Monday, June 9, 2014

Belanja Habis-habisan di Milan




 

Saat mendapatkan kesempatan berkunjung ke Milan, Italia, yang pertama ada di kepala ketika hendak berangkat adalah barang-barang fashion dengan brand ternama dan harga yang gila-gilaan. Terbayang pula lalu lalang warga Milan dengan busana trendi dan wangi parfum yang semerbak. Ternyata, tidak semua bayangan saya benar.

Sebelum berangkat ke Italia, saya dikenalkan oleh seorang teman dengan seorang  reseller tas branded di Jakarta. Dia mengajak saya bisnis sebagai kurir tas branded. Saya pun dititipkan sejumlah uang dan kartu kredit. Di Milan saya bertemu dengan orang Indonesia yang sudah menjadi warga Milan bernama Dian. Dialah yang akan membeli tas-tas mahal itu sesuai orderan yang masuk.


Karena tidak punya rencana lain, akhirnya saya memilih ikut  belanja di kota Milan. Jarang-jarang kan bisa keluar masuk toko tas ternama dan belanja dengan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk sebuah tas. Ya, walaupun uang dan barangnya punya orang lain.

Saya pun dibawa ke kawasan Duomo.  Dian bercerita tentang bisnis tas branded ini. Caranya, temannya di Jakarta yang mencari pembeli, lalu mereka kasak-kusuk mencari orang Indonesia yang akan mampir di Milan. Terkadang, Dian sendiri merangkap kurir kalau sekalian pulang kampung.


Menurut Dian, meskipun di Indonesia bisa ditemukan outlet-outlet tas branded, tapi belum tentu koleksinya sekomplet di Milan. Harganya pun berlipat karena sudah kena biaya distribusi, pajak, dan tentu saja display toko. Keuntungan yang diambil Dian dan patner diambil dari selisih harga jual, juga diskon turis saat pembelian dengan menunjukkan paspor, termasuk kartu diskon tertentu. Belum lagi pengembalian pajak pembelian di bandara yang jumlahnya cukup lumayan.

Bisnis ini memang tergantung orang yang mau dititipkan tas. Sementara soal order tas dari Jakarta, tidak pernah kesulitan mencarinya. ” Orang Indonesia memang gila belanja. Setiap musim mereka selalu ganti tas bermerk. Padahal orang Milan sendiri belum tentu punya tas branded itu. Kalaupun mereka beli, hanya satu untuk seumur hidup,” ucap seorang teman di Italia.

Saya yang akhirnya jadi kurir freelance ini pun kebagian fee yang lumayan. Cukup untuk akomodasi saya jalan-jalan ke Venesia di akhir petualangan saya di Italia.

Trip Belanja


Agar tak kelimpungan saat belanja di Milan, sebaiknya sudah mengetahui betul barang yang hendak dibeli, karena harus disesuaikan dengan lokasi belanjanya.

Bagi penggemar Armani, bisa mengunjungi butiknya yang elegan di Via Manzoni, yakni Spazio Armani No.31. Selain bisa berbelanja koleksi terbaru seluruh lini Armani, mulai dari Giorgio, Emporio hingga Casa dan Fiori, kita  bisa  juga menikmati suasana santai di Armani Cafe atau restoran Nobu, yang dimiliki oleh aktor Robert de Niro.  Program sale di butik ini berlangsung pada Januari dan Juli.

Tempat belanja yang saya suka adalah di  Corso Vittorio Emanuele  karena menyajikan berbagai  merek busana siap pakai, seperti Max Mara, Moreschi, Bruno Magli dan Pollini. Ingin yang lebih murah? Di sini terdapat berbagai butik yang juga ada di Indonesia seperti  H&M, Zara dan Furla. Ironisnya, saya melihat sejumlah pengemis berkeliaran di antara butik-butik itu.

Saya juga diajak melihat gerai-gerai busana sporty yang mengutamakan kenyamanan di  Via Torino yang menghubungkan Duomo dan Corso di Porta Ticinese. Sesungguhnya, ada satu kawasan yang cocok untuk orang yang suka produk dengan harga miring seperti saya, yakni Fidenza Village Factory Outlet. Sayangnya, waktu saya tak cukup karena harus memakan waktu satu jam perjalanan ke luar Milan. Di tempat tersebut terdapat 50 outlet besar dari produk busana hingga perabotan rumah tangga.

Pastinya, di Milan saja saya  sudah cukup merasakan suasana belanja yang benar-benar diperlakukan sebagai raja oleh para pelayan. Mereka tidak terlihat kesal ketika kita minta dilihat barang seri-seri tertentu yang tidak ada di display. Kita bisa menunggu proses  ditemani minuman yang mereka sediakan. Satu kali, ketika saya kebelet ke toilet di sebuah butik … wow, saya diminta masuk ke sebuah ruangan yang serba Kristal. Benar-benar bikin saya enggan mengotori ruangan tersebut.


Wisata Arsitektur

Jangan bilang saya hanya buang waktu ke luar masuk toko saja saat di Milan. Sambil belanja, saya
menikmati wisata arsitektur karena lokasi belanja berdekatan dengan banguna-bangunan tua yang megah.
Sebut saja gereja San Carlo al Corso yang merupakan bangunan neoklasik di pusat Milan. Gereja yang dibangun pada 1847 ini berdiri di tengah pusat perbelanjaan. Di  kanan kiri  gereja dan seberang jalan berderet  butik-butik terkenal. Padahal, gereja ini dulunya dikaitkan dengan wabah kolera dan pes di Milan pada abad 16.

Yang menakjubkan di ujung jalan setelah melewati gereja San Carlo al Corso, saya melihat gereja Katedral Milan yang kabarnya gereja katedral terbesar ke empat di dunia. Katedral Milan dibangun berdasarkan ide bangsawan Milan bernama Gian Galeazzo Visconti, pengusaha marmer. Dia bertekad membuat katedral  yang seluruhnya terbuat dari marmer. Pembangunan dimulai pada 1368. Marmernya diambil dari tambang marmer milik Visconti di Gunung Candoglia yang berjarak 50 km dari Milan. Karena sulit diangkut lewat darat, maka digunakanlah kanal-kanal di Milan untuk mengangkut marmer.

Ketika melihat gereja yang memiliki ornamen menarik, langsung terbayang kehebetan orang-orang Italia di masa lalu. Entah arsiteknya maupun kuli-kuli bangunan yang mengerjakannya. Betapa mereka merancang sebuah bangunan yang kokoh agar bisa dinikmati orang hingga ratusan tahun kemudian.

Di depan gereja ini terbentang alun-alun yang biasanya dipakai wisatawan berfoto-foto atau bercanda dengan sekumpulan merpati. Mirisnya, di alun-alun depan gereja inilah kita harus waspada dengan para pencopet. Tidak hanya pencopet, juga sejumlah orang yang berusaha memeras. Caranya, mereka menawarkan turis memakai gelang persaudaraan, tapi kemudian kita harus membayar gelang dari benang itu dengan harga tak wajar. Yang saya saksikan sendiri ada turis yang harus membayar 10 euro.

Masih di sekitar gereja Katedral, kita bisa menikmati keindahan arsitektur Galleria Vittorio Emanuele II salah satu pusat perbelanjaan tertua di dunia. Nama Vittorio Emanuele II  merupakan raja pertama dari Kerajaan Italia. Bangunannya Ini dirancang Giuseppe Mengoni pada tahun 1861 dan dibangun antara 1865 dan 1877.
Struktur Galleria terdiri dari dua arcade kaca berkubah di oktagon (segi delapan), menghubungkan jalan Piazza del Duomo ke Piazza della Scala. Jalan ini ditutup atapnya dengan lengkungan kaca dan baja seperti Burlington Arcade di London , yang merupakan prototipe untuk pusat perbelanjaan.

Di tengah segi delapan, terlukis empat mosaik menggambarkan Lambang dari tiga Ibukota dari Kerajaan Italia (Turin, Florence dan Roma ) ditambah Milan. Tradisi mengatakan jika seseorang  berputar dengan tumit kanan pada gambar testikel banteng (Turin Coat of Arms), ini akan membawa keberuntungan. Ada yang mengatakan, jika bisa berhasil berputar di atas testikel banteng itu tanpa jatuh dan menghadap ke arah yang sama akan kembali ke Milan tahun berikutnya. Percaya? Tentu saja tidak.


Di ujung senja saya tiba di Castello Sforzesco. Sebenanya saya ingin masuk ke kastil tua yang kini menjadi museum itu. Namun pintu masuk baru saja ditutup. Akhirnya saya hanya duduk beristirahat di fountain besar di depannya. Saya pikir hanya di Roma  terdapat air mancur yang indah. Di Milan pun ada, tapi tak memiliki mitos lempar koin terpenuhi keinginan.





Masjid Milan


Sebelum berbelanja, saya menyempatkan diri  ke destinasi wisata favorit saya setiap berkunjung ke kota di luar negeri, yakni masjid.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh di Internet, akhirnya saya  mengunjungi sebuah masjid di Segrate, Milan. Hampir setengah jam perjalanan ke luar pusat kota. Masjid bernama Al Rahman ini merupakan mesjid dengan kubah dan menara pertama di itali setelah mesjid terakhir dirobohkan di Lucera pada abad ke14.  Masjid yang diresmikan 28 Mei 1988 ini sekaligus menjadi pusat kegiatan umat muslim di Milan.

Bahagia sekali ketika bisa wudhu dengan air keran superdingin dan shalat ashar di Al Rahman. Apalagi ketika bertemu belasan muslim belia Italia yang tengah belajar  di salah satu ruangan bangunan masjid. Al Rahman memang menjadi pusat belajar agama islam, dan bahasa Arab.

Menurut Ali Abu Syaima, Imam Al Rahman, jamaah masjid dari kota Milan berjumlah 200 orang. Tidak hanya imigran, tapi juga penduduk asli.  Jumlah ini terus meningkat karena di Italia selama tiga tahun terakhir saja sudah bertambah 2000 pemeluk baru agama Islam. Dan kebanyakan para mualaf adalah dari kaum muda yang ingin memeluk agama Islam karena kemauannya sendiri.

Dijelaskan pula, bahwa warga muslim, khususnya muslimah di Milan juga berpakaian mengikuti perkembangan mode di Milan. Mereka kebanyakan tidak mengeksklusifkan diri dengan  hijab warna serbagelap. “Yang pasti masih sesuai ajaran islam,” ucapnya.

Naik Apa?

Untuk berkeliling di Milan, jika hanya memiliki budget terbatas, bisa naik subway atau trem. Tak perlu bingung, cukup datang saja dari stasiun utama kereta Milan. Dari sana, sangat mudah menjangkau semua jurusan.

Jika bepergian sendiri dan tidak menguasai bahasa Italia, sebaiknya sudah browsing duluan di Internet kereta yang akan ditumpangi dan stasiun yang akan dituju.  Sebab, informasi dalam bahasa Inggris minim sekali. Juga tak mudah menemukan warga Milan yang pandai berbahasa Inggris. Jika tetap kebingungan, langsung datangi pusat informasi wisata yang ada di stasiun. Mereka akan memberi informasi yang sejelas-jelasnya dalam bahasa Inggris.

Bila pergi rombongan  dan memiliki uang saku lebih, sebaiknya menyewa mobil rental. Cari saja di Internet pasti mudah menemukannya. Cara ini lebih efektif untuk mengelilingi Milan sekehendak hati.

Soal makanan di Milan tidak usah khawatir. Restoran halal cukup mudah ditemukan karena di Milan banyak pendatang dari  negara mayoritas muslim. Jangan berspekulasi memesan pizza atau pasta, karena kebanyakan dicampur daging atau lemak babi. Mengapa babi? Karena harganya lebih murah ketimbang sapi.


Grazie.
foto2: Benny Rhamdani