Sunday, December 1, 2013

Ngobrolin Penerbitan Buku Bareng Moammar Emka


Emka buka dapur Penerbit Gagas Media. (foto: Benny Rhamdani)

Jika bisnis penerbitan buku cetak di negara maju sudah mulai diusik buku digital, di Indonesia masih relatif jauh persaingan bisnisnya. Bahkan menurut salah satu pendiri Penerbit Gagas Media, Moammar Emka, buku digital masih lama bisa jalan di Indonesia. “Mungkin masih sekitar empat tahun lagi buku digital memasyarakat di Indonesia. Jadi bisnis penerbitan buku cetak masih menjanjikan. Apalagi jika dibandingkan dengan menerbitkan majalah saat ini,” papar Emka di acara ngobrol santai Model Bisnis Baru Penerbitan dan Percetakan, di ajang Indonesia Creative Power 2013, pada Jumat (29/11), 

Saya yang tahu persis perkembangan buku digital di Indonesia manggut-manggut setuju dan menyimak obrolan di sebuah cafe di Epicentrum, Jakarta tersebut. Lalu, Emka membuka beberapa rahasia dapurnya dengan memaparkan  cara yang dilakukannya membangun bisnis penerbitan buku cetak.

Diawali ketika Emka menerbitkan buku Jakarta Under Cover (JUC) di sebuah penerbit di kota Jogja. Buku tersebut hanya dicetak 3.000 eksemplar sementara di toko buku sudah ludes. Emka mengajukan permintaan agar bukunya segera dicetak ulang. Namun ternyata kapital penerbit tersebut tidak memadai. Akhirnya, Emka pun menggaet beberapa temannya untuk membiayai cetak ulang bukunya yang laris itu.

Secara resmi, Gagas Media berdiri pada 2003. Menurut Emka, saat ini peningkatan omsetnya sudah naik hingga 2000%.  Dalam sebulan, penerbitnya bisa meraup uang sekitar  3 M rupiah dengan 900 karyawan dan 15 kantor cabang.

Diakuinya, keberhasilan Gagas media salah satunya karena mendapat buku Raditya Dika yang rajin promosikan bukunya sendiri. “Minimal royalti  Rp500 juta setiap periode pembayaran,”  ungkap Emka.

Itu sebabnya, penerbitnya lebih dikenal sebagai penerbit buku  populer remaja. “Sebenarnya, kami juga membuat banyak jenis buku. Kecuali buku pelajaran yang sudah dikuasai beberapa penerbit,” kata Emka.

Emka juga menyebutkan beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membuat penerbitan buku cetak. Mulai dengan menerbitkan 1-2 buku setiap bulan  sebenarnya sudah aman. Tentu saja naskahnya harus yang menarik dan sesuai pasar. Untuk hal ini, Emka membongkar rahasia dapurnya.

“Kami punya tim yang namanya first reader terdiri dari anak SMP dan SMA. Mereka kami minta menilai naskah yang sudah lolos seleksi redaksi. Terutama kekuarangan naskah itu. Para first reader itu kami gaji Rp1,7  juta hingga Rp2 juta per bulan. Lumayan kan buat anak-anak sekolah,” kata Emka.

Kalau pun kemudian bisnis penerbitan buku cetak menghadapi kendala, lebih kepada pendistribusiannya ke pasar. Terutama ketika harus berbagi rabat dengan toko buku. Dan karena tak mau terlalu mengandalkan toko buku, maka muncullah ide kreatif untuk mencari gerai buku lainnya dan membuat pameran di pelosok-pelosok, termasuk ke pesantren.

Acara ngobrol santai itu juga dihadiri sejumlah insan penerbitan seperti Intan Savitri dari Balai Pustaka, Gina S Noer dari Plot Point, termasuk dari penerbit indie yakni Olie dari nulisbuku.com. Ada juga penulis seperti Rachmania Arunita.

Selain tentang bisnis penerbitan buku cetak, muncul pula diskusi soal hak karya intelektual dan agen naskah
.
Menurut saya, ajang tersebut sangat bermanfaat untuk menjalin ikatan antara sesama penerbit mayor dan indie, penerbit digital, dan juga penulis. Mungkin nantinya bisa menjadi kekuatan baru untuk menggerakkan dunia perbukuan di Indonesia yang menurut saya masih sangat lambat. Melihat semangat mereka, saya sangat berharap mereka-mereka inilah yang berada di pengurusan lembaga yang direstui pemerintah seperti IKAPI.