Wednesday, September 25, 2013

Contoh Naskah untuk Rubrik Pariwisata di koran Pikiran Rakyat

Sebelumnya saya akan kasih beberapa catatan untuk yang akan kirim tulisan sejenis ke Pikiran Rakyat:

1. Pastikan tulisan benar-benar berdasarkan pengalaman, bukan dari sumber Internet.
2. Panjang tulisan sekitar 2 halaman, karena halaman ini biasanya untuk iklan. Kadang bisa nyempil-nyempil   kalau pendek. Mau lebih juga silakan. Pastikan mengangkat hal paling menarik dari obyek wisata tersebut.
3. Pastikan kualitas foto yang terbaik. Jangan kirim foto narsis. Kirim 3-4 foto terbaik.
4. Tulisan sebaiknya sudah bersih, tanpa kesalahan typo apalagi editing.
5. Sebisa mungkin pelajari gaya penulisan yang pernah dimuat.
6. bisa kirim via e-mail: redaksi@pikiran_rakyat.com atau hiburan@pikiran-rakyat.com






Pulau Kelor Nan Menawan Hati

Heboh tentang resepsi pernikahan pasangan selebriti Atiqah Hasiholoan dan Rio Dewanto yang menyisakan sampah di Pulau Kelor, membuat saya teringat saat beberapa waktu lalu mengunjungi pulau di gugus Kepulauan Seribu, Jakarta, itu. Awalnya, saya sama sekali tak berencana mengunjungi pulau yang dulu dikenal dengan nama Pulau Kherhof tersebut.

Perjalanan utama saya adalah mengunjungi resort Pulau Bidadari yang jarak tempuhnya hanya 15 menit dari dermaga Marina Ancol menggunakan speed boat. Saat tiba di Pulau Bidadari, seorang tukang kapal kayu menawarkan jasanya mengelilingi tiga pulau terdekat dari Pulau Bidadari hanya dengan membayar Rp50.000. Salah satunya adalah Pulau Kelor.

Karena penasaran, akhirnya saya memutuskan menjajal naik kapal kayu.  Rugi rasanya jika sudah sampai Pulau Bidadari, tapi tidak mengunjungi pulau-pulau lainnya. Dan tujuan pertama jelajah kapal kayu adalah ke Pulau Kelor yang hanya sekitar 15 menit dari Pulau Bidadari.

Pulau Kelor ini benar-benar membuat dunia selebar daun kelor karena luasnya hanya sekitar  satu hektar. Dari ujung pulau, kita bisa melihat ujung lainnya. Padahal pada tahun 1980-an luasnya masih sekitar 1,5 hektar. Diperkirakan, pulau ini akan tenggelam beberapa puluh tahun ke depan  akibat abrasi ditambah pemanasan global yang menyebabkan naiknya permukaan laut.

Yang menarik, di pulau ini terdapat peninggalan Belanda berupa galangan kapal dan benteng  Martello yang dibangun VOC untuk menghadapi serangan Portugis di abad ke 17. Benteng ini terbuat dari batu merah dan berbentuk silinder agar senjata bisa bermanuver 360 derajat. Benteng ini masih berhubungan dengan Menara Martello di Pulau Bidadari.

Di Pulau kelor juga terdapat kuburan Kapal Tujuh (Sevent Provincien) serta awak kapal berbangsa Indonesia yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda.

Selama mengitari Pulau kelor, saya melihat sejumlah pemancing dari anak-anak sampai orang dewasa tampak tekun dengan kailnya. Ada beberapa pemancing yang sengaja menginap di sana dengan mendirikan tenda. Ada juga yang menginap di dekat reruntuhan benteng Martello. Kabarnya, Pulau Kelor sering pula dijadikan lokasi pemotretan pre wedding karena sunset di pulau ini sangatlah indah.

Yang patut disesalkan, benteng ini banyak sekali dikotori  pengunjung yang singgah.  Bekas bungkus mie instant dan botol plastik minuman bertebaran di sekitar pulau. Di bibir pantai juga telihat sampah yang terbawa ombak  dari teluk Jakarta.

Saya merasa beruntung masih bisa melihat dan merasakan   keindahan Pulau Kelor. Mungkin tak berapa lama lagi benteng ini akan benar-benar runtuh  karena kurang dirawat dan pulaunya akan tenggelam karena  abrasi.


(Benny Rhamdani, penikmat wisata tinggal di Bandung)