Friday, November 2, 2012

[BUKU] KUMCER Benny Rhamdani GARA-GARA NAMA


Deja Vu

Akhir pekan ini, Mas Widi mengajak Tio menengok kampung kelahiran Kak Anis—tunangan Mas Widi. Agar ada teman berlibur, Tio diperbolehkan mengajak sahabatnya, Ibek. Tentu saja, Ibek senang. Sebab, ia juga belum pernah mengunjungi daerah Lembang yang berada di utara Kota Bandung.
"Aku sudah dengar, daerah itu sangat sejuk dan tenang," kata Ibek saat mobil yang dikendarai Mas Widi mulai melaju.
"Aku malah penasaran pengen minum susu murni. Dan, kalau malam hari, kita bisa makan jagung bakar empat rasa," tambah Tio tak mau kalah.
"Empat rasa bagaimana? Rasa kaldu ayam, rasa baso sapi, rasa ...."
"Bukan begitu, Bek," timpal Kak Anis menahan senyum. "Jagungnya sebelum dibakar diolesi mentega dulu, lalu sambal manis yang pedas. Jadi, waktu kita makan jagung bakar itu akan terasa gurih, asam, manis, dan pedas."
Ibek hanya cengengesan. Kemudian, mereka mengisi waktu perjalanan dengan main teka-teki. Banyak teka-teki baru yang dilontarkan Ibek tak dapat dijawab oleh Tio. Seperti ketika Ibek melontarkan pertanyaan, "Kalau sapi jadi rumput, manusia jadi apa, ayo?"
"Manusia jadi nasi. Soalnya, rumput itu makanan sapi, sedangkan nasi itu makanan manusia," jawab Tio memberikan alasan.
"Salah. Kalau sapi jadi rumput, manusia jadi pada bingung. Kan, ajaib ada sapi bisa jadi rumput," kilah Ibek.
Tio garuk-garuk kepala, sedangkan Mas Widi dan Kak Anis tertawa kecil.
Permainan teka-teki mereka terhenti ketika Kak Anis mengatakan bahwa mereka sudah memasuki daerah Lembang.
"Wah, benar kata orang. Udaranya sejuk meski matahari bersinar terang," komentar Ibek sambil memandang keluar jendela mobil.
"Terang saja sejuk. Mobil kita kan, pakai AC," celetuk Tio.
"Iya, juga," kata Ibek  sambil cekikikan. Matanya terus memperhatikan pemandangan yang ada. Namun, ketika mobil ke luar dari jalan raya menuju jalan desa, Ibek tercekat kaget melihat sebuah menara tua di sudut belokan. "Rasa-rasanya, aku pernah melihat tempat seperti ini," gumamnya.
"Deja vu!" seru Kak Anis.
"Apaan?" Ibek dan Tio bertanya bareng.
"Deja vu. Itu seruan orang-orang Prancis kalau melihat sesuatu yang sepertinya pernah mereka lihat. Padahal, sesungguhnya mereka memang baru pertama kali melihatnya," jelas Mas Widi sambil terus mengemudikan mobil.
"Kok bisa begitu, Mas?" tanya Tio penasaran.
"Ya, mungkin dia pernah melihatnya di teve, di dalam mimpi, atau saat mengkhayal."
"Kalau tak salah, setelah ini kita akan melewati jembatan," gumam Ibek lagi.
"Jangan sok tahu! Kamu kan, baru sekali ini kemari," cela Tio.
"Ibek benar. Tuh, di depan jembatannya," timpal Kak Anis.
Tio terperanjat. Ia memandang Ibek takjub. "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak mengerti. Tiba-tiba saja, aku merasa pernah melihat semuanya."
"Jangan-jangan, kamu sekarang berubah jadi paranormal. Kamu bisa tahu lebih dulu apa yang akan terjadi, seperti cerita yang pernah kulihat di teve," ujar Tio sambil memegang bahu sahabatnya. "Coba, tebak sekarang, kalau besar nanti aku jadi apa?"
Ibek memejamkan mata sebentar. "Jadi tukang sapu," katanya sambil membuka mata.
Tio langsung melotot. Ibek tertawa melihat sahabatnya kesal. "Aku bercanda. Sungguh, aku tidak tahu kamu nanti jadi apa," kata Ibek meredakan kekesalan Tio. "Lagi pula, apa yang kuketahui tadi, mungkin hanya kebetulan. Aku tidak mau jadi paranormal. Mendingan jadi orang kaya."
"Yey, kalau begitu sih, semua juga mau!" rutuk Tio.
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya sampai di pelataran parkir sebuah rumah yang luas. Mereka segera turun dan berkenalan dengan kedua orangtua Kak Anis. Pak Wiryanegara, ternyata pemilik perkebunan palawija yang luas di Lembang. Tio, Mas Widi, dan Ibek menempati sebuah paviliun yang asri di samping rumah Pak Wiryanegara.
Saat sore tiba, mereka duduk di beranda sambil menikmati susu murni yang sudah diolah menjadi yoghurt. Kak Anis juga mengolah susu itu dengan tambahan cokelat agar tidak terlalu asam.
"Rasanya, aku juga sudah pernah berada di tempat ini. Kak Anis, apakah tidak jauh dari tempat ini ada telaga kecil dengan bebek Bali yang berenang setiap hari?" tanya Ibek sambil menghabiskan yoghurtnya.
"Ya, telaga itu memang ada. Tetapi, bebek Bali yang biasa berenang itu tidak ada lagi. Mungkin, sekitar lima tahun lalu kamu bisa melihatnya dan ...." Kak Anis memotong kalimatnya, berpikir beberapa saat.
Tio semakin kagum dengan sahabatnya yang mempunyai keajaiban.
"Kakak tahu sekarang, apa sebabnya Ibek seolah pernah datang ke tempat ini," cetus Kak Anis kemudian. "Kamu pasti suka baca buku cerita, kan? Coba ingat-ingat, apakah kamu pernah membaca buku cerita yang berjudul Kampung Kami Tercinta?"
Ibek berusaha mengingatnya. "Ya. Tetapi, sudah lama sekali. Waktu kelas tiga dulu," sahutnya.
Kak Anis tersenyum. "Buku itu ditulis paman Kak Anis empat tahun lalu. Isi buku cerita itu banyak melukiskan keadaan desa ini. Termasuk, telaga kecil dengan bebek Balinya. Karena, bebek Bali itu memang milik paman Kak Anis. Kamu ingat nama pengarangnya? Herdian. Itu nama samarannya," jelas Kak Anis.
Ibek manggut-manggut. "Ya, benar. Aku ingat sekarang. Bahkan, aku juga ingat kembali semua bagian cerita buku itu. Soalnya, buku itu bagus sekali," ujar Ibek.
"Ya, begitulah kerja otak kita. Dia akan menyimpan ke dalam bagian dari otak yang disebut memori, untuk apa saja yang kita alami lewat pancaindra kita. Sesekali apa yang disimpan dalam memori itu keluar tanpa sengaja, seperti yang dialami Ibek hari ini," Mas Widi membantu menjelaskan.
"Wah, kalau begitu tadi bukan keajaiban, dong. Kupikir Ibek benar-benar akan jadi paranormal. Kan, hebat kalau dia bisa jadi orang sakti," gerutu Tio.
"Apalagi kalau aku bisa menyihir. Akan kusihir kamu jadi bebek Bali!” sambung Ibek.
Semua langsung tertawa. Tio yang semula kesal, akhirnya ikutan tertawa.


Guci Ajaib Palsu

Oben gembira diajak ikut berlibur ke kampung orangtua Indra. Sudah lama, ia ingin melihat kampung Indra di daerah Pantai Selatan. Sebab, Indra selalu bercerita seru mengenai Kampung Cijampang.
Kenyataannya, cerita Indra tidak berlebihan. Begitu tiba di kampung itu, Oben merasa takjub melihat pemandangan di depannya. Hamparan laut dengan pasir yang berwarna putih.
“Benar-benar indah!” puji Oben kagum.
“Ya, apalagi kalau kita ke Pantai Ujung Genteng. Kita bisa melihat taman laut. Bahkan, di sana ada bekas dermaga tua pada zaman Belanda,” tunjuk Indra.
“Nanti sore kita ke sana, sekalian melihat matahari tenggelam. Sekarang, kita istirahat dulu sambil minum kelapa muda.”
“Boleh juga usulmu,” timpal Oben girang mendengar kata kelapa muda.
Mereka segera beristirahat sambil menghabiskan air kelapa muda yang dipetik Pak Kusnadi, paman Indra.
“Selain ke pantai, kita bisa main ke mana lagi?” tanya Oben ingin tahu.
“Kalau mau lihat yang aneh, ayo kita ke kampung nelayan,” ajak Pak Kusnadi.
“Apanya yang aneh?” tanya Oben.
“Dua hari lalu ada nelayan yang menemukan guci Cina dari dasar laut. Nelayan itu, kemudian mimpi didatangi kakek tua dari Cina. Dalam mimpinya, kakek itu berkata bahwa guci tersebut ajaib. Guci itu bisa mengabulkan permintaan siapa pun, asal memasukkan uang ke dalam guci itu.”
“Wah, menarik juga. Apa Pak Kus pernah ke sana?”
“Ah, Pak Kus tidak begitu percaya dengan cerita seperti itu. Tetapi, orang kampung ini dan kampung lainnya banyak yang ke sana.”
Oben menoleh ke arah Indra. “Nanti sore, kita sekalian melihat guci ajaib itu, yuk!” ajak Oben.
“Boleh. Kebetulan letak Pantai Ujung Genteng tak jauh dari sana. Eh, memangnya kamu percaya pada keajaiban guci Cina itu?” tanya Indra.
“Tentu saja, tidak. Aku cuma penasaran ingin melihat guci itu,” ujar Oben.
Pukul empat sore, mereka bergegas menuju kampung nelayan. Tidak sulit menemukan rumah nelayan pemilik guci ajaib itu. Banyak orang yang datang ke rumah itu.
“Kalau ingin minta sesuatu, harus cepat-cepat. Katanya, minggu depan guci itu mau dibeli orang Jakarta,” terdengar bisik-bisik di antara pengunjung.
Setelah antre cukup lama, Oben dan Indra akhirnya mendapat giliran. Nelayan pemilik guci agak terkejut melihat Oben dan Indra. Baru kali ini, ia menerima tamu anak-anak.
“Kami dari Jakarta, Pak. Kami sengaja datang untuk minta tolong pada guci ajaib,” Oben buru-buru memamerkan uang sepuluh ribu rupiah di tangannya.
Nelayan itu segera mempersilakan Oben dan Indra masuk ke sebuah kamar kecil dari bilik bambu. Di sudut kamar itulah, mereka melihat guci itu. Ukurannya lumayan besar. Sekitar setengah meter tingginya. Ada lukisan perempuan bermata sipit dengan rumpun-rumpun bambu. Seperti umumnya lukisan Cina, ada tulisan Cina di antara lukisan itu.
“Ucapkan permintaan kalian, lalu masukkan uang ke dalam guci itu,” ujar si nelayan.
Oben merogoh sakunya. Namun, ketika ia mengeluarkan uang, tiba-tiba sesuatu terjatuh dari sakunya. Cling! Benda itu menggelinding.
“Aduh, cincin warisan Ibu saya!” seru Oben. Tolong bantu carikan. Di sini gelap. Saya kurang bisa melihat.”
Nelayan itu membantu Oben mencari cincin. Setelah agak lama, baru lelaki itu menemukannya. Buru-buru, ia memberikannya kepada Oben.
“Terima kasih, Pak. Oh, iya, permintaannya sudah saya sebutkan. Uangnya juga sudah dimasukkan tadi.” Oben lalu mengajak Indra keluar.
Setelah jauh dari rumah itu, Oben tertawa geli sendiri.
“Mengapa tertawa? Sejak kapan kamu membawa cincin warisan?” tanya Indra.
“Lucu! Benar-benar lucu! Hahaha … cincin itu kutemukan tadi di kamar mandi pamanmu. Kupikir, aku harus meminjamnya sebelum kukembalikan kepada pamanmu. Siapa tahu berguna. Ternyata, memang berguna …”
“Maksudmu?” Indra makin bingung.
“Sewaktu kalian mencari cincin itu, aku membaca tulisan Cina di guci itu.”
“Memangnya, kamu mengerti huruf dan bahasa Cina?”
“Itu bukan huruf dan bahasa Cina. Setelah kuperhatikan, ternyata itu huruf latin biasa. Namun, dihiasi sehingga mirip huruf kanji yang dipakai orang Cina. Bahasanya juga bahasa Indonesia. Kalau mata yang melihatnya kurang teliti, pasti akan menyangka itu huruf dan bahasa Cina. Makanya, sengaja kujatuhkan cincin ini       karena aku perlu waktu lama untuk membacanya,” papar Oben.
“Memangnya tulisan apa yang tertera di guci itu?” tanya Indra penasaran.
“Guci buatan Plered, akhir Agustus 2003.”
“Plered? Rasanya aku pernah dengar!”
“Masa lupa, sih? Itu kan nama tempat, pusat indutri gerabah dan keramik di Jawa Barat yang terkenal. Nah, berarti itu bukan guci Cina asli. Semua cerita tentang guci ajaib itu juga palsu!” Oben menggeleng. “Kita harus minta pamanmu melapor ke kantor polisi. Kasihan, banyak penduduk desa yang tertipu.”
Indra menelan ludah. “Tetapi … kita kan, mau melihat matahari tenggelam di Pantai Ujung Genteng .…”
“Besok, kan, matahari masih akan terbit dan tenggelam. Gampang, kita pulang dan laporan dulu sama pamanmu. Ayo!” paksa Oben.
Indra mengangkat bahu, lalu mengikuti langkah Oben. Percuma melawan Oben. Kemauannya tidak pernah bisa ditentang siapa pun. Namun, bagaimanapun Indra bangga memiliki sahabat secerdik Oben.

Melacak Jejak

Nigar kaget melihat kaver Majalah Bobo terbarunya robek. Terakhir kali, ia melihat Igun yang membacanya. Segera ia menemui adiknya itu.
“Igun, kenapa kamu robek majalah baru ini?” Nigar setengah berteriak.
“Tidak sengaja. Tetapi, isinya masih bisa dibaca kan, Kak!” kilah Igun takut.
“Pokoknya, kamu harus ganti. Kalau tidak, mobil-mobilan ambulans kamu itu akan kubuang ke sungai,” ancam Nigar sewot. “Cepat, sekarang juga!”
Nigar keluar kamar Igun dan menunggu di ruang tengah. Kemudian, dilihatnya Igun ke luar kamar sambil membawa mobil-mobilan kesayangannya. Nigar tidak mau melihat ke arah Igun, ketika adiknya menelepon seorang temannya. Bahkan, Nigar pura-pura tidak mendengar ketika adiknya pamit pergi.
Satu jam Nigar menunggu, Igun belum juga pulang. Dua jam berlalu. Bahkan, sampai magrib tiba, Igun tidak juga kembali. Ibu yang biasanya melihat Igun di depan televisi, langsung cemas.
“Coba cari adikmu, Gar!” ujar Ibu khawatir.
Nigar mematuhi permintaan Ibu. Diam-diam, Nigar ikut cemas. Dicarinya di setiap rumah teman Igun yang diketahuinya. Tetapi, setelah berkeliling mengitari kompleks, tidak satu pun teman Igun yang mengaku bermain dengan Igun. Nigar semakin cemas saja. Namun, ia sedikit lega saat di perempatan jalan berpapasan dengan Oben, temannya yang terkenal sebagai detektif kampung. Segera saja ia menceritakan masalahnya kepada Oben.
Oben tertegun beberapa saat. “Wah, kalau begitu kita harus melacak jejak adikmu dari rumahmu. Yuk, kita ke rumahmu dulu!” ajak Oben kemudian.
Nigar menuruti permintaan Oben. Hanya Ibu yang kebingungan karena Nigar bukan membawa pulang Igun, malah mengajak Oben.
“Sabar, Bu. Nanti Nigar jelaskan,” ujar Nigar hati-hati.
Oben meminta Nigar mengulangi lagi apa yang dilihatnya sebelum adiknya keluar rumah.
“Pokoknya, dia membawa mainan ambulansnya, menelepon temannya, dan pergi,” begitu kata Nigar.
“Hmmm, jadi sempat memakai telepon dulu …. Kalau begitu, aku harus tahu … apa di rumah ini ada yang memakai telepon setelah Igun?” tanya Oben.
Nigar menggeleng. Ibu juga tidak merasa memakainya. Ayah belum pulang dari kantor, jadi tidak mungkin memakai telepon itu.
“Syukurlah, kalau memang demikian. Itu jadi mempermudah kita mencarinya. Bu, saya pinjam teleponnya sebentar,” Oben minta izin. Ia lalu memijat tombol bertuliskan huruf “R” di telepon. Sesaat kemudian, terdengar sahutan dari seberang.
“Selamat malam! Maaf, apakah ini rumah Aca?” tanya Oben langsung.
“Bukan. Salah sambung,” sahut suara di seberang.
“Tunggu dulu, Om, jangan ditutup. Saya saudara Igun. Kalau boleh tahu, apakah Igun sedang bermain di sana?”
“Igun? Ooo … teman sekelas Farhan itu, ya? Ada. Memangnya kenapa?”
“Ibunya mencari-cari sejak sore. Kalau begitu, tolong jangan beri tahu Igun kami menelepon. Kami akan ke sana menjemputnya. Di mana alamat rumah Farhan, Om?”
“Jalan Percetakan dua belas.”
“Terima kasih, Om. Selamat malam.” Oben meletakkan gagang telepon. “Nah, sekarang kita tinggal menjemputnya. Mudah, kan?”
Nigar menggeleng. “Belum tentu Igun mau pulang denganku,” kilahnya.
“Ya, itu sudah tugasmu sebagai kakaknya.”
“Ayolah, temani aku menjemput Igun.”
“Bukan apa-apa, Gar. Aku belum makan malam, nih. Aku lapar.”
“Itu soal gampang! Nanti, kutraktir makan nasi goreng Mang Aep kalau berhasil membujuk Igun pulang.” Nigar tahu, Oben paling suka nasi goreng.
“Oke deh, kalau begitu!” sahut Oben.
Mereka segera bersepeda ke Jalan Percetakan dua belas.
“Ngomong-ngomong, bagaimana tadi kamu tahu kalau Igun ada di rumah Farhan?” tanya Nigar ingin tahu.
“Mudah saja. Kamu yang bilang, Igun menelepon seseorang sebelum pergi. Jadi, kupikir ia pasti pergi ke temannya itu.”
Nigar manggut-manggut. “Lantas, dari mana kamu tahu nomor teleponnya?”
“Juga mudah. Selama pesawat teleponmu itu belum dipakai siapa pun, nomor telepon yang terakhir dihubungi akan otomatis terekam. Kita dapat menghubungi nomor itu dengan menekan tombol redial, artinya menghubungi ulang,” papar Oben.
Akhirnya, mereka tiba di rumah Farhan. Dan, Igun benar ada di situ. Tetapi, seperti yang diduga Nigar, adiknya ngotot tidak mau pulang.
“Kak Nigar jahat, sih. Mobil ambulans Igun mau dibuang ke sungai. Igun kan, tidak sengaja merobek sampul Majalah Bobo-nya,” Igun mengadu kepada Oben.
“Maksud Kakak, biar kamu bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan,” sanggah Nigar.
“Pokoknya, Igun tidak mau pulang!”
“Kakak janji tidak akan meminta Igun menggantikan majalah itu. Juga tidak akan membuang ambulans Igun,” sahut Nigar, khawatir Igun tidak mau pulang. Kalau Ayah sampai tahu, bisa-bisa ia tidak boleh main selama sebulan penuh.
Igun tersenyum. “Saksinya, Kak Oben tuh,” tunjuk Igun. Tak lama kemudian, mereka pamit pulang kepada orangtua Farhan.
Nigar mengayuh sepedanya sambil membonceng Igun. Sedangkan Oben dengan sepedanya berbaris di belakangnya sambil berbicara dengan Igun.
“Igun, kamu sering-sering kabur dari rumah ya, kalau dimarahi Nigar,” teriak Oben.
“Memangnya kenapa, Kak?” Igun heran.
“Biar aku bisa sering gratis makan nasi goreng Mang Aep. Cuma kalau kabur, beri tahu aku dulu ke mana perginya ….”
“Hahaha ... itu sih, bukan kabur namanya!” timpal Nigar.
“Hahaha … nasi goreng! Nasi goreng!” teriak Oben lantang.

Tetangga yang Aneh

“Kamu tahu, rumah kosong di sebelah kita sudah ada penghuninya?” tanya Dino kepada adiknya, Arni.
“Iya, tetapi aku belum melihat mereka. Apa di rumah itu ada anak sebaya kita ya, Kak? Biar bisa jadi teman kita bermain,” kata Arni sambil mengunyah kacang.
“Untuk itu, kita harus memancingnya.”
“Maksud Kakak?”
“Kita bermain saja di halaman samping nanti sore. Pasti, dia akan melihat atau mendengar permainan kita. Siapa tahu, ia tertarik dan mau berkenalan.”
“Benar juga!” Arni segera memikirkan permainan untuk sore nanti. Akhirnya, keduanya sepakat untuk bermain bulutangkis.
Untunglah, sore hari angin bertiup tidak terlalu kencang agar suara mereka sampai ke rumah sebelah. Sebentar mereka tertawa, lalu bermain lagi.
Sementara itu, sepasang mata milik seorang gadis kecil memandang ke arah mereka dari kamarnya di lantai atas. Ia menyingkap sedikit tirai jendela yang menghadap ke samping. Tangannya bergetar.
“Orang di sebelah rumah tidak keluar juga,” kata Arni perlahan.
“Hm, besok kita main lagi di sini,” ujar Dino.
Mereka pun kembali ke rumah. Saat menonton televisi, Ibu datang menghampiri mereka dengan muka kusut.
“Siapa yang tadi memecahkan pot bunga Ibu di samping rumah?” tanya Ibu sambil mematikan televisi.
Dino dan Arni saling berpandangan, bingung.
“Kalian berdua tadi bermain di halaman samping, kan? Nah, mengaku saja, siapa yang memecahkan pot bunga Ibu?”
“Bukan kami, Bu. Kami memang bermain di samping rumah. Tetapi, tidak sampai memecahkan pot bunga Ibu,” Dino menjelaskan.
“Kalau begitu, siapa yang melakukannya? Yang bermain di samping rumah ini, kan cuma kalian!”
“Mungkin, ada kucing yang menjatuhkannya,” kata Arni.
Ibu terdiam sesat. “Ya, mungkin juga sih, … Hm, kalau begitu, kalian bantu Ibu membersihkan kotoran pot pecah itu,” pinta Ibu kemudian.
Dino dan Arni segera ke halaman samping. Ketika sedang menyapu, Dino menemukan dua batu yang cukup besar dekat pecahan pot. Tentu, dua batu itu yang memecahkan pot Ibu. Apalagi kalau dilemparkan dengan tenaga yang kuat, pikir Dino.
Dino segera memberi tahu kecurigaannya kepada Arni. Selanjutnya, mereka membuat rencana untuk keesokan harinya.
Seperti yang direncanakan, sore berikutnya, mereka kembali bermain di samping rumah. Tetapi, sengaja kali ini mereka lebih ribut daripada kemarin. Pada saat sedang bermain, Ibu muncul sambil berteriak, “Hati-hati, jangan memecahkan pot bunga Ibu lagi. Kalau sampai pecah lagi, kalian tidak boleh bermain lagi di situ!”
“Baik, Bu. Kami janji!” sahut keduanya serempak sambil terus bermain.
Ketika matahari makin terbenam, mereka menyudahi permainan. Mereka masuk ke rumah sebentar. Tetapi,  kemudian mengendap diam-diam, memperhatikan tembok pembatas halaman samping.
Tidak berapa lama kemudian, tampak seorang anak lelaki muncul dari balik tembok pagar. Ia lantas berdiri di tembok pagar. Anak itu melempar batu ke jajaran pot bunga Ibu. Tidak kena! Rupanya, ia sudah menyiapkan beberapa batu. Namun,, saat akan melempar kedua kalinya, Dino dan Arni buru-buru keluar dari persembunyiannya.
“Hei! Apa yang kau lakukan!” teriak keduanya.
Anak lelaki itu kaget. Ia berdiri limbung. Dan terjatuh ke halaman rumah Dino dan Arni. Meski kesakitan, anak itu berusaha menaiki pagar tembok. Tetapi, Dino buru-buru menyergapnya. Ibu juga muncul dari dalam rumah karena mendengar suara ribut.
“Bu, ini orang yang telah memecahkan pot Ibu kemarin. Ayo, ngaku!”
“Maafkan saya, Bu. Saya ini cuma pembantu. Saya hanya melakukan perintah Mbak Mita,” kata anak lelaki itu memelas.
“Mengapa Mbak Mita menyuruhmu melakukan itu?” tanya Arni kesal.
“Mbak Mita tidak suka melihat kalian bermain bulutangkis!”
“Kalau tidak suka, dia kan bisa bilang langsung kepada kami,” sahut Dino.
“Mmm … Mbak Mita tidak bisa kemari. Dia itu … lumpuh ….”
Ibu, Dino, dan Arni terkejut.
“Sebenarnya, dulu Mbak Mita sangat suka bulutangkis. Dia malah berharap bisa menggantikan Susi Susanti. Tetapi, sebulan lalu ia mengalami kecelakaan lalu lintas dan harus kehilangan kakinya. Mbak Mita sedih karena tidak bisa lagi mengejar cita-citanya. Dan ia membenci bulutangkis,” papar anak lelaki itu dengan muka sedih.
Ibu, Dino, dan Arni trenyuh.
“Ya, sudahlah, kalau begitu. Kamu kembali saja. Nanti malam, kami akan berkunjung menemui Mbak Mita. Kami akan minta maaf karena telah mengganggu ketenangannya,” kata Ibu kemudian.
“Maafkan, aku juga. Namaku Dino, dan ini adikku, Arni,” kata Dino sambil bersalaman.
“Namaku Acep. Terima kasih. Kalian ternyata baik sekali.” Acep kemudian pulang. Hups, tentu saja lewat pintu pagar rumah.
Ketika Dino dan Arni akan kembali ke rumah, mata mereka sempat memandang ke arah jendela di loteng rumah sebelah. Tirainya kelihatan sedikit tersingkap. Dino dan Arni melemparkan senyum. Mereka berharap, Mbak Mita mau menerima uluran persahabatan mereka yang tulus.

Ary dan Arie

Bel tanda istirahat baru berbunyi, beberapa menit lalu. Tetapi, keributan di kelas enam sudah mulai. Pertengkaran mulut antara Ary dan Arie. Seperti biasa, masalah nama mereka. Meski ditulis berbeda, tetapi dibaca sama, yakni Ari.
"Pokoknya, kamu harus mengganti nama panggilanmu!" seru Ary lantang.
"Kenapa aku yang harus mengganti? Kenapa bukan kamu?" balik Arie.
"Karena aku lebih dulu sekolah di sini. Sedangkan kamu anak baru! Lagi pula, panggilan itu cuma pantas buat anak laki-laki," sambung Ary.
Arie berkacak pinggang. "Peraturan mana itu?" tantang Arie.
"Peraturannya belum kubuat. Tetapi, buktinya banyak. Lihat saja, bintang sinetron Ari Wibowo atau Ari Sihasale itu, semuanya cowok. Pokoknya, mulai besok kamu harus mengganti nama panggilanmu!" ancam Ary.
"Enak saja! Kamu saja! Nama panjangmu itu Aryanto Sadewa. Ganti saja menjadi Yanto, Sade, atau Dewa. Kalau namaku memang Arie Manisha. Jadi, panggilanku memang Arie," Arie bersikeras.
Anak-anak kelas enam yang melihat hanya menggelengkan kepala. Sudah dua hari ini, kelas mereka selalu ramai saat istirahat, sejak kehadiran anak baru bernama Arie. Masalahnya hanya sebuah nama. Tetapi, keduanya sama-sama keras kepala.
Di luar kelas, anak-anak mulai mengadu kepada Oben, sang ketua kelas.
"Tidak baik membiarkan mereka terus bertengkar, Ben," desak Rani.
"Aku juga tidak suka melihat mereka bertengkar. Hanya kupikir, mereka bisa menyelesaikan masalah sendiri," sahut Oben.
"Tetapi, kalau sudah begini ... apa kamu mau diam terus?" desak Puput.
"Aku sudah punya rencana. Mulai besok pagi, kita jalankan rencana ini," kata Oben. Ia segera memaparkan rencananya.
Ketika sekolah bubar, seisi kelas enam sudah memahami rencana itu. Tentu saja, selain Ary dan Arie.
Keesokan paginya, Ary seperti biasa berangkat dengan sepedanya. Dalam perjalanan, ia menjemput Dika dan Asep.
"Kalian sudah bikin pe-er matematika?" tanya Ary sambil mengayuh sepeda.
"Sudah. Kamu, Wa?" balik Dika.
"Dewa, biasanya kamu suka lupa. Hati-hati, nanti kena hukuman lagi," susul Asep.
"Dewa ...? Kalian memanggilku Dewa? Heh, pasti kalian sudah kena suap anak baru itu, agar memanggilku Dewa!"
"Maksudmu, Nisha menyogok kami? Tidak sama sekali!" kilah Asep.
"Nisha? Jadi, kalian juga mengganti nama panggilan anak baru itu? Hahaha … ini pasti ulah Oben!"
"Ya, kami sekelas terpaksa sepakat mengganti nama panggilan kalian. Habis, tak ada yang mau mengalah, sih," jelas Dika.
"Hmmm, tetapi tak semudah itu. Aku tidak akan menyahut dengan nama panggilan itu," Ary bersikeras.
"Ayolah ... apa jeleknya sih, nama panggilan Dewa. Malah, kelihatan lebih gagah untukmu," bujuk Dika.
"Hm, kedengarannya tidak enak saja .…" Ary mengayuh sepedanya lebih cepat. Ia meninggalkan kedua temannya itu.
Tiba di kelas, teman yang lain, ternyata memanggilnya dengan nama Dewa.
Kejanggalan pun dirasakan oleh Arie. Ia kaget ketika teman-temannya mulai memanggilnya Nisha. Arie tidak berani protes karena semua teman sekelasnya memanggilnya begitu.
Oben sedikit lega ketika tahu rencananya berjalan mulus. Tetapi benarkah?
Ternyata, tidak! Tiba-tiba, pada saat istirahat, seisi kelas enam terkejut melihat Arie menangis sesegukan di bangkunya.
"Kenapa kamu menangis, Nisha?" tanya Rani yang sebangku dengannya.
"Aku sedih ... karena ... kalian memanggilku ... Nisha ...."
"Oh ... itu kami lakukan karena kau dan Ary selalu bertengkar," jelas Rani.
"Tetapi, aku sedih jika dipanggil Nisha. Nama panggilan itu membuat aku teringat kepada nenekku. Dahulu, sebelum pindah ke sini, aku tinggal di Kota Lembang bersama nenekku. Ia selalu memanggilku Nisha. Tetapi, belum lama ini, nenekku meninggal. Aku merasa kehilangan dan harus pindah ke sini dengan orangtuaku. Kini, setiap orang memanggilku dengan nama Nisha ... aku jadi sedih," papar Arie.
Puput dan Rani melirik ke arah Oben.
"Kalau kamu tidak mau dipanggil dengan nama Nisha, kamu boleh memilih sendiri nama panggilan barumu," usul Oben kemudian.
"Sungguh? Kalian akan memanggilku dengan nama yang kusuka?"
"Ya," semua menyahut.
"Cantik. Aku suka nama itu. Kalian mau memanggilku Cantik, kan?"
Tidak ada yang menyahut. Mereka menelan ludah.
"Tentu saja," sahut Oben buru-buru. Ia menahan rasa gelinya di hati. "Mulai sekarang kami akan memanggilmu Cantik."
Arie kelihatan senang mendengarnya.
"Tunggu dulu! Aku protes!" Tiba-tiba terdengar suara Ary. "Kalau dia boleh memilih sendiri nama panggilannya, mengapa aku tidak?"
"Memangnya kamu mau dipanggil apa?" tanya Oben langsung.
"Raul. Raul Gonzales Blancho!" Ary menyebut pemain sepak bola favoritnya.
"Huuu …!!! Raul itu putih, hidungnya mancung, dan ganteng .… Sedangkan kamu ..." Puput menyela.
"Sudah-sudah, biar saja. Barangkali setelah dipanggil Raul, ia berubah jadi putih, mancung, dan ganteng ..." Oben berusaha menenangkan. "Ada lagi yang mau protes?"
Tak ada yang berani memprotes lagi. Tak ada lagi keributan tentang nama panggilan di waktu istirahat. Sejak itu, Ary dan Arie dipanggil dengan nama Cantik dan Raul. Hanya guru-guru yang tetap memanggil mereka, Ary dan Arie.

WAJAH DI BALIK JENDELA

Odi tengah menyelesaikan tugas menggambarnya ketika merasa ada yang tak beres di kamarnya. Ia segera meletakkan pensil gambarnya dan mengamati keadaan kamar. Semua seperti biasanya. Tetapi, ketika Odi melihat ke jendela kamar, ia baru sadar, kaca nako belum tertutup sempurna. Angin yang bertiup masuk itulah yang membuat perasaannya tak tenteram.
Sambil merapatkan kaca nako, Odi mengamati keadaan di luar. Ia merasa heran melihat daun palem yang tumbuh belum seberapa tinggi itu bergoyang.
"Tidak mungkin digoyang angin. Ah, pasti ada kucing yang lewat tadi," pikir Odi menenteramkan hati.
Odi kembali ke meja belajar, meneruskan pekerjaannya yang belum tuntas. Tetapi beberapa menit kemudian, ia merasa ingin menoleh sekali lagi ke jendela kamar.
Odi terpekik kaget. Secara spontan, ia langsung menghamburkan langkahnya keluar kamar menuju kamar Bang Agus di sebelah kamarnya.
"Ada apa dengan kamu, Di?" tanya Bang Agus ketika melihat Odi yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dengan wajah pucat pasi.
"Ada hantu ... ah, atau mungkin .…" Odi gugup.
"Di mana?"
"Di balik jendela kamar. Aku baru saja melihatnya," jawab Odi.
Bang Agus langsung menuju kamar Odi, diikuti Odi di belakang. Ia segera menuju jendela dan mengamati keadaan di luar. Sepi dan tidak ada benda apa pun yang aneh.
"Sebenarnya, apa yang kamu lihat tadi, Di?" tanya Bang Agus sekali lagi.
"Ada muka yang menempel di kaca jendela ini. Tetapi, aku tidak begitu jelas melihatnya. Sepertinya, ia memakai mantel bertopi yang ia tutupkan ke kepalanya," Odi mencoba mengingat apa yang dilihatnya.
Bang Agus mendengus. "Buktinya di luar tidak ada apa-apa. Sudahlah, kamu pasti lagi ngelamun yang tidak-tidak barusan," ujar Bang Agus.
Odi ingin protes. Tetapi, dipikir-pikir percuma saja. Bang Agus pasti akan tetap mengiranya mengada-ada.
"Tirai jendelanya ditutup saja. Terus, pintu kamarnya dibuka saja. Nanti, kalau kamu lihat yang aneh-aneh lagi, teriak saja," kata Bang Agus sambil meninggalkan Odi sendirian.
Odi menurut apa yang dipesan kakaknya. Kemudian, ia berusaha melupakan kejadian yang baru dialaminya dan meneruskan pekerjaannya.
Setelah tugas sekolahnya selesai, seperti biasa, Odi merapikan kamarnya dahulu. Beberapa mainan yang tergeletak di lantai, dikembalikan ke tempatnya. Dua hari yang lalu, Odi baru saja merayakan pesta ulang tahunnya. Banyak hadiah mainan, buku, dan benda pajangan diterimanya, yang kini memenuhi kamarnya.
Ketika kantuk mulai menyerang, Odi langsung merebahkan diri di tempat tidurnya. Matanya tak mau sedikit pun melirik ke jendela kamar. Ia ingin segera menceritakan semuanya kepada Ibek, temannya yang senang memecahkan kejadian-kejadian aneh.
Esok harinya, ketika bertemu Ibek di sekolah, Odi langsung menceritakan tentang wajah di balik jendela semalam.
"Jangan beri tahu teman-teman. Nanti, mereka mengira aku pengkhayal dan penakut," kata Odi setelah mengakhiri ceritanya.
Ibek mengangguk. Ia berpikir sebentar. "Kupikir hantu itu akan nongol lagi di jendelamu nanti malam," katanya kemudian.
"Jangan menakut-nakuti aku."
"Kecuali, kita tahu apa yang diinginkannya dari dalam kamarmu," sambung Ibek.
"Mungkin, kado-kado itu? Sebelum ulang tahunku tidak pernah ada yang menggangguku begini."
"Mungkin saja. Tolong catatkan aku nama-nama orang yang kamu undang, selain teman sekelas kita," pinta Ibek. Bersamaan dengan itu, bel tanda masuk berbunyi.
Saat istirahat tiba, Ibek mulai beraksi, menanyakan teman-teman sekelas seputar kado yang diberikan mereka pada ulang tahun Odi. Tetapi, jawabannya tidak memberikan hal yang berarti bagi Ibek.
Sepulang sekolah, Ibek sengaja mendatangi teman-teman Odi lainnya yang diundang ke pesta ulang tahun. Hasilnya juga, ternyata tak banyak membantu. Kebanyakan dari mereka menjawab sama. Hadiah yang diberikan kepada Odi, mereka beli di toko ataupun supermarket. Tidak ada keanehan dari kado-kado mereka. Tidak ada cara, selain menjebak hantu itu, pikir Ibek.
Malamnya, Ibek sengaja belajar bersama di rumah Odi. Sesekali mereka memandang ke jendela. Tetapi yang mereka harapkan tidak muncul juga.
"Rupanya hantu itu takut terhadapku," bisik Ibek. Tak berapa lama kemudian, ia pamit pulang meninggalkan rumah Odi.
Sepeninggalan Ibek, Odi kembali gelisah. Apalagi, Ibek berpesan agar tirai jendela kamarnya dibiarkan terbuka. Sementara, Odi pura-pura mencari kesibukan di meja belajarnya. Akhirnya, ia tidak bisa menahan keinginan untuk menoleh ke jendela kamar.
Wajah itu lagi! Odi langsung berteriak.
Ia lari keluar kamar menuju kamar Bang Agus. Buru-buru, diseretnya Bang Agus keluar rumah. Di halaman rumah, tepat di depan kamar Odi, terlihat Ibek tengah bergumul seru mencekal seorang anak sebayanya yang terus meronta.
"Hentikan. Dia itu Husen. Aku mengenalnya," seru Bang Agus kemudian.
Ibek melepaskan cekalannya. Husen langsung berlari menghampiri Bang Agus. Ibek dan Odi sama-sama ternganga ketika melihat Husen sibuk menggerak-gerakkan tangannya dan anggota tubuh lainnya di depan Bang Agus. Anak itu rupanya tak dapat bicara.
"Beberapa hari yang lalu, aku membeli patung kayu yang dijual Husen di pasar untuk kado ulang tahun Odi. Rupanya, Husen ingin meminjam sebentar patung kayu itu, tetapi sulit menemui aku. Makanya, dua malam ini, ia terus melihat kamarmu untuk memastikan patung kayu itu masih ada. Sekarang, coba kamu ambilkan patung itu," pinta Bang Agus.
Odi berlari ke kamar dan kembali dengan patung kayu berbentuk kuda di tangannya. Begitu Husen diserahi patung itu, ia buru-buru merogoh bagian dasar patung. Ada rongga kecil di sana. Dan, dari dalamnya ia mengambil sebentuk cincin.
"Itu cincin peninggalan ibunya," jelas Bang Agus setelah Husen mengembalikan patung kuda kepada Odi. Bang Agus segera meminta mereka saling bersalaman, berkenalan, dan saling memaafkan. Tak lama kemudian, Husen langsung pulang, disusul Ibek yang bajunya sedikit terkoyak.
Malam itu, Odi tidur nyenyak tanpa dibayangi ketakutan. Besok, ia ingin Bang Agus mengajarkannya bahasa isyarat agar ia juga dapat bicara dengan teman barunya itu.

KASUS NAMA

Ina sedang menyiram bunga di pekarangan samping rumah. Matanya terus mengamati bunga-bunga yang bermekaran. Ia terkejut ketika namanya dipanggil-panggil dari seberang pagar yang membatasi pekarangan rumah sebelah.
"Ina ... Ina ke sini!" suara itu terdengar lagi. Jelas itu suara anak lelaki. Tetapi, Ina tidak mengenali suara itu. Ia tahu ada tetangga yang baru pindah ke rumah itu dua hari lalu.
Ina naik ke atas batu yang menempel di bawah pagar. Kepalanya menyembul melihat ke pekarangan tetangganya. Seorang anak laki-laki sebayanya tengah asyik bercanda dengan seekor anak anjing.
"Ayo Ina, lompat!" anak laki-laki itu menyeru lagi.
Muka Ina langsung pucat. Ia baru sadar kalau nama yang disebut-sebut anak itu bukan ditujukan kepadanya, melainkan kepada anak anjing berbulu putih hitam itu.
"Hey!" panggil Ina agak keras. Anak lelaki itu langsung menatap ke arah Ina. Ia sudah mengetahui keberadaan Ina sejak tadi. "Aku sarankan padamu, sebaiknya nama anjing itu kamu ganti."
Anak lelaki itu mengerutkan dahinya. "Mengapa harus kuganti? Nama itu kan, kedengarannya lucu," sahutnya.
"Tetapi kan, kamu tidak tahu kalau nama itu sama dengan namaku. Bagaimana kalau sampai teman-temanku mengetahuinya?"
"Itu urusanmu."
Muka Ina berlipat kesal. Rupanya anak ini harus dibujuk, pikirnya. "Hey, memangnya kenapa sih, kamu keberatan mengganti nama anjing itu? Kan, lebih bagus kalau kamu ganti dengan Snowi, Tintin, atau Skipi," suara Ina agak merayu.
"Tidak bisa. Anjing ini kenang-kenangan dari sahabatku sebelum pindah ke sini. Ia yang memberi nama itu. Kalau ia sampai tahu, aku mengganti nama yang ia berikan, nanti aku dianggap tidak bisa menghargai kenang-kenangan darinya," jelas anak laki-laki itu.
Mulut Ina terkatup rapat. Kasusnya jadi semakin buntu.
"Bobi ... Bobi! Sudah sore kamu belum mandi juga. Nanti Mama pulang baru tahu rasa!" suara teriakan terdengar bersamaan dengan keluarnya anak perempuan yang umurnya dua tahun di atas Ina.
Anak lelaki bernama Bobi itu bergegas meninggalkan pekarangan sambil berteriak, "Ina, ayo kita mandi dulu!"
Ina cuma bisa mendengus kesal. Kekesalannya terus berlanjut ketika ia di sekolah esok paginya. Tentu hal ini mengundang tanya teman-temannya. Selama ini, Ina dikenal paling ceria.
"Kamu tidak dikasih uang jajan sama mamamu, ya?" tanya Idong di waktu istirahat. Tetapi, Ina cuma menggeleng.
"Terus kenapa?" tanya Wini.
"Aku mau cerita, tetapi kalian harus janji tidak menertawakannya," Ina memberikan syarat.
Idong, Wini, dan Herman mengangguk. Setelah menarik napas sebentar, Ina menceritakan semua yang dialaminya kemarin sore. Dan secara bersamaan, semua terbahak-bahak setelah Ina menghabiskan ceritanya.
"Kalian kok malah ketawa, bukannya membantu aku menyelesaikan masalah ini," protes Ina.
Serentak Idong dan Wini terdiam, lalu mata mereka menatap ke arah Herman. Ia memang dikenal banyak akal. Dari masalah pertengkaran sampai pencurian di kelas pernah diselesaikannya.
"Aku ada akal untuk menyelesaikan kasus ini. Ina, kamu tahu nama tetangga barumu itu?"
"Bobi. Aku mendengar kakaknya menyebut namanya demikian kemarin."
"Bagus. Lantas, di antara kalian ada yang punya hewan peliharaan di rumah?"
"Aku punya kucing," jawab Idong.
"Aku punya kelinci," timpal Wini.
"Ah, itu kurang seru. Begini saja. Pamanku punya seekor monyet. Kamu tidak takut dengan monyet kan, Ina?"
"Monyet? Untuk apa?"
"Kalau tidak takut, kita lihat saja hasilnya nanti sore."
Sekitar pukul empat sore, Bobi tengah duduk di pekarangan rumahnya sambil memperhatikan anjing kecil di dekatnya. Ia merasa bosan tinggal di rumah. Kalau saja ia pindah ke sekolah seperti anak-anak di kompleks ini, tentu ia mudah mendapatkan teman.
"Bobi! Ayo, makan pisangnya!"
Suara itu terdengar jelas di telinga Bobi. Datangnya dari seberang pagar rumah. Ia beranjak melihat ke seberang pagar, penasaran. Dilihatnya, Ina tengah memberi sebuah pisang ke arah monyet kecil. Mata Bobi langsung membesar seketika.
"Hey, rupanya kamu dendam sama aku. Kamu pasti sengaja memberi nama monyet itu seperti namaku."
Ina memandang ke arah Bobi. "Bagaimana aku tahu kalau nama monyet ini sama dengan namamu? Sebagai orang baru di sini, kamu kan, tidak pernah memperkenalkan diri."
Bobi merasa diserang.
"Lagian, kalau monyet ini tidak dipanggil Bobi, tidak pernah mau makan. Kasihan kan, kalau dia sampai kurus kering karena namanya kuganti."
Bobi menyerah kalah. "Baiklah, tolong ganti nama monyet itu. Kalau kamu mengusahakannya sedikit-dikit, pasti monyet itu mau mengerti. Dan aku janji mengganti nama anjingku."
"Lho, nanti sahabat lamamu itu marah."
"Ah, sebenarnya aku kemarin mengada-ada saja. Anjing itu pemberian pamanku. Nama sebenarnya Skuli. Aku cuma iseng saja mencari cara agar bisa berkenalan dengan kamu. Kebetulan, aku sering mendengar namamu disebut-sebut. Tetapi untuk berkenalan langsung denganmu, aku tidak berani."
Ina manggut-manggut. Ia dapat memahami apa yang diucapkan Bobi. "Kalau begitu, melompatlah kemari. Kebetulan, teman-temanku juga ada di sini. Nah, itu Idong, Wini, dan Herman," ucap Ina ketika teman-temannya muncul dari persembunyian di balik tembok.
Bobi terkejut, tidak menduga ada orang lain di antara mereka berdua. Dalam beberapa menit saja, Bobi sudah bermain akrab dengan mereka. Pertengkarannya dengan Ina tidak pernah diingatnya lagi.


PAPARAZZI KAMPUNG

Mita mendapat kiriman dari Paman Eko di Jepang. Sebuah kamera saku otomatis lengkap dengan telenya. Warnanya seperti pelangi dan bisa dilipat. Bukan alang-kepalang, girangnya Mita mendapat kamera itu.
"Akhirnya, cita-cita Mita menjadi paparazzi akan segera terwujud," gumam Mita sambil mengelilingi ruang tamu.
"Kalau anak perempuan namanya bukan paparazzi, Kak Mita, tetapi mamarazzi," sela Ugi yang mendapat kiriman sepatu kelinci.
"Hush, ya, tidak bisa. Paparazzi, ya paparazzi. Tidak ada mamarazzi, anakrazzi, kakekrazzi, nenekrazzi .…" timpal Mita.
"Memangnya papalaci itu apaan?" tanya si bungsu Tio.
“Paparazi itu, wartawan foto yang suka mencari berita sensasi. Bukan papalaci!”
"Iya, papalaci. Tio kan, masih cadel."
Mita makin merasa beruntung ketika Mama memberinya satu rol film untuk dimasukkan ke dalam kamera. "Ingat, kameranya harus terbuka lensanya," pesan Mama.
"Ini kan, kamera otomatis. Kalau lensanya tertutup, tidak akan bisa dipencet tombolnya," jelas Mita. Ia sudah tidak sabar lagi ke luar rumah. Sambil menenteng kamera barunya, Mita berkeliling di Kampung Cemara.
Wini yang sedang keselek makan bakso langsung difotonya. Klik! Dodi yang sedang kesakitan kena lempar bola kasti. Klik! Toto yang sedang diseret ibunya untuk mandi sore. Klik! Andi yang terbirit-birit dikejar anak anjing. Klik! Lupita dengan sepeda roda tiga adiknya. Klik! Klak! Kluk! Klok! Tidak terasa, Mita seharian telah menghabiskan satu gulungan film.
Akhirnya, Mita terpaksa membuka celengannya untuk mencuci dan mencetak film. Tak apa-apa, nanti aku kan mendapat gantinya, pikir Mita yang sudah punya rencana. Selain itu, ia memang sudah tidak sabar melihat hasil foto buruannya.
Di rumah, Ugi dan Tio tidak hentinya tertawa melihat foto-foto yang dipamerkan Mita. Semuanya begitu lucu.
"Lantas, mau dikemanakan foto-foto ini?" tanya Ugi.
"Tunggu saja besok. Aku akan menjadi kaya karena foto-foto itu," pikiran Mita melayang jauh.
Besok siang, selepas sekolah Mita langsung mendatangi teman-teman yang difotonya satu per satu. Hampir semuanya langsung pucat dan malu melihat hasil foto Mita.
"Jangan takut, aku tidak akan menunjukkan foto ini kepada orang lain. Pokoknya, aku tunggu sore nanti di rumah untuk menebus foto ini," kata Mita kemudian.
"Wah, ini namanya pemerasan," kata Dodi.
"Ih, memangnya baju diperas segala," timpal Mita tidak memedulikan.
Keruan saja, teman-teman Mita jadi saling mengunjungi. Kemudian, mereka berkumpul untuk memecahkan persoalan mereka. Yang jelas, mereka tidak ingin Mita mendapat untung, sedanngkan mereka mengalami kerugian yang memalukan.
"Kita biarkan saja foto-foto itu. Jangan ada yang menebusnya. Nanti dia akan mengulanginya lagi," usul Toto.
"Tetapi, bagaimana kalau fotoku tersebar kepada anak-anak yang lain?" keluh Wini yang menyadari betapa jelek wajahnya di foto itu.
"Ya, kita ingatkan teman-teman yang lain agar tidak melihat foto-foto kita. Diberi tahu saja bahwa mereka juga nanti akan mendapat giliran," sahut Andi.
Akhirnya, semua bersepakat untuk tidak menebus foto mereka ke rumah Mita. Sementara, Mita terbengong-bengong di rumah menunggu kedatangan teman-temannya. Rupanya cita-cita Mita jadi paparazzi tidak terkabulkan.
Kling … klong! Bel rumah berbunyi. Mita dengan penuh harap memburu pintu depan. Ia mengintip dari jendela. Mukanya mendadak pucat ketika mengetahui yang datang, ternyata dua orang lelaki berseragam polisi. Mita membatalkan niatnya membuka pintu.
"Ma, ada tamu di luar," teriak Mita di depan kamar Mama. Ia sendiri kemudian masuk ke dalam kamar. Mengapa ada polisi datang ke sini? Mita membatin. Jangan-jangan, teman-temannya melaporkan kegiatannya ke polisi? Ah, masa sih, sampai sejauh itu.
"Mita ... Mita," seru Mama terdengar dari luar kamar.
Mita bukan keluar kamar, malah masuk ke kolong tempat tidur. Tubuhnya seperti kian menciut ketika Mama masuk ke dalam kamar.
"Mita di mana kamu? Itu ada Pak Polisi mencari kamu. Aduh, sedang apa kamu di kolong ranjang, Mita? Nanti ada kecoak, lho!" ujar Mama yang menemukan Mita saat berjongkok.
Mendengar Mama menyebut kecoak, Mita langsung keluar dari kolong ranjang.
"Mau apa Pak Polisi mencari Mita, Ma?" tanya Mita kemudian.
"Kamu pasti belum mendengar berita pencurian di rumah Pak Broto kemarin. Nah, Pak Polisi itu sedang menyelidiki pelakunya. Tadi, Pak Polisi sudah wawancara beberapa orang. Ternyata, Andi memang melihat ada mobil berhenti di depan rumah Pak Broto. Tetapi, karena ia sedang dikejar anjing, Andi tidak begitu mengingat persis mobilnya. Lantas, Andi menyebutkan bahwa kamu juga ada di sana saat itu. Malah, sempat memotret di sana," tutur Mama.
"Mobil di depan rumah Pak Broto? Tunggu sebentar … kalau tidak salah, mobil itu terfoto kemarin." Mita segera memeriksa hasil fotonya kemarin di atas meja. Diambilnya foto saat Andi dikejar anjing. Di bagian pinggir foto itu, jelas terlihat sebuah mobil berwarna cokelat dari belakang terparkir di depan rumah Pak Broto. Nomor plat mobilnya meski kecil masih dapat dilihat. "Ini fotonya, Ma. Biar Mita yang berikan kepada Pak Polisi."
Mita mengikuti Mama ke ruang tamu. Kali ini, ia tidak cemas lagi. Malah, Mita memberanikan diri bercerita panjang lebar mengenai foto hasil bidikannya itu.
"Boleh kami minta foto ini untuk bahan penyelidikan?" pinta Pak Polisi kemudian.
"Wah, sebenarnya foto ini mau saya jual, Pak," kata Mita.
"Mita, masa untuk kebaikan mau kamu jual juga. Biar nanti Mama yang ganti," sela Mama.
Mita tersenyum. "Tidak usah, Ma. Pak Broto kan, orangnya sering menolong. Mita dengan senang hati juga mau menolong," timpal Mita kemudian.
Kedua Pak Polisi itu segera pamit. Mita kembali ke kamarnya dengan hati riang. Biarlah, teman-temannya tidak perlu menebus foto-foto mereka, Mita berniat memberikannya secara cuma-cuma. Namanya juga paparazzi kampung. Yang jelas, ia merasa bangga bisa membantu Pak Polisi menangkap pencuri di rumah Pak Broto.

Hantu Pohon Jamblang

“Kamu sudah dengar kabar hantu pohon jamblang, Raf?” tanya Dodo dalam perjalanan pulang sekolah.
Rafli menggeleng. ”Bagaimana ceritanya?” ia balik bertanya, tertarik juga mengetahui kabar aneh itu.
”Aku sendiri dengar dari orang-orang. Katanya, ada hantu di pohon jamblang sebelum warung Mang Adun,” papar Dodo bersemangat.
”Memangnya ada yang pernah melihat hantu itu?”
”Kang Mamat yang melihat. Malam itu, dia pengen beli obat nyamuk. Tahu-tahu, ada suara aneh dari pohon jamblang itu. Pas dilihat, ada bayangan menyeramkan. Sebelum dilihat lebih menyeramkan lagi, Kang Mamat langsung kabur. Ia tak jadi beli obat nyamuk ke warung Mang Adun, malah ke warung Mang Obi,” tutur Dodo.
”Dan, Kang Mamat langsung bercerita kepada orang-orang yang ada di warung Mang Obi?”
”Begitulah,” sahut Dodo.
Rafli manggut-manggut. Siang yang panas membuat langkahnya tergesa-gesa. Kali ini, Rafli tak langsung pulang, tetapi jalan lurus melihat pohon jamblang tua yang dibicarakan Dodo. Dengan saksama, Rafli memperhatikan pohon tua yang sering dipetiki buahnya bersama teman-temannya.
Bisa jadi yang dilihat Kang Maman bukan hantu. Dia pasti salah lihat, pikir Rafli. Untuk memastikannya, Rafli memutuskan untuk kembali melihatnya di malam hari.
Meski ada perasaan takut, Rafli keluar rumah setelah shalat Isya. Kebetulan, ia punya kepentingan membeli bolpoin ke warung Mang Adun. Dengan berbekal lampu senter besar, Rafli menuju pohon jamblang itu. Lampu senter pun dinyalakannya begitu sampai. Keberaniannya timbul begitu saja. Ia menyenter setiap dahan yang melintang.
Tetapi tak ada hal yang aneh!
Rafli bernapas lega. Ia lantas menuju warung Mang Adun. Biasanya meski malam hari, warung itu masih ramai. Selain barang yang dijualnya komplet, Mang Adun juga menyediakan bangku panjang untuk duduk-duduk pelanggannya. Di warungnya, orang juga bisa memesan kopi atau mie instan rebus.
”Mau tutup, Mang?” tanya Rafli setelah membeli bolpoin yang diperlukannya.
”Iya. Habis sepi. Sekarang, kalau malam yang beli cuma dari timur. Yang di barat pada takut ke sini gara-gara cerita hantu pohon jamblang. Padahal, di timur cuma ada lima rumah,” jawab Mang Adun lesu.
”Tetapi, saya nggak percaya. Buktinya, saya masih belanja ke sini. Memangnya, Mang Adun juga pernah lihat hantu di pohon itu?”
”Seumur hidup, Mamang belum pernah lihat hantu.”
Rafli mengangguk. Rasa penasarannya terhadap cerita hantu itu masih menggodanya. Jadi, yang pernah melihat hanya Kang Mamat, pikirnya.
Rafli segera ke rumah Kang Mamat di ujung jalan sebelah barat. Umur Kang Mamat mungkin terpaut lima tahun di atas Rafli. Setelah tamat SMP, ia bekerja di pabrik permen milik Pak Mumu. Saat ini, entah sudah pulang atau belum Kang Mamat.
Rafli mengetuk pintu rumah Kang Mamat. Bu Ningsih muncul dengan wajah terkejut ketika melihat tamunya. ”Disuruh Bapak ke sini, Raf?” tanya Bu Ningsih, ibu Kang Mamat.
”Ah, bukan. Saya mau ketemu Kang Mamat. Ada perlu sebentar.”
”Belum pulang. Mungkin sebentar lagi. Ditunggu saja di dalam kalau memang perlu,” ajak Bu Ningsih.
Rafli mengikuti Bu Ningsih masuk dan duduk di salah satu kursi di ruang tamu. Mata Rafli langsung melihat dua karung beras dan terigu di sudut ruangan. ”Baru belanja banyak ya, Bu?” tanya Rafli melanjutkan percakapan.
”Ah, bukan. Itu kiriman dari Mang Obi untuk Mamat. Katanya sih, hadiah. Tidak tahu hadiah apaan,” jawab Bu Ningsih polos.
Rafli mengerutkan keningnya. Mang Obi memberi hadiah untuk Kang Mamat? Wah, ini berita hebat! Semua orang tahu betapa kikirnya Mang Obi. Belanja di warungnya tidak boleh ditawar. Malah, kurang lima puluh rupiah saja pasti disuruh pulang. Sebaliknya, kembalian seratus rupiah akan digantinya dengan permen. Itu sebabnya warung Mang Obi selalu sepi. Orang-orang baru belanja di warung Mang Obi kalau barang yang akan dibelinya tidak ada di warung Mang Adun.
Lantas .… Tiba-tiba, Mang Obi berbaik hati memberi hadiah untuk Kang Maman?
Pikiran Rafli buyar ketika Kang Mamat mengucapkan salam sambil masuk ke rumah. Ia agak kaget melihat kedatangan Rafli, juga dua karung di sudut ruangan. Bu Ningsih segera menceritakan perihal karung itu kepada anaknya.
”Saya disuruh Ayah memanggil Kang Mamat. Katanya, Kang Mamat diminta menceritakan soal hantu di pohon jamblang itu kepada Ayah,” ujar Rafli berdusta. Hehehe … boleh, kan? Ini demi kebaikan, kok!
Kang Mamat tampak pucat. Ia terdiam lemas beberapa saat. Lalu, ”Sebenarnya, cerita hantu pohon jamblang itu bohong,” katanya gugup.
Rafli tidak terkejut. Ia sudah menduganya.
”Saya akan ceritakan semuanya. Tetapi tolong, jangan sampaikan kepada Pak Lurah,” pinta Kang Mamat sambil membayangkan wajah angker ayah Rafli yang menjabat Lurah. ”Semua ini rencana Mang Obi. Ia minta saya menyebarkan kabar soal hantu pohon jamblang itu, biar orang-orang tidak belanja lagi di warung Mang Adun. Terutama kalau sudah malam. Saya tergoda karena dijanjikan akan diberi apa yang saya mau. Tetapi, justru setelah itu, hati saya tidak tenang. Apalagi kalau ingat kebaikan Mang Adun. Beberapa kali saya dibolehkan ngutang kalau tidak punya uang,” papar Kang Mamat.
Rafli manggut-manggut. ”Saya tidak bisa banyak membantu. Tetapi sebaiknya, hadiah dari Mang Obi ini dikembalikan saja. Besok saya akan usul kepada Ayah agar menebang pohon jamblang itu. Soalnya, pohon itu memang sudah tua dan rapuh, bisa membahayakan orang yang lewat kalau tiba-tiba roboh. Jika pohon itu ditebang, cerita hantu pun akan hilang dengan sendirinya. Orang tidak takut lagi belanja ke warung Mang Adun,” kata Rafli.
”Begitu, ya?”
”Meski begitu, Kang Rahmat harus minta maaf sama Mang Adun. Dan urusan ini harus diselesaikan oleh Kang Mamat sendiri. Kasihan Mang Adun, warungnya jadi sepi gara-gara cerita tak benar Kang mamat,” tambah Rafli.
”Saya sungguh menyesal,” kata Kang Mamat lirih. Ya, itulah kalau tak pernah memikirkan akibatnya jika berbuat jahat pada orang lain.

Topi yang Hilang

Liburan ini, Herdi liburan  ke kampung halaman Ilham, teman sebangkunya. Namun, keduanya agak kesal jika memikirkan Fikri, adik Ilham. Habis, setiap Herdi dan Ilham pergi, Fikri pasti minta diajak.
”Besok, aku ingin mengajakmu berenang di sungai. Tetapi, Fikri pasti pengen ikut,” keluh Ilham di malam kedua Herdi menginap.
”Ajak saja,” saran Herdi.
”Wah, pasti repot. Dia nggak bisa berenang. Nanti kita harus terus mengawasinya. Tetapi kalau kita larang, pasti ngadu sama Ayah. Bisa-bisa kita berdua kena marah.” Ilham dia sejenak. ”Ah, kita pergi siang saja saat dia tidur.”
”Ya, itu ide bagus!” sahut Herdi.
Esok harinya, ketika Fikri tidur siang, mereka berangkat ke sungai. Matahari bersinar terik, Herdi memakai topi merah kesayangannya. Begitu tiba di sungai, mereka langsung membuka pakaian dan menceburkan diri ke sungai.
Sesekali, mereka ke tepi untuk salto. Atau, naik ke atas pohon jambu klutuk yang banyak tumbuh di pinggir sungai. Ilham memetik buah jambu yang ranum dan melempar ke Herdi di sungai. Sementara, beberapa buah jambu yang masih mentah dilemparnya ke arah sekumpulan kambing yang sedang merumput tanpa ditemani pemiliknya.
Setelah puas berenang, mereka kembali mengenakan pakaian. ”Ham, kamu lihat topiku, nggak?” tanya Herdi setelah berpakaian.
”Memangnya kamu simpan di mana tadi?” tanya Ilham.
”Tadi, aku menggantungnya di ranting semak ini.”
”Mungkin, tertiup angin dan jatuh di sekitar sini. Ayo, kita cari!”
Setelah lama mencari, topi itu tak berhasil mereka temukan. Mereka bingung karena tak tampak seorang pun di sekitar mereka. Karena hari sudah terlalu sore, Herdi membiarkan topi merahnya hilang. Mereka memutuskan segera pulang.
Di depan pintu pagar, Herdi dan Ilham serempak menghentikan langkah. Keduanya terkejut melihat Fikri sedang duduk di teras memakai topi Herdi.
”Dari mana saja kalian?” tanya Fikri sambil tersenyum.
Ilham dan Herdi jadi gugup.
”Bagaimana Fikri mendapatkan topiku?” bisik Herdi pelan.
”Mungkin, dia tadi mengikuti kita. Lalu, untuk menjebak kita, dia sengaja mengambil topimu diam-diam,” timpal Ilham.
”Sekarang, apa yang akan kita lakukan? Kalau dia mengadu pada ayahmu kita berenang di sungai, bisa-bisa kita kena marah,” Herdi cemas.
”Hanya ada satu jalan ke luar. Kita harus merayunya untuk diam. Berapa uang yang kamu punya?” tanya Ilham.
”Seribu rupiah.”
”Aku juga. Kurasa itu cukup untuk menutup mulutnya,” kata Ilham. Ia segera mendekati Fikri. ”Daripada bengong sendirian, kita makan mie ayam di Bi Jenab, yuk!”
Fikri sangat senang. Begitu tiba di warung Bi Jenab, dia langsung memesan mie ayam. Ia heran karena Herdi dan Ilham tidak memesan. Ah, mungkin mereka sudah makan tadi, pikirnya.
”Fik, kami sudah mentraktirmu. Sekarang, berjanjilah kamu tidak akan mengadu kepada Ayah tentang kepergian kami tadi,” ucap Ilham saat Fikri menyuapi mie ayamnya.
”Apa yang mau kuadukan kepada Ayah? Aku sendiri tidak tahu ke mana kalian pergi tadi. Memangnya kalian ke mana sih, barusan? Kok, aku tidak diajak?”
”Jangan pura-pura. Kalau tidak tahu, mengapa bisa pakai topi Herdi?” sergah Ilham.
”Oh ... ini. Tadi, begitu bangun tidur siang, aku langsung ke jalan mencari kalian. Tetapi di tengah jalan, aku malah bertemu gerombolan kambing. Salah satu kambing itu memakai topi Herdi, jadi kuambil saja,” jelas Fikri.
Ilham dan Herdi saling berpandangan. Keduanya ingat sekumpulan kambing di tepi sungai tadi. Rupanya topi itu jatuh ke salah satu tanduk kambing itu, kemudian ditemukan Fikri.
”Kalau begini, lain kali aku nggak mau pergi diam-diam lagi,” gumam Herdi. Ia jadi kehilangan uang sakunya, gara-gara khawatir adiknya membocorkan rahasia.
”Ya, dan kita tak perlu membuang uang hanya untuk menutupi kesalahan,” tambah Ilham cemberut.
Sementara itu, Fikri terus menghabiskan mie ayamnya. Dia tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan Herdi dan Ilham. Ah, yang penting kenyang!

^_^