Monday, November 12, 2012

[TIPS] Nulis untuk Anak ataupun Remaja Tetap Oke




Anak ataupun Remaja Tetap Oke:

Kunci Sukses Karya-Karya Pemenang

Oleh: Benny Rhamdani


Ketika mulai mengarang di bangku kelas 6 SD dahulu, harapan saya hanyalah menyelesaikan satu cerita meski hanya ditulis tangan. Betapa senangnya ketika kemudian bisa membuat sebuah dongeng berjudul Tupai Putih. Untuk cerita itu saya minta beberapa orang membacanya. Akhirnya, keinginan saya berubah lagi. Saya ingin cerita saya dicetak. Maka, ketika duduk di bangku SMPN 3 Bandung, saya bersyukur karena didaftarkan seorang teman jadi pengurus buletin sekolah Karana. Cerpen saya pun dicetak di majalah sekolah, cerpen tentang cinta monyet. Lalu, saya ingin merasakan cerpen saya dimuat di majalah yang saya baca waktu kecil, yakni Bobo dan Ananda.
Saya membaca persyaratan bahwa cerpen harus diketik rapi atau ditulis tangan. Berhubung tulisan tangan saya jelek, saya meminta tolong teman sekelas saya di SMPN 179 Jaktim untuk menuliskannya. Tapi, cerpen saya itu tiada kabar. Akhirnya, saya pikir memang harus diketik. Maka sepulang sekolah, saya sering pontang-panting ke rumah teman yang punya mesin tik, bahkan meminta tolong kakak kelas dengan bayaran senyum untuk mengetikkan naskah cerita saya. Sampai akhirnya, Bu Henny, Guru Bahasa Indonesia  mengizinkan saya mengetik dengan bebas di tata usaha sepulang sekolah. Cerita saya pun dimuat di majalah Bobo, judulnya Potret Itu dan Waspada (dengan pede-nya saya pakai nama samaran).
Di bangku SMU, saya sudah punya mesin tik, jadi tak perlu numpang mengetik lagi. Banyak media yang bisa saya tembus. Lalu, keinginan saya selanjutnya adalah menembus cerita utama di Majalah Anita Cemerlang. Alasannya, judul cerpen kita akan terpampang di kaver, dan ilustrasinya sangat istimewa. Tapi, rupanya tidak mudah karena yang mengisi cerita utama umumnya yang sudah terkenal. Jalan pintas untuk meraihnya yaitu dengan memenangkan lomba yang diadakan di majalah tersebut.
Tahun 1991, sejak lomba penulisan cerpen remaja diumumkan saya sudah menggunting formulirnya. Saya baca setiap hurufnya sebelum tidur, terutama jumlah hadiahnya. Saya juga membongkar majalah yang memuat pemenang lomba tahun sebelumnya, saya pelajari, dan cari tahu selera juri. Akhirnya, saya malah menemukan rumus sendiri. Membuat cerpen yang bergaya kanak-kanak. Maklum deh, saya kan juga menulis cerita untuk anak. Maka, dari ide banyak teman-teman yang suka baca Donald Duck, lahirlah cerpen berjudul Tentang Sebuah Nama. Ceritanya tentang dua dara bersahabat. Yang satu hobi berat membaca komik Donald, sampai-sampai sesumbar hanya ingin punya pacar bernama Donald. Sayangnya, si Teman tak jujur ketika ternyata ia punya pacar dengan nama lain. Hal ini membuat sahabatnya kecewa. Inilah sebenarnya konflik utama, keterbukaan pada sahabat. Tapi, ceritanya dibuat gaya diary, dan kocak. Agak surprise juga waktu dinyatakan bisa menang juara 3. Soalnya jarang cerpen kocak menang lomba.
Nah, setelah menang lomba, keinginan dimuat sebagai cerita utama jadi lancar. Setahun kemudian, saya masih senang dengan kemenangan itu. Lomba pun tidak saya ikuti. Tapi tahun 1993, saya ingin sekali bisa jadi juara 1. Apalagi kalau membaca pemenang 1 yang sudah-sudah, saya merasa bisa membuat sebaik mereka. Akhirnya, saya coba ikutan lagi. Lucunya saya malah sulit mencari ide waktu itu. Sampai menjelang tutup, saya melihat ada boneka lucu di lemari uwak saya di Bandung. Bentuknya lucu kayak peri. Lalu, saya terinspirasi untuk mengarang cerita tentang peri dan boneka, judulnya Sepasang Lulugu Biru. Saya kirimkan saat lomba diperpanjang. Dan, juara 1.
Ceritanya sih biasa saja. Tapi, saya sudah menemukan rumus membuat cerita yang menarik, yakni menjalin dongeng maupun dunia anak sebagai kekuatan romantisme.
Tahun berikutnya, di majalah yang sama saya kembali ikutan, dan mengirimkan cerpen Geming Gurat Luka, kali ini mendapatkan juara 2. Ide ceritanya saya ambil dari satu adegan dalam film Bollywood berjudul Anjam.
Dalam film itu, ada adegan yang sangat menggugah hati saya, yakni ketika Madhuri Dixit hendak membalas dendam pada Shahrukh Khan yang telah menghancurkan keluarganya. Meski dengan benda tajam di tangannya, niatnya itu berubah begitu melihat Shahrukh Khan tak berdaya di kursi roda. Adegannya hanya sekitar dua menit. Sangat menyentuh dan langsung menimbulkan ide cerita yang lain untuk saya garap dan berbeda dengan cerita film itu sama sekali.
Itulah terakhir kali saya mengikuti lomba di majalah Anita Cemerlang, soalnya takut diprotes sama yang lain karena menang terus, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti ikut lomba dalam majalah itu.
Tahun 1996, majalah Matra mengadakan lomba cerpen. Saya tertarik banget. Makanya, saya ikut mengirimkan karya sehari sebelum penutupan. Dari semula, saya sudah yakin cerpen saya pasti menang. Soalnya, saya menyempatkan dahulu mengamati jurinya. Saya berhasil membaca selera jurinya. Akhirnya, lahirlah cerpen berjudul Tentang Onih.
Cerita ini mengisahkan tentang seorang banci kaya yang mengadopsi dua anak telantar. Dia begitu menjaga agar seorang anak angkatnya tidak jadi banci seperti dirinya, karena si Anak yang cowok itu menonjol sifat kefemininannya. Tapi apa mau dikata, segala cara yang dibuatnya, tak membuat jalan hidupnya berubah. Anak itu tetap ingin menjadi banci. Nasib hidup seseorang memang bukan hal yang mudah untuk diluruskan. Ceritanya dituturkan dengan gaya biasa. Cuma, sekali lagi saya selalu menulis sisi anak-anak dalam suatu cerita. Karena itu kepiawaian saya, maka hal itu selalu saya tonjolkan.
Tahun-tahun berikutnya, saya tak menemukan ada lomba menulis cerpen lagi. Mungkin karena saya kurang informasi, jadi saya tidak tahu. Baru pada 1998 saya ikut lomba cerpen di majalah Bobo, judulnya Golek Usep. Niat saya hanya ingin menulis cerpen dengan latar belakang pembuat wayang golek. Menyusul juara 2 lomba cerpen misteri dengan judul Boneka Beludru Biru yang idenya saya ambil dari Sepasang Lulugu Biru, meski tak sama benar karena ini cerita anak. Ada juga juara 2 lomba dongeng dengan judul Dendam Nyi Herang, yang intinya sama dengan Geming Gurat Luka, tidak memelihara dendam. 

Mengikuti Lomba

Kalau ada lomba, biasanya yang saya lakukan adalah menggunting pengumuman lomba dan menyimpan di dekat tempat tidur. Setiap mau tidur saya baca. Biasanya yang saya beri tanda khusus adalah tanggal paling lambat dan jumlah hadiah juara 1.
Saya selalu mencari tahu naskah lomba pemenang tahun sebelumnya. Saya juga berusaha mencari tahu jurinya, untuk mempelajari selera juri. Karena ini lomba, wajar kalau saya lebih memperhatikan selera juri.
Setelah tahu selera juri, baru saya mencari ceritanya. Biasanya saya selalu punya stok cerita untuk lomba. Karena kalau tidak ada lomba, tiba-tiba ada ide yang amat berharga, saya simpan untuk lomba. Biasanya saya selalu menyertakan 2 naskah lomba. Satu naskah, dengan patokan berdasarkan hasil pemenang lomba tahun sebelumnya, yang kedua, sama sekali berlawanan.
Saya juga suka mengirim naskah lomba dekat batas akhir. Maksudnya, biar tidak terlalu lama menunggu pengumuman lombanya. Nanti malah lupa dan kelewatan. Selain itu, untuk masalah teknis, saya berusaha mematuhi semua persyaratan lomba. Sedangkan untuk cerita saya buat yang benar-benar istimewa.
Saat itu, dalam majalah Anita Cemerlang, memang didominasi dengan cerita-cerita percintaan remaja. Lumrah. Tapi jujur saja, karena saya beranjak dari menulis cerita anak, maka saya sedikit risi kalau harus menulis cerita tentang rindu, patah hati, atau jatuh cinta yang menggebu-gebu. Saya lebih suka mencari pesan moral dulu yang hendak saya sampaikan, sama seperti ketika menulis cerita anak. Baru kemudian membungkusnya dengan sedikit kisah cinta.
Tentang Sebuah Nama, misalnya. Saya mencari dahulu pesan moralnya, yakni kejujuran dalam persahabatan, baru kemudian menyusul yang lainnya. Lalu Sepasang Lulugu Biru, pesan moralnya sejak semula sudah saya tanamkan, yakni apakah nilai historis suatu benda lebih berarti daripada  ikatan silaturahmi?
Sementara pada Geming Gurat Luka, saya menyampaikan pesan moral; memaafkan kadang tidak gampang, tapi menghapus dendam kalau ada kemauan pasti bisa. Dalam cerpen Tentang Onih, saya hanya memberi pesan moral sederhana, yakni kadang usaha kita sesusah apapun, kalau Allah Swt. berkehendak lain, apa boleh buat?
Banyak pesan-pesan moral yang bertebaran dan dapat kita sampaikan secara halus kepada para pembaca. Dengan teknis yang khusus, pesan moral ini bisa menjadi daya tarik cerita. Soalnya, tidak jarang cerita yang bertaburan tapi tanpa pesan moral. Kering. Kadang juga pesan moral yang disampaikan sudah terlampau sering. Cerita bagus jadi terkesan basi.
O, iya. Urusan membungkus pesan moral ini saya kuasai tekniknya setelah lama berkutat menulis cerita anak. Maklum, dalam penulisan cerita anak, pesan moral itu sudah jadi bagian penting.

Menulis Cerita Anak

Kalau ada yang bertanya pada saya, lebih suka menulis cerita anak atau remaja? Jawabnya tentu saja menulis cerita anak. Alasannya, saya sudah menguasai dengan baik teknik penulisan cerita anak, khususnya cerita atau dongeng pendek. Saya merasa tidak pernah kering untuk menulis cerita anak. Kalaupun terlihat jarang, itu karena media penyalurannya saat ini sangat terbatas. Selain itu, energi yang saya miliki setelah bekerja jadi reporter juga kadang membuat waktu saya semakin sempit untuk menulis.
Biasanya saya menulis cerita anak dari jenisnya dulu. Mau menulis macam apa? Dongeng, cerpen realita yang standar, detektif cilik, atau yang lainnya?
Biasanya saya lebih sering menulis cerita yang membuat pembaca penasaran. Cerita macam ini membuat pembaca ingin menuntaskan ceritanya, dan biasanya mereka akan terus mengingat cerita itu.
Selanjutnya, saya memikirkan setting cerita. Apakah akan saya buat di rumah, sekolah, pantai, dan lainnya. Baru kemudian saya mencari ‘misteri atau ‘rahasia yang menjadi objek cerita. Cara termudah adalah dengan merunut benda-benda yang ada di sekeliling kita. Sebuah pulpen bisa jadi cerita Pulpen Ajaib, sebuah peci bisa jadi cerita Peci Usang Mang Ujang, sebuah guci jadi Guci Ajaib Palsu, dan masih banyak lagi cerita yang saya angkat dari benda di sekeliling (termasuk sewaktu menulis cerpen remaja Sepasang Lulugu Biru).
Jika sudah menemukan benda yang akan menjadi objek cerita, cobalah untuk memikirkan benda itu dari segala sudut. Lalu, berpikirlah acak-acakan dengan kenyataan sehari-hari. Misalnya, sepeda yang biasanya dipakai kalangan kelas menengah ke bawah, tiba-tiba di kompleks yang mewah ada seorang direktur yang suka naik sepeda kumbang butut setiap Minggu. Hal-hal yang tidak biasa ini bisa dengan mudah kita gali kelanjutan ceritanya, sekaligus misteri yang membuat pembaca penasaran.
Dalam Peci Usang Mang Ujang, diceritakan Mang Ujang tidak pernah mengganti pecinya meski sudah lapuk. Anak-anak kompleks berusaha memberi hadiah peci baru pada penjaga masjid itu, tapi Mang Ujang tetap memakai pecinya yang lama. Belakangan, baru diketahui kalau Mang Ujang dahulu pernah dipenjara. Dalam penjara, ia mendapat bimbingan rohani dari seseorang yang kemudian memberinya peci lapuk. Peci itu sengaja terus dipakai Mang Ujang agar dia tidak kembali ke jalan yang salah.
Kalau untuk lomba, saya buat cerita tak jauh beda. Cuma mungkin, saya harus lebih menggali faktor karakter si tokoh agar emosi juri dan pembaca terpancing. Saya biasanya memberi sentuhan yang rada sedih atau marah-marah dalam ceritanya.
Kalau soal dongeng, barangkali saya termasuk yang terlambat. Saya baru menulis dongeng beberapa tahun kemudian setelah menulis cerpen. Alasannya, saya takut dianggap bukan menulis dongeng sendiri. Soalnya, kalau saya menulis dongeng suka meminjam negeri orang. Misalnya, Cina atau India. Tapi belakangan, saya mulai memperbaiki gaya penulisan dongeng saya. Ada beberapa yang sudah mengambil setting di Nusantara. Tapi maaf, saya belum begitu menguasai atau menemukan formula dalam menulis dongeng. Biasanya, saya hanya mengadaptasi dari ide cerita realistis. Makanya, kalau saya membuat dongeng, jarang ditemui hal-hal keajaiban atau kesaktian. Termasuk peri dan bidadari. Saya sendiri suka kaget kalau ikut lomba dongeng, terus menang. Kenapa bisa menang, ya?
Saat ini, saya masih membaca dan terus belajar menulis dongeng yang baik untuk anak-anak. Saya berharap di masa nanti makin banyak penulis bacaan anak-anak di negeri ini. Saya kadang merasa ngeri dengan serbuan tayangan televisi, dan bacaan anak dari luar yang belum tentu cocok dengan kultur masyarakat Indonesia. Karenanya, saya berusaha semampu saya tetap eksis menulis cerita anak, baik cerpen, dongeng, maupun buku.
Saya bersyukur banyak penerbit di Indonesia yang masih peduli dengan menumbuhkan penulis muda dalam bidang bacaan anak. Soalnya, tidak sedikit penerbit yang enggan menerbitkan karya penulis lokal, hanya penulis asing melulu. Mungkin karena pertimbangan bisnis, tapi mengabaikan misi idealisme.
 Sementara itu, media cetak yang memberi peluang bagi penulis bacaan anak, jumlahnya makin sedikit. Dulu, ketika saya kecil, hampir semua koran di hari Minggu punya lembar khusus anak-anak. Di sana, penulis muda bisa mengirimkan bahan bagi bacaan anak-anak. Sekarang, hanya media cetak yang sengaja dikhususkan untuk anak-anak saja yang bisa memuat cerpen atau dongeng. Itupun jumlahnya terbatas. Tidak aneh jika jumlah penulis bacaan anak-anak tidak sebanyak penulis bacaan remaja maupun dewasa.


benny rhamdani
depok 2003