Friday, August 30, 2013

Soal Laos


Dari semua negara ASEAN, satu-satunya negara yang tidak begitu saya kenal adalah Laos. Di kepala saya sendiri, setiap disebut ‘laos’ maka  muncul  visual bumbu dapur yang biasa juga disebut lengkuas.

Saya baru tahu jika Laos ternyata bernama lengkap Republik Demokratik Rakyat Laos. Saya pikir Laos masih berbentuk kerajaan.  Karena saya pernah membaca sejarah, setelah penjajahan Jepang selama Perang Dunia II, negara ini memerdekakan diri pada 1949 dengan nama Kerajaan Laos di bawah pemerintahan Raja Sisavang Vong.

Rupanya, pada 1975 kaum komunis yang didukung Uni Soviet dan komunis Vietnam menyingkirkan pemerintahan Raja Savang Vatthana dukungan Amerika Serikat dan Perancis. Kemudian, mereka mengganti namanya menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos hingga saat ini dan bergabung dengan ASEAN pada 1997.

Sejak menjadi anggota ASEAN, Laos mengakui mengalami pertumbuhan yang siginifikan dalam perdagangan, investasi, dan kedatangan wisatawan asing .  Laos banyak mendapat dukungan teknis dan bantuan  dalam pengembangan sumber daya manusia dari negara-negara anggota ASEAN, juga mitra dialog dan mitra eksternal lainnya. Seperti negara berkembang umumnya, kota-kota besar di Laos  seperti  Vientiane, Luang Prabang, Pakxe, dan Savannakhet, mengalami pertumbuhan signifikan beberapa tahun terakhir.

Laos pernah sukses memimpin  ASEAN pada tahun 2004-2005. Selanjutnya, Laos dipercayakan ke kursi dan tuan rumah berbagai pertemuan regional dan internasional yang penting. Laos menjadi tuan rumah ke-9  Asia-Europe Meeting (ASEM) Summit tahun ini  dan pada 2016, Laos akan menjadi pimpinan ASEAN untuk kedua kalinya.

Tiga untuk Laos

Menjelang Komunitas ASEAN 2015, saya rasa hal yang tepat menempatkan Laos menjadi pemimpin ASEAN. Dengan demikian, Laos akan meningkatkan kinerjanya bagi ASEAN dengan optimal. Paling tidak, Laos bisa menyamai kontribusinya seperti halnya Kamboja yang masuk ASEAN pada tahun yang sama. Setidaknya, saya mencatat tiga langkah utama yang bisa dilakukan Laos  agar setara kontribusinya di ASEAN.

Pertama, dengan segala potensi yang dimiliki  Laos, harus lebih berpartisipasi penuh  dalam pergaulan  dengan ASEAN. Hubungan diplomatik dengan negara-negara ASEAN dilakukan lebih intensif, terutama dengan negara yang menyimpan potensi risiko konflik perbatasan maupun sejarah masa lalu, misalnya dengan Thailand, Vietnam dan Kamboja. Selanjutnya, bisa meluas dengan negara ASEAN lainnya. Saya bersyukur Thailand sudah mau memulainya dengan rencana membangun rel yang menghubungkan Vientiane dengan Thailand yang dikenal dengan Jembatan Persahabatan Thailand-Laos

Kedua, rendahnya tingkat pembangunan ekonomi Laos bisa ditingkatkan dengan kesadaran prioritas kerjasama –jangka panjang dan pendek- dalam tingkat regional, yakni ASEAN. Bukan bantuan dari negara-negara yang jauh darinya.  Seperti yang saya baca, ekonomi Laos  banyak menerima bantuan dari IMF. Padahal jika berkaca kepada Indonesia, betapa IMF kelak malah akan mencekik negerinya sendiri.  Bentuk kerja sama yang  dapat ditingkatkan dengan mudah di ASEAN adalah sektor pariwisata. 

Ketiga, karena masih ada konflik internal, seperti bentrok senjata dari kelompok tertentu masih terjadi secara kecil-kecilan di seluruh negeri, sebaiknya coba melakukan pertemuan-pertemuan atau diskusi berdasarkan pengalaman negara ASEAN mentelesaikan masalah internal.  Memang, ASEAN selalu berusaha menegakkan prinsip  non - intervensi , namun tidak menutup kemungkinan untuk mendukung stabilitas nasional Laos. Sebab, konfilk kecil di dalam satu negara bisa berimbas ke negara lain, secara masih dalam satu regional.

Sekali lagi, agar begitu masuk  Komunitas ASEAN 2015 nanti tidak terjadi negara yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, setiap negara harus memberi konstribusi seoptimal mungkin. Sehingga hasil yang dicapipun bias semaksimal mungkin.

OOooOO

referensi: wikipedia

tulisan ini untuk lomba #10daysforASEAN