Monday, March 24, 2014

REVIEW: The Book Thief, Gadis Cilik Pencuri Buku



Saya penggemar buku dan film. Karenanya,  saya paling suka nonton film tentang pecinta buku. Salah satunya adalah film The Book Thief (2013) yang diadaptasi dari novel karya Markus Zusak. Beruntung saya belum membaca novelnya, sehingga saya tidak sibuk membanding-bandingkan anatar novel dan filmnya.

Cerita dimulai  April 1938 yang bersalju (saya sampai mikir, kok bulan April masih bersalju ya?), gadis kecil Liesel Meminger (Sophie Nelisse) dengan ibunya (Heike Makatsch) dan adiknya bepergian naik kereta. Adiknya diceritakan meninggal dalam perjalanan. Pada pemakaman adiknya, Liesel mengambil sebuah buku yang terjatuh milik penggali kubur.

Liesel kemudian diangkat oleh pasangan  Hans (Geoffrey Rush) dan Rose (Emily Watson) Hubermann, karena ibunya  seorang komunis yang berada dalam bahaya. Kedatangan Liesel  langsung membuat anak tetangga, Rudy Steiner ( Nico Liersch ) kepincut.

Rudy menyertai Liesel di hari pertama sekolah. Ketika guru di kelas meminta Liesel untuk menulis namanya di papan tulis, dia hanya mampu menulis tiga  huruf X.  Barulah ketahuan ternyata Liesel buta huruf.

Hans pun menyadari anak angkatnya tidak bisa membaca. Dia segera mengajari Liesel membaca memanfaatkan buku yang diambil Liesel dari pemakaman. Liesel kian terobsesi dengan membaca.

Pada upacara pembakaran buku oleh Nazi, Liesel dan Rudy harus melempar buku ke api unggun. Tapi Liesel marah melihat buku-buku yang dibakar. Ketika api unggun berakhir dan semua orang pergi, dia meraih sebuah buku yang belum  terbakar.  Aksi Lesel terlihat Ilsa Hermann ( Barbara Auer ),  istri walikota. Hans pun mengetahui ulah Liesel  dan menyarankan  Liesel harus merahasiakannya dari semua orang.

Suatu hari, Rosa meminta Liesel untuk mengambil cucian ke rumah walikota.  Ilsa malah mengajak Liesel ke perpustakaan mereka  dan memberitahu Liesel bisa datang kapan saja dan membaca sebanyak-banyaknya. Namun sayang, Pak walikota tak suka dengan Liesel. Liesel tidak pernah diizinkan ke rumah itu lagi. Tapi Liesel sering datang menyelinap ke perpustakaan untuk ‘mencuri’ buku.

Cerita berlanjut ketika Hans kedatangan  Max Vandenburg ( Ben Schnetzer ) seorang Yahudi yang menjadi buruan.  Mulanya, Max diperbolehkan untuk tinggal di kamar Liesel. Mereka mulai berteman karena merasa sama-sama korban kekejaman Hitler. Max kemudian pindah ke ruang bawah tanah, tetapi dingin di ruang bawah tanah membuatnya jatuh sakit. Liesel membantu memulihkan Max dengan membacakan buku.

Cerita semakin lama kian menegangkan. Sehingga saya sendiri menikmatinya tanpa sempat memencet remote untuk mempercepat atau pause ke kamar mandi sebentar.

Film ini saya rekomendasikan kepada Kompasianer yang suka buku, baik membaca ataupun menulis. Buang jauh-jauh anggapan film ini merupakan propaganda Yahudi atau bukan. Karena nilai-nilai humanisme-nya begitu universal.

Adegan paling saya suka adalah ketika Max meminta Liesel menceritakan keadaan di luar rumah dengan kalimat yang indah. Juga saat Liesel berusaha menenangkan warga di ruang persembunyiandari hujan bom dengan menceritakan kisah yang pernah dibacanya.