Tuesday, August 20, 2013

Blogger ASEAN Menjadikan Asia Tenggara Wilayah Paling Damai di Dunia, Mimpikah?



Saya masih ingat ketika masih SMP pernah diminta menghafal tujuan didirikannya ASEAN.  Waktu itu saya hafal seluruh teksnya walaupun belum mengerti kandungannya.  Sekarang, saya hanya bisa mengingat salah satunya, yakni  memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regional. Mengapa saya mengingatnya?

Soal perdamaian ini selalu menghantui pikiran saya. Dari fakta yang saya baca, tidak sedikit negara di dunia selalu bersitegang dengan tetangganya. Iran dan Irak, India dan Pakistan, Korea Utara dan Korea Selatan, dan masih banyak lagi yang terlalu panjang untuk dituliskan.



Tidak usah jauh-jauh, saya pernah membaca di surat kabar pertikaian Singapura dan Malaysia  tentang perbatasan. Konflik  Indonesia dan Malaysia? Sengketa Pulau Sipadan, Ligitan sampai Ambalat  hanyalah sedikit dari sekian banyak konflik yang pernah tercatat. Malaysia dengan Brunei pun sempat bersitegang soal Sabah. Belum lagi masalah Rohingya yang melukai hati umat Muslim di Asia tenggara. Sampai-sampai saya berpikir, jangan-jangan tinggal menunggu bom waktu saja perang di Asia tenggara.

Lantas, bagaimana kita bisa bersinergi di bidang lain seperti politik, ekonomi, atau sosial-budaya jika sebentar-bentar terjadi konflik antar anggota ASEAN? Bagaimana pula ASEAN bisa menjadi organisasi sektoral terdepan di dunia?

Gaungkan Semangat ASEAN

Sebagian orang seolah apatis bila ditanya peran ASEAN dalam memajukan perdamaian. Organisasi ini sepertinya tunduk dengan organisasi besar lain seperti IMF dan PBB. Menurut mereka ASEAN hanya untuk urusan pemerintah lobi-lobi bisnis sektoral.

Pada kenyataannya peran ASEAN cukup berpengaruh dalam proses perdamaian kawasan Asia Tenggara. Sebagaimana dipaparkan, Asia Tenggara memiliki banyak konflik, baik konflik antarnegara ataupun konflik internal di dalam masing-masing negara. Tanpa ASEAN sangat sulit untuk menghapus titik-titik konflik di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini. Tapi hidup tanpa konflik juga mustahil, karena sudah hukum alam jika terjadi interaksi sosial maka akan timbul konflik.

Pada 2015, ASEAN akan bermertamorfosis menjadi  Komunitas ASEAN 2015. Untuk mewujudkannya ASEAN menempuh 3 langkah, yakni  Peace, Prosperity dan People.

Peace
adalah kondisi kondusif kawasan Asia Tenggara agar memudahkan proses perdamaian dan resolusi konflik yang terjadi. Saya setuju urusan perdamaian ini diletakkan pertama karena tanpa perdamaian kita tidak akan bisa apa-apa.  

Prosperity
(kemakmuran) dengan komitmen mengentaskan kemiskinan di kawasan Asia Tenggara melalui pemerataaan pembangunan dan penguatan pasar agar selisih pendapat per kapita yang tinggi dapat teratasi. Karena perbedaan kemakmuran, menurut saya bisa menimbulkan konflik kecemburuan yang akhirnya mengusik perdamaian.

People
adalah masyarakat sebagai landasan utama dalam terciptanya komunitas politik yang kuat. Dan tentu saja masyarakat harus banyak diinformasikan, dilibatkan dan ikut merasakan manfaatnya.

Tiga langkah tersebut kemudian diwujudkan dengan 3 cetak biru Komunitas ASEAN  yakni ASEAN Political-Security Community (APSC), ASEAN Economic Community (AEC) dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC).  Tentunya kita berharap ASEAN yang baru akan berdampak signifikan terhadap perdamaian kawasan. Proses perdamaian di ASEAN seperti kita ketahui berprinsipnya yang tidak akan mengintervensi konflik sesama anggotanya dan menghormati kedaulatan dari negara anggotanya  harus terus dipertahankan.

Mengingat pentingnya tiga pilar ini, alangkah baiknya jika sejak saat ini digaungkan lebih luas ke masyarakat. Bukankah ASEAN adalah organisasi kawasan dengan orientasi masyarakat sebagai acuan dasar utama. Gaungnya harus sampai ke pelosok. Tidak Cuma di Indonesia, tapi juga negara-negara anggota ASEAN. Sebab, ketika pelajaran tentang ASEAN di sekolah, saya sempat bertanya-tanya, apakah hanya anak Indonesia saja yang diharuskan menghafal sejarah ASEAN?

Peran ASEAN Blogger




Sebagai pelaku media modern, sudah sepantasnya blogger turut aktif memasyarakatkan perdamaian di kawasan ASEAN. Sejauh ini, saya justru sering membaca tulisan blogger yang cenderung menyerang dan melecehkan negara anggota ASEAN lainnya. Bahkan tak jarang adu mulut dengan bahasa-bahasa kasar padahal mereka tak saling kenal.

Bila terjadi konflik di negara tetangga satu kawasan, tak perlu ikut menyulut konflik agar semakin besar karena sesungguhnya akan merugikan kawasan. Jika ‘gatal’ ingin menulis, tulislah sesuatu yang bisa menyejukan dan mendamaikan keadaan.

Terus terang saya berharap banyak  kiprah Komunitas Blogger ASEAN menuju 2015. Salah satu program yang saya harap bisa memberi sumbangsih terhadap perdamaian di kawasan ASEAN adalah pertukaran blogger negara-negara ASEAN. Para blogger homestay selama sebulan atau lebih sebagai duta dari negaranya, lalu menjelaskan kepada masyarakat di sana tentang negara asalnya. Lalu, dia juga melihat sosial-budaya homestay untuk diceritakan kepada negara asalnya melalui blog. Jika program ini dijalankan terus menerus, niscaya penyebaran informasi kiprah ASEAN akan lebih meluas dan mengana ke lapisan masyarakat. Pesan-pesan perdamaian pun akan lebih terasa. Tidak mustahil bila kelak Asia Tenggara menjadi teritorial paling damai di dunia.


Lalu, bagaimana blogger yang tidak bisa ikutan program itu? Ya menulislah tentang ASEAN yang damai. Saya pribadi beberapa kali menulis tentang pariwisata negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Menuliskan kehidupan masyarakat dengan sosial budayanya di sana. Lagi pula damai itu indah kok. Ngapain nulis yang berkonflik?

***