Saturday, May 3, 2014

Menikmati Menu Istimewa di Potluck Kitchen






Once upon a time but not long ago when there was no rapstars on tv-shows, no moviedeal, commercials …. 

Suara  kolaborasi Bob Sinclar feat Master Gee & Wonder Mike menyanyikan  LaLa Song menyambut aku bersama isteri dan anakku ketika melangkah memasuki Potluck Kitchen di Jalan H Wasid 31, Bandung. Semula agak  ragu mengajak anakku yang berusia 9 tahun karena yang aku ingat café ini dulu bernama Potluck Coffee Bar & Library. Adakah makanan yang cocok untuk anak-anak?




Isteriku mengambil tempat yang dianggapnya terang di dekat jendela. Beberapa tempat memang terlihat temaram meskipun di siang hari. Seolah sengaja dibiarkan begitu agar suasan tenang tercipta. Beberapa pengunjung Potluck tampak asik ngobrol, mengerjakan tugas kuliah, dan ada juga yang sedang membuat proyek fotografi.



Aku dan isteriku segera menuju bar. Melihat daftar menu, lalu memilih yang paling cocok untuk disantap untuk anakku.Ternyata banyak pilihan menu yang cocok untuk anak. Mulai dari pasta sampai makanan berat lokal lainnya. Akhirnya,  isteri dan anakku memilih pisang bakar keju, chocohazell, dan lemon tea. Aku memilih penganan gurih dengan nama istimewa yang tidak kutemui di cafe lain, yakni Potluck cheese kroket dan hot caputeano.



Sembari menunggu pesanan hadir di meja, aku mengamati interior Potluck yang tampak 'homie'. Sekelebat aku bertanya-tanya tentang nama Potluck yang diberikan kepada café ini. Seingatku, ‘potluck’ adalah kegiatan berkumpul di mana setiap yang datang membawa makanan untuk dinikmati bersama. Di tempat ini, tentunya yang datang tidak diperkenankan membawa makanan dari luar. Mungkin penekanannya lebih kepada makan bersama. Sebab dari  jumlah kursi yang mengitari setiap meja lebih dari empat,menyiratkan tempat ini memang untuk makan sambil kumpul bareng.



Karena bangunan awal adalah sebuah rumah, terdapat beberapa ruangan terpisah yang bisa dipakai kumpul bareng di Potluck. Dari yang kecil untuk 6-8 orang, hingga yang bisa menampung lebih dari 10 tamu. Setiap ruang disekat oleh rak-rak buku dan majalah. Suasana inilah yang membuat Potluck tampak nyaman untuk para mahasiswa di area tersebut belajar maupun mengerjakan tugas. Bahkan Potluck menyediakan wifi gratis dengan password yang terpampang di bar. Jadinya, pengunjung bisa berselancar gratis di dunia Internet sambil makan maupun minum. Bahkan tersedia pula ruang mushola yang nyaman.

Aku sebagai penulis dan penggemar buku tentu saja menyukai atmosfir Potluck. Aku pun mulai membuka buku-buku koleksi yang dapat  dibaca dengan gratis. Beberapa tampak sudah usang dengan kertas yang mulai lapuk. Tapi menurutku, semua buku adalah baru jika belum pernah membacanya. Sementara itu,  isteri dan anakku membuka ponsel dan  untuk browsing dengan wifi gratis.


Suara grup band Behind Sapphire terdengar melantunkan Last Night ketika pesanan kami berdatangan satu per satu. Karena ini konsep makan bareng, kami pun saling berbagi makanan pesanan kami. Aku mencomot pisang bakar keju yang diplating dengan cantik. Benar-benar menggoda. Termasuk di mata anakku.

Ketika potongan pisang bakar itu jatuh dilidahku, aku langsung merasa ada lelehan keju bercampur cokelat. Rasanya benar-benar OYE!, sesuai namanya. Tapi aku tidak dapat memakan lebih banyak karena anakku tampak menyukai dan ingin menghabiskannya.

Pesananku kemudian datang. Aku takjub melihat bentuk kroket yang diplating dengan cantik. Bahkan isteri dan anakku langsung tergiur untuk mencicipinya. Akhirnya,kami menghabiskan kroket itu bersama-sama. Mau tahu rasanya? Menurutku, ini adalah kroket paling enak yang pernah kumakan. Bahkan isteriku sampai mengorek-ngorek kroket kehijau-hijauan itu untuk mencari tahu bahan-bahannya. Sepintas memang adonan kroket bersampur dengan sayur yang diblender.




Perlahan tapi pasti, pesanan kami akhirnya ludes tanpa sisa. Sebenarnya aku masih ingin menambah dengan menu lainnya. Namun di luar cuaca terlihat sangat mendung. Kami pun bergegas membayar pesanan yang sudah pindah ke perut kami. 



Saat itulah aku berkenalan dengan Decil Christianto, owner Potluck Kitchen, dan mengajaknya bercakap sebentar. Menurut Decil, pada tahun 2003 Potluck dibuka dengan sasaran mahasiswa, apalagi posisinya dekat dengan kampus Universitas Padjadjaran. Decil mengatakan, Potluck adalah salah satu pelopor kafe dengan konsep perpustakaan.

"Di sini banyak yang nongkrong sambil mengerjakan tugas. Mungkin lebih enjoy. Sampai kadang malam minggu juga tamu datang dengan membawa makalah. Itulah yang terjadi di Potluck," terang Decil.

Dua tahun terakhir, Potluck sedikit mengalami perubahan. Mulai dari penggantian nama, jumlah makanan diperbanyak dan renovasi untuk memperluas ruangan."Kami sudah memperluas target. Dulu kan Potluck itu identik mahasiswa. Sekarang  bisa dikunjungi keluarga," ungkap Decil. Sebagai gimmick, Potluck memiliki berbagai agenda yang menarik untuk pelanggannya. Siapapun bisa membuat acara di sana, seperti peluncuran buku, pameran mainan hingga gelaran musik. “Kegiatan apa saja asalkan positif,” tegas Decil.

Dan salah satunya tentu Review Blog Contest Café de Fino.

Gerimis pun akhirnya jatuh. Aku bergegas meninggalkan Potluck diiringi lagu Trying To Be Cool - Breakbot Remix by Phoenix, seiring janji akan kembali lagi satu hari nanti.