Thursday, December 12, 2013

Pengalaman Meeting di Bumi Bandhawa



















Akhir tahun adalah masa-masa yang bikin kepala pening dengan serangkaian rapat dan membuat setumpuk laporan. Itulah resiko menjadi pegawai kantoran. Dan tambah bete lagi kalau meetingnya di tempat yang nggak nyaman. Hari ini saya merasakan meeting yang benar-benar nyaman di sebuah sudut kota Bandung.
Saat undangan  menyebut nama Bumi Bandhawa sebagai lokasi meeting, saya tak berani berekspetasi apa-apa. Terus terang, saya tidak pernah mendengarnya. Bagi saya, kalau rapat tidak di hotel berbintang 4 ke atas, ya begitu-begitu saja. Apalagi, saya ketika membaca lokasinya di daerah Perumahan Dosen Unpad, Cigadung, saya makin tak mau mencari tahu.

Rupanya saya salah. Ketika saya masuk ke halaman depan Bumi Bandhawa, seketika saya bertasbih. Benar-benar kagum dengan keasrian lingkungannya. Pohon pinus berjajar rapi, dengan pohon anggrek yang berbunga di sela-selanya. Sebuah bangunan utama  bergaya masa kolonial Belanda berdiri kokoh membawa kesan ke masa lampau. Di sisi lain ada bangunan bertingkat yang lebih modern.

Yang menyenangkan, saya melihat beberapa tempat duduk, ayunan, dan bale-bale untuk duduk santai menikmati udara segar. Sungguh, saya seperti berada jauh dari kota Bandung. Apalagi tak terdengar suara mesin kendaraan sedikit pun.

Tatkala saya melihat kolam renang, ingin rasanya nyebur langsung. Untung saja ingat, hari ini saya ke sini bukan untuk rekreasi tapi meeting.

Saya pun meeting dengan lancar di sebuah ruangan sebelah kiri bangunan utama. Desain ruangan sederhana, tapi dengan pemandangan yang indah di balik jendela kaca, rasanya meeting pun jadi nyaman. Apalagi saat istirahat, saya menikmati makan siang di Poppy’s Kitchen yang interiornya minimalis dan semi terbuka. 

Sambil makan saya bisa mendengar suara kicau burung yang terbang di antara pepohonan pinus.
Rasanya, kalau punya uang lebih entah dari mana, pengin sekali menginap di Bumi Bandhawa mengajak keluarga. Atau jika ada orderan menulis novel, menyepi untuk menulis di tempat ini rasanya cocok buat saya.  Entah kapan.

(foto2: Benny Rhamdani)