Wednesday, December 12, 2012

[TIPS] Tips Menulis dalam Cerpen


Rahasia Kotak Antik

Hari Minggu sore, anak-anak Kampung Cemara berkumpul di rumah Nenek Sriti. Suasana duka masih menyelimuti wajah beliau. Namun, Nenek Sriti berusaha menutupinya dengan terus tersenyum. Padahal, Kakek Jati baru meninggal dua minggu lalu.
"Sengaja hari ini Nenek kum-pulkan kalian di pondok ini karena Nenek akan mengumumkan kepindahan Nenek ke Surabaya minggu depan," ucap Nenek Sriti di depan dua puluh anak yang berkumpul.
Semua tersentak kaget. Apalagi Nadia yang paling akrab dengan Nenek Sriti.
"Kenapa Nenek pindah? Apakah Nenek takut kesepian setelah Kakek Jati tidak ada? Bukankah kami di sini sudah berjanji akan selalu menemani Nenek?" Nadia langsung bertanya dengan muka muram.
"Nenek harus pindah karena ini permintaan putra sulung Nenek di Surabaya, yakni Paman Fahri. Bukannya Nenek takut kesepian di sini. Malah, Nenek khawatir nanti di tempat baru akan kesepian karena tak ada kalian. Nenek tidak bisa menolak, karena Nenek juga sudah berjanji pada cucu-cucu Nenek untuk menemani mereka," tambah Nenek Sriti.
Nadia manggut-manggut. "Tapi, siapa yang akan mengajari Nadia mengarang kalau bukan Nenek?"
"Kamu sudah lama belajar mengarang dari Nenek. Hmmm, Nenek rasa semua ilmu mengarang sudah diberikan semua. Kamu tinggal berlatih saja terus. Tentunya kamu juga bisa belajar mengarang dari siapa pun di kota ini," tambah Nenek Sriti.
Nenek Sriti adalah seorang pengarang novel, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Nenek suka membaca. Karenanya, Nenek sengaja membuat pondok bacaan untuk anak-anak Kampung Cemara. Sementara Kakek Jati adalah pensiunan tentara. Keduanya bagi anak-anak Kampung Cemara sudah seperti kakek dan nenek kandung sendiri.
"Sebagai kenangan untuk kalian, Nenek akan memberikan semua buku bacaan di pondok ini. Silakan ambil yang kalian suka. Tapi, jangan berebut. Berjanjilah untuk menjaga buku-buku itu dan saling meminjamkan dengan yang lain," kata Nenek Sriti lagi.
Anak-anak pun segera mengambil buku cerita yang mereka suka dari rak buku di pondok. Hanya Nadia yang tidak ikut serta. Dia tetap berwajah murung.
Nenek Sriti mendekati Nadia. "Mengapa kamu tak ikut mengambil buku seperti yang lain?" tanya Nenek Sriti.
"Aku sudah membaca hampir semuanya. Biarlah teman-teman yang lain saja. Aku hanya ingin minta kenangan khusus agar aku bisa jadi pengarang hebat seperti Nenek," ungkap Nadia.
Nenek Sriti tersenyum. Ia lalu mengajak Nadia berdiri. "Kalau begitu, ikut Nenek, yuk," Nenek Sriti mengajak nadia ke kamarnya.
Nadia merasa tak sabar untuk mengetahui benda kenangan yang akan diberikan Nenek Sriti untuknya. Ia mencoba menebak dalam hati.
Apakah buku pelajaran menga-rang?
Nadia menemukan jawabannya ketika Nenek Sriti menunjuk sebuah benda di atas meja.
"Bawalah kotak antik itu untukmu," kata Nenek Sriti kemudian.
"Kotak antik?" Nadia masih bingung. "Tapi, untuk apa kotak antik itu? Apakah kotak antik itu mahal harganya?"
"Kalau dijual mungkin harganya tak seberapa. Tapi, kalau kamu mau tahu cara memanfaatkannya, tentu saja jadi sangat berharga," jelas Nenek Sriti samar.
"Maksud Nenek?"
"Nenek mendapat kotak itu dari seorang pengarang yang mengajarkan Nenek mengarang ketika seumurmu. Dia berpesan agar Nenek menyimpan kotak itu …."
Nadia menunggu lanjutan kisah Nenek Sriti.
"Nenek diminta agar selalu menyimpan cerita yang Nenek buat ke dalam kotak itu selama seminggu. Setelah itu Nenek harus membacanya lagi. Kalau Nenek berpendapat cerita yang Nenek buat kurang bagus, maka Nenek harus membuatnya lebih bagus lagi. Begitulah terus sampai Nenek menilai bagus dan siap dikirim ke penerbit. Satu hal yang harus Nenek ingat. Jangan biarkan kotak itu kosong dengan cerita kita," papar Nenek panjang.
Nadia belum mengerti benar dengan maksud Nenek Sriti. Tapi, ia menurut saja. Kotak antik yang terbuat dari kayu itu dibawanya pulang. Uph! Lumayan berat juga!
Seminggu kemudian, Nenek Sriti pindah ke Surabaya. Semua anak Kampung Cemara tak kuasa menahan air mata ketika melepas kepergian Nenek Sriti. Terutama Nadia. Dia berjanji akan menyurati Nenek Sriti.
Hari demi hari berlalu. Nadia semakin tekun mengarang cerita. Setiap selesai membuat suatu cerita, dia menyimpannya ke kotak kayu itu. Seminggu kemudian, ia membacanya lagi.
Wah, ternyata banyak hal dalam cerita yang dibuatnya itu kurang memuaskan hatinya. Akhirnya, ia menulis ulang cerita itu lagi, dan memasukkannya kembali ke kotak kayu. Kemudian, Nadia membuat cerita yang lainnya. Minggu berikutnya Nadia membaca cerita sebelumnya dan memasukkan cerita yang baru. Ternyata, Nadia belum puas dengan cerita yang lama, hingga Nadia memutuskan untuk mengubahnya lagi.
Dari waktu ke waktu, akhirnya Nadia tahu rahasia kotak antik itu.
Ya, Nadia belajar untuk bersabar agar bisa mengarang cerita yang baik. Jangan cepat merasa puas dengan cerita yang baru dibuat. Nadia harus menunggu beberapa waktu untuk menilai kembali ceritanya.
Kini, setelah sepuluh tahun berlalu, Nadia sudah menjadi pengarang terkenal. Dia memakai nama samaran untuk cerita-ceritanya itu. Nenek Sriti yang panjang umur itu pun bangga karena Nadia bisa mengungkap rahasia di balik kotak antik itu.
Kalian ingin tahu nama samaran Nadia kalau mengarang cerita untuk kalian? Uppps! Sayangnya, Nadia berpesan agar aku merahasiakannya pada kalian. Gimana, dong?