Monday, July 15, 2013

Pesona Tersembunyi Pantai Sawarna




Pantai Sarwana yang masih asri. ( Foto: Rudyanto Arif Wibisono)

Cukup lama terpendam keinginan saya  untuk mengunjungi Pantai Sawarna, Banten. Sebagai pecinta fotografi, hati saya selalu terbakar setiap mendengar cerita tentang keindahan Sawarna, ditambah ‘racun ‘dari teman-teman yang memamerkan foto-foto Sawarna dari internet.


Hingga suatu senja, saya memutuskan berangkat dari Jakarta memakai mobil pribadi beserta isteri, anak dan dua teman sesama penyuka fotografi. Kemacetan akhir pekan di sekitar Bogor, membuat  waktu tempuh melar menjadi  7,5 jam. Padahal dari Bogor ke Sukabumi, kami  sudah melalui jalur alternatif dengan kondisi jalan yang agak sempit dan curam.  Pertama, melalui jalan tembus dari belakang Istana Bogor sampai ke Lido, kemudian lewat Cikidang. Jalur Cikidang ini agak riskan dilalui pada malam hari, karena harus melalui tanjakan dan turunan curam, belum lagi tikungan tajam. Harus dipastikan kondisi mobil dalam kondisi prima, terutama rem.

Selain lewat Cikidang,  jalan yang biasa dilalui dari Cibadak, Sukabumi,   adalah  lewat Pelabuhan Ratu. Sementara,  bagi yang ingin berangkat kota Serang, bisa menempuh jalur Malimping, Bayah, lalu sampai Sawarna. Alternatif kedua dari kota Serang adalah menuju Rangkasbitung, Gunung Kencana, Malimping, Bayah lalu ke Sawarna.


Waktu sudah melewati tengah malam ketika kami sampai kawasan Sawarna.  Bergegas kami masuk ke resort Little Hula-Hula, yang menyewakan bungalow. Alasan kami memilih karena ukuran bungalownya yang dapat menampung 8-10 orang hanya  tariff Rp800.000 per malam. Ada alternatif penginapan lain disekitarnya  dengan tariff yang bervariasi. Apapun yang dipilih, lebih baik menyewa penginapan yg ber-AC, karena udara siang hari yang amat panas.


Lagoon Pari dan Karang Taraje


Letak Pantai Sawarna berada di desa Sawarna, kecamatan Bayah, provinsi Banten. Sawarna memiliki bentang alam yang lengkap serta kondisinya yang belum rusak oleh sentuhan industri wisata secara serampangan. Sebagian besar penduduknya tinggal di di kaki perbukitan.


Wisatawan begitu masuk Desa Sawarna langsung bisa menikmati lokasi pantai Pulau Manuk. Hamparan karang yang tersebar di Pantai Manuk ini sangat disukai wisatawan. Pulau Manuk dikelilingi hutan tropis hijau memberikan kesegaran alam udara pegunungan. Wisatawan bisa menyaksikan sunset yang merupakan pemandangan alam menakjubkan.


Di Sawarna banyak tersedia guide dan kendaran ojek yang bisa mengantarkan ke obyek wisata. Kami memutuskan memakai jasa guide dengan tarif Rp150.000 untuk mengantar ke Lagoon Pari dan Karang Taraje.



Perjalanan ke Lagoon Pari dan Karang Taraje menggunakan mobil sekitar 3 km. Sampai kemudian kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki, melalui jalan setapak selama 30 menit. Yang merasa tidak kuat bisa naik ojek dengan membayar Rp25.000. Jalanan berupa batu-batu lepas yang tidak masalah dilewati motor ojek bila kering. Tapi sehabis hujan akan sangat licin. Menurut guide kami, beberapa kali supir ojek dan penumpangnya terjatuh.


Tantangan lainnya adalah menyebrangi jembatan gantung. Asal berani dan berhati-hati, kita bisa melewatinya dengan mudah. Tantangan lainnya adalah jalanan mendaki yang seperti tak ada hentinya.  Semua terbayar begitu  setelah melihat pemandangan yang indah,  yakni Pantai Lagoon Pari.
Pantai Lagoon Pari yang memancarkan sejuta pesona
kala pagi (foto: Rudyanto Arif Wibisono)

Lagoon Pari berpasir putih, padat,  dan membentang panjang hingga Karang Taraje. Kami bisa melihat kehidupan sehari-hari masyarakat pantai. Untuk yang beriwisata dengan anak-anaknya, banyak spot untuk bermain di pantai yang masih bersih. Bermain pasir sangat baik untuk menegmbangan kecerdasan motorik serta imajinasi yang memancing kreativitas. Tapi tetap harus diawasi, karena karakter ombak di pantai selatan yang cukup besar dan bisa tiba-tiba tinggi.

Dari Lagoon Pari, kami menuju ke Karang Taraje yang tak seberapa jauh.  Di pantai ini kami melihat bebatuan karang yang berundak-undak menyerupai tangga. Mungkin itulah sebabnya dinamakan karang Taraje karena dalam bahasa Sunda taraje berarti tangga.

Bentuk yang tak lazim Karang Taraje inilah yang membuat kami bersemangat berfoto-foto. Namun waktu yang terbaik untuk berfoto di kawasan ini adalah saat matahari terbenam.  Sebab di siang hari, cuaca yang terik malah membuat kehilangan pesonanya. Alternatif lain adalah di saat matahri terbit. Jadi, harus berangkat dari penginapan sesubuh mungkin. Kemudian, cari spot yangg menarik, siapkan kamera dan tripod. Sabarlah menunggu. Saat melihat matahari terbit perlahan-lahan segala kelelahan akan terbayar.
Deburan ombak nan indah di Karang taraje.
(foto: Rudyanto Arif Wibisono)

Sayang waktu kami terbatas di Sawarna. Padahal saya ingin sekali berkunjung ke Tanjung Layar. Di dekat Tanjung Layar terdapat bongkahan karang yang berdiri menjulang dengan tegak berbentuk layar. Bongkahan karang ini dikelilingi gugus karang yang melindungi kawasan yang menjulang ini dari hempasan ombak.
Mudah-mudahan ada kesempatan kedua untuk saya berkunjung kembali ke Sawarna.

(
Benny/Arif)