Tuesday, January 1, 2013

Cerita Misteri: GORESAN BERKABUT


Goresan Berkabut
Peralihan sore menjadi waktu yang selalu kupilih untuk melukis. Sentuhan jemari sinar mentari yang tergelincir ke barat seolah menggenggam apa saja yang ada di muka bumi ini, hingga ingin rasanya kupindahkan semua ke atas kanvas. Apalagi bila ada obyek yang mengusikku. Subhanallah.

“Jadi kamu tetap mau ke rumah kuno itu, Tya?” Ina bertanya untuk kedua kalinya.
“Ya,” sahutku singkat sambil mengangkut peralatan lukisku. Sebenarnya aku kasihan juga meninggalkan sepupuku itu sendirian. Tapi, mengajaknya juga bukan ide bagus karena tak mungkin ia terus mematung di tengah kegiatanku.
“Nggak bisa nunggu Bang Lutfi pulang dulu? Aku suntuk kalau harus sendirian di villa.”
“Belajar jadi satpam villa nggak rugi, kok. Pokoknya sebelum gelap, aku sudah pulang,” pamitku sambil melangkah keluar pintu menuju sedan merahku yang sudah menunggu.
Obyek yang kuincar ada di atas bukit. Kemarin saat berangkat, kami sempat nyasar mencari villa baru milik papa Lutfi dan Ina. Mobil yang kukemudikan terus menapaki jalan  menuju puncak bukit, hingga mentok pada batas halaman sebuah bangunan kuno. Aku terpana melihatnya. Akan tetapi lantaran kabut sudah turun, Lutfi tak membiarkan kami tersesat lebih lama lagi.
Bangunan itu kini sudah ada samping kiri mobilku!
Sebuah bangunan yang dirancang bergaya gothic. Mungkin dibuat pada masa penjajah mengusai tanah tercinta ini.  Bisa jadi, dahulu rumah peristirahatan pejabat tinggi Belanda yang memang banyak bertebaran di bukit ini. Yang membuatku kagum, bangunan itu tak dipagari sama sekali. Hanya deretan bunga khana yang  membatasi halaman bangunan itu  dengan jalan beraspal kasar.
Tanpa membuang waktu lagi aku merunduk menggapai perlengkapan lukisku di jok belakang. Saat aku berbalik, jantungku berdegup keras. Seraut wajah menempel pada kaca pintu mobil di dekatku!
“Astagfirullahhalazim!” pekikku kaget. Tapi, sedetik kemudian aku bernapas lega karena yang kulihat hanyalah wajah seorang anak perempuan kecil. Mungkin umurnya baru sepuluh tahun.
Anak perempuan itu tersenyum saat aku membuka pintu mobil.
“Assalamu’alaikum! Kamu tinggal di sekitar sini?” sapaku kemudian.
Bocah itu hanya mengangguk.
“Kamu tahu siapa pemilik rumah itu?” Aku menunjuk ke depan.
Dia terdiam, lalu  berlari menjauhiku dan menghilang di antara semak-semak. Aku hanya menggelengkan kepala melihat ulahnya. Kuputuskan untuk melangkah memasuki halaman rumah itu. Untuk menjaga etika, biar bagaimanapun aku harus minta izin kepada pemilik rumah itu.
Grendel tembaga berbentuk lambang hati kuadukan pada pintu kayu jati hingga kudengar bunyi yang khas. Takl lama seorang perempuan setengah baya dengan kebaya ungu membuka pintu. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya saat melihatku.
“Assalamu’alaikum! Maaf saya mengganggu Tante. Saya menginap di villa Tiga Pinus di bawah, tak jauh dari sini. Saya tertarik dengan bangunan rumah ini. Jika tak keberatan saya minta izin untuk melukisnya … ngngng, saya bisa melukis dari luar halaman, kok,” kataku seramah mungkin.
Perempuan itu terus menatapku, seperti tak peduli apa yang kuucapkan. “Melukis? Silahkan… tapi jangan masuk ke halaman rumah ini. Kami tidak suka diusik,” ujarnya.
“Baiklah. Terima…”
Bruk!
Pintu di depanku sudah dihempas sebelum menuntaskan kalimatku. Pfuih! Sambutan paling ramah yang pernah kuterima. Aku jadi berpikir seperti apa hidup perempuan tadi. Ya, mungkin dia memang tidak luwes bersosialisai. Itu sebabnya dia memilih tinggal di ujung bukit ini. Dan tadi ia menyebut ‘kami’. Berarti ada lebih dari satu penghuni di rumah itu. Ah, tapi apa peduliku! Aku datang hanya mau melukis.
Segera saja kusiapkan semua alat lukisku. Seperti biasa kuawali dengan coretan sketsa lebih dulu. Kumulai dari atap  rumah dengan cerobong perapian dari batu kali. Lumayan tinggi juga bila dijajarkan dengan pucuk-pucuk pinus yang bersaing di dekatnya. Mungkin ada dua lantai kalau melihat deretan jendelanya. Kamarnya juga tentu banyak. Jendela kayu yang terihat saya sudah ada delapan buah. Ada sebuah jendela yang terbuka di loteng.
“Siapa itu?” gumamku tanpa sadar.
Aku memang melihatnya. Sesosok bayangan yang tengah melambaikan tangannya. Sayangnya, arak-arakan kabut menyergap rumah itu saat aku ingin mempertegas apa yang kulihat. Buru-buru kutuntaskan sketsaku sebelum kabut benar-benar menghalangi semua obyekku.
“Hihihihihi…”
Telingaku menangkap suara cekikik yang begitu dekat. Aku membalikkan badanku refleks. Masya Allah! Lagi-lagi bocah perempuan itu yang membuat jantungku nyaris copot. Entah berapa lama ia berdiri di belakangku.
“Siapa namamu?” tanyaku sambil berdiri. Kukemasi perlengkapan lukisku.
Bocah itu hanya diam memperhatikan kanvasku.
Aku merogoh saku salwarku. Untung masih terisasa beberapa butir permen. Segera kusorkan tiga bungkus permen karet ke bocah itu.
Ia nampak senang menerimanya. “Terima kasih. Namaku Uti,” katanya sambil terus tersenyum.
“Uti? Namamu bagus. Kamu mau pulang? Biar kakak antar sekalian,” ajakku yang sudah merasa diusir kabut.
“Rumah Uti dekat kok. Kakak saja buruan pulang. Nanti bisa jatuh ke jurang kalau jalannya ketutup kabut.”
Aku terbelalak. Kalimat Uti membuat hatiku ciut. Bergegas kumasukan perlengkapan lukisku ke mobil. Ketika kulirik arlojiku baru kusadari bahwa sebenranya aku sudah lebih dari satu jam di tempat ini. Segera kunyalakan mesin mobil. Kubuka kaca jendela untuk mengucapkan salam pada Uti.
Bocah itu sudah hilang entah kemana!

*****

Saat makan malam Ina kuceritakan semua pengalamanku tadi sore. Mulai dari perempuan setengah baya yang harus ikut sekolah kepribadian sampai Uti yang aneh.
“Untung aku tadi diingatkan Uti agar buru-buru pulang. Jadi sewaktu kabutnya menebal, aku sudah sampai sini. Nggak kebayang kalau aku sampai harus nyemplung ke jurang gara-gara kabut dan jalan yang sempit,” kataku mengakhiri ceritaku.
“Lagian melukis kok jauh-jauh amat sih! Di sekitar sini juga banyak pemandangan yang bagus.”
Aku menggeleng. “Besok aku mau ke sana lagi ah. Mungkin sebaiknya pagi, biar nggak terjebak kabut atau kemalaman. Kamu mau ikut, In?”
“Nggak ada kerjaan!” jawab Ina buru-buru. Jawaban yang sudah kuduga sebelumnya. “Mendingan aku ikut Bang Lutfi. Bang, besok mau acaranya mau ngapain?” Ina menepuk Lutfi di sebelahnya.
“Pagi? Nggak kemana-mana. Soalnya teman Abang ada yang mau ke sini.”
“Cakep nggak?”
“Jelek…. Mirip Shah Rukh Khan!”
Aku nyaris tersedak melihat reaksi muka Ina. Ia merengut kesal. Dia memang tidak bisa menerima kalau bintang idolanya itu dibilang jelek.
 Usai makan malam aku menemani Ina sebenatr maion scrable. Lantaran ia kalah mrlulu, akhirnya Ina memutuskan untuk membaca komik Asterix. Sementara Lutfi kulihat tengah memetik gitar di teras. Lagunya amat melankolis. Aku berusaha menahan diri untuk tidak mengusiknya.
Merasa kantuk mulai menyerang, aku bergegas ke kamar. Kuamati sebentar sketsa yang kubuat sore tadi. Pandangku akhirnya jatuh pada detil jendela yang kubuat. Kuingat lagi  sosok bayangan dengan tangan yang tengah melambai.
Ah, bukan melambai! Tepatnya, ia memintaku untuk masuk ke rumah itu…

*****

Kabut subuh yang menyergap membuatku malas membuka jendela kamar. Kukenakan switer merah marun sambil berharap kabut segera pergi. Usai sholat subuh  aku melongok ke kamar Ina. Ia  terus mendengkur meski Andre sudah berulang kali menyuruhnya sholat subuh. Lantaran lapar, aku segera ke dapur.
Mang Sahdi yang mengurus villa ini tengah menuangkan air ke termos saat aku masuk dapur. Melihatku, Mang  Sahdi langsung menawarkan segelas susu murni hangat dan sepiring jagung rebus yang masih hangat.
“Mamang kenal banyak orang-orang sini?” tanyaku sambil menggiggit jagung yang masih mengepulkan asap.
“Iya, Non. Mamang pan asli orang sini. Malah pendatang yang punya villa di sini juga kebanyakan kenal,” jawabnya bangga.
“Kalau Uti rumahnya dimana, Mang?”
“Uti? Oh, anak itu tinggal di rumah bekas orang belanda itu di tonggoh, di puncak. Bapaknya tukang kebun di rumah itu. Memangnya si Uti menganggu ya?” Jangan ditanggapi, Non.  Kasihan juga sebenarnya anak itu. Masih kecil sudah keganggu.”
“Keganggu?”
“Suka ngomong ngelantur, Non. Makanya dia nggak sekolah. Padahal anak itu seumur anak Mamang yang kelas empat.”
Aku manggut-manggut. “Kalau rumah Belanda itu siapa yang nempatin?”
“Wah, kalau yang satu itu Mamang kurang kenal. Dia nggak pernah ke luar rumah sama sekali. Semua diurus sama bapaknya si Uti. Kalau nggak salah, rumah itu ditempati seorang janda dengan putra tunggalnya. Mereka baru dua tahunan di sini. Mamang juga baru sekali melihat orangnya. Maklum, rumahnya di ujung.”
“Lalu putranya?”
“Katanya  kuliah di kota. Mamang sih belum lihat.”
 Aku merasa puas. Ketika kabut mulai hilang dan sinar mentari pagi bersinar cerah, aku bersiap untuk pergi. Dengan mobilku, aku kembali ke rumah Belanda itu lagi.  Senyumku langsung mengembang ketika kulihat sosok Uti yang dating menghampiriku saat aku tiba. Ia seperti tahu aku akan dating pagi ini.
“Assalammualaikum! Ini Kakak bawakan lagi permen karet untukmu,” kataku sambil menyodorkan beberapa bungkus permen karet.
“Hihihihi,’ tawanya ‘berterimakasih’. Ia tampak senang.
Aku merunduk sambil memegang bahunya agar ia melihat mulutku. Kutunjukkan padanya bagaimana permen karet di mulutku bisa membentuk sebuah balon saat kutiup. Bocah itu tampak takjub.  Aku berusaha mengajarinya.
Uti mencoba mengikutiku. Tapi permen karet yang ditiupnya malah terlempar ke tenah. Buru-buru kucegah tangannya ketika hendak memungut permen karet itu.
“Buka saja yang baru. Nanti kalau habis akan Kakak beri lagi kok,” kataku.
Sementara Uti sibuk mencoba membuat balon permen karet, aku membenahi peralatan lukisku. Kucoba menuntaskan sketsaku yang belum beres.
“Kak Wildan juga suka melukis.”
Aku menoleh ke samping. Rupanya Uti lebih senang bicara tanpa kutanya. Ia tertegun mengamati sketsaku.
“Uti pernah dilukis Kak Wildan, soalnya Kak Wildan paling senang melukis wajah orang,” tambah Uti.
“Kak Wildan yang mana?” tanyaku penasaran.
Uti membuat balon dengan permen karetnya. Rupanya dia cukup cerdas. Tapi, entah apa yang membuatnya tiba-tiba berubah gelisah. Tahu-tahu ia mundur lalu berlari menghilang ke semak-semak sperti kemarin. Entah kenapa pula, tiba-tiba aku mengamati jendela kamar di loteng itu. Jendela yang kemarin terbuka itu, kini tertutup rapat.
Aku menepis pikiran aneh yang berkelebat. Tanganku mulai mengerakkan kuas di atas kanvas. Warna hijau dan biru sengaja kupilih mendominasi lukisanku. Tapi focus lukisanku tetap rumah kuno itu. Tanganku bergetas ketika mencoba membuat arak-arakan kabut di jendela rumah.
Bersamaan itu, konsentrasiku buyar. Kulihat seorang lelaki tergopoh-gopoh mendekatiku.
“Maaf, Non, Ibu minta supaya segera menghentikan kegiatan melukis di sekitar sini. Ibu merasa tidak enak kalau rumah ini seperti diamati terus-menerus,” kata lelaki itu seramah mungkin.
“Tidak masalah kalau pemilik rumah keberatan.  Maaf, Bapak pasti bapaknya Uti, kan?” terkaku sambil membenahi perlatanku.
“Anak itu di mana sekarang?”
“Sudah pergi. Sampaikan terima kasih saya pada Bu…”
“Bu Indarta.”
“Ya. Sebenarnya saya mau bertemu Bu Indarta. Mungkin bisa kenalan juga dengan putranya yang bernama… Wildan, bukan? Kebetulan saya kemarin melihatnya di jendela kamarnya.”
Rekasi di depanku sungguh mengejutkan. Mukanya tampak pucat. “Maaf,  pasti Uti banyak cerita. Tolong jangan dengarkan semua yang dikatakannya.”
Aku mengernyitkan kening. Setelah berpamitan aku menjalankan mobilku.
Kenapa aku harus tidak menggubris kata-kata Uti? Bukankah dia benar soal kabut yang bisa mencelakaiku kemarin? Kalau aku tidak menurutinya…
“Kakak harus masuk ke dalam rumah itu!”
Aku langsung menginjak rema akrena terkejut mendengar suara di belakangku. Masya Allah! Lagi-lagi Uti. Entah bagaimana caranya ia bisa menyelinap ke mobilku.
“Kakak harus menolong kak Wildan…” katanya memelas.
“Kenapa dengan Kak Wildan?” tanyaku bingung.
“Kak Wildan sudah meninggal.”
Kali ini jantungku seprti pindah ke ulu hati mendengar kalimatnya. Kuminta Uti segera pindah ke sampingku.
“Uti kalau ngomong harus benar. Jangan mencampur cerita yang benar dengan yang Uti lihat dalam mimpi,” nasehatku sebijak mungkin.
Uti malah menghadapkan wajahnya ke jendela mobil. Lalu katanya,” Kak wildan jatuh ke jurang itu, terus ditolong Bapak. Tapi sakit Kak Wildan parah. Memang masih sempat melukis Uti. Tapi sudah tujuh hari Kak Wildan tidak melukis. Kak Wildan pasti sudah meninggal.” Mata Uti berkaca-kaca.
“Kak Wildan belum meninggal.  Kakak melihatnya kemarin sore. Kamarnya yang di loteng itu, kan?”
“Yang Kakak lukis dengan jendela terbuka? Tapi itu nggak pernah lihat terbuka,” Uti menggeleng.
Aku tersenyum. “Udara di sini dingin. Nggak baik buat orang sakit seperti Kak Wildan. Jadi jendelanya Cuma sesekali dibuka.”
“Kak Wildan sudah meninggal!” serunya.
Aku mengelus dadaku. Kuyakin Uti amat akrab dengan orang bernama Wildan itu.
“Uti mau tinggal dengan Kakak!” katanya lagi.
Astagfirullahhaladzim! Aku baru sadar membiarkannya berada di mobilku.”Bukannya nggak boleh. Tapi Uti pasti belum bilang sama bapak Uti. Sekarang Kakak antar pulang ya.” Aku mencari jalan agak lebar untuk memutar arah mobil. Kulihat Uti cemnerut karena keinginannya tidak dikabulkan.
Aku menghentikan mobilku di depan rumah kuno itu. Uti langsung lari tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sessat sebelum aku tinggalkan tempat itu, sempat kulihat jendela kamar itu terbuka!
Dan… sesosok bayangan samas kulihat melambaikan tangannya ke arahku. Ia memintaku masuk!
Aku langsung memalingkan muka, bergegas kembali ke villa. Lutfi  tampak asyik sedang ngobrol dengan teman yang diceritakan semalam. Namanya Indra. Rupanya ia juga punya villa di sekitar bukit ini.
“Aku seperti pernah melihat kamu sebelum ini,” ucapnya setelah diperkenalkan Lutfi.
“Mungkin waktu ada pentas band di kampus kalian. Aku ke sana kok.”
“Kurasa bukan. Aku nggak pernah datang ke acara seperti itu.  Tapi… dalam sebuah lukisan. Cuma aku lupa dimana lukisan itu….”
“Ah, paling juga lukisan potret dirinya sendiri di pasar loak,” timpal Ina.
“Kapan aku pernah melukis orang?!” sergahku.
Sementara Indra masih sibuk mengingat, aku masuk ke kamar. Kuletakkan kanvasku di sisi sipan. Baru sebentar, Ina sudah teriak.
“Makan dulu! Nanti Shah Rukh Khan-nya keburu pergi!”
“Memang si Shah rukh Khan mau kemana sih? Buru-buru amat,” timpalku di luar kamar. “Ngomong-ngomong Shah Rukh Khan doyan sayur asem, nggak? Soalnya tadi aku minta dibuatkan sayur asem.”
“Jangankan sayur asem, sambalnya aku yang buat kok.”
Aku tertawa. Makan berempat berlaskan tikar di beranda samping yang menghadap ke lereng bukit. Suasana yang mengasyikan.
“Aku ingat sekarang. Aku melihatmu di lukisan temanku. Dia sendiri pelukisnya. Katanya, ia melukis wajah yang mirip denganmu lantaran sering melihat di dalam mimpi,” celetuk Indra kemudian.
“Wah, jodoh tuh. Apalagi sesama pelukis!” sahut Ina sambil melirik Indra yang bentuk alisnya memang mirip aktor bollywood pujannya itu.
“Terakhir aku ketemu dia, sewaktu liburan semster lalu. Dia orang sekitar sini kok. Rumahnya ada di ujung jalan ke atas bukit.”
Ina terbelalak. “Wah, panatas saja sering ke sono. Rupanya ada cowoknya juga!”
“Aku belum ketemu kok. Nggg, Cuma aku tahu namanya Wildan.”
“Idddih, ngaku belum ketemu tapi sudah tahu namanya!” ledek Ina.
Aku tidak menimpali Ina. Dengan tak sabar kutunggu cerita tentang Wildan dari Indra.
“Kami kenalan karena kebetulan aku pernah melihatnya sedang melukis di  lereng bukit. Sekali aku diajak ke  rumahnya melihat-lihat karya lukisnya. Memang bagus. Salah satunya adalah lukisan bernama Bidadari. Itulah lukisan yang rupanya seperti kamu. O, yah… ada yang aneh.  Sikap ibunya menurutku terlalu berlebihan.”
“Berlebihan?”
“Ibunya terlalu berlebihan melindungi Wildan. Sampai hal-hal yang kuanggap tak perlu. Mungkin karena Wildan anak satu-satunya, hingga tak pernah mengijinkan anaknya berlama-lama jauh darinya. Sepertinya Wildan ingin keluar dari penjara itu, kalau saja tak memikirkan ibunya sudah tak punya siapapun selain dirinya.”
“Kapan kamu berencana ke tempatnya lagi?” tanyaku.
“Mungkin nanti sore. Bagimana kalau kalian ikut. Biar kumpulan kita tambah  seru.”
Rasanya aku jadi tidak sabar menunggu sore tiba…

*****

Berempat kami bernagkat ke puncak bukit. Siapa yang menduga aku akan dapat mengenal sosok yang kulihat sekilas bayangannya di jendela.
Indra langsung mengetuk pintu kayu itu dengan grendel yang menempel. Agak lama kemudian baru pintu itu dibuka.
“Selamat Sore, Bu. Saya Indra teman Wildan. Dulu pernah main ke sini. Bisa bertemu Wildan, Bu?” sapa Indra ramah.
Reaksi perempuan setengah baya itu datar saja. “Wildan pergi siang tadi ke kota.”
“Berarti ia sudah sembuh dari lukanya?” tanyaku menyela.
“Tentu saja,” timpalnya ketus dengan pandang menyelidik.
“Kapan dia akan kembali?” tanyaku.
“Entahlah. Nggg, maaf, Ibu sedang tidak enak badan.” Perempuan itu tidak menunggu kalimat dari kami saa menutup pintu.
“Benar-benar ramah seperti katamu,” gumam Ina sambil melirikku.
Kami kembali ke mobil. Mataku sempat kuedarkan kalau-kalau melihat Uti. Tapi anak perempuan itu  tak muncul saat kuharapkan begini. Sebelum ban menggelinding, mataku sempat melihat ke loteng.
Jendela kamar itu terbuka!
Dadaku bergetar keras. Ingin aku berteriak agar Lutfi menghentikan mobil kalau saja tenggorokkanku tidak tercekat. Sampai di villa kami, baru kurasakan napasku agak lega. Ia berlari mendahului masuk ke dalam. Tapi setengah menit kemudian terdengar suara teriakannya yang nyaring.
“Aaaaaaaa!”
“Kenapa tuh si Ina?” Lutfi buru-buru masuk., disusul Indra dan aku.
Kulihat wajah pucat Ina dengan mulut menganga. Aku langsung menggelengkan kepala saat kutahu di depan Ina, berdiri Uti sambil meniup balon dengan permen karetnya.
“Oh, rupanya Uti. Ayo kenalkan kakak-kakakmu yang lain,” kataku buru-buru meredakan ketegangan.
Kuingatkan Lutfi dan Ina perihal bocah perempuan misterius yang pernah kuceritakan.
“Kenapa kamu ke sini?” tanyaku kemudian.
“Uti mau nginap di sini.”
“Sudah bilang sama Bapak dan Ibu?”
“Dua-duanya pergi ke rumah Uwak sampai besok. Uti takut sendirian di rumah.
Aku manggut-manggut. Heran, anak sekecil Uti kok ditinggal sendirian di rumah? “Kalau begitu Uti mandi dulu ya. Biar Kak Ina nggak takut ngelihat kamu.”
Ina hanya celingukan. Ia masih shock. Untung saja Indra segera menghiburnya.
Sebelum kumandikan, Uti sempat menunjukkan sebuah sketsa wajahnya yang dibuat oleh Wildan. Goresan tangan yang bagus.
“Lukisan Kak Wildan tentang Kakak lebih bagus lagi. Berwarna dan hampir mirip,” katanya polos.
“Kamu pernah melihatnya?”
Uti menganggu. “Dulu waktu Kak Wildan masih hidup.”
Lagi-lagi aku terbelalak. “Kak Wildan masih hidup, Uti. Tadi siang pergi ke kota kok.”
“Kak Wildan selalu bilangsama Uti kalau mau ke kota.”
“Mungkin tadi siang lupa.”
“Bukan. Karena Kak wildan sudah meninggal.”
“Uti!”
“Kak… Lukisan wajah Kakak di kamar kak wildan dikasih judul Bidadari. Kata Kak Wildan, mungkin suatu hari ia bisa bertemu dengan bidadari. Soalnya, bidadari itu katanya suka menolong. Nah, karena Uti menganggap Kakak adalah biodadari, Uti mau minta tolong…. Uti pengen masuk ke kamar Kak Wildan malam ini…”
Hatiku ciut. Mengapa pikiran anak ini sangat mengejutkan?  Apakah  ia benar-benar kurang beres?
“Beberapa hari lalu yti masuk ke sana.  Untuk ingin melihat lukisan Bidadari. Terus, di kamar Uti lihat Kak wildan sedang tertidur. Lalu Uti bangunkan. Soalnya Uti ingin dilukis lagi.  Tapi sudah Uti kilik-kilik kupingnya, Kak wildan…”
Buru-buru kudepak Uti dalam pelukanku. Wajahnya tampak pucat pasi. “Baiklah, Uti. Nanti malam kita akan kesana,” entah angin mana pula yang membuatku begitu mudah mengumbar janji.
Uti tersenyum. Ia kemudian memandang lukisanku yang belum selesai itu.
“Kak, jendelanya kok terbuka? Padahal sudah dipaku dari dalam sewaktu Uti masuk ke kamar Kak Wildan.”
Aku menggigit bibirku.
Kalimat-kalimat yang dilontarkan Uti membuat pikiranku kacau. Herannya, setiap aku mau bercerita pada Ina, Lutfi dan Indra, semua hilang begitu saja dari kepalaku.

******

Tengah malam  aku dan Uti ke luar kamar. Tak ada sedikit pun tanda kantuk di wajah Uti. Biar bagaimanapun aku khawatir dengan rencana ini. Apalagi melibatkan seorang bocah.
“Uti ingin masuk ke kamar Kak Wildan, sebentar saja…” Uti terus memelas hingga aku tak bisa mengabaikan janjiku.
Kubawa kunci mobilku ke dalam saku. Untung mobilku diparkir lebih dekat pintu pagar, hingga tak terhalangi mobil Indra. Saat aku menghidupkan mobil, kuharap agar tak seorang pun yang terbangun karenanya.
Bersama Uti di sampingku, kukendarai jalan menanjak yang berkabut dengan ekstra hati-hati. Aku mematikan mesin mobil, sebelum mendekati pelataran rumah kuno itu. Dengan berjingkat, Aku dan Uti langsung mendekati pintu rumah mengikuti cahaya lampu senter di tanganku. Uti kutuntun erat. Tapi agaknya ia sudah terbiasa dengan kegelapan.
“Lewat samping saja, kak. Uti tahu tempat bapak biasa menyimpan kunci samping,” bisik Uti sambil menarik tanganku.
Kamu ke sini kanan rumah. Uti merogoh sebentar sebuah lobang pot tembikar. Ia kemudian memberikan anak kunci yang ditemukannya kepadaku. Hati-hati kubuka pintu samping. Jantungku berdegup keras ketika melangkah masuk ersama Uti.
Rumah dengan cahaya remang-remang ini membuatku takjub karena perabotannya yang antik. Kalau Uti tak menarik tanganku, mungkin aku hanya terpaku berjam-jam di ruangan ini.
Kami menaiki tangga menuju loteng.
“Yang ini…” Uti menunjuk pintu sebuah kamar.
Aku memutar handle pintu. Terdengar suara derit. Jantungku makin berpacu kencang. Aku mengintip sebentar, tapi Uti langsung mendorongku masuk. Kamarnya gelap.
“Senter yang itu!” Uti mengarahkan senter di tanganku.
Luar biasa! Aku seperti melihat wajahku ketika senter kuarahkan pada lukisan kanvas di dinding. Aku terkagum beberapa saat. Senterpun kuarahkan ke  sisi lain. Dan ketika kusorot tempat tidur…
“Astagfirullahuhaladzim!” pekikku melihat wajah pucat terbaring di atas tempat tidur.
“Kak Wildan benar-benar sudah meninggal!” Uti berteriak.
“Ayo kita pergi dari sini!” Aku setengah menyeret Uti.
Kami berlari menuruni tangga tanpa menutup pintu. Di lantai bawah aku tertunduk manerik napas, sampai kemudian menyadari ada sosok tubuh perempuan setengah baya di dekat lampu sudut yang menyala terang.
“Sudah kuduga, kaulah yang akan memisahkan kami…” lirih dan geram bercampur tak jelas. Entah, kalimatnya ditujukan untuk aku atau Uti.
Aku langsung menggenggam tangan Uti seketika. Perempuan itu mendekat perlahan. Tawanya membuatku tersentak. Uti mengambil inisiatif menarik lenganku. Aku baru sadar apa yang mestinya kulakukan. Kubuka pintu yang terkunci dengan susah payah. Begitu menganga, kutuntun Uti agar beralri sekencang mungkin.
“Ya, Allah… selamatkan kami…” bibirku terbata memohon pertolongan.
Beberapa cahaya senter menyambut kami dari jalan di depan rumah.
“Tya… Uti…! Kaliankah itu?”
Lututku sudah lemas. Aku tersungkur di atas rumput yang basah. Bruk.

******

Aku mendengar segala penjelasan Lutfi di rumah sakit. Dialah yang pertama mengetahui aku sudah tidak di kamar saat hendak tahajud. Mereka sudah menduga aku ke rumah kuno itu. Lalu menemukan aku yang tersungkur di atas rumput. Kemudian, seharian aku pingsan di rumah sakit.
Bapak Uti ternyata semalam pergi menemui saudaranya. Ia merasa tak tenang menyimpan sebuah rahasia besar. Pagi harinya bapak Uti melapor ke polisi. Kebetulan sekali hampir bersamaan dengan datangnya laporan Lutfi.
“Wildan memang sudah meninggal seminggu yang lalu. Tapi ibunya tidak mau menguburkannya, karena ia ingin terus bersama putra kesayangannya itu. Sebagai orang yang lama bekerja di rumah sakit, ibunya itu tahu betul bagaimana mengawetkan mayat. Luar biasa! Kemungkinan besar ibunya menderita kelainan jiwa.”
“Dimana Uti sekarang?” tiba-tiba aku teringat sahabat kecilku.
Lutfi, Ina dan Indra tersenyum. Kepala Uti menyembul dari balik tirai putih.
“Papa akan menyekolahkan Uti,” kata Ina kemudian.
“Tapi Uti nggak mau sekolah menulis atau menghitung. Uti mau sekolah melukis saja,” celetuk Uti sambil memegang tanganku.
Aku tersenyum. “Boleh saja. Yang penting Uti mau sekolah,” timpalku.
Mataku menerawang sesaat. Goresan-goresan berkabut itu sebagian masih tersisa di  dalam benakku. Aku tahu, aku tak akan dengan mudah melupakan semua kejadian ini. Terutama pada beberapa misteri yang tak kutemukan jawabnya…Wallahualam bisawab