Monday, July 21, 2014

Dua Jam Keliling Thailand





Berkunjung ke Thailand dalam waktu terbatas tapi ingin melihat banyak bangunan bersejarah? Mudah. Datanglah ke Ancient Siam (Siam Kuno) yang berada di Samuth Prakan, pinggir kota Bangkok. Lokasi ini belum begitu popular bagi pelancong Indonesia, bahkan beberapa warga Bangkok ketika  ditanya mengaku belum pernah ke sana.

Dari Bangkok untuk menuju lokasi yang lebih dikenal dengan nama Muang Boran ini bisa dengan naik BTS menuju Bearing dengan ongkos 40 baht, lalu melanjutkan dengan taksi.

Setelah membayar tiket masuk seharga 500 baht,  pengunjung dipersilahkan memilih kendaraan yang dipakai untuk mengelilingi Ancient Siam. Dengan luas 320 hektar, taman yang mulanya akan dibangun lapangan golf ini, tidak mungkin dikelilingi dengan jalan kaki. Pengunjung bisa memilih naik bus terbuka atau bersepeda. Naik kereta memang nyaman, tapi tidak bisa berlama-lama di satu anjungan. Akhirnya, pilihan saya adalah bersepeda.

Bersepeda tidak disarankan bagi yang jarang berolahraga karena jarak yang cukup panjang serta suhu udara yang panas. Pengunjung bisa menyewa mobil golf dengan tarif 150 baht untuk dua kursi, 300 baht untuk 4 kursi, dan 450 baht untuk yang 6 kursi. Tarif dihitung per jam.

Ancient Siam dijuluki juga museum  outdoor terbesar di dunia. Ketika masuk pengunjung dari Indonesia pasti akan merasa seperti ke Taman Mini di Jakarta. Bedanya, di Taman Mini menonjolkan anjungan provinsi dengan rumah adatnya. Sementara di Ancient Siam menampilkan 116 replikasi bangunan dan monumen bersejarah di seluruh Thailand yang jika ingin ditemui aslinya tidak akan cukup waktu 2-3 hari. Ukuran replikasi ada yang sesuai aslinya, ada pula yang diperkecil skalanya.

Anjungan pertama yang bisa disinggahi adalah The Stupa of Phra Maha That, Ratchaburi, kemudian model pasar gaya lama di pedesaan Thailand lengkap dengan rumah adatnya. Di tempat ini pengunjung bisa membawa oleh-oleh khas Thailand.

Pengunjung juga bisa melihat  duplikasi komplek Dusit Maha Prasat Palace  atau yang lebih dikenal dengan nama The Grand Palace yang nyaris mirip dengan aslinya, termasuk taman di sekitarnya. Begitu pula dengan istana putih bernama Sanphet Prasat Palace. Meskipun hanya duplikasi, pengunjung pasti akan terkagum dengan detail yang dibuat mirip dengan aslinya.

Tak seberapa jauh, pengunjung dapat menemukan bangunan unik terdiri dari susunan bata merah. Rupanya inilah replika reruntuhan Kerajaan tua  Ayutthaya. Nah, kalau turis Indonesia mau ke tempat aslinya, butuh waktu berjam-jam untuk sampai dari Bangkok.

Selain bangunan istana dan kuil, di taman luas yang bentuknya menyerupai siluet peta negara Thailand ini dapat juga dilihat begitu banyak patung menawan. Misalnya saja patung kisah Ramayana berwarna putih dilengkapi danau dan air terjun kecil.

Dari semua anjungan, banyak pengunjung menyukai replikasi The Hall of the Enlightened. Atapnya yang berwarna keemasan dan hijau langsung menarik mata dari kejauhan. Untuk masuk ke bangunan utama, pengunjung harus menapaki jembatan melewati danau. Di bangunan utama terdapat sejumlah patung Budha. Tempat ini sangat cocok untuk lokasi pemotretan.

Floating Market

Katanya, belum ke Thailand kalau tidak pasar terapungnya. Tapi dari Bangkok cukup memakan waktu menuju ke lokasi pasar terapung. Untunglah di Ancient Siam ini ada tiruannya.

Di anjungan floating market, pengunjung benar-benar bisa merasakan hal yang sama dengan aslinya. Ada danau buatan dikelilingi bangunan khas Thailand. Tentu saja lengkap dengan pedagang jajanan di atas perahu dan tempat makan di sekitarnya. Ada pula jembatan yang membuat lokasi ini benar-benar menyenangkan, terutama untuk foto-foto narsis. Jika dipasang di Facebook, orang akan mengira kita benar-benar berkunjung ke floating market asli.

Sepanjang perjalanan mengelilingi Ancient Siam, sebagian besar bangunan yang dilihat berhubungan dengan agama Budha dan Hindu. Tapi jangan khawatir, pengunjung yang ingin sholat  bisa menemukan mushola di anjungan floating market. Walaupun kecil, tapi bersih.

Berkeliling ke Ancient Siam, selain mendapat pengetahuan sejarah dan budaya Thailand, juga mendapat sehat karena mengelilinginya sambil bersepeda. Tapi disarankan datang di pagi hari, biar tidak merasa kepanasan.

Rasanya, menyenangkan juga bila di Bandung dan sekitarnya terdapat museum terbuka semacam ini.

(Benny Rhamdani, Traveler tinggal di Bandung)

Foto-foto: Benny Rhamdani



Tulisan Ini dimuat di Harian Umum PIKIRAN RAKYAT 12 Juli 2014