Monday, May 12, 2014

Empat Alasan ke Inacraft




Pernah ke Inacraft?

Sebagai praktisi di dunia perbukuan yang menuntut ide-ide kreatif segar, saya senantiasa mendapat semangat baru setiap kali menginjak ajang pameran  yang diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) itu. Ada beberapa hal yang saya catat dari Inacraft 2014, yang mendorong saya untuk kembali datang ke perhelatan Inacraft 2015 nanti.



Wirausahawan Muda. Jika pada pameran awal-awal Inacraft lebih banyak stand yang ditongkrongi bapak-bapak dan ibu-ibu, kali ini saya menemukan beberapa stand yang digagas dan ditongkrongi anak muda. Sebut saja salah satunya stand I Wear Banana. Produk-produk yang dijajakan juga selera anak muda, mulai dari sepatu, t-shirt, hingga tas jinjing. Sebagai wirausahawan muda, mereka tentu punya cara yang gaul untuk mendesain stand mereka. Bahkan, ada gimmick menarik untuk pengunjung yang membeli produk mereka, yakni diberikan pisang gratis. Saya berharap untuk tahun ke depan, diberi blok khusus untuk para wirausahawan muda di ajang Inacraft. Dengan kehadiran mereka, segmen pengunjung bisa diperluas dan juga turut mengembangkan minat wirausaha di kalangan anak muda.


Ramah Anak dan Pria. Mayoritas pengunjung Inacraft 2014 yang saya lihat masih ibu-ibu, muda maupun senior. Saya berharap tahun-tahun berikutnya pameran ini bisa dijadikan ajang pameran untuk dikunjungi keluarga.  Saat ini pun sudah ada upaya ke arah sana. Misalnya, dengan hadirnya stand-stand yang menyajikan produk untuk anak, mulai dari mainan anak hingga perlennkapan sekolah. Bahkan, di lantai bawah disediakan ruangan workshop mini untuk anak-anak yang ingin belajar kerajinan tangan. Bagaimana dengan sang bapak/suami? Walaupun produk kerajinan khusus pria masih terbatas, tapi saya lihat stand-stand batu alam banyak diminati. Saya berharap nantinya ada stand kerajinan senapan angin dari Cipacing peralatan mancing, dan kerajinan berdasarkan hobi kaum pria lainnya.


Harga Ramah. Jangan heran bila di Inacraft 2014 menemukan produk dengan harga lebih dari tujuh digit. Bahkan Inacraft sering diangap hanya cocok untuk kalangan atas dan ekspatriat. Bisa saya maklumi jika banyak stand berusaha menjajakan produk mahal lantaran biaya sewa stand seluas 9 meter itu pada 2011 saja sudah Rp13 juta. Jadi mereka harus bisa menebus uang sewa stand selama 23 - 27 April 2014. Tapi jangan khawatir, saya masih bisa menemukan barang-barang seharga Rp5.000 seperti magnet kulkas. Bahkan beberapa teman berhasil memborong kerudung cantik dengan harga di bawah Rp.100.000. Kalau memang dirasa overpriced mungkin bisa membelinya ke outlet mereka di luar pameran. Makanya, jangan lupa mengambilbussiness card atau katalog mereka. Tips lain adalah datang saat menjelang penutupan. Biasanya, ada sale besar-besaran di banyak stand.



Variasi Produk. Yang membedakan produk massal/pabrik dan kerajinan tangan adalah sentuhan seni. Itulah nilai kepuasan lain yang saya temukan dengan menghadiri Inacraft. Dan di Inacraft 2014 ini makin bervariasi. Yang tradisional, seperti karya  tenun daerah masih banyak ditemui. Yang modern juga tak kalah menarik. Atau kombinasi tradisional dan modern. Pecinta berbagai seni bisa terpuaskan, dari lukis sampai ukir. Dan saya pikir, Indonesia sangat kaya dengan ragam seni unik. Tak heran bila di Inacraft ini banyak berseliweran ekspatriat dari Eropa, Amerika, dan Asia timur. Bahkan bila sampai seluruh stand  di Inacraft ini dibawa pameran ke luar negeri, pasti akan menyita banyak perhatian dunia.  Di Inacraft 2014 saya juga menemukan stand dari Iran di luar stand-stand produk nasional. Artinya, ajang ini juga diminati produsen kerajinan luar negeri.



Tentu saja di luar kelebihan di atas, masih ada yang mengganjal di mata saya. Misalnya saja, desain stand dari daerah (pemda dan pemkot) yang dari tahun ke tahun begitu-begitu saja. Satu-satunya yang mengesankan saya adalah paviliun Jawa Tengah. Selebihnya, seperti layaknya bazar kerajinan di tingkat provinsi. Padahal ini ajang nasional dengan pengunjung Internasional. Yang menyebalkan adalah seolah ada kewajiban untuk memajang foto pemimpin daerah/kota di setiap stand mereka. Apakah foto itu ikutan dijual? Lainnya, adalah soal kebersihan yang menurut saya belum sepenuhnya dijaga pengunjung. Padahal tempatnya sudah jelas keren. Tapi tetap saja budaya menjaga kebersihan sangat kurang.




1290 Stand

Pameran kerajinan terbesar di Indonesia Inacraft 2014 dibuka secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga didampingi Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Rabu (23/4).
Inacraft   diikuti sekitar 1.600 peserta dengan 1.290 stand yang tersedia. Barang-barang kerajinan yang dipamerkan antara lain berbagai bentuk kerajinan tekstil, seperti batik, tenun, bordir, ikat dari berbagai daerah di Indonesia. Ada juga berbagai furnitur unik khas daerah Indonesia, seperti Lombok, NTB dan lain-lain. Di antaranya kerajinan berupa patung, ukiran kayu, dan kaca patri. Bisa juga ditemukan aneka perhiasan dari mutiara, emas, perak, batuan permata dan lainnya.

Pengunjung diberlakukan tiket masuk Rp 20 ribu/orang. Namun bagi anak-anak dan orang tua yang sudah berusia 60 tahun ke atas, tidak dipungut bayaran dan cukup menunjukan KTP di pintu masuk.