Wednesday, August 28, 2013

Perlukah Mengganti Semboyan 'Wonderful Indonesia'?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, marilah kita membandingkan semboyan pariwisata negara-negara ASEAN.
  1.        Brunei - Brunei, The Green Heart of Borneo
  2.        Kamboja - Cambodia, Kingdom of Wonder
  3.        Laos - Laos, Simply Beautiful
  4.        Malaysia - Malaysia Truly Asia
  5.        Myanmar - Mystical Myanmar
  6.        Philippines - It's More Fun in The Philippines
  7.        Singapore - Your Singapore
  8.        Thailand - Amazing Thailand, Always Amazes You
  9.        Vietnam - Vietnam, Timeless Charm
  10.     Indonesia - Wonderful Indonesia


Dari sepuluh semboyan tersebut, Malaysia Truly Asia merupakan salah satu branding slogan pariwisata paling sukses di Asia. Negara serumpun Melayu itu menggaet 24 juta wisatawan asing dan menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.  Kerajaan ini bahkan memperoleh beberapa penghargaan untuk semboyan wisatanya,  termasuk Best Long Term Marketing and Branding Campaign Gold Awards pada Asian Marketing Effectiveness Awards 2008.

Berikutnya adalah Amazing Thailand  yang juga menjadi semboyan wisata tersukses di dunia. Thailand memasang tagline  ini sejak 1997 hingga kemudian diikuti negara-negara lain di Asia Tenggara. Berkat konsistensinya dalam memasarkan pariwisata, kerajaan ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Asia Tenggara. Sub semboyan  Always Amazes You merupakan penguat slogan utama dan mulai dipakai sejak 2010.

Semboyan Wonderful Indonesia  diperkenalkan awal 2011 menggantikan Visit Indonesia. Ada 5 pilar di dalamnya, yakni  Wonderful Nature, Wonderful Culture, Wonderful People, Wonderful Food, Wonderful  dan Value for Money.

Menurut saya  frasa  Wonderful Indonesia sudah merefleksikan Indonesia secara keseluruhan. Selain itu, kata Wonderful  mudah dimengerti oleh masyarakat luas yang tidak berbahasa Inggris sekalipun. Syarat sederhana dan mudah diingat pun terpenuhi. Mungkin hanya orang Sunda saja nanti yang membacanya jadi ‘wonderpul Indonesia’  seperti halnya ‘pisit Indonesia’ (kidding).

Permasalahannya adalah bagaimana semua pihak di Indonesia, baik yang terkait dengan sektor wisata maupun tidak terus mengkampanyekannya sehingga benar-benar menjadi brand nation. Lihat saja Malaysia dengan semboyan Truly Asia secara konsisten ditayangkan di mana-mana sehingga pemirsa internasional pun semakin lama semakin terpengaruhi dengan konsep tersebut. Terpaan pesan terhadap target perlu direpetisi untuk membentuk suatu mindset. Kalau bisa jangan diubah-ubah lagi meniru dua negara ASEAN yang sukses, kecuali menambahkan sub-semboyan.

Peran masyarakat umum Indonesia, termasuk Blogger sangat penting  untuk mengibarkan semboyan Wonderful Indonesia. Lepas dari setuju atau tidaknya, keputusan pemerintah tentunya sudah dipikir matang-matang memilih semboyan tersebut.


Menyambut Komunitas ASEAN 2015, Indonesia juga tidak perlu menempelkan kata ASEAN, ASTENG, atau ASIA di dalam slogannya. Toh,  sudah ada organisasi Asean Tourism dengan semboyannya ‘Southeast Asia, Feel The Warmth’. Artinya, jika sektor wisata maju bersama-sama dengan negara ASEAN lainnya, pakai saja semboyan itu. Namun, kadang kala Indonesia masih harus bergerak juga secara soliter, tidak dalam komunitas ASEAN.


Di Uni Eropa pun, setiap negaranya masih mengusung semboyan negara masing-masing, karena itu merupakan brand nation yang seyogyanya dimiliki setiap negara.

OOooOO

Tulisan ini diikutsertakan:

#10daysforASEAN