Sunday, August 18, 2013

[Review] Tas Minmie Untuk Anak Cowok, Tidak Bikin Cedera Punggung

Terus terang, setiap kali anak saya, Akhtar, akan berangkat sekolah saya sering miris melihat beban tas sekolahnya yang berat. Berbeda dengan saya waktu SD dulu, buku yang harus dibawa ke sekolah oleh anak saya memang lebih banyak.  Untuk satu pelajaran saja bisa empat buku. Padahal dulu, saya paling banyak membawa dua buku setiap pelajaran. Buku paket dan ulangan di simpan di lemari guru.


Saya semakin prihatin dengan kondisi ini, apalagi mulai tahun ajaran baru ini Akhtar masuk pukul 10 pagi. Artinya, saya tidak bisa mengantarnya dengan mobil ke sekolah. Sehingga, Akhtar harus menggendong tasnya itu dari rumah ke sekolah yang relatif jauh. Bisa 60 menit dengan angkutan umum.



Akhirnya saya harus berpikir keras memilih tas yang tidak mencederai punggung anak saya atau menjadi ‘bom penyakit’ di masa mendatang . Ini pun tidak mudah dilakukan, karena anak saya biasanya agak pilih-pilih dengan tas sekolahnya. Kalau masalah corak, saya bisa mengerti. Tapi jika sudah model, saya harus memberi argumen.

Menurut saya, model tas yang dipilih harus sesuai dengan usia, aktivitas dan postur tubuh anak. Untuk anak saya yang masih berusia dibawah 10 tahun saya sudah memutuskan harus model tas ransel. Karena tas ransel bisa  menyeimbangkan dengan baik beban isi tas.  Tas model selempang tidak akan saya rekomendasika  digunakan untuk tas anak sekolah karena beban tas akan bertumpu pada satu bahu.

Karena beban tas anak sebaiknya  tidak melebihi dari 10% berat anak untuk usia 10 tahun kebawah,  saya biasanya memilih tas anak yang berbobot ringan. Saya hindari tas yang banyak kandungan logam serta kantong-kantong yang tidak perlu. Biasanya anak-anak cenderung mengisi kantong-kantong tas dengan barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan.

Ukuran tas sekolah anak saya pun  disesuaikan dengan tingginya. Agar tidak membuat anak saya ribet, lebar tas sekolah  pun saya ukur agar tidak melebihi lebar tubuh. Saya mengajarkan anak saya memanfaatkan pengatur kait panjang pendeknya agar tas yang dibawanya selalu nyaman.

Untuk menjaga beban tas, saya terkadang ikut memeriksa barang yang dibawanya. Tempat pensil yang berat, sebaiknya diganti yang lebih ringan. Anak ellaki biasanya cenderung membawa mainan ke sekolah. Saya biasanya membatasinya. Begitu pula bekal minum, jika di sekolah bisa membelinya, sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam tas.

Belum lama ini, saya berkunjung ke Bangkok dan bertemu dengan produsen tas Minmie, SS Production. Saya mengira produknya hanya untuk anak perempuan. Ternyata saya salah.

 Mereka memberikan oleh-oleh berupa tas sekolah untuk anak saya. Coraknya cowok banget!
Ketika saya berikan kepada Akhtar, dia sangat suka. Padahal, biasanya Akhtar hanya suka tas bercorak klab sepakbola. Menurutnya, tasnya itu ringan tapi kuat. Untunglah, saya jadi tak ribet lagi memilih tas di tahun ajaran baru ini.