Wednesday, July 9, 2014

Römerberg, Kota Tua di dalam Kota Modern Frankfurt



Sungguh saya merasa takjub bisa berdiri di Römerberg, yang merupakan  alan-alun  kota tua (Altstadt) Frankfurt, Jerman. Para turis biasanya menjadikan alun-alun ini sebagai awal perjalanan wisata dalam kota. Apalagi di sini berdiri pusat informasi wisata. Juga tempat pemberangkatan bis wisata. Selain bangunan tua, kita juga bisa menikmati aksi para artis pantomim yang berdiam dalam waktu yang lama. Jika ingin berfoto bersamanya, jangan lupa siapkan uang receh.

Nama Römerberg berasal dari bangunan balai kota Frankfurt bernama Römer. Balai kota ini dibangun antara abad 15 dan 18 dengan gaya arsitektur Gothic. Bangunan utamanya dikenal sebagai Zum Römer, yang berarti penghormatan kepada Romawi. Bila sempat melongok ruang bersejarah tempat penobatan Kaisar Romawi, kita akan menyaksikan foto-foto raja dan kaisar Jerman, dari Friedrich Barbarossa yang memerintah pada tahun 1152 hingga Franz II, yang berkuasa pada tahun 1806.

Keramaian di  Römerberg  telah  berlangsung sejak abad ke-12, saat perdagangan besar-besaran dimulai. Bursa niaga ini menarik minat para pengunjung dan pedagang termasuk  dari Italia dan Perancis. Karena letaknya yang strategis, membuat kawasan ini jadi pilihan tempat utama penyelenggaraan berbagai pameran dan perayaan, termasuk perayaan penobatan Kaisar Romawi dulu.

Di sisi timur , berhadapan dengan Römer,  berdiri sederet bangunan rumah kayu  atau  Ostzeile. Inilah rekonstruksi bangunan rumah-rumah khas Jerman abad ke 15-16, yang pernah luluh lantak oleh pemboman Inggris saat perang PD II. Bangunan yang berdiri sekarang selesai  didirikan pada 1983. Uniknya, masing-masing rumah memilik nama.  Dari kiri ke kanan adalah Zum Engel, Goldener Greif , Wilder Mann, Kleiner Dachsberg-Schlüssel , Großer Laubenberg  dan Kleiner Laubenberg .

Saat ini, bagian bawah Ostzeille dipakai sebagai café dan tempat menjual cendera mata khas Frankfurt. Mulai dari magnet kulkas hingga hiasan dinding lengkap tersedia. Bahkan kaos sepakbola tim nasional Jerman. Tentu saja dengan harga tempat wisata yang lebih mahal jika dibandingkan kita membeli di stasiun kereta Frankfurt.

Berjalan ke selatan  Römerberg terdapat Historisches Museum. Tempat ini menyajikan rekaman sejarah kota Frankfurt. Di sini kita bisa melihat maket kota Frankfut jaman pertengahan, sebelum dihancurkan perang.  Di depan Historisches Museum terdapat Alte Nikolaikirche, gereja gothic permulaan yang dibangun pada tahun 1290. Dulunya bangunan ini digunakan sebagai gereja pengadilan untuk kaisar hingga abad ke-15.  Pada pukul 9:05, 12:05 dan 17:05 akan terdengar dentang rangkaian 35 lonceng gereja. Saya  beruntung bisa mendengar riuh rendah bunyi lonceng karena tepat di sana pukul 12.05 siang.

Karena waktu makan siang telah tiba, saya pun segera keluar dari Römerberg menuju kota Frankfurt modern yang sesungguhnya .  Menutup wisata jalan-jalan di Frankfurt dengan makan di kedai kebab dari para imigran.


Air Mancur Keadilan


"Inilah Dewi Keadilan! Dia tampak mengerikan. Timbangannya telah hilang.  Dewi yang malang. Dia kehilangan setengah lengannya, dibawa setan .”

Itulah kalimat yang ditulis  penyair Friedrich Stoltze saat menggambarkan Gerechtigkeitsbrunnen pada 1863. Kini, tentu saja kondisinya sudah membaik. Jika tidak, mana ada jutaan orang mau melakukan sesi pemotretan di dekat air mancur  keadilan itu.

Gerechtigkeitsbrunnen dibangun pada tahun 1543 dan beberapa kali direnovasi karena perang. Di tengah-tengahnya berdiri patung Dewi Keadilan membawa timbangan keadilan, tetapi tanpa penutup mata.  Air mancur yang keluar dari empat malaikat di bawah patung Dewi Keadilan melambangkan Keadilan, Sikap sederhana, Harapan, dan Cinta.  Pada masa penobatan kaisar, air yang keluar adalah anggur (wine) dan diperebutkan masyarakat setempat.

Air mancur keadilan itu berdiri di pusat Römerberg. Saat berdiri di sana, saya hampir  tidak percaya kota di Jerman ini pernah hancur akibat dibombardir pasukan udara Inggris pada Perang Dunia kedua (PD II).  Apalagi ketika menginjak kawasan yang didirikan pada abad 12 tersebut. Semua bangunan di sana tampak seperti benar-benar tua, padahal baru direkontruksi  pemerintah Jerman setelah PD II.

 Foto2: Benny Rhamdani