Thursday, August 29, 2013

Kopi Vietnesia Akan Saingi Industri Kopi Brasil

Ngopi yuuuk (foto: dabboo r)


Beberapa kali saya diajak teman saya ngopi bareng di kedai kopi Phoenam di sudut kota Bandung. Teman saya itu pecandu kopi, dan dia dengan yakinnya mengatakan kopi  Vietnam itu paling nikmat dari sekian jenis kopi yang pernah dicicipinya.

Saya yang bukan penggemar kopi hanya manggut-manggut. Mau menepis persepsinya pun percuma. Data menyatakan bahwa kopi Phoenam memang sangat sohor, dan Vietnam adalah penghasil kopi terbesar nomor dua setelah Brasil. Sementara Indonesia berada di peringkat ke tiga.

Menurut Wikipedia, kopi masuk ke Vietnam pada 1857 oleh bangsa Perancis. Produksi kopi dibangun pada awal abad ke-20 dalam skala kecil. Pabrik kopi instan pertama, Coronel (kini Vinacafe), didirikan di Bien Hoa, Provinsi Dong Nai pada tahun 1969, dengan kapasitas produksi 80 ton per tahun.

Pada akhir dasawarsa 1990-an, Vietnam menjadi produsen kopi nomor dua terbesar setelah Brasil, meskipun produk yang dihasilkan lebih difokuskan pada biji Robusta yang berkualitas rendah bila dibandingkan dengan Arabika sebagai komoditas ekspor. Prakarsa pemerintah terbaru adalah upaya untuk memperbaiki kualitas kopi ekspor, termasuk mulai diperbanyaknya pohon-pohon kopi Arabika, dikembangkannya kopi campuran, dan kopi dengan kekhususan tertentu seperti kopi luwak.

Pada tahun 2000, produksi kopi tumbuh menjadi 900.000 ton per tahun. Harga mengalami penurunan meski produksi tahunan juga menurun hingga kira-kira 600.000 ton/tahun pada tahun 2003. Reuters melaporkan bahwa ekspor kopi Vietnam adalah sebanyak kira-kira 1,13 juta ton untuk tahun 2008.

Sementara itu, di Indonesia sejarah perkopian dimulai dengan kegetiran yakni pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) masa penjajahan Belanda., Jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi jenis Arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Kopi juga ditanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor dan Flores.



Pada 1997-1998, menurut data National Geographic,  produksi kopi Indonesia masih di atas Vietnam. Indonesia berada di posisi ketiga setelah Brasil dan Kolombia. Vietnam berada di posisi ke empat. Namun, Kementrian Perindustrian pada Juni lalu menegaskan bahwa produksi kopi Indonesia berada di bawah Vietnam.

Salah satu penyebabnya, menurut Menteri Perindustrian M S Hidayat seperti dikutip liputan6.com,  konsumsi kopi masyarakat Indonesia sendiri rata-rata baru mencapai 1,2 kg per kapita per tahun. Ini masih tergolong rendah bila dibandingkan negara-negara pengimpor kopi lain seperti USA yang mencapai 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Australia 7,6 kg, Belgia 8 kg, Norwegia 10,6 kg dan Finlandia 11,4 kg per kapita per tahun.
Ironisnya, Indonesia masih mengimpor kopi dari Vietnam.

Vietnesia Untuk Dunia

Menuju Masyarakat Ekonomi Asean 2015 yang tak berapa lama lagi, Indonesia sudah melakukan beberapa kerja sama di ASEAN, baik multilateral maupun bilateral. Salah satu bentuk kerja sama bilateral yang dilakukan Indonesia adalah kerja sama bidang politik, diplomati, dan  dengan Vietnam. Kerja sama tersebut makin erat,  khususnyasetelah kunjungan  kenegaraan Presiden Vietnam, Truong Tan Sang ke Indonesia pada Juni 2013. Bahkan, Untuk mendorong  hubungan ekonomi antara dua negara, Indonesia dan Vietnam  sudah menggelar banyak banyak forum dan aktivitas, diantaranya yang mencuat ialah Forum Perdagangan, Pariwisata  dan Investasi Indonesia –Vietnam (TTI)  yang diselenggarakan pada Juni 2013 di kota Ho Chi Minh.

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) sendiri  akan melakukan kerja sama dengan pengusaha kopi di Vietnam yang sukses dalam meningkatkan produksi kopi di negara tersebut. AEKI sudah melakukan studi banding ke Vietnam. Tentu saja saya berharap, kerja sama ini tidak semata meningkatkan produksi kopi Indonesia dan menyusul produksi Vietnam, tapi membuat satu brand bersama kopi Indonesia dan Vietnam demi merajai pasar kopi dunia.

Saya yakin Vietnam sendiri punya ambisi untuk menyaingi Brasil, begitu pula dengan Indonesia. Jika dua negara ASEAN ini bersinegi, tentu akan lebih kuat dan mampu menyaingi Brasil. Caranya bisa dengan membuat satu brand bersama, seperti Kopi Vietnesia (Vietnam dan Indonesia), lalu mengomunikasikan ke seluruh dunia bersama-sama secara terus menerus. Promosi juga harus dilakukan di dalam negeri kedua negara.


Dengan hadirnya Vietnesia, orang tidak akan bertanya lagi, ini produksi Vietnam atau Indonesia. Dan tentunya negara-negara di Komunitas ASEAN 2015 menjadi bagian yang kemudian akan dilibatkan baik sebagai produsen maupun pasar komoditi kopi Vietnesia. Bagaimana?

OO00OO

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba ngeblog