Wednesday, September 4, 2013

Bukan Mieholic Kalo Belum Icip-Icip Mie Celor 26 Ilir




Jika pergi ke Palembang, Sumatera Selatan, makan mpek-mpek sudah bukan hal baru lagi bagi pelancong.  Ada berbagai jenis makanan khas setempat yang terkenal, salah satunya adalah Mie Celor 26 Ilir. Kuah yang kental serta aroma khasnya, selalu memikat pengunjung yang datang kewarung sederhana di sisi  perempatan Jalan KH Ahmad Dahlan ini. Nah, karena saya penikmat mie, maka saya wajib datang ke tempat satu ini. Soalnya di Bandung nggak ada sih.

Tidak susah untuk mencari lokasi warung ini. Datang saja ke kawasan pasar tradisional 26 Ilir Palembang, atau lebih kenal  wong Palembang dengan sebutan  Pasar Soak Bato. Semua akan segera menunjukkan letak warung  yang  selalu ramai pengunjung ini. Bukan hanya mereka yang ingin sarapan setelah capai berbelanja di pasar, namun ada pula para pekerja, ibu rumah tangga, karyawan kantor, dan eksekutif muda.

Ini saya, bukan yang jualan. (foto: Benny Rhamdani)
Memasuki Warung Mie Celor 26 Ilir   saya melihat sembilan meja yang dilengkapi empat kursi. Sabar saja bila ingin makan di warung. Sebab tak jarang pengunjung harus rela mengantre. Warung ini dibuka 06.30-18.30 dan  pengunjung dapat menyantap mie celor dengan berbagai varian, mulai mie celor spesial, mie celor biasa, hingga yang menambahkan racikan kecambah, telur, dan udang. Kenikmatan Mie Celor 26 Ilir terletak pada perpaduan kuah dan Miekuning yang dibuat secara khusus.

Bikin ketagihan. (foto: Benny Rhamdani)
Mie Celor 26 Ilir berdiri lebih dari 30 tahun. Usaha kuliner ini dirintis HM Syafei Z dan kini diteruskan oleh anak-anaknya. Para pengunjung bukan hanya warga Palembang, melainkan para wisatawan yang sengaja berkunjung, maupun warga dari luar kota/provinsi yang memang sudah terbiasa berkunjung ke sini. Bahkan, mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri saat masih menjabat dan berkunjung ke Palembang sempat beberapa kali menyantap secara langsung Mie Celor 26 Ilir berkat rekomendasi sang suami, almarhum Taufiq Kiemas, yang juga asli Palembang.

Kuahnya diramu dengan racikan bumbu rahasia yang didominasi kaldu udang satang ditambah santan kelapa agar lebih mengental. Kuah kental kekuningan dengan  bongkahan udang ukuran kecil ini terasa makin nikmat disajikan dalam kondisi panas. Kelezatan kuah inilah yang membedakannya dengan mie celor lain.

Kuah diletakkan dalam panci besar yang terdiri dari dua bagian. Kompor  dibiarkan hidup dengan pengaturan yang tidak terlalu besar. Sementara, bagian panci lain berisi air khusus untuk mencelupkan mie dan kecambah.

Bahan mie di sini berwarna kuning, bentuknya sedikit menyerupai pasta, terasa lembut dan tak terlalu kenyal lantaran mie ini memang dipesan khusus dengan bahan dasar gandum dan pembuatannya cukup higienis. Wangi bawang merah goreng, daun bawang, dan daun seledri yang ditaburkan di atas mie celor sangat menggugah selera makan. Apalagi ada telur rebus yang sudah diiris-iris. Mau lebih nikmat? Tambahkan kerupuk ikan dan emping. Kalau saya sih cukup menambahkan kuah dengan sambal, kecap, dan cuka. Pokoknya, maknyus deh! Cocok buat mieholic seperti saya.


OOooOO