Monday, May 12, 2014

Meningkatkan Keterampilan Menulis Sang Buah Hati



Keterampilan menulis (kreatif), seperti yang sudah diteliti banyak pakar, memiliki segudang manfaat bagi individu yang bersangkutan. Saya tidak pernah mendengar  penelitian tentang dampak negatif keterampilan menulis. Itu sebabnya, sangat disarankan keterampilan menulis dibekalkan kepada anak-anak, terutama di bangku sekolah dasar.

Keterampilan menulis ini bisa dirasakan manfaatnya oleh anak-anak pada saat itu pula, maupun saat dia beranjak rema dan dewasa sekalipun. Apalagi hampir semua kegiatan akademis selalu berhubungan dengan kegiatan menulis, seperti mengarang, menulis essay, menulis skripsi, dan lain sebagainya. Di luar pendidikan formal, keterampilan menulis bisa dipakai untuk ngeblog, mengisi buku diary, atau menulis pesan ke seseorang.

Sayangnya, pendidikan keterampilan menulis ini tidak banyak diberikan di bangku sekolah. Hanya selingan di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Berbeda dengan sekolah-sekolah di negara maju, yang memberi bekal keterampilan menulis begitu padat.

Beberapa sekolah yang tahu kegunaan keterampilan menulis untuk siswanya, akhirnya memutuskan untuk membuat kegiatan ekstra kurikuler penulisan kreatif. Hingga saat ini, saya mendengar banyak sekolah-sekolah favorit mengadakan kegiatan ekskul tersebut. Bahkan pengajarnya adalah diambil dari praktisi, bukan guru pelajaran sekolah.

Bagaimana yang tidak ada ekskul tersebut? Sudah seharusnya, tanpa beralasan lagi, orangtua yang harus turun tangan langsung. Orangtua bisa membawa buah hatinya ke sanggar-sanggar dengan pendidikan keterampilan menulis, atau jika sulit menemukannya, ya orangtua sendiri yang turun tangan. Tidak usah panik. Saya akan sajikan beberapa langkahnya.

Membangun Keluarga Suka Membaca



Anak akan meniru orang di sekitarnya. Termasuk kebiasaan membaca. Jika orangtuanya tidak suka membaca, jangan paksakan anaknya akan suka membaca.  Karena itulah orangtua harus jadi panutan yang baik dalam budaya membaca di keluarga. Orangtua jangan membaca terpisah dari anak-anak. Perlihatkan bahwa orangtua selalu menyediakan waktu untuk membaca. Bahkan jika orangtua tidak suka membaca, dia bisa bersikap pura-pura membaca buku selama setangah jam di dekat anak-anaknya.
—Sediakan buku bacaan untuk anak. Usahakan yang disukai anak-anak. Bila anak susah membaca, carilah tema yang disukainya. Misalnya anak suka sepakbola, belikan buku-buku tentang sepakbola.
Jangan lupa untuk me—luangkan waktu untuk ikut membaca buku yang anak baca. Dengan begitu, orangtua bisa berdiskusi dengan anak, baik tentang cerita, sampul buku, maupun tentang pengarangnya.


Bermain Kata

Untuk meningkatkan keterampilan menulis, anak harus kaya kosakata. Membaca adalah salah satu cara yang manjur. Tapi banyak cara lain yang bisa dilakukan sambil bermain-main, misalnya —melalui permainan scrable, teka-teki silang, atau puzzle kata.

Saya sendiri biasanya melakukan permainan kata saat dalam perjalanan dengan main tebak-tebakan lawan kata maupun sinonim. Terkadang juga saya main berbalas pantun-pantun jenaka. Apapun yang dilakukan sambil bemain, akan membuat anak bahagia dan tidak mengira dia sedang belajar ’sesuatu’.

Sediakan Fasilitas

Seperti keterampilan lainnya, tentu membutuhkan tempat dan fasilitas. Jika anak ingin semakin berkembang kemampuan menulisnya, sediakan tempat agar anak bisa berkreasi dengan kemampuan menulisnya. Jauhkan tempat itu dari dari televisi agar buah hati bisa tetap fokus saat berkarya.

Sediakan fasilitas lain seperti alat tulis manual dan komputer. Saat ini komputer bukan agi barang mewah, sehingga orangtua bisa mengupayakannya untuk sang anak. —Simpan di dekatnya buku-buku referensi untuk menulis, termasuk kamus (KBBI) dan ensiklopedi.

Disiplin

——Cara terbaik untuk meningkatkan keterampilan menulis, tidak peduli usia penulis adalah melalui latihan yang teratur. Bantulah anak mengatur waktu agar mengimbangi waktu untuk menulis dengan waktu belajar materi sekolah. —Disiplin bisa dimulai dengan membuat jurnal harian.
Usahakan agar anak menulis setiap hari, walaupun tidak harus sama secara kuantitas. Aak bisa menulis lebih panjang dan lama di akhir pekan. Dengan agenda ini, orangtua harus bijak menysuaikan waktu acara keluarga agar anak tetap disiplin menulis.

Menyusun Proyek

—Tantanglah anak membuat sebuah proyek jangka pendek. Semisal, mengisi blognya selama sebulan tanpa berhenti. Jika berhasil diberi reward mingguan dan bulanan.
—Contoh lain adalah yang dilakukan orangtua penulis pionir KKPK Izzati yang mendapat tugas meresensi buku setiap selesai membaca satu buku. Stiap meresensi Izzati akan mendapat hadiah buku baru. Selain bisa mengatur keungan untuk membeli buku, anak juga dilatih menulis dan menangkap keungggulan buku yang dibacanya.

Menulis Bersama

—Jangan harapkan anak disiplin menulis, sementara orangtua tidak ikut menulis. Berdasarkan pengalaman saya, anak yang orangtuanya juga menulis berkembang jauh lebih pesat ketimbang yang orangtuanya tidak menulis juga. Karena itu, bBuatlah rencana menulis bersama. Semisal, dengan membuat blog keluarga.

Menilai Progres


—Cobalah untuk mengevaluasi perkembangan keterampial menulisnya. Saat berdiskusi dengan anak-anak, berikan penilaian atas karyanya. Benahi kekurangannya, jangan lupa memuji kemajuannya.

—Bisa melibatkan guru di sekolahnya untuk penilaian. Tak jarang saya menemukan anak yang lebih percaya kepada gurunya untuk menilai kemampuan menulisnya.

Tingkatkan Target

—Setelah minat anak tumbuh, terus tingkatkan kemampuannya. Ajaklah anak ke pameran buku, toko buku dan acara launching buku anak agar motivasinya terus menyala. Dengan melihat langsung penulis cilik yang melaunching bukunya, si anak akan merasa ‘cemburu’ sehingga motivasinya akan terbakar. Begitu pula bila ke toko buku dan melihat anak-anak seusianya sudah menerbitkan buku.

—Gabunglah dengan komunitas penulis cilik. Karena anak akan banyak mendapat amsukan dari sesama usinya. Pelajaran dari teman sebaya terkadang lebih efektif untuk mempercepat progres kemampuan menulisnya.

Setelah menulis untuk lingkungan terbatas, Pancing keinginannya agar karyanya mau dipublikasikan lebih luas. Baik ke media cetak maupun penerbitan buku.

Sekadar tambahan, ini poin-poin yang harus diingat juga:

1.Membiarkan anak membaca buku yang bukan untuk usianya tanpa diskusi.
2.Memancing ide anak, bukan memaksakan menulis ide Anda.
3.Mengedit tulisan anak tanpa mendiskusikannya lebih dulu.
4.Membiarkan atau malah meminta anak menjiplak karya orang lain.
5.Menyepelekan karya tulis anak secara verbal maupun nonverbal.

selamat mencoba.

***

Materi ini disampaikan pada Seminar  di SDIT Aulady Serpong, Sabtu, 5 April 2014.

Untuk penyemangat menulis ikuti saja kultwit saya setiap hari di@bennytopmodel