Tuesday, June 24, 2014

Menikmati Ayam Rarang, Kuliner Khas Lombok Timur




Pernah mendengar kuliner ayam rarang? Pasti belum, kan? Sebab untuk mencicipi ayam bakar satu ini harus datang langsung ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Dalam perjalanan darat saya bersama teman-teman dari Pelabuhan Kahyangan menuju Bandara Internasional Lombok,  supir travel menghentikan mobilnya di Desa Rarang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kami pun masuk ke halaman parkir  sebuah rumah makan yang menyajikan khas kuliner setempat. Tepatnya di samping SPBU Rarang. Ya, makan siang telah tiba!

Rumah makan ini menyediakan saung-saung khusus untuk tamu yang ingin makan sambil lesehan,  di belakang warung mereka di pinggir jalan. Meskipun saungnya tak terlalu istimewa dibandingkan saung lesehan di tempat saya tinggal (Bandung) namun saya tetap penasaran mencicipi salah satu unggulan rumah makan ini, yakni ayam rarang.

Sambil menunggu pesanan datang saya mampir ke dapurnya. Dan bertanya-tanya kepada pelayan warung. Ayam rarang merupakan ayam bakar  berlumur bumbu cabai merah yang mengkilat dengan tambahan jeruk limau di atasnya. Air liur saya langsung menetes melihatnya. Saya membayangkan rasanya sepedas ayam taliwang.


Proses membuat ayam rarang dimulai dengan membakar ayam di tungku menggunakan kayu bakar. Kalau melihat bentuknya, tampak ayamnya adalah ayam kampung yang masih sangat muda. Ayam tidak disajikan utuh seperti ayam taliwang, tapi potongan kecil-kecil. Setelah itu dibumbui seperti halnya bumbu pelecing,  yakni ulekan cabe merah besar, kemiri, bumbu besar, ketumbar, dan merica.

Cara penyajiannya unik karena bebeda dengan penyajian ayam taliwang.  Ayam rarang disajikan dengan kacang kedelai goreng, sayur bening, ati empela goreng yang ditusuk seperti sate.  Kalau ada yang tidak suka boleh disingkirkan kok. Saya sih suka dengan sayur beningnya karena hitung-hitung pengganti lalab sebagai makanan wajib saya.

Mau tahu rasanya? Rasa pedas langsung membakar mulut. Tapi tenang, pedasnya bisa dinetralisir dengan nasi putih.  Jadi, setelahnya tidak terasa mulas. Bumbunya juga terasa gurih, dan bagi lidah saya aroma kemiri sangat terasa. Yang paling nikmat adalah daging ayamnya yang tidak kenyal dengan aroma sangit kayu bakar. Maklum, ayam ABG. Dan kemungkinan besar jenis ayam inilah yang membedakan dengan ayam taliwang.

Saya merasa puas dengan ayam rarang ini. Bahkan habis beberapa potong. Hanya sedikit kekurangan dalam penyajian hidangan, yakni tidak ada buah-buahan pencuci mulut.  Tapi tak apalah. Yang penting sudah bisa mencicipi makanan khas Lombok Timur.

Sampai saat saya dan teman-teman meneruskan perjalanan menuju Bandara Internasional Lombok, rasa bumbu ayam rarang masih terasa di lidah. Nggak percaya. Coba sendiri deh.

Foto-foto: Benny Rhamdani