Tuesday, March 26, 2013

Leafie: Belajar Kearifan dari Seekor Ayam Betina



“Dedadunan adalah ibu dari para bunga. Bernapas sambil bertahan hidup walau dihempas angin. Menyimpan cahaya matahari dan membesarkan bunga putih yang menyilaukan mata. Jika bukan karena dedaunan, pohon pasti tidak dapat hidup.”
 -Leafie, hal. 85


Fabel merupakan karya fiksi yang karakter utamanya adalah hewan.Kadang manusia hadir dalam fabel sebagai pelengkap belaka. Kisah-kisah fabel paling melekat saya baca dari buku Aesop., misalnya kisah rubah dan bangau. Dan umumnya, jumlah halaman fabel lebih pendek karena disuguhkan untuk anak-anak. Pada masa kecil saya, hewan yang paling sering dijadikan tokoh dalam fabel lokal adalah kancil, monyet dan kura-kura. Terutama hewan yang harus ditemui di kebun binatang. Baru belakangan ketika bacaan asing diserap ke dunia literasi Indonesia, hewan-hewan peliharaan jadi tokoh utama di fabel, seperti kucing, anjing, kelinci, dan ayam.

Dua tahun lalu saya membaca berita novel anak laris hingga satu juta eksemplar di Korea Selatan. Judulnya Leafie , A Hen into the wild karya Hwang Sun-mi. Yang membuat saya takjub, novel anak ini berjenis fabel. Wow, jarang sekali sebuah fabel kontemporer bisa laris sedemikian rupa. Apalagi di tengah serbuan fabel dalam bentuk animasi keren dari Hollywood.
hancinema.net

Pada 2012, ketika saya mengunjungi Bologna Book Fair di Italia dan juga Frankfurt Book Fair di Jerman, saya begitu bahagia bisa memegang bentuk novel laris tersebut. Sayangnya, karena dalam bahasa Korea, saya tidak bisa menikmati isinya. Beruntung, tahun ini Mizan Pustaka merilis edisi Bahasa Indonesia di bawah bendera imprint Penerbit Qanita.




Fabel Getir

Buku laris Korea ini dalam bahasa Indonesia disesuaikan judulnya menjadi Leafie dengan tagline Ayam buruk rupa dan itik Kesayangannya. Fabel ini dikategorikan sebagai novel kearifan. Tentu sah-sah saja pelabelan ini. Mengingat materi yang disampaikan Hwang Sun-mi jauh dari sekadar fabel ringan untuk konsumsi anak. Cerita tentang ayam betina pesakitan disajikan dengan gaya bercerita yang bisa dinikmati semua kalangan, ditambah pesan-pesan universal yang bisa digenggam siapapun.

Cerita diawali dengan kehidupan di sebuah lahan peternakan. Leafie tinggal di kandang ayam khusus ayam petelur. Ia tak bisa bermain di halaman sejak masuk setahun lalu. Dia hanya bisa berdiri dan mengulurkan kepala melalui celah kandang kawat besi. Ayam betina ini pengagum dedaunan, hingga dia menamai dirinya sendiri dengan ‘Leafie’, dari kata ‘leaf’ (daun).

Banyak mimpi di kepala Leafie selama berada di kandang bersama ayam-ayam betina lainnya. Mimpi terbesarnya adalah mengerami telurnya sendiri sampai menetas. Sampai kemudian Leafie dianggap sakit oleh pemiliknya, dan dibuang ke lubang bersisi tumpukan bangkai ayam. Justru di sinilah awal petualangan dan mimpinya terwujud satu per satu.

Perkenalannya dengan Bebek Liar yang dijuluki Pengelana, juga penghuni peternakan lainnya membuat Leafie mengenali berbagai karakter hewan di sekelilingnya. Persahabatan Leafie dan Pengelana terputus ketika Pengelana menemukan tambatan hatinya, Bebek Putih Susu. Entah apa yang terjadi, Leafie kembali bertemu pengelana dalam keadaan sendiri. Bersamaan dengan itu, Leafie menemukan telur bebek. Mimpinya untuk mengerami telur terwujud meskipun bukan telurnya sendiri.

Hubungan Leafie semakin erat dengan Pengelana. Saat Leafie mengeram, pengelana yang mencari makan dan menjaganya dari musuh bebuyutan para unggas, yakni musang yang telah mengintai Leafie sejak di pembuangan ayam sekarat itu.

Pembaca akan dibuat kaget sekaligus terharu dengan pengorbanan Pengelana demi membiarkan Leafie mengerami telur hingga menetas. Dan kejutan-kejutan lain yang mengharu biru terus akan kita temukan di lembar-lembar petualangan getir Leafie dengan Greenie, anak bebek yang memanggilnya Ibu.

Karakter Kuat

Kekuatan utama buku ini adalah karakter Leafie yang membuat pembaca langsung jatuh cinta padanya. Pemimpi, lugu, pantang menyerah, dan spontan. Efeknya, makin mudah pula membawa emosi pembaca ke suasana senang, tegang maupun getir.

Buku ini dilengkapi pula ilustrasi berwarna khas Korea karya Kim Hwan-young yang memanjakan mata pembaca. Tapi bagi pembaca yang tak mau terpengaruh dengan visualisasi kisah Leafie, dapat mengabaikan (Sungguh, ilustasinya indah dan sangat sayang dilewatkan).

Saya berharap buku ini bisa dibaca banyak orang karena pesan kearifan yang begitu dekat dengan realita sosial. Tekad juang untuk meraih mimpi yang dilakukan Leafie sangat inspiratif. Tak perlu cemas dengan penceritaan adegan mangsa-memangsa karena kritikus sastra anak-anak Kim Seo Jeong memberikan catatan di akhir novel ini. Semua nilai kearifan disajikan tanpa menggurui karena tokoh-tokohnya adalah hewan. Itulah keistimewaan fabel.

Satu kecelakaan kecil pada buku Leafie edisi bahasa Indonesia adalah pemilihan kata ‘itik’ di cover. Padahal di isi cerita, Greenie adalah seekor bebek. Dan di kepala saya, itik dan bebek itu berbeda. ^_^

rating: **** sangat keren