”
        Pohon kenari mengangguk berulang-ulang.
        “Kalau begitu, kamu harus ikut ke rumahku. Aku akan membacakan cerita yang lain untukmu. Tapi, bagimana caranya memindahkanmu ke halaman rumahku?”
        Saat Prita kebingungan, keajaiban lain menyusul. Tiba-tiba, pohon kenari itu bergerak. Akar-akarnya yang kekar berubah seperti kaki. Kemudian, Ia kemudian melangkah sedikit maju.
        “Oh, kamu juga bisa berjalan!” seru Prita takjub. “Kalau begitu, sekarang juga kita ke rumahku. Ya, sebelum Pak Penjaga Taman tahu kalau kamu akan kabur dari tempat ini.”
        Prita segera menaiki sepedanya. Ia mengayuh sepeda dengan santai, sementara pohon kenari berjalan di sisinya. Orang-orang di sepanjang jalan yang menyaksikan keajaiban itu terpana.
        “Nah, sekarang kamu bisa tumbuh di sudut sana, dekat jendela kamarku di loteng,” pinta Prita ketika sampai di depan rumah.
        Pohon kenari menurut. Bersamaan dengan itu, ibu keluar rumah. Mata ibu terbelalak melihat pohon kenari tiba-tiba tumbuh di halaman rumahnya.
        “Mengapa tiba-tiba ada pohon raksasa tumbuh di sini?” tanya Ibu heran pada Prita.
        “Bu, ini bukan pohon raksasa. Ini pohon kenari. Dia terpaksa pindah ke sini karena ingin menjadi sahabatku,” jelas Prita sambil menyimpan sepedanya.
        “Ibu tidak mau tahu apa nama pohon itu. Tapi, mestinya kamu minta izin dulu pada Ibu kalau ingin mengajak sahabatmu pindah ke rumah kita,” Ibu mengomel.
        “Prita terpaksa mengajaknya tanpa izin Ibu dulu. Tolong dia, Bu. Orang-orang akan menebangnya karena dia sudah tua. Prita janji akan membersihkan daun-daun yang jatuh,” Prita memohon.
        Ibu menghela napas. “Baiklah. Asal kamu tepati janjimu,” ujar Ibu kemudian.
        Prita melonjak senang. Ia merangkul batang pohon kenari sambil berkata, ”Aku masuk dulu. Kamu bisa mendengar cerita dari kamarku nanti.”
        Tapi belum lama pohon kenari tinggal, ibu mulai disibuki kedatangan beberapa tetangga.
        “Kita tidak mungkin membiarkan pohon kenari di pemukiman kita yang padat. Kalau ada angin kencang, pohon itu bisa tumbang menimpa rumah saya,” kata Pak Godek yang tinggal di seberang.
        “Pohon kenari itu sangat rindang. Rantingnya bisa mengenai kabel listrik dan telepon kalau angin bertiup. Itu sangat berbahaya,” kata Bu Chihui menyusul.
        “Rontokan daun pohon kenari itu pasti banyak yang jatuh ke halaman rumah kami. Padahal, kami sibuk bekerja setiap hari. Pasti kami akan kerepotan menyapu sampah dedaunannya,” ujar Bu Molek, tetangga sebelah rumah.
        Baru pada malam hari para tetangga yang protes berhenti berkunjung. Ibu jadi lelah dan bingung dibuatnya.
        “Prita, sebenarnya Ibu tidak mau melarangmu mengajak sahabatmu tinggal di halaman rumah kita. Tapi, Ibu juga tidak mau membiarkan para tetangga kita mengeluh,” kata Ibu kemudian pada Prita.
        “Biar saja mereka mengeluh. Prita tidak pernah mengeluh kepada mereka,” timpal Prita kesal.
        “Itu bukan sikap bertetangga yang baik. Kita harus saling menghormati karena kita tinggal di satu lingkungan. Suatu hari, kalau kita kesulitan, para tetangga juga yang akan menolong kita,” nasihat Ibu bijak.
        Prita terdiam sebentar. Ia ingat ketika ibu sakit diantar oleh Bu Molek.  Pak Godek juga pernah mengajarinya bermain gitar. Tapi … Prita keberatan kalau harus mengusir pohon kenari itu.
        “Hari sudah malam, tidurlah. Buatlah keputusan besok saja,” kata Ibu sambil meninggalkan Prita di kamarnya.
        Prita menangis di sisi tempat tidur. Matanya menembus jendela, memandang pohon kenari dengan perasaan bingung. Tak lama kemudian, Prita tertidur.
        Saat Prita terlelap, ranting-ranting pohon kenari bergerak melewati jendela kamar. Ranting itu mengambil peralatan tulis di meja belajar Prita.
         Keesokan paginya, Prita terkejut. Pohon kenarinya sudah lenyap. Ia hanya menemukan secarik kertas yang menempel di jendela kamar. Prita buru-buru membacanya.
       
Prita yang cantik,
        Aku mendengar percakapanmu dengan ibu semalam. Sebaiknya, aku memang tidak tinggal di sini, karena sahabat yang baik tidak akan menyusahkanmu. Tidak perlu sedih jika aku memilih kembali ke taman. Hari ini, aku akan membiarkan diriku ditebang. Tapi, aku sudah meninggalkan sebutir biji kenari untukmu di laci meja belajarmu. Tanam dan rawatlah agar aku bisa tumbuh kembali dan bersahabat denganmu. Salam!
                                                        Pohon Kenari
                                                                               
        Prita menggenggam surat itu ke dadanya. Kemudian, ia menemukan biji kenari di laci meja belajarnya. Prita tersenyum sambil berlari keluar rumah. Ia langsung menanam biji kenari itu. Terbayang hari-hari yang menyenangkan bersama pohon kenari yang akan tumbuh nanti.

 ^_^
Jo & Jim Jerami
       
        Hari masih gelap karena matahari masih malu-malu menyembul. Jo sudah bangun membantu ayah mengangkat barang-barang dagangannya ke atas kereta kuda.
        “Sudah semua, Ayah!” teriak Jo setelah meletakkan gentong terakhir berisi selai stroberi.
        Ayah mengangguk. “Terima kasih. Kalau begitu, kita sarapan dulu, yuk!” ajak Ayah sambil merangkul kepala Jo.
        Jo menyiapkan telur dadar istimewa untuk ayah. Ia selalu melakukan hal itu bila ayah akan berdagang ke kota karena ibu telah meninggal sebulan lalu.
        “Berapa lama Ayah akan pergi kali ini?” tanya Jo sambil menghabiskan sarapannya.
        “Sekitar satu minggu,” jawab Ayah.
        Mata Jo melebar. “Satu minggu? Lama sekali!” Ya, kalau masih ada ibu, maka Jo tidak akan merasa kesepian ditinggal selama itu.
        “Tak usah sedih begitu. Ayah sudah menyiapkan teman untukmu,” kata Ayah kemudian.
        Selesai sarapan, Ayah mengajak Jo ke kamarnya. Ia lantas menunjukkan sebuah boneka dari jerami setinggi Jo.
        “Bagus sekali boneka jerami ini. Sayang, ia tidak bisa kuajak bermain jika aku kesepian,” gumam Jo.          
        “Boneka jerami ini akan hidup seperti manusia jika matahari bersinar dan kembali seperti ini kalau matahari tenggelam. Jadi, sepanjang siang kamu bisa berteman dengannya,” kata Ayah sambil tersenyum.
        “Wah, hebat benar!”
        Ayah mengangguk. Ia sebentar melihat keluar jendela.
        “Fajar hampir menyingsing. Ayah berangkat dulu agar bisa secepatnya sampai ke kota,” kata Ayah.
        “Terima kasih atas bonekanya, Ayah!” kata Jo saat Ayah naik ke atas kereta kudanya.
        “Ya. Jangan lupa memberinya nama. Dan, jangan menyalakan api di dekatnya,” pesan Ayah sebelum berangkat.
        Jo mengamati kereta kuda ayahnya hingga lenyap dari pandangan. Ia lalu melihat ke ufuk timur. Tampak olehnya fajar telah menyingsing.
        “Cihuuui …, boneka jerami itu pasti sudah hidup,” teriak Jo.
        Ia bergegas menuju rumah. Ternyata, boneka jerami itu sedang menengok-nengokkan kepalanya, seperti sedang kebingungan berada di kamar sendirian.
        “Hai, selamat pagi! Kata ayah, mulai hari ini kamu menjadi sahabatku,” sapa Jo seraya mengulurkan tangannya.
        “Aku bersedia. Tapi, kamu harus memberiku nama dulu,” sahut boneka jerami.
        Jo kebingungan. “Ah, bagaimana kalau kupanggil Jim? Kamu suka nama itu?”
        “Ya, aku suka. Jim si Boneka Jerami. Hahaha …,” Jim tertawa riang.
        “Bagus, kalau kamu suka.”
        “Lantas, apa yang harus kita lakukan sepagi ini?” tanya Jim.
        “Bagaimana kalau kita membersihkan rumah? Sejak ibuku meninggal, kami tidak pernah membersihkan rumah ini.
        “Aku setuju!”
        Mereka pun bekerja membersihkan rumah sambil bernyanyi riang.
        Jim ternyata punya kekuatan ajaib lainnya. Ia bisa merayap naik ke dinding untuk membersihkan sudut-sudut rumah. Ia juga dapat mengangkat lemari besar dengan satu tangan. Wah, dalam waktu singkat semuanya sudah beres.
        “Rumahku sekarang bersih sekali. Ayah pasti senang. Tanpamu aku tak mungkin mengerjakan ini dalam sehari,” ungkap Jo.
        “Aku juga senang dapat melakukan semua ini. Sekarang, apalagi yang akan kita kerjakan?” tanya Jim.
        “Kita memerah susu dulu, mengumpulkan telur ayam, dan memetik jagung di ladang. Setelah itu, baru kita makan siang,” usul Jo.
        Mereka lantas menjalankan rencana itu. Karena Jim punya kekuatan ajaib, semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat.
        “Aku akan menyiapkan hidangan istimewa untukmu, Jim,” kata Jo usai memetik jagung di ladang. Ia segera ke dapur memasak.
        “Jo, tunggu dulu. Jangan menyalakan api di dekatku,” tiba-tiba terdengar teriakan Jim.
        “Oh, maaf. Aku lupa. Tapi, aku harus masak untuk makan siang kita,” kata Jo.
        “Kalau begitu, biarkan aku menjauh dari sini dulu.”
        Belum sempat Jo menyahut, Jim sudah pergi. Jo pun segera memasak. Begitu Jo membawa masakannya ke meja makan, Jim datang.
        Jo dan Jim menghabiskan makan siang mereka. Setelah selesai makan, mereka istirahat sebentar.
        “Boleh kutahu, kenapa aku tidak boleh menyalakan api di dekatmu?” tanya Jo.
        “Ada satu hal yang memusuhiku. Namanya si Lidah Api.  Ia selalu berusaha memusnahkan aku,”jelas Jim.
        Jo akhirnya mengerti. Lalu, ia mengajak Jim bermain bola. Menjelang matahari terbenam Jim masuk ke kamar ayah. Ia kembali menjadi boneka jerami ketika matahari tenggelam.
        Jo yang kesepian memandang bintang di langit. Tubuhnya letih dan ingin segera tidur. Tapi, brrrr … udara malam terasa dingin.
        “Ah, sebaiknya kunyalakan perapian saja,” pikir Jo. Sebentar, ia teringat pesan ayah agar tidak menyalakan api di dekat Jim.
        “Tapi, Jim berada jauh di kamar ayah,” gumam Jo. Ia segera menyalakan perapian. Tubuhnya pun mulai hangat. Pelan-pelan ia tertidur pulas.
        Tanpa  disadari Jo, angin berembus masuk dari sela-sela rumah. Si Lidah Api kegirangan. Apalagi kamar tidur ayah tak tertutup pintunya. Bara dari perapian  beterbangan ditiup angin. Bara itu beberapa ada yang hinggap di tubuh Jim.
        Ketika esok paginya Jo terbangun, ia kaget melihat tubuh Jim sudah menjadi abu. Jo menyesal dan bersedih. Tak disangka sahabatnya harus jadi abu karena keteledorannya.
*****
       
       
Pangeran Kandaga

Tiga hari lagi, putra mahkota Raja Sugema berusia dua puluh tahun. Mestinya Raja bahagia. Karena, sebentar lagi Pangeran Kandaga akan menggantikan kedudukannya. Tapi sudah satu pekan, Raja kelihatan gelisah.
“Apa yang membuat Baginda gelisah? Bukankah segala persiapan pelantikan Pangeran Kandaga sudah siap?” tanya sang Penasihat.
Setelah berpikir lama, Raja Sugema lalu bercerita, “Sewaktu kecil, putraku pernah sakit keras. Ia hampir meninggal kalau tidak ditolong oleh seorang tabib perempuan dari hutan Malayang. Tapi, tabib itu cuma dapat memperpanjang umur putraku sampai usia dua puluh tahun. Kecuali, kalau putraku menemuinya sebelum itu.”
Sang Penasihat mengangguk.
“Dan,” lanjut Raja, ”sudah hampir dua puluh tahun aku tidak mendengar kabar tabib itu.”
Lalu, Raja memanggil Pangeran Kandaga. Raja meminta Pangeran Kandaga pergi ke hutan Malayang. “Bawalah satu peti permata untuk tabib itu,” pesan raja, “kembalilah sebelum upacara penobatan tiba!”
Pangeran Kandaga menuruti titah Raja. Perjalanan menuju hutan Malayang tidaklah mudah. Pangeran harus menyusuri padang pasir luas dan melintasi jurang curam. Syukurlah, ia bisa melintasi semuanya dengan selamat. Perjalanannya terhenti sesaat di dekat sungai. Ia menyaksikan seorang lelaki naik pedati berjeruji. Di dalam jeruji itu, ada seorang gadis yang tampak menderita.
Pangeran Kandaga segera menghentikan pedati itu. “Ada apa gerangan dengan gadis itu sehingga Tuan mengurungnya dalam jeruji?” tanyanya.
“Ayahnya tidak mampu membayar utang padaku. Aku akan membawa putrinya ini ke kota untuk dijual sebagai budak,” jawab lelaki itu dengan tegas.
“Berapa Tuan akan menjualnya?” tanya Pangeran.
Lelaki itu mengamati Pangeran Kandaga sejenak. Tahulah ia kalau orang yang ada di depannya adalah orang kaya. Ia berpikir untuk menjual gadis itu dengan harga mahal. “Hai, Anak Muda! Kalau kau ingin memiliki gadis ini, kau harus menukarnya dengan isi petimu itu,” jawab lelaki itu sambil tersenyum licik.
Pangeran Kandaga terkejut. Ia bimbang. Kotak itu untuk hadiah tabib di hutan Malayang. Bagaimana ini? Akhirnya, ia berkata, ”Baiklah, ambil peti ini dan lepaskan gadis itu!” Ia pikir hadiah untuk tabib itu nanti bisa digantinya dengan yang lain.
Nama gadis itu Padmini. Pangeran Kandaga meneruskan perjalanannya. Ia sengaja tidak menceritakan siapa dirinya dan maksud tujuannya ke hutan Malayang pada Padmini. Saat malam tiba, mereka beristirahat di tengah hutan.
Pangeran menyiapkan ranting kering dan membuat api unggun. Tanpa disadarinya, seekor ular berbisa mendekati dan memagut Pangeran. Ia menjerit kesakitan. Ular itu langsung lari ke semak-semak.
Padmini lalu mengisap luka pada kaki pangeran. Ia lalu mencari akar-akaran dan daun-daun di sekitar tempat itu. Dengan cekatan, ia meracik obat-obatan dan membalurnya pada luka Pangeran.
Pangeran Kandaga tersenyum. Ia kagum akan kepandaian Padmini. “Terima kasih,” ucap Pangeran Kandaga.
Padmini lalu bercerita kalau ibunya dulu adalah seorang tabib terkenal. Setelah menikah, ibunya pindah dari hutan dan tidak pernah mengobati orang lain lagi. Pangeran Kandaga terkejut mendengarnya. Oh, sungguh peristiwa yang tidak terduga. Pangeran Kandaga lalu bercerita pada Padmini bahwa ia sedang mencari tabib itu, yang tak lain adalah ibu Padmini sendiri.
Esok paginya, Padmini dan Pangeran Kandaga meneruskan perjalanan. Mereka tiba ketika matahari tepat di atas mereka. Pertemuan Padmini dan kedua orangtuanya amat mengharukan. Padmini lalu bercerita pada ibunya tentang Pangeran Kandaga.
 “Jadi, kau putra mahkota yang kuobati dulu. Kini, kau telah menjadi lelaki gagah dan tampan. Ya, aku sudah mempersiapkan ramuan untukmu sejak lama,” kata Ibu Padmini. Ia mengambil sebuah guci dari lemari kayu dan meminta Pangeran Kandaga meminumnya. Pangeran Kandaga mengucapkan terima kasih.
“Sebenarnya, ayahanda membawakan hadiah untuk Ibu, tapi hadiah itu sudah tidak ada. Maka, saya akan minta ayahanda lagi …,” kata Pangeran Kandaga.
“Tidak usah, Pangeran!” potong ibu Padmini cepat. “Perbuatanmu yang telah menyelamatkan putriku dengan mengabaikan keselamatanmu sendiri adalah hadiah yang sangat berharga bagiku.”
“Namun demikian, apabila diperkenankan … biarkan Padmini menjadi permaisuri saya …,” kata Pangeran Kandaga sambil melirik Padmini yang cantik jelita.
Kedua orangtua Padmini tidak menolak. Pangeran lalu mengajak mereka semua ke kerajaan. Tepat pada saat upacara penobatan, Pangeran Kandaga, Padmini, dan kedua orangtuanya, tiba di kerajaan. Raja Sugema gembira karena Pangeran tidak cuma berhasil menemui tabib itu, tetapi juga mendapatkan calon permaisuri.
 “Sungguh, ini adalah hari ulang tahun yang paling membahagiakanku,” gumam Pangeran Kandaga dalam hati. Ya, apalagi seluruh rakyat juga turut merayakannya.



 ^_^


Selendang Biru Nenek


Ranti dan Rinto sedang bermain dengan kuda kesayangan mereka ketika angin kencang bertiup ke arah mereka. Buru-buru, mereka berlindung di tempat yang aman. Untung saja, angin itu datang hanya sebentar.
“Lihat, angin itu menerbangkan selendang nenek yang sedang dijemur,” tunjuk Rani ke atas.
Rinto memandang ke langit. Ya, selendang nenek tengah melayang-layang jauh. “Aduh, kita harus buru-buru mengambilnya. Itu kan, selendang nenek,” kata Rinto kemudian.
Mereka berdua segera menaiki kuda kesayangan mereka mengikuti arah selendang itu pergi. Tapi, rupanya selendang itu tak juga turun ke bumi. Semakin lama, makin menjauh. Sampai di dekat sebuah perayaan, selendang itu baru jatuh.
Ranti dan Rinto mengambilnya. Tapi baru saja mereka meraih selendang itu, mata mereka melihat seorang gadis kecil yang tengah duduk bersedih. Dia memakai pakaian seorang penari.
“Temanku, kelihatannya kamu sedang bersedih. Apakah ada yang dapat kami bantu?" tanya Ranti seraya mendekatinya.
Gadis kecil itu menatap Ranti. Matanya berbinar ketika melihat selendang yang dipegang Ranti.
“Hari ini, aku akan mengikuti lomba menari yang sudah lama aku impikan. Pemenangnya akan mendapat sebidang sawah. Bila dapat sawah itu, aku bisa membantu kakek dan nenekku  yang miskin,” jawab gadis itu.
“Lantas, apa masalahmu hingga bersedih?” Rinto ingin tahu.
“Semula, aku ingin menarikan Tari Pelangi. Tapi, sudah banyak peserta lain yang menarikannya. Aku ingin menarikan Tari Selendang seperti yang diajarkan almarhumah ibuku. Tapi … aku tidak punya selendang untuk menarikannya,” papar si penari.
Ranti memandang sebentar ke arah Rinto. Lalu ia berkata, ”Kebetulan, kami membawa selendang yang indah. Sayangnya, kami hanya bisa meminjamkan padamu, karena ini selendang nenek.”
“Oh, sungguhkah? Terima kasih. Itu saja sudah cukup,” gadis itu girang.
Ranti meminjamkan selendang biru bersulam benang emas itu. Tak lama kemudian, gadis kecil itu menari di atas panggung. Gerakannya sangat indah dan memukau.
Penyelenggara lomba tari lantas mengumumkan gadis kecil itu menjadi juaranya.
“Terima kasih atas pertolongan kalian. Namaku Selasih. Apakah kalian mau mampir ke rumahku?”
“Nama kami Ranti dan Rinto. Sayang, kami harus segera pulang. Lain kali saja,” kata Ranti dan Rinto bersamaan.
Mereka lantas  berpisah. Ketika memasuki desa, Ranti dan Rinto terkejut  ketika melihat asap mengepul dari sebuah rumah yang mereka kenal. Rumah itu milik Pak Jugal.
Banyak penduduk yang hanya terdiam melihat kebakaran rumah itu. Pak Jugal memang tidak disukai di desa. Dia sering meminjamkan uang kepada penduduk dengan bunga tinggi. Tapi, ada juga yang membantu karena mereka kasihan melihat kepanikan Bu Jugal dengan anak-anaknya yang masih kecil.
“Anak-anak, maukah kalian memberikan selendang kalian? Kami harus membuat tandu untuk membawa korban ke tempat yang lebih aman,” teriak seorang pemuda ke arah Ranti.
Tanpa ragu, Ranti segera menyerahkan selendang nenek di tangannya. Selendang itu digunakan untuk mengangkat anak Pak Jugal yang terluka.
Tapi, Ranti dan Rinto terkejut ketika melihat selendang nenek digunting untuk dijadikan perban sementara korban yang terluka. Mereka bingung. Selendang nenek sudah koyak tak berbentuk.
“Wah, nenek pasti  marah pada kita,” ujar Ranti kemudian.
“Ya, bagaimana kita menjelaskannya pada nenek?” Rinto bingung.
“Kita ceritakan saja apa adanya. Yuk, kita pulang,” ajak Ranti kemudian.
Ketika tiba di rumah, mereka langsung disambut nenek. “Ke mana saja kalian? Nenek sampai mencemaskan kalian,” tanya Nenek.
Ranti dan Rinto bergantian menceritakan semua yang baru saja mereka alami. Setelah bercerita tentang selendang yang dijadikan perban, mereka berharap cemas menunggu reaksi nenek.
“Nenek pasti marah, ya?” tanya Ranti.
Tapi, Nenek malah tersenyum. “Nenek tidak marah. Nenek malah bangga pada kalian. Walau selendang itu adalah kesayangan Nenek, tapi Nenek lebih sayang pada kalian berdua. Apa yang telah kalian lakukan tadi adalah hal terbaik,” ujar Nenek.
“Sungguh? Wah, kalau begitu, mereka harus bersyukur pada Nenek karena selendang itu telah menolong mereka,” kata Rinto.
“Bukan selendang Nenek yang menolong mereka. Tapi, kebaikan hati kalian. Nenek sungguh bangga punya cucu berhati mulia seperti kalian,” kata Nenek sambil mendekap Ranti dan Rinto.
^_^



Dua Calon Prajurit

Velip berbadan kurus. Tapi, sejak kecil ia bercita-cita menjadi prajurit istana. Maka, ketika istana mengumumkan pendaftaran prajurit baru, Velip langsung bergegas ikut mendaftar.
Aula tempat pendaftaran sangat padat oleh para pendaftar. Mereka antre dengan tertib. Sebelum Velip mendapat giliran, seorang berperut gendut maju ke meja petugas pendaftaran.
“Siapa namamu?” tanya petugas.
“Motu,” jawab si Gendut.
“Sebaiknya, kamu pulang saja. Kami tidak butuh prajurit gendut sepertimu. Tak ada kuda yang kuat kamu tunggangi,” celetuk petugas yang lain.
Seisi ruangan tertawa.
Motu tertenduk lesu.
“Sebaiknya, kamu melamar beberapa bulan lagi sebagai juru masak,” kata si Petugas.
Motu berjalan meninggalkan aula. Kini, giliran Velip yang dipanggil ke depan petugas pendaftaran. Lagi-lagi mata petugas pendaftaran memandang dengan muka sinis.
“Siapa namamu?” tanya petugas pendaftaran.
“Velip.”
“Pulang saja sekarang. Kamu terlalu kurus untuk jadi prajurit. Bahkan, lebih kurus dari tombak kami,” celetuk petugas lainnya.
Seisi ruangan lagi-lagi tertawa.
Velip pulang dengan hati terluka. Ia berjalan lesu meninggalkan aula istana.
Di tengah perjalanan, Velip bertemu dengan Motu yang tengah terduduk di atas sebongkah batu. Wajahnya sangat lesu.
“Hai Motu, aku Velip. Aku juga gagal di pendaftaran tadi,” kata Velip sambil mendekat.
“Aku sedih karena gagal. Aku tidak berani pulang ke rumah. Orangtuaku sangat berharap aku bisa jadi seorang prajurit. Salahku juga tak mau olahraga, jadi badanku gemuk begini,” ucap Motu.
“Aku juga. Sejak beberapa hari kemarin, aku sudah sesumbar di desaku akan jadi seorang prajurit. Mereka malah menertawakanku. Makanya, aku juga tidak berani pulang,” sahut Velip.
“Kalau begitu, kita bersama-sama bertualang dulu saja. Kamu mau bersahabat denganku?” tanya Motu.
“Ya, tentu.”
Mereka pun memutuskan untuk bertualang. Suatu hari, di tengah perjalanan mereka dikejutkan seorang wanita setengah baya yang berteriak panik.
“Tolong … tolong! Cucuku …!”
“Ada apa, Nek?” tanya Motu dan Velip bersamaan.
“Cucuku masuk ke ceruk goa yang dalam. Aduh …. Tolong dia!” jawab perempuan setengah baya itu.
Motu dan Velip segera bertindak. Mereka mencari tempat ceruk goa tersebut. Ternyata, lobang goa tersebut sangat sempit. Lorongnya curam, hampir seperti lobang sumur.
“Tapi, badanku bisa masuk,” kata  Velip.
Motu segera mencari akar pepohonan dan dijalinnya menjadi tali. Ujung tali kemudian dililitkan ke tubuh Velip. Pelan-pelan, Velip masuk melalui celah gua. Ketika mencapai dasar, Velip menemukan tubuh seorang anak kecil yang tergolek pingsan.
Dengan cekatan, Velip mengikat tubuh anak itu. “Motu, tarik!” teriak Velip kemudian.
Sekuat tenaga, Motu menarik tubuh anak itu. Akhirnya, tubuh anak itu bisa melalui celah gua. Kemudian, Velip menyusul keluar dari dalam gua.
“Oh, cucuku. Akhirnya, kamu selamat,” kata perempuan itu sambil menggendong tubuh si anak kecil.
Dia lantas mendekati Motu dan Velip. “Mari ke tempat tinggalku dulu. Mungkin aku masih perlu bantuanmu,” kata perempuan tua itu.
Velip dan Motu mengangguk setuju. Motu segera menggendong tubuh anak kecil itu sampai ke sebuah pondokan kayu yang sederhana.
“Siapa nama kalian? Orang-orang memanggilku Mak Acin,” kata perempuan tua itu.
“Aku Motu.”
“Dan aku Velip.”
Sambil membuat ramuan obat-obatan untuk cucunya, Mak Acin lantas bercerita awal kejadian hingga cucunya yang bernama Lolum terperosok. Menurutnya, saat itu ia bersama Lolum tengah mencari akar-akaran. Sebagai tabib, Mak Acin memang harus menyiapkan aneka bahan untuk obat-obatan. Rupanya, Lolum tak sadar saat asyik mencari akar lumut sampai terperosok ke dalam ceruk itu.
Mak Acin lantas membasuh ramuan obat yang dibuatnya ke kening dan leher Lolum. Tak lama kemudian, Lolum sadar.
“Kalian sebenarnya mau ke mana?” tanya Mak Acin yang merasa asing dengan Velip dan Motu.
Secara bergantian, Velip dan Motu menceritakan pengalaman mereka yang ditolak menjadi prajurit. Di ujung cerita, Mak Acin tersenyum.
“Tahun depan, istana pasti akan membuka pendaftaran baru. Sebaiknya, selama setahun ini kalian tinggal bersamaku. Karena kalian sudah menolongku, aku akan membantu kalian menjadi calon prajurit yang hebat,” janji Mak Acin.
Velip dan Motu tanpa ragu-ragu langsung mengangguk.
Ya, sejak itu mereka tinggal bersama Mak Acin dan Lolum. Mak Acin melatih mereka menjadi calon prajurit yang berbadan tegap dan sehat. Caranya tidak sulit. Mereka disiplin makan dan berolahraga. Olahraga mereka adalah mengangkat air dari sungai, membelah kayu bakar, atau membangun kembali pondokan Mak Acin.
Setahun kemudian, istana kembali membuka pendaftaran prajurit. Mak Acin segera meminta Velip dan Motu meninggalkan pondoknya.
“Tubuh kalian sudah tidak seperti dulu lagi. Kalian sama-sama berbadan tegap sekarang. Aku doakan kalian diterima menjadi prajurit istana,” kata Mak Acin saat melepas Velip dan Motu.
“Kami mengucapkan terima kasih pada Mak Acin,” kata Velip dan Motu.
“Jangan lupa padaku. Karena aku juga ikut membantu kalian,” sela Lolum sambil mengusap air matanya.
“Tentu saja,” jawab Velip dan Motu serempak.
Mereka pergi ke aula istana. Rupanya, petugas pendaftaran sama sekali tak mengenali mereka lagi.
“Velip? Rasanya, aku pernah mendengar nama itu. Tapi, kurasa bukan kamu. Tubuhmu tegap, sangat cocok jadi prajurit. Kamu kami terima,” kata petugas pendaftaran.
Hal yang sama juga dikatakan petugas pendaftaran ketika Motu mendapat giliran. Petugas itu sama sekali tak ingat pernah mencela Motu dan Velip setahun lalu.
Beberapa tahun kemudian, Velip dan Motu menjadi prajurit istana yang tangguh. Bahkan, pangkat mereka naik dengan cepat menjadi komandan pasukan. Orangtua mereka tentu saja bangga.
“Orang yang paling berjasa bagi kami adalah Mak Acin dan Lolum,” begitu selalu Velip dan Motu mengatakan pada setiap orang.

******