Tuesday, January 7, 2014

Elpiji Naik, Pesantren Ini Tak Pernah Panik


Aktivitas di pesantren Alam Saung Balong Al Barokah


Kenaikan harga elpiji senantiasa diikuti berita kepanikan banyak orang. Satu-satunya jalan memang mencari pengganti elpiji. Seperti halnya yang dilakukan pesantren satu ini. Biar pun harga elpiji melambung, tak berpengaruh dengan nyala dapur pesantren karena mereka memanfaatkan biogas.


Pesantren  yang terletak di Majalengka, Jawa Barat ini bernama lengkap Pesantren Alam Internasional Saung Balong Al-Barokah. Di sini kita tidak hanya menemukan denyut para santri menimba ilmu agama, tapi melihat bagaimana santri meanfaatkan kekayaam alam yang ada. Salah satunya adalah memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk biogas.

Seperti dituturkan Ustad Adin Wahyudin dari Saung Balong Al Barokah,"Seiring banyaknya limbah ternak dari peternakan dari 2-10 ekor maupun koloni  2O -7OO ekor per kandang kami berpikir untuk menafaatkan kotoran ternak itu."

Memanfaatkan kotoran sapi.


Pihak pesantren terlebih dahulu melakukan studi banding kepada para peternak pengelola  olah Limbah  ternak, meminta bimbingan konsultasi  kepada PPL Dinas atau belajar kepada  perguruan tinggi dan para tenaga ahli. Selanjutnya, dilakukan  perencanaan  baik biaya, konstruksi, model  pemanfaatan akhir dan tahapan pengerjaan. 

"Dari 2 atau 3 ekor sudah bisa memulai pengelolaan limbah tersebut. Untuk skala kecil minimal perlu biaya Rp 5juta untuk kapasitas 5 meter kubik. Tiga minggu dari selesai pembuatan Digester Biogas sudah bisa dihasilkan," lanjut Ustad Adin.

Tentu saja  proyek ini tidak selalu bejalan mulus. Kendala secara umum tetap ada, seperti akurasi konstruksi. "Kami harus dibimbing tenaga ahli, tenaga SDM diupayakan disiplin, tekun dan terampil memahami prinsip kerja Digester. Urusan  lokasi juga harus diperhatikan  karena dipayakan jauh dari lingkungan pemukiman atau dipastikan  aman dari pencemaran," jelas Ustad Adin.

Biogas di pesantren ini dikelola dengan baik oleh para peternak jamaah masjid Al Barokah,  orangtua santri, dan para santri terutama santri karya wirausaha.  Para ustad tentu terlibat apalagi ustadz dunia pertanian. Saat ini pesantren memiliki ternak  hampir 1000 ekor.

Apakah para santri tidak takut dengan najis?

Ustad Adin menjelaskan, "Seiring dengan pemahaman kerja sebagai Ibadah, sekalipun mengelola dunia limbah organik. Bersuci dengan  wudlu dan mandi merupakan upaya membersihkan dari najis, jangan kaku  dan jadi ribed."

Manfaat biogas ini dirasakan pihak pesantren  besar sekali. Sekitar I5 Ton  per hari menjadi bahan baku pupuk organik untuk pabrik sendiri. Sebesar  I50 meter kubik  gas per hari per 100 ekor sapi. Biogas dimanfaatkan untuk bahan bakar kompor gas dan energi bahan bakar genset  Listrik 8000 –15000 watt baik penerangan dan listrik rumahan.

Yang paling hebat dari biogas ini, tidak ada dampak negatif karena aman dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat, baik pupuknya, penerangan dan bagi energi kompor gas.

Pesantren pun saat ini tengah merintis proses penguatan  Kampung Mandiri Energi. Kunjungan dan studi  dari berbagai instansi sering diterima pihak pesantren. Bahkan dari Kemenristek dan LIPI  telah menjadikan Saung Balong Al Barokah  sebagai Fieldtrip.


Pemasangan digester.


"Dalam penciptaan Allah swt. terdapat  tanda-tanda Kekuasaan-Nya. Terdapat  hikmah, manfaat dan maslahat kehidupan bagi orang orang yang berakal.. Sekalipun dari limbah ternak, mengambil manfaat dari  hal tersebut merupakan  bagian dari ibadah, bersyukur, bertafakur atas ciptaan dan kebesaran Allah Dzat Ilahi Robbi.  Wallohu alam bisshowab," pungkas Ustad Adin.

(foto2: saungbalong)