Wednesday, May 1, 2013

Tips Menulis Cerpen Anak untuk Media Cetak





Cerpen atau cerita pendek di media cetak anak-anak biasanya ditujukan untuk cerita kehidupan realitas, bukan dongeng atau fantasi.. Cerita pendek senantiasa menarik untuk dikonsumsi anak-anak. Karena isinya yang variatif, terkadang jalan cerita merupakan refleksi aktualisasi dari anak-anak penikmatnya. Sehingga mereka seolah membaca cerita dunia mereka. Kadang, cerpen juga memberikan solusi atas problema anak-anak yang belum terpecahkan. Karena beragamnya bentuk cerpen di majalah yang ada di Indonesia, berikut saya bagi dalam beberapa jenis (mungkin bisa berkembang) berdasarkan pengalaman di media cetak selama lebih dari 20 tahun:

1. Cerpen Realis

Ini cerpen yang paling banyak ditulis dan menjadi induk bagi genre jenis cerpen anak  berikutnya. Bercerita soal kehidupan anak-anak sehari-hari. Baik di lingkungan   keluarga, tetangga, pertemanan, sekolah, atau tepat les, tempat liburan, dlll. Cerpen ini mudah dibuat untuk pemula karena formulanya juga bisa dibuat sederhana, yakni : pembukaan, konflik, penyelesaian konflik (biasanya dengan melibatkan tokoh teladan ; guru, ortu, dll).

Misalnya saja Seorang anak yang suka iseng menukar isi tas teman-temannya di kala istirahat, ia kemudian dimusuhi (konflik), tapi ia tetap melakukannya. Sampai kemudian anak-anak mencari tahu binatang yang ditakutinya. Lalu ketika si bandel ini menukar isi tas temannya, tiba-tiba di dalamnya ada kodok. Ia menjerit ketakutan, pucat! Bahkan pingsan. Penyelesaian konflik? Belum. Si guru bisa terlibat menengahi, bahwa menjahili teman ada batasnya, baik bagi si takut kodok maupun teman-temannya. (ssst, cerpen ini belum saya tulis. Jangan dijiplak, ya!)

2. Cerpen misteri/ Detektif-detektifan

Cerpen ini juga digemari,  karena mengundang rasa penasaran. Namun demikian kasus yang dipecahkan bukan sesuatu yang besar, ambil saja misalnya: hilangnya serutan di kelas, pencuri di rumah sebelah, bayangan di malam hari, dll. Karena keterbatasan halaman, pengarang harus memiliki trik untuk mengatur cerpen agar tetap menarik. Umumnya cerpen ini langsung dibuka oleh konflik (kasusnya), kemudian penyidikan, pengungkapan, dan penangkapan si pelaku.

3. Cerpen misteri/horor

Cerpen ini juga menarik minat dan punya kavling khusus di beberapa media anak-anak. Ceritanya kadang agak tidak logis dan berbau mistis. Namun saya tetap beranggapan bahwa cerita misteri jenis ini sebisa mungkin menghindari hal yang berbau klenik dari anak-anak. Pembaca dapat kita giring melalui sudut pandang metafisika yang memiliki penguraian lebih masuk akal, misalnya anak indigo.

4. Cerpen Komedi.

Ini cerpen yang dibumbui cerita-cerita berbau komedi. Kadang terselip unsur fantasi. Jujur saja, saya sendiri agak kesulitan menulis cerpen untuk anak jenis ini. Salah satu yang pernah saya tulis adalah  Princess Kribo. Tentang anak perempuan berambut kribo yang ingin ikut lomba princess-princess-an.

5. Cerpen Futuristik

Cerpen futuristik dari namanya kita bisa tahu bahwa cerpen ini mengambil setting waktu masa depan. Untuk pengenalan teknologi, cerpen-cerpen ini baik sekali untuk dikembangkan. Kendala dalam menggarap cerpen ini adalah cara menuangkan ide-ide teknologi ke dalam bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.

6. Cerpen momentum

ini cerita berhubungan dengan momen tertentu, misalnya cerpen tentang puasa, cerpen lebaran, cerpen agustusan, dll. Untuk jenis ini sebaiknya kita membuat tanda khusus do sudut kanan atas halaman muka cerpen yang dibuat, misalnya “Cerpen Hari Kartini”. Sehingga sang Redaksi bisa segera mengetahui bahwa cerpen kita, cerpen momentum hari Kartini. Jangan mengirim cerpen momentum terlalu mepet. Usahakan paling tidak 6 bulan sebelumnya.


Ada beberapa tips dari saya kalau mau membuat cerpen anak-anak dan mengirimkannya ke media cetak:

1.      Pelajari dulu cerpen-cerpen yang dimuat di majalah yang akan kita kirim. Dengan demikian kita bisa tahu selera pembacanya dan selera redaksinya. Termasuk jumlah halaman yang harus kita buat.

2.      Kirimkanlah beberapa cerpen sekaligus dalam satu amplop jika melalui ekspedisi atau diantar langsung, dengan cerita yang bervariasi, baik seting maupun jenis ceritanya. Tapi bila melalui e-mail sebaiknya satu kiriman satu cerpen saja.

3.      Jangan pernah menunggu cerpen dimuat, baru mengirim lagi. Antrean cukup panjang. Dan banyak penulis cerpen anak yang bermutu. Jadi, teruslah menulis dan mengirim. Agar redaksi pun tahu bahwa kita benar-benar disiplin dalam menulis cerita anak.

4.      Yakinkan kita punya copy cerpen, karena beberapa kali saya menemukan naskah yang hilang. Sebaiknya kita tuliskan dalam surat pengantar, bila dalam setahun cerpen kita tak ada kabar, maka kita akan mencabut cerpen tersebut. Selanjutnya bisa kita lempar ke media cetak lainnya. Tapi belakangan antrean dimuat di media cetak pun bisa setahun lebih.

5.      Ikutilah lomba-lomba penulisan yang diselenggarakan media cetak tersebut tersebut, karena membuka peluang nama kita dikenal oleh Redaksi.

6.      Tetap semangaaaaat!

(Penulis beberapa kali memenangkan lomba cerpen di majalah Bobo. Karyanya sudah dimuat di media cetak anak seperti majalah Bobo, Kawanku, Tomtom, Ananda, siaga, Kompas Anak, Suara pembaruan minggu. dll)