Sunday, February 17, 2013

Nulis Ramen Ling-Ling Jadi HL di Kompasiana



Terkadang masuk HL di Kompasiana.com itu nggak bisa ditebak. Nulis nggak sampai 10 menit, eh tahu-tahu jadi headline. Ini tulisannya yang saya kasih judul:

Ramen Ling-ling Bikin Kembali Muda



Terus terang, cari ramen yang enak di Bandung rada susah. Terutama yang harganya pas di kantong. Maklum sudah berkeluarga. Kalo beli makanan nggak bisa untuk sendiri. Pernah saya mencoba ramen yang kata orang enak, tapi ternyata rasanya seperti ramen instan. Tentu saja saya tidak suka ramen instan yang kini banyak dijual di grosiran.


Sampai suatu kali saya melihat kerumunan orang di jalan Cihampelas 101 di sore hari. Sebuah kedai bertuliskan Kedai Ling-ling. Radar saya langsung berkata,” tempat makan yang banyak pengunjungnya pastilah enak.” Makanlah saya ke sana bersama keluarga. Kami pun mulai dari dari ramen soyu yang standar. Cemas juga kalau ramen-nya tidak begitu enak. Standar kami untuk ramen dengan budget sedang adalah ramen di Gokhana.




Selain ramen, juga tersedia Takoyaki (bola-bola Jepang isi daging), Kuro Takoyaki (takoyaki hitam dengan tinta cumi), Okonomiyaki (martabak Jepang isi sayur, telur, dan daging), Sobayaki (martabak mie Jepang isi mie soba, telur, dan daging), Modanyaki (martabak Jepang isi sayur, mie soba, telur, dan daging), juga Winner Cheese Modanyaki (modanyaki tripple cheese dan daging cumi).




Puas dengan ramen, ketika melihat para pengunjung menikmati desert berwarna-warni, kami ikutan pesan. Desert stroberi, mangga, vanilla. Hm, ternyata rasanya benar-benar maknyus. Desert mangganya ya berasa mangga. Bukan esens mangga yang aneh.



Kedai Ling-ling buka pukul 13.00. Kalau sudah lapar jangan coba-coba datang petang. Biasanya penuh dan harap antre. Pembelinya kebanyakan mahasiswa atau anak SMA. jadi kalau ke sana, saya berasa muda kembali 20 tahun.

Cara membeli ramen, kita menemui bagian order, lalu menulis sendiri pesanannya. Kalau masih asing dengan jenis makanan Jepang sebaiknya tanya-tanya dulu. Selain makan di bagian bar, kalau membludak biasanya makan di kursi tanpa atap. Pokoknya jangan membayangkan rumah makan mentereng. Sebagian malah ada yang makan di mobil di parkiran. Jadi, kalau hujan nggak gitu repot harus cari perlindungan.

Bila tempatnya penuh biasanya saya langsung membungkus saja. Soalnya, pengunjungnya anak-anak kuliahan. Kalau sudah nongkrong susah ngusirnya.

Saya menjadi pelanggan tetap Kedai Ling-Ling dan jarang ke tempat makan ramen lainnya lagi. Kecuali kalau kehabisan saja :(

Tapi beberapa minggu lalu, saya sempat membaca twitter resminya Kedai Ling-ling @kling_ling. Mereka akan pindah ke daerah Sukajadi. Entah kapan tepatnya. Tapi saya harap yang di jl. Cihampelas jangan ditutup.