Tuesday, August 27, 2013

Siem Reap dan Magelang Jadilah Sister Cities Demi Komunitas ASEAN 2015


.
Relief di Angkor Wat, dinyatakan mirip dengan yang ada
di Borobudur. (foto: travelsense.asia)


Dalam seminar mengenai penelitan Candi Borobudur dan Angkor Wat di kota Siem Reap, Kamboja, 5-6 Desember 2009,  terungkap kedua candi tersebut memiliki kesamaan model relief. Hal ini sekaligus membuktikan hubungan bangsa Indonesia dan Kamboja ternyata sudah  terjalin sejak sebelum masa Raja Jayawarman II di Kamboja, yaitu sebelum abad ke-9.  

Seharusnya, dengan latar belakang budaya yang sama tersebut, tidak sulit jika dua negara yang sama-sama anggota ASEAN ini menjalin hubungan kerjasama. Apalagi menjelang diberlakukannya Komunitas ASEAN 2015. Bahkan, saya berharap antara (Kabupaten) Magelang dan Siem Reap menjalin ikatan sebagai  Kota Bersaudara (Sister Cities) atau Kota kembar (Twin Cities)



Konsep Kota Bersaudara

Kota bersaudara adalah konsep penggandengan dua kota yang berbeda lokasi (negara)  dan administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan budaya dan kontak sosial antarpenduduk.

Kota bersaudara  umumnya memiliki persamaan keadaan demografi dan masalah-masalah yang dihadapi. Konsep ini bisa diumpamakan sebagai sahabat pena antara dua kota. Hubungan kota kembar sangat bermanfaat bagi program pertukaran pelajar dan kerjasama di bidang budaya dan perdagangan.

Dalam konteks Magelang dan Siem Reap, keduanya sama-sama memiliki sebuah komplek candi yang besar dan kebetulan mirip. Dari sinilah kemudian jenis kerjasama bisa dikembangkan. Semisal kerjasama promosi wisata agar jumlah kunjungan turis keduanya bisa meningkat.

Salah satu cara misalnya, di Angkor Wat disediakan informasi lengkap tentang Candi Borobudur, sehingga wisatawan yang datang ke Angkor Wat juga tertarik ke Borobudur. Sebaliknya, di candi Borobudur juga disediakan informasi komplet tentang Angkor Wat, agar turis yang ke Borobudur juga tertarik berkunjung ke Angkor Wat.

Tidak hanya informasi, keduanya bisa saling tukar atraksi kebudayaan. Hal-hal yang terkait dengan atraksi budaya di magelang, bisa digelar di Siem Reap. Sedangkan atraksi budaya dari Siem Reap juga bisa ditampilkan di setiap perhelatan di kota Magelang. Para pemuda, pelajar, blogger, peneliti sejarah, budayawan, dan segala unsur masyarakat di dua kota tersebut bisa melakukan aneka program pertukaran. 

Mungkin banyak yang belum tahu jika Siem Reap  memiliki gedung pertunjukan yang menggelar pagelaran tari tradisional Apsara, pusat cindera mata, pengrajin kain sutra, sawah pedesaan, desa nelayan, dan suaka burung di dekat danau Tonle Sap. Di sana juga  terdapat bandar udara di kota ini ialah Bandar Udara Internasional Angkor-Siem Reap.

 Magelang sendiri memiliki beberapa sentra kerajinan rakyat, masyarakat bertani dan berkebun, serta bisa ditemukannya beberapa kesenian seperti Kubro Siswo, Badui, Dayakan, Jathilan.

Jika konsep kota bersaudara antara Magelang dan Siem Reap terwujud, dan kerjasama terjalin dengan harmonis, maka bisa dilebarkan dengan daerah-daerah lain yang memiliki latar budaya sama. Tidak hanya Magelang dan Siemm Reap, tapi mungkin juga kota di Thailand, Burma atau Vietnam yang bisa saja memiliki kemiripan. Begitu pula kemiripan antar kota bukan berdasarkan kesamaan relief candi, tapi aneka artefak budaya lainnya.

Ujung-ujungnya akan lebih mudah mewujudkan integrasi perdagangan, pelayanan dan  wilayah investasi yang merupakan  3 hal penting dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.


Mari kita tunggu  partisipasi dua pemimpin wilayah Siem Reap dan Magelang sebagai lokomotif gerakan siter cities ini..

00OO00

Referensi: wikipedia.com
tulisan ini diikutsertakan dalam:

Lomba Blog #10daysforASEAN