Saturday, August 3, 2013

Kompasiana, Lautan Penulis Hebat

Tulisan ini menjadi HL di kompasiana.com


Sebuah komentar dari Kang Pepih Nugraha mampir di postingan saya tentang Serunya Berburu Lisensi Naskah Asing. Saya kutip di sini:
“Kang Benny, jangan jauh-jauh berburu buku asing atuh, calon buku dari para penulis Indonesia saja masih banyak. Mau kerjasama dengan Kompasiana, kang?  Saya punya catatan para Kompasianer yang tulisannya bagus-bagus  dan saya telah menjalin kerjasama dengan beberapa penerbit mainstream ternama, antara lain Bentang, Grassindo, Elexmedia, GPU dll.”

Saya belum menjawab komentar Kang Pepih di kolom balas.  Tapi saya akan menjawab untuk Kang Pepih dan Kompasianer lainnya, di postingan ini.

Mengapa menerjemahkan buku asing?

Mungkin banyak orang yang mengira, penerbit lokal yang menerbitkan buku terjemahan itu demi gengsi semata. Saya tidak akan menampik juga tidak mengiyakan. Nanti dulu jawabannya.


Saya akan urai dulu, sedikit tentang lika-liku penerbitan buku secara garis besar. Sebagai sebuah industri tentunya penerbit buku harus merencanakan produksinya dengan matang. Salah satu yang harus dipikirkan adalah jumlah produksi buku untuk satu tahun ke depan.

Penerbit besar biasanya punya rencana produk yang besar pula. Dan untuk mengejar target produksi tersebut, harus dipikirkan sumber naskahnya. Ada dua jenis naskah yang menjadi sumber utama muasalnya, yakni naskah lokal dan naskah asing.

Setiap penerbit biasanya punya visi dan misi yang berbeda. Tak heran jika minat kategori buku setiap penerbit pun berbeda. Ada yang fokus di buku pelajaran, fiksi, marketing, juga komik. Semua akan dikaitkan dengan rencana produksinya.

Sebutlah Penerbit Kajol yang ingin menjadi penerbit novel dewasa nomor satu di Indonesia, dia tentunya akan menerbitkan sebanyak mungkin novel dewasa. Kenyataannya tidak mudah kalo hanya mengandalkan naskah dari penulis lokal dalam jumlah banyak, karena penerbit juga harus mempertimbangkan standar kualitas.  Maka cara lainnya adalah menerjemahkan novel karya penerbit asing.

Begitu pula dengan Penerbit Salman Khan yang ingin eksis sebagai penerbit buku-buku marketing. Dia bisa saja mengorder ke banyak penulis tentang marketing. Tapi Kualitasnya belum tentu sebaik penulis luar negeri, sehingga perlu juga Penerbit salman Khan  menerjemahkan buku asing agar pembaca menemukan pembanding.

Jujur saja, sebagai seorang pekerja perbukuan, sering bangga jika berhasil menerbitkan penulis asing terkenal. Ada image positif dari pembaca, bahwa penerbit tempat saya bekerja senantiasa menerbitkan buku-buku berkualitas. Meskipun untuk sebagian orang mungkin tidak memedulikannya.

Naskah Lokal

Sejauh ini, saya masih seratus persen percaya bahwa naskah lokal tetap yang terbaik dalam industri perbukuan Indonesia. Selaris apapun buku terjemahan, masih lebih laris dan lebih banyak jumlah judul dari karya penulis lokal.

Naskah lokal punya banyak keistimewaan untuk dijadikan prioritas diterbitkan. Sekadar gambaran, saya pernah membaca dua buku kesehatan tentang diet. Satu ditulis oleh penulis lokal yang belum dikenal, satunya oleh dokter terkenal Amerika. Membaca buku diet penulis lokal ternyata lebih mengena, karena makanan-makanan yang harus disajikan benar-benar ada di Indonesia, standart kesehatan, dan lainnya pun demikian. Di buku asing, saya mengerutkan kening karena ada beberapa jenis makanan yang tidak akrab di telinga dan pasti susah mencarinya di pasar induk.

Begitu pula dengan buku fiksi. Kadang ada gap budaya yang membuat saya tidak bisa menikmati humor-humor di buku terjemahan. Sementara saya bisa cekikikkan membaca tulisan Hilman, Boim atau Raditya.

Di penerbitan buku, ada banyak cara untuk mendapatkan naskah lokal. Yang paling lazim adalah menerima kiriman naskah dari penulis. Tapi ini biasanya memerlukan tenaga ekstra. Tidak semua naskah yang dikirim memenuhi standar kulitas penerbit. Saya sendiri kadang hanya bisa meloloskan satu naskah untuk diterbitkan dari seratus naskah yang saya baca. Cara lain yang cukup efektif adalah dengan membuka sayembara atau lomba penulisan, karena biasanya  penulis benar-benar memerhatikan kualitas naskahnya. Cara ketiga adalah mengorder tulisan.

Saya kebetulan bekerja sebagai editor akuisisi, punya cara lain mencari naskah yakni melalui blog walking. Saya mendatangi blog-blog yang penulisnya memiliki keistimewaan. Mungkin kunjungan blognya tidak ramai, tapi punya potensi untuk dikembangkan. Hingga akhirnya ada beberapa penulis yang kemudian saya orbitkan.

Beberapa blog yang potensial tapi tidak dibawah genre yang saya pegang, biasanya saya bagikan kepada rekan-ekan editor lainnya. Siapa tahu bisa ditindaklanjuti.

Potensi Kompasiana

Suatu hari saya menemukan Kompasiana.com dan merasa takjub. Wow, saya berada di lautan penulis-penulis hebat. Sehingga saya tidak perlu mem-bookmark banyak blog di komputer saya untuk mulai mengawasi calon-calon penulis yang akan saya ajak menerbitkan buku.

Saya mulai memasuki kanal-kanal yang paling potensial untuk diterbitkan, seperti  fiksiana, kesehatan dan catatan harian. Kadang saya mampir juga ke kanal yang ekstrim jauh dari genre buku yang saya geluti, seperti olahgara dan otomotif.

Memata-matai atau istilah kerennya ‘stalking’ pun saya lakukan. Apakah Kompasianer A ini menulis konsisten bagus atau tidak. Karena jika dia nanti menulis buku, harus konsisten menulis dengan baik dari awal hingga akhir. Dan menulis buku memerlukan stamina yang kuat ketimbang postingan di Kompasiana.

Saya melihat ada beberapa jenis Kompasianer yang potensial untuk menerbitkan buku (meskipun bukan di tempat saya bekerja). Pertama, kompasianer yang sudah punya jam terbang tinggi dalam menulis. Dia sudah tahu cara memilih tema yang menarik dan menulis dengan gayanya sendiri secara menarik.  Kedua, kompasianer yang sudah menemukan jati diri hanya menulis bidang yang dikuasainya, sehingga tulisannya sangat kuat dan menarik. Ketiga. Kompasianer yang punya insting memilih tema tulisan yang unik dan relatif akan mudah disukai pembaca, meskipun secara teknik penulisan masih harus menambah jam terbang. Terakhir adalah kompasianer yang sudah bisa menulis dengan baik, runut, memiliki kekhasan, namun harus diarahkan untuk memilih tema-tema yang menarik (ini biasanya sangat disukai penerbit sebagai penulis orderan).

Dengan armada yang kuat ini, tentu saja semua penerbit di Indonesia akan mau bekerja sama dengan Kompasiana. Hanya masalah teknis kerja sama saja yang harus ditindak lanjuti. Dan itu bukan proses yang sulit.

So, angkat tangan untuk kompasianer yang ingin menerbitkan buku?