Wednesday, January 2, 2013

Jadi Kurir Tas Branded dari Italia


Pengalaman tak terlupakan pada 2012 adalah ketika saya berkesempatan mengunjungi Milan, Italia. Mulanya, saya mengontak seorang teman dari alamamater yang tinggal di Milan. Eno (sebut saja begitu) mengajak saya singgah ke tempat tinggalnya.

Seminggu sebelum berangkat, tiba-tiba Eno menawarkan saya menjadi kurir tas branded dari Italia. Saya sih iya-iya saja, tanpa hitung-hitungan. Ternyata Eno malah bilang akan ada komisi buat saya. Itu pun saya abaikan. Dan Eno menegasakan, bahwa yang berbisnis bukan dia, tapi temannya juga yang orang Indonesia (sebut saja Dian).

Di Bandara Soeta, saya dihampiri seorang pria, dititipkan sejumah uang dan kartu kredit. Maka berangkatlah sayake Milan dengan rasa penasaran. Yang mengejutkan, ternyata Dian dan suaminya yang orang Italia dengan senang hati menjemput saya di bandara.

Eno yang sedang hamil tua menyatakan maaf karena tak bisa mengajak saya jalan-jalan di Milan. Saya diserahkan ke tangan Dian. Saya pun dibawa ke kawasan Duomo, bukan untuk melihat atraksi wisata, tapi … belanja tas branded!

Dian terus bercerita tentang bisnisnya itu. Dia bersama patnernya di Indonesia sudah cukup lama bisnis tas branded ini. Caranya, temannya di Jakarta yang mencari pembeli, lalu mereka kasak-kusuk mencari orang Indonesia yang akan mampir di Milan. Terkadang, Dian sendiri merangkap kurir kalau sekalian pulang kampung.
 
Menurut Dian, meskipun di Indonesia bisa ditemukan outlet-outlet tas branded, tapi belum tentu koleksinya sekomplet di Milan. Harganya pun berlipat karena sudah kena biaya distribusi, pajak, dan tentu saja display toko.

Keuntungan yang diambil Dian dan patner diambil dari selisih harga jual, juga diskon turis saat pembelian dengan menunjukkan paspor, termasuk kartu diskon tertentu. Belum lagi pengembalian pajak pembelian di bandara yang jumlahnya cukup lumayan.

Semula Dian menyebutkan hanya akan membeli empat tas dari dua merk ternama. Salah satunya adalah pesanan isteri seorang pejabat papan atas. Pada kenyataannya, selama kami berkeliling, orderan dari Indonesia terus masuk. Alhasil, delapan tas bermerk pun pindah ke tangannya. Jumlah itu bisa terus membengkak jika dia tak menahannya.

Ketika pulang dari Milan, saya kembali diantar oleh Dian. Semua tas dikemas dalam satu bagasi dengan rapi olehnya. Saya mendapat upah kurir sekitar 2 juta rupiah lebih. Lumayan, menggantikan uang saku yang terpakai selama di Italia. Sesampai Bandara Soeta saya dijemput kembali oleh seorang pria yang langsung mengambil tas-tas itu.

Saya teringat ucapan Eno ketika saya ngobrol dengannya,” Orang Indonesia memang gila belanja. Setiap musim mereka selalu ganti tas bermerk. Padahal orang Italia sendiri belum tentu punya tas-tas bermerk itu. Kalaupun mereka beli, hanya satu untuk seumur hidup.”