Friday, May 9, 2014

Ada '3Pria Bugil' di Markas Tentara





Minggu pagi, kami sekeluarga membiasakan diri ke Lapangan Saparua, Bandung. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan warga Bandung di sini , mulai dari olahraga, sarapan, cari pasangan, sampai melihat bangunan lama di sekitarnya.

Lapangan Saparua merupakan bagian dari komplek Gelanggang Olahraga Saparua yang berlokasi di Jalan Ambon no 9, Bandung.  Bangunan gedung olah raganya sendiri sering dijadikan tempat pertandingan basket dan bulutangkis. Bahkan di era kejayaan musik metal pada tahun 1990-an, dengan  kapasitas 4000 penonton,  GOR Saparua tidak akan kesepian setiap minggunya oleh penikmat musik cadas.

Saya beserta keluarga biasanya menghabiskan waktu dengan jogging di track atletik. Cukup padat jika ke sana sebelum pukul 08.00. Di bagian tengahnya, terkadang dipakai untuk senam aerobik masal. Ada juga sebagian yang dipakai untuk berlatih sepatu roda, biking BMX, atau 'tetepakan' (latihan bulutangkis).

Pengunjungnya dari anak-anak sampai lansia. Dari pengunjung yang berpostur atletis sampai yang penuh lemak komplet bisa ditemui. Jadi, jangan nggak pede dulu untuk datang ke tempat ini. Sering kali teman-teman yang bertubuh gemuk minder duluan  kalo diajak ke sarana olahraga. Woles aja.


Tiga Pria Bugil

Coba cari ....


Seperti diceritakan di atas, kita bisa melihat bangunan-bangunan lama di sekitar Lapangan Saparua. Salah satunya adalah bangunan yang kini dijadikan markas KODIKLAT TNI AD. Di sanalah kita bisa melihat 'tiga pria bugil' dalam wujud patung.

Siapa tiga pria bugil itu? Kabarnya, tiga patung torso  bugil di atas tulisan Jaarbeurs  adalah Atlas, tokoh dari mitologi Yunani kuno yang dihukum memanggul langit di pundaknya untuk selamanya. Patung tersebut sempat ditutup beberapa tahun silam. Khawatir mengundang protes warga Bandung yang agamis.

Sementara itu, markas KODIKLAT sendiri merupakan bangunan bersejarah terkait dengan perkembangan kota Bandung. Kalau di Batavia ada Pasar Gambir, di Bandung ternyata juga ada. Namanya Jaarbeurs atau Annual Trade Fair. Acara ini mulai diadakan pada tahun 1920 pada bulan Juni sampai Juli atas prakarasa Comite tot Behartiging van Bandoeng's Belangen (Komite guna mengurus kota Bandung) yang pada tahun 1920 berubah namanya menjadi Bandoeng Vooruit (Bandung maju). Jaarbeurs dibuka oleh Walikota Bandung saat itu - B. Coops yang juga sebagai pemrakarsa.  Dari tahun 1920 sampai 1924 Jaarbeurs dilaksanakan di kawasan  Gelora Saparua.

Baru pada tahun 1925 gedung utama Jaarbeurs di Menadostraat 50 (kini  Jalan  Aceh) didirikan oleh kontraktor G.J. Bel berdasarkan karya arsitek C.P. Wolff Schoemaker (1882-1949). Gedung Jaarbeurs bergaya arsitektur Art Deco. Pada masa itu penyelenggaraan Jaarbeurs pada bulan Juni-Juli merupakan titik puncak kemeriahan kota Bandung.

Suasana Jaarbeurs amat meriah. Selain panggung-panggung pertunjukan, juga  banyak stand yang menempati bangunan semi permanen untuk mempromosikan berbagai produk industri dan perkebunan dari Bandung. Kegiatan ini sekaligus menjadi promosi pariwisata Bandung saat itu. Pengunjung bukan hanya masyarakat Bandung saja. Bahkan wisatawan dan pengusaha dari daerah lain dan mancanegara banyak yang datang. Sehingga hotel-hotel dan villa-villa di Bandung kebanjiran tamu.


Acara bursa dagang tahunan ini berakhir pada tahun 1941 karena pada tahun 1942 Jepang keburu masuk Indonesia. Bagaimana kalau sekarang dihidupkan kembali?

***
Referensi: Semerbak Bunga di Bandung Raya- Haryoto Kunto