Monday, November 12, 2012

[Cerpen] TENTANG ONIH




T E N T A N G    O N I H
Pemenang Lomba Cerpen Majalah Pria MATRA 1996


Pintu kamar sengaja kubuka pelan agar Mami tak terkejut dengan kedatanganku. Tetapi, mata Mami rupanya sudah terbuka sebelumnya dan ia langsung menatap ke arahku dengan penuh harap.
                “Apa yang dikatakan abangmu di telepon tadi? Onih sudah ketemu?” tanya Mami setelah kugenggam lembut tangannya. Ia ingin beranjak dari tempat tidur tetapi buru-buru kucegah.
                “Onih ada di Bogor. Abang sudah meneleponnya untuk segera pulang. Tetapi, katanya, Onih cuma mau pulang kalau saya yang jemput, Mam.”
                “Cepatlah kamu jemput dia.”
                “Sepuluh menit lagi, Abang mungkin sampai. Kami akan ke Bogor bersama-sama.”
                Mata Mami lama menerawang. “Nanti sampaikan padanya, Mami tidak akan marah lagi dengan apa pun keputusannya, asalkan ia tidak meninggalkan rumah ini. Mami dulu yang membawanya ke rumah ini, jadi Mami yang bertanggungjawab sepenuhnya terhadap Onih. Sama seperti terhadap kamu dan Andri,” gumamnya agak lama kemudian.
                Aku hanya mengangguk meski dalam hati aku merasa keberatan mengakuinya. Tanggung jawab yang Mami pikul terhadap Onih jauh lebih berat ketimbang terhadap aku dan Bang Andri.
                “Katakan juga kalau Mami tidak akan melarang pilihannya untuk menjadi b ….” Mami menggantung kalimatnya sendiri. Di luar terdengar suara mobil Bang Andri. “Pergilah segera!”
                Bergegas aku keluar kamar. Setelah memberi sedikit pesan kepada Bik Isah, aku langsung menyuruh Bang Andri menjalankan mesin Kijangnya. Jakarta-Bogor tak akan terlalu melelahkan. Yang mencemaskanku, kalau sampai di Bogor ternyata Onih tak mau pulang. Onih tetap memilih kabur dari rumah! Seperti alasannya saat aku dan Mami menemukannya di perempatan jalan dekat rumah ....

***
                “Kenapa kamu berdiri di sini dari tadi?” tanya Mami, yang matanya begitu awas menangkap kesusahan orang di sekitarnya.
                “Saya bingung, Tante,” anak lelaki itu menjawab tanpa ragu.
                “Bingung kenapa? Kamu kabur dari rumah, kan?  Di mana rumah kamu. Biar diantar pulang.”
                Anak lelaki itu mendekap tasnya erat-erat sambil menggeleng.
                “Di rumah, semua benci saya. Apalagi, sejak Ibu sama Bapak meninggal. Pakle dan bukle suka mukul saya.”
                “Mungkin kamunya bandel. Sudahlah, siapa nama kamu?”
                “Sahroni. Tapi, teman-teman memanggil Onih.”
                “Baiklah, sekarang kamu mau tetap di sini sampai ada orang jahat menemui kamu atau ikut sama Mami dan Mita?”
                “Asal tidak dibawa pulang, saya ikut sama Tante.”
                “Pilihan yang bagus. Mulai sekarang kamu harus panggil Mami, bukan tante. Dan ini saudara kamu, Mita.”
                Aku menyalami Onih. Dalam hati aku merasa senang karena aku akan punya teman sebaya di rumah, meski dia anak laki-laki. Sebelumnya, aku di rumah lebih sering ditemani oleh Bik Isah karena Mami sibuk dengan bisnis laundry dan florist-nya, sementara Bang Andri yang lebih tua tiga tahun dariku mulai sibuk pacaran.
                Onih dimasukkan ke SMP swasta oleh Mami, duduk di kelas satu sama seperti aku. Meski lain sekolah, kami bisa belajar bersama. Apalagi, Onih ternyata cerdas dan banyak membantu otakku yang sedikit kesulitan mencerna beberapa pelajaran, walaupun beberapa waktu kemudian akhirnya kami lebih banyak ngobrol ke sana-sini.
                Entah kapan mulainya, Mami melarangku terlalu akrab bermain dengan Onih. Mami sengaja memanggil guru privat yang berbeda untuk aku dan Onih. Tapi diam-diam, saat Mami sibuk, Onih sering menyelinap ke kamarku dan mengajakku melakukan kegiatan yang tak pernah kupikirkan.
                Hari tertentu kami ke dapur, mencoba membuat puding, kue, atau masakan apa saja yang Onih baca di majalah Mami. Meski kadang rasanya tidak karuan, Onih menyuruhku untuk menyisakan sebagian hasilnya untuk Mami.
                “Tapi, cukup bilang kamu yang membuatnya,” pesannya.
                Pada hari lain, Onih memotong rambutku yang terurai sampai ke pinggang hingga sedikit di bawah bahu. Ia kemudian menariknya ke atas dan memberinya pita berwarna perak.
                “Kamu cantik kalau dari dulu rambutmu dibeginikan. Aku paling benci kalau perempuan rambutnya panjang, apalagi kalau dibiarkan terurai. Kayak kuntilanak,” kata Onih.
                Ketika Mami menanyakan rambutku sambil marah-marah, aku mengatakan seperti yang dipesan Onih. “Tadi, ada anak iseng di kelas melempar lem aibon. Daripada diketawain, Mita langsung minta potong saja sama Bik Isah.”
                Dan di hari lainnya, Onih membantuku membalas surat cinta dari seorang kakak kelasku yang tidak pernah kusuka. Isinya kocak dan membuatku terpingkal-pingkal.
                Fido yang kembarannya Kingkong, maaf kalau saya menolak cinta kamu. Abis saya takut sih ngeliat kamu yang gede, gendut, dan item. Padahal, kalau anak ABG kayak kita kan lebih enak pacarannya disebut cinta monyet. Tapi, sama kamu nanti dibilang cinta Kingkong. Iiih …, takuttt.
                Nanti kalau kamu udah enggak gendut dan item lalu bisa operasi plastik biar mirip sama cover boy, yakin deh Mita nggak nolak. Udah dulu yah. Kalau punya peti jangan ditaruh duri, kalau sakit hati jangan bunuh diri (kuburan sewanya mahal lo sekarang).
                Salam,
                Susmitha alias calon Miss Universe pertama dari Indonesia

                Ketika kuceritakan pada Onih, cowok yang namanya Fido itu kemudian tak pernah berani menatapku lagi, Onih cuma menepuk dadanya sambil kemudian terbatuk-batuk.
                Keakraban kami lama-lama diketahui juga oleh Mami. “Kalian memang bersaudara, tetapi cuma saudara angkat. Ingat, kalian satu sama lain bukan muhrim. Anak lelaki tidak boleh main dengan anak perempuan. Apalagi kalian sudah remaja,” Mami berceramah.
                Tidak cuma itu. Mami membebani kami dengan setumpuk kegiatan lain yang berlawanan. Aku diwajibkan les piano tiga kali seminggu dan kursus bahasa Inggris privat pada hari sisanya. Sementara, Onih harus mengambil latihan bela diri pada hari Minggu dan kursus komputer di hari lainnya. Dan, setiap makan malam kami diminta untuk menceritakan kegiatan kami sepanjang hari kepada Mami.
                Yang mengejutkan aku, Onih ternyata sanggup membohongi Mami setiap malam. Aku tahu Onih hanya minggu-minggu pertama saja ikut karate, selanjutnya kudengar ia sering main ke rumah teman sekolahnya yang punya salon kecantikan cukup beken di Jakarta. Sementara kursus komputernya cuma dimasuki sesekali karena ia pernah bolos sekali mengantarku les piano lalu tertarik ikut studio tari yang ada dekat tempat lesku. Sejak itu, Onih ikut latihan menari di sana. Entah, bagaimana caranya Onih bisa berbohong setiap malam dengan cerita-cerita yang begitu meyakinkan Mami.
                “Besok Onih sudah mulai latihan D-Base. Mungkin sebaiknya komputer kita di rumah diganti saja dengan yang baru.” Pada malam lain, Onih bercerita tentang karatenya. “Minggu depan ada kejuaraan, tapi Onih nggak kepilih ikutan. Kayaknya sih si pelatihnya sentimen.”
                Akhirnya, aku agak khawatir juga dengan sifat Onih. Kutegur dia baik-baik, tetapi jawaban Onih sungguh di luar dugaanku.
                “Aku yang berbohong, Mita. Dosa atau tidak, itu urusanku.”
                Sejak itu, aku agak menjaga jarak. Sedih juga setelah empat tahun sering bersama, aku harus berjauhan dengannya. Tetapi lama-lama, aku jadi terbiasa. Apalagi di bangku SMU aku mulai disibukkan lagi dengan aktivitas di sekolah dan juga Yus, pacar pertamaku. Aku nyaris tak pernah tahu lagi apa yang dikerjakan Onih di luar rumah. Yang kutahu ia mulai sering keluyuruan malam diam-diam. Ia tak pernah menceritakan apa-apa lagi padaku. Hanya sesekali dia melontarkan cerita-cerita lucu saat sarapan.
                “Kemarin di Plaza Senayan ada nenek-nenek bertiga dilempari batu sama orang-orang. Kasihan, deh.”
                “Memangnya kenapa?” tanyaku.
                “Mereka ngaku-ngaku AB Three, penyanyi yang lagi beken itu.”
                Mami, aku, dan Bang Andri tertawa. Dan aku ingat, itulah tawa Mami terakhir di depan Onih karena pada malam harinya suara menggelegar Mami yang terdengar. Saat itu, aku masih nonton TV pertunjukan tengah malam ditemani Bang Andri. Tiba-tiba, suara mobil yang masuk ke pekarangan rumah dengan suara rem yang mendecit disusul suara pintu mobil yang dibanting membuat aku dan Bang Andri terbangun. Ketika kubuka pintu rumah, kulihat Mami tengah menyeret lengan kiri Onih.
                Aku terpekik kaget melihat Onih. Ia memakai pakaian yang mestinya melekat di tubuhku. Blus warna merah jambu dengan rok mini kotak-kotak. Stocking coklat menutupi bulu-bulu kakinya, sementara tangan kanannya menenteng sepatu dengan hak setinggi lima senti. Rambut palsunya kalau tak kusut pasti akan seperti rambut model Jackie Onasis di majalah-majalah wanita.
                “Tadinya, Mami tidak percaya apa kata teman-teman Mami. Tenyata Mami salah memberi kepercayaan padamu. Dasar anak enggak tahu diuntung. Ngapain kamu di Taman Lawang malam-malam begini? Biar saudara-saudara kamu tahu bagaimana tampangmu yang sebenarnya!” urat leher Mami tampak menegang.
                Onih tak bersuara. Matanya datar-datar saja.
                “Siapa yang ngajarin kamu jadi banci? Heh! Mami? Katakan? Benar-benar keterlaluan. Kamu boleh jadi banci, tapi jangan injak lagi rumah ini!”
                Jantungku berdegup keras mendengarnya. Kutuntun segera Mami ke kamarnya karena ia tampak lemas. Aku memang mengkhawatirkan jantungnya yang memang lemah.
                Esoknya, aku tidak menemukan Onih di kamarnya. Rupanya, ia begitu yakin dengan pilihannya yang tak pernah kuduga. Kuingat-ingat lagi masa-masa yang kami lalui. Memasak, memotong rambut, menari, salon ... ah, kenapa tak pernah kusadari? Persaan jijik, benci, dan khawatir terhadap Onih berbaur. Semuanya makin mengental ketika Mami jatuh sakit dan meminta aku dan Bang Andri mencarinya. Kini setelah satu minggu, baru kutahu di mana jejak Onih.
                Hujan yang turun di Kota Bogor membantuku menenangkan perasaan. Rasanya, aku harus mulai memaafkan Onih seperti Mami.
***
                Mami lama menatap Onih. Matanya basah, tangannya mengusap kepala Onih di dadanya.
                “Maafkan saya, Mam. Mami benar, saya anak tak tahu diuntung sudah menyusahkan Mami.” Onih sesengukkan. Air matanya, sejak pertemuan denganku di Bogor tadi, terus mengalir. Meskipun tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya di sepanjang jalan, aku tahu Onih begitu mengkhawatirkan Mami.
                “Jangan kamu ungkit-ungkit lagi. Dengarkan saja Mami sekarang. Tidak cuma Onih, tapi juga Andri, dan Mita. Mami takut tak sempat bicara lagi nanti,” Mami menarik napasnya.
                “Kalian kan tahu kenapa Mami mengangkat kalian satu per satu menjadi anak Mami. Karena Mami tidak bisa punya anak, meski seandainya kawin. Tetapi, tidak pernah terpikir dalam hidup Mami kalau kemudian akan bertemu dengan Onih yang kabur dan punya cerita hidup mirip Mami. Bedanya, Mami tak pernah ditemukan siapa-siapa, diangkat anak, disekolahkan, dan dikursuskan. Mami jadi anak jalanan, tahu pengalaman seks pada usia dini, dan sangat tidak menyenangkan. Pergaulan dan pengalaman yang Mami dapat akhirnya menjadikan Mami seperti sekarang ini ... menjadi seorang banci. Karena Mami tahu getirnya, maka Mami arahkan semua agar tak menyimpang seperti Mami. Tetapi, rupanya Tuhan berkehendak lain pada Onih ....”
                Onih mengangkat kepalanya hendak berkata. Tetapi, buru-buru Andri mencegahnya.
                “Mami memang tidak bisa mengubah takdir Onih. Sebaiknya, segalanya sudah kamu pikirkan masak-masak kalau kamu memang pengen menjadi banci seperti Mami. Jangan nanti menyusahkan dirimu sendiri atau saudara-saudaramu. Buat Mita dan Andri juga harus menghormati pilihan Onih.”
                Semua menganguk. Mami tersenyum.
                “Kalian pasti enggak pernah tahu apa yang paling Mami inginkan dari kalian bertiga. Mami ingin kalian nantilah yang mengurus pemakaman Mami. Tentu saja karena Mami dulu lahir sebagai laki-laki, pengen juga dikubur jadi laki-laki. Meski separuh hidup Mami dijalani sebagai banci ....”
                Aku melirik ke arah Onih. Dia sebenarnya cukup tampan sebagai cowok. Entah kapan pikiran menjadi banci muncul. Mungkinkah sejak aku sering mengajaknya main seperti anak perempuan? Kalau memang begitu, mungkinkah aku juga bersalah?

***