Wednesday, August 21, 2013

Tak Ada Kontribusi Pemuda Indonesia di ASEAN?

Percepatan pembentukan Komunitas ASEAN dari 2020 menjadi 2015, telah disepakati oleh para Kepala Negara ASEAN pada KTT ke- 12 ASEAN. Komunitas ASEAN 2015 dibangun di atas 3 pilar, yaitu: ASEAN Political-Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio-Culture Community baik dalam skala regional maupun global.

Saya amat tertarik dengan pilar ke-3, karena kerjasama di bidang sosial- budaya menjadi salah satu titik tolak utama untuk meningkatkan integrasi ASEAN melalui terciptanya “a caring and sharing community”, yaitu sebuah masyarakat ASEAN yang saling peduli dan berbagi. Tanpa adanya kerjasama dan sinergi antar masyarakat ASEAN rasanya sulit membayangkan sebuah integrasi konstruktif di wilayah ASEAN. Dan bidang sosial-budaya sebagai akar kemasyarakatan adalah paling potensial untuk diangkat sebagai modal integrasi berdasarkan kerakyatan. Apalagi sebagai organisasi teritori ASEAN memiliki konsep social-budaya yang sama yakni menjunjung nilai-nilai ketimuran.

Kerjasama sosial-budaya mencakup kerjasama di banyak bidang, salah satunya adalah kepemudaan.  Terus terang, saya jarang sekali mendengar kiprah pemuda Indonesia di ASEAN. Entah karena memang tidak ada aktivitas pemuda Indonesia di ASEAN, ataukah jarang sekali yang memberitakannya, atau saya yang kurang peduli dengan kontribusi pemuda Indonesia di ASEAN?


Bidang Kepemudaan

Walaupun sudah tidak dalam koridor usia muda, namun saya selalu tertarik dengan bidang kepemudaan. Karena menurut saya, sebuah usaha integrasi kontruktif harus melibatkan generasi mudanya. Dengan adanya lomba penulisan blog yang diprakrasai  Komunitas Blogger ASEAN ini, saya jadi browsing berjam-jam dan baru terbuka mata tentang betapa besarnya kiprah pemuda Indonesia di ASEAN.

Salah satunya  informasi tentang kegiatan pemuda Indonesia di tingkat ASEAN adalah melalui wadah ASEAN Youth Friendship Network (AYFN). AYFN adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang persahabatan dan pertukaran kebudayaan antara negara-negara ASEAN. Organisasi ini membawa misi persahabatan, memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke negara host, serta tentu saja, mengenal lebih jauh tentang negara yang dikunjungi.

AYFN sendiri didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada yang saat ini sudah beranggotakan lebih dari 90 alumni, dan telah menjalankan lebih dari 5 program dalam kurun waktu 2 tahun didirikan. Program unggulan AYFN adalah  IVYFP (Indonesia Vietnam Youth Friendship Program), ILFRIP (Inter-cultural Learning and Friendship Program), dan IPYCEP (Indonesia Philippine Youth Cultural Exchange Program). 




AYFN bukan satu-satunya wadah kiprah kepemudaan ASEAN. Masih ada lagi seperti ASEAN Student Leader Forum (ASLF), yakni sebuah  forum mahasiswa  yang merumuskan permasalahan-permasalahan di perguruan tinggi di seluruh ASEAN, nantinya rumusan masalah yang didapatkan ini akan disikapi dan diselesaikan bersama. Beberapa permasalahan yang muncul adalah letak geografis yang jauh, perbedaan bahasa, perbedaan budaya, sulitnya melakukan pergerakan pemuda, krisis kreativitas, sikap individualis yang berkembang dikalangan pemuda, kesulitan keuangan dan perbedaan pemikiran.

Untuk generasi muda yang ingin berkiprah sebagai relawan bisa juga aktif di The ASEAN Youth Volunteer Programme (AYVP). Organisasi yang diprakarsai Kementrian Pemuda dan Olahraga Malaysia, terbilang aktif mengundang partispasi pemuda  ASEAN. Belum lama ini, AYVP melakukan aktivitas konservasi alam dengan mengundang 100 relawan dari negara-negara ASEAN.


Masih ada sederet lagi wadah bagi aktivitas pemuda ASEAN, seperti ASA (ASEAN Alliance), ASEAN Student Exchange Program, ASEAN Youth Movement, ASEAN Centralized Framework for Youth Cooperation, termasuk ASEAN's Youth Council. Hebatnya, hampir dari semua kegiatan tersebut, saya membaca informasi pemuda Indonesia sangat berperan penting dalam mengambil langkah-langkah dan keputusan.

Pentingnya Informasi

Lantas, mengapa kiprah pemuda Indonesia itu tidak diinformasikan secara luas? Bahkan saya harus memasukkan beberapa kata kunci di mesin pencari Google untuk menemukan informasi ihwal aktivitas pemuda Indonesia di ASEAN. Kebanyakan dalam bahasa Inggris. Kalaupun ada dalam Bahasa Indonesia, sangat sedikit sekali portal berita ataupun blog yang memuatnya.

Dalam ilmu komunikasi, jika sebuah informasi penting tidak sampai ke masyarakat, maka bisa dipastikan kesalahan utama adalah pada penyampai informasi, proses penyampain informasi, muatan informasi itu sendiri, serta frekuensi terpaan informasinya . Penerima informasi akan berada di urutan jauh di paling belakang.

Di era jurnalistik warga seperti sekarang ini, rasanya heran jika sebuah informasi masih menjadi hambatan pada komunikator (penyampai) dan medianya. Jumlah blogger Indonesia yang lebih dari 5 juta orang, ditambah akses Internet yang semakin mudah mestinya bukan hambatan dalam menyampaikan informasi penting.

Jika media massa mainstream serta portal berita tidak tertarik memberitakan kiprah pemuda Indonesia di ASEAN, saatnya para blogger yang bicara. Lahirnya Komunitas Blogger ASEAN bisa menjadi lokomotif bagi blogger lainnya agar mendukung terus integritas konstruktif berdasarkan kemasyarakatan akan eksistensi Komunitas ASEAN 2015.

Selain menyebarluaskan informasi dari portal resmi ASEAN, para blogger sebaiknya juga mengolah  lagi ke dalam muatan blog yang lebih mudah dimengerti masyarakat banyak.

Langkah lain yang bisa dilakukan Komunitas Blogger ASEAN adalah menggugah kesadaran berbagi informasi para anggota yang terlibat dalam lembaga kepemudaan ASEAN. Mungkin melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga pemuda ASEAN di atas, memberikan bekal motivasi ngeblog dan pelatihan ngeblog yang efektif. Sehingga, sebagai pelaku langsung mereka bisa menyampaikan kegiatan mereka melalui blog.

Niscaya, jika informasi kiprah pemuda Indonesia di ASEAN dibagi kepada masyarakat luas dan berkesinambungan agar terjaga frekuensi terpaannya, tidak akan ada lagi orang seperti saya yang menyangsikan kontribusi pemuda Indonesia di ASEAN.

OO00OO