Monday, November 18, 2013

Adikarya, Apa Kabar?



Pada 2007, karya saya berjudul Jika Aku Jadi Kucing dinyatakan sebagai pemenang ketiga pada Penghargaan Adikarya IKAPI. Sebagai penulis, bohong kalau saya berkata tidak senang dengan penganugerahan tersebut. Bahkan sampai sekarang, saya masih ingat momen tersebut.

Seperti dikutip dari milis Pasar Buku, Penghargaan Adikarya Ikapi diberikan kepada beberapa pengarang dan ilustrator terbaik dalam buku cerita anak-anak, dan beberapa pengarang terbaik dalam buku cerita remaja. Awalnya di dalam penghargaan ini tercakup juga kritera-kriteria lain seperti desain terbaik danbuku terlaris. Tapi dalam perkembangannya, kriteria-kriteria tersebut semakin dikurangi.

Penghargaan Adikarya Ikapi ingin meniru tradisi Caldecott AwardNewbery Award atau Hans Christian Andersn Award yang bergengsi itu, yang hanya memberikan penghargaan terhadap cerita/tulisan dan gambar/ilustrasi yang baik. Dan pengertian baik disini tentu saja dalam kaitan dengan aspek sastra dan senirupa, bukan aspek popularitas.

Penghargaan ini diberikan untuk meningkatkan mutu cerita/tulisan dan mutu gambar/ilustrasi dalam buku fiksi anak serta buku fiksi remaja. Disebabkan oleh beberapa alasan, maka mutu (cerita/tulisan maupun gambar/ilustrasi) dalam buku fiksi anak-anak kita menjadi agak terabaikan. IKAPI cenderung lebih memperhatikan aspek popularitas. Karena itu para pengarang dan ilusrator (dan juga penerbit) perlu dirangsang agar juga mulai memikirkan aspek mutu dalam buku terbitannya.

Penghargaan Adikarya bukan jaminan bahwa sebuah buku akan menjadi bestseller. Di Indonesia mutu tidak selalu berjalan beriringan dengan popularitas. Tapi kalau para pengamat, pustakawan, pendidik dan kritikus buku bacaan anak mau membantu mempromosikan buku-buku yang telah memenangkan penghargaan itu, maka penjualannya tentu akan terangkat juga. Pada gilirannya, semakin banyak anak-anak/remaja yang berkesempatan untuk menikmati buku yang baik, dan hal ini tentu akan semakin memajukan childrens literature kita.

Tradisi pemberian penghargaan ini dilakukan setiap tahun, dan telah dimulai sejak tahun 1997. Biasanya Panitia menyurati seluruh penerbit (anggota maupun non- anggota Ikapi) agar mengirimkan buku fiksi anak/remaja yang diterbitkannya sepanjang tahun yang telah berlalu. Dan disamping menyurati para penerbit, maka Panitia juga memuat pengumuman di berbagai milis. Maksudnya tiada lain, agar para pengarang dan ilustrator mengingatkan penerbit agar jangan lupa untuk mengirimkan bukunya.

Sepanjang sejarah Penghargaan Adikarya-Ikapi "entry" yang diterima oleh Panitia tidak pernah lebih dari 30-an penerbit dan yang meliputi 300-an judul. Dulu Panitia pernah merasa bahwa tanggapan penerbit sangat rendah. Tapi setelah diteliti lebih jauh, memang inilah gambaran penerbitan buku fiksi anak dan remaja kita. Buku fiksi anak dan remaja yang serius tidak terlalu banyak.

Karena Penghargaan Adikarya diberikan setiap tahun, dan karena tujuannya adalah memacu kreativitas, maka yang dinilai adalah buku- buku yang diterbitkan sepanjang tahun yang baru berlalu sampai kepada saat pengumuman. Juri juga diambil dari kalangan yang dianggap menguasai aspek-aspek tersebut. Ada akademisi dan ada juga praktisi. Tapi penguasaan dan pengenalan terhadap sastra anak Indonesia juga merupakan sebuah aspek penting dalam merekrut juri.

Sejak 2009, saya tidak pernah lagi mendengar tentang penghargaan Adikarya Ikapi. Saat itu, ajang Indonesia Book Fair sebagai media pemberian Adikarya sudah kalah pamor dengan Islamic Book Fair. Dan muncullah IBF Award untuk beberapa kategori buku, termasuk buku anak. Hanya jenis bukunya khusus bertamakan agama islam, tak lagi seluas Adikarya.

Sudah lima tahun saya berharap Adikarya kembali muncul. Bukan karena saya ingin memenangkan penghargaan, namun karena di Indonesia minim sekali penghargaan untuk bacaan anak-anak Indonesia. Untuk karya, penulis, dan pekerja kreatif lain di buku anak. Padahal seperti yang saya rasakan, penghargaan dari pelbagai pihak bisa menjadikan motivasi kuat para insan perbukuan anak-anak untuk lebih baik lagi berkarya.

Sering saya merasa cemburu, ketika bermunculan penghargaan terhadap buku yang diterbitkan. Umumnya selalu mengabaikan jenis buku anak.  Terkadang malah buku anak dipetarungkan dengan buku umum.  Semakin tidak jelas penggolongannya.

Jika memang Adikarya Ikapi ingin mati suri lebih lama, semoga ada pihak swasta maupun lembaga pemerintah lain yang memberi penghargaan di dunia literasi anak. Terutama apresiasi terhadap buku-buku yang sudah diterbitkan. Setidaknya mendekati tujuan dan harapan Adikarya yang sesungguhnya amat bermakna.