Wednesday, September 4, 2013

Jakarta sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN, Apa Untungnya?

Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-21 ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, November 2012, Menlu Marty M. Natalegawa secara resmi menyerahkan Piagam Pengesahan (Instrument of Ratification) Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan ASEAN mengenai Host Country Agreement kepada Sekretaris Jenderal ASEAN. Perjanjian Host Country Agreement yang mengatur mengenai pemberian fasilitas dan keistimewaan kepada Sekretariat ASEAN ini, akan memastikan Sekretariat ASEAN dapat beroperasi sebagai nerve centre Komunitas ASEAN dan mempromosikan Jakarta sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN (Diplomatic Capital of ASEAN).

Markas ASEAN di jakarta. (foto: wikipedia)


Resminya Jakarta sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN dengan kata lain peran kota Jakarta bisa seperti Manhattan tempat Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa ataupun Brussels di Belgia yang menjadi ibu kota bagi Uni Eropa. Di kota-kota negara tersebut terdapat perwakilan diplomatik negara-negara anggotanya.

Menurut saya langkah ini sudah tepat, karena Indonesia sebagai salah satu pelopor berdirinya ASEAN harus memegang andil paling besar dalam kiprahnya di ASEAN, terutama menyambut Komunitas ASEAN 2015. Tapi apakah Jakarta memang cocok sebagai ibu kota diplomatik dibandingkan kota-kota besar lainnya di ASEAN?

Pengalaman saya melihat dua kota besar lainnya di ASEAN seperti Kuala Lumpur dan Bangkok, setidaknya bisa menyimpulkan, Jakarta masih harus berbenah menghadapi tantangan sebagai ibu kota diplomatik. Iklim yang hospitable bagi kehidupan diplomatik di Jakarta masih jauh dari baik. Terutama problem lalu lintas dan minimnya infrastruktur masih menjadi PR besar. Janganlah dibandingkan dengan Brussels atau Manhattan.

Apa Untungnya?

Lantas mengapa Indonesia harus keukeuh Ibu Kota diplomatik ASEAN. Tentunya pemerintah sudah memikirkan keuntungannya. Baik keuntungan bagi pemerintah Indonesia sendiri maupun untuk masyarakat Indonesia, terlebih warga Jakarta.

Keuntungan bagi pemerintah Indonesia sudah jelas adalah kebanggaan dalam pencitraan. Sehingga Jakarta khususnya, bisa lebih di kenal di forum-forum International. Tidak mustahil jika perannya sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN berhasil, akan menular kepada organisasi yang lebih besar keanggotaannya. Sebagai Ibu Kota Diplomatik juga bisa memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan-keputusan.

Demi keuntungan tersebut, pemerintah sudah semestinya memikirkan perbaikan fasilitas dan sarana demi menjadi ibu kota diplomatik yang baik. Mau tidak mau peran Pemda DKI Jakarta akan dituntut lebih besar lagi.

Transportasi publik harus dibenahi. (foto: wkipedia)

Di sinilah yang kemudian menjadi keuntungan bagi warga Jakarta, dan masyarakat Indonesia umumnya. Karena akan banyak dikunjungi tamu asing termasuk liputan media asing, maka akan terjadi pembangunan infrastruktur yang lebih baik dan modern di Jakarta. Artinya, infrastruktur tersebut bukan hanya untuk dinikmati para diplomat asing, namun juga warga Jakarta.

Kemacetan lalu lintas akan diurai, transportasi publik dibuat lebih manusiawi, kebersihan lingkungan akan dijaga, tata kota lebih asri, warganya hidup dalam kedisiplinan dan mengembangkan kearifan lokal demi mempertahankan citra yang baik dari pandangan international. Itulah sebagian keuntungan yang diharapkan.

Dari sisi ekonomi, sudah pasti akan terjadi peningkatan pendapatan asli daerah. Jika ada rapat, diskusi atau konferensi, entah berapa tamu yang akan menginap di hotel-hotel berbintang di Jakarta, yang berarti pemasukan untuk industri hotel dan pemda Jakarta dari sector wisata. Termasuk uang yang mereka belanjakan untuk makan dan minum, atau oleh-oleh. Dibukanya kantor-kontor diplomat asing juga akan membuka lapangan kerja baru. Bisinis property sudah dipastikan akan meningkat karena pejabat-pejabat kantor perwakilan asing membutuhkan tempat tinggal. Efeknya adalah pada tingginya permintaan apartemen, terutama di kawasan yang penuh dengan kantor diplomat seperti Kuningan dan Menteng.

Saat ini, tercatat  di Jakarta terdapat 94 kedutaan besar asing, kantor Sekretariat ASEAN, sejumah kantor perwakilan Badan PBB dan organisasi non-pemerintah internasional. Secara tidak langsung,  memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi di Jakarta yang cukup signifikan. Hal itu terlihat dari jumlah perusahaan di bidang logistik yang meningkat hingga 104 persen, sejak 2010 (500 perusahaan) hingga kuartal pertama 2012 (1.020 perusahaan).

Penanaman modal asing (PMA) di Jakarta mencapai pada level tertinggi, dibandingkan sejumlah kota besar di Indonesia, dengan pencapaian sebesar 4,8 miliar dolar AS (Rp45,4 triliun) pada 2011. Pada kuartal pertama 2012, Jakarta kembali menikmati nilai PMA tertinggi sebesar 13,9 miliar dolar AS (Rp131,56 triliun).

Dari sisi keamanan, sudah pasti harus lebih ditingkatkan. Sebab tidak mungkin orang-orang asing mau berkunjung ke kota yang dipenuhi ancaman kriminalitas dan teroris, serta gangguan keamanan lainnya.

Andil Masyarakat

Bukan hanya pemerintah yang harus menjaga nama baik Jakarta sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN. Peran masyarakat dan swasta tentu penting sekali. Untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, sangat diperlukan sosialisasi kepada semua pihak posisi Jakarta saat ini sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN.

Saya yakin sepenuhnya dengan kepemimpinan Jokowi-Ahok, Jakarta akan menjadi Ibu Kota Diplomatik ASEAN yang ideal. Sebab, bila gagal, maka Indonesia akan merugi. Pencitraan negatif akan mudah tersebar luas.

Saya sendiri walaupun bukan warga Jakarta (tapi sering berhubungan dengan rekan bisnis dari luar negeri di Jakarta), akan berusaha menyumbangkan pemikiran demi Jakarta yang lebih baik. Terutama lewat tulisan-tulisan di blog tentunya. Karena saya sudah membaiat diri saya sendiri sebagai blogger ASEAN.
ooOOoo

referensi: asean.org dan kemlu.go.id

Tulisan ini disertakan dalam lomba #10daysforASEAN