Monday, September 8, 2014

Mercusuar Galau di Bangkalan Madura


Mercusuar ini saya sebut Mercusuar galau.


Sedang galau? Kalau masih tinggal di sekitar Bangkalan, Madura, Jawa Timur, tak perlu khawatir. Ada sebuah mercusuar untuk meluapkan kegalauan siapapun. Terutama anak muda. Mau buktinya?

Perjalanan menuju mercusuar ini bisa dimulai dari mana saja. Yang penting menuju Bangkalan, Madura. Perjalanan yang saya lakukan diawali dari kota Surabaya dengan membonceng motor. Setelah melewati jembatan Suramadu yang keren itu, langsung belok ke kiri ke arah Bangkalan, melewati Masjid Agung Bangkalan dan terus menuju Pantai Sambilangan. 


Dari jarak duaratus meter, mercusuar pun terlihat jelas. Yes, akhirnya setelah satu jam lebih tiba juga. Silakan lihat di video ini.





Setelah membayar uang parkir ke petugas setempat, pengunjung akan diperkenankan masuk ke dalam mercusuar setinggi 65 meter yang dibangun pada zaman kolonial ini. Nama bekennya adalah Mecusuar ZM Willem III atau Menara Suar Sambilangan. Mengapa saya menyebut 'mercusuar galau'? 


Mercusuar ini mencapai  tinggi 65 meter dengan 17 lantai.Untuk mencapai ke puncak menara kita harus menaiki ratusan anak tangga. Nah, buat yang fisiknya tidak prima, silakan ngos-ngosan dan berhenti di setiap lantai sambil memandang alam sekitar lewat jendela mercusuar. Tetapi jangan galau dulu.

Konon, ada lorong untuk mengangkat barang ke puncak menara atau sejenis lift tapi keadaannya sudah tidak bisa digunakan lagi. Maklum saja, mercusuar itu dibangun tahun 1879, saat masa penjajahan Belanda.

Makin ke atas, diharap berhati-hati karena ruang naik tangga kian sempit. Bahkan ada anak tangga yang ompong. Ada uga yang anak tangganya berbeda, lebih tipis, karenanya tetap harus hati-hati. Pada puncaknya, kita akan melihat lampu  mempunyai jangkauan  sekitar 20 mil, agar terlihat kapal-kapal di laut.
Pemandangannya keren.

Kita bisa keluar mercusuar, berdiri di selasar menghadap ke pantai. Sangat indah. Belum lagi angin kencang yang menerpa. Enaknya sih sambil makan es krim atau ngebakso. tapi jangan coba-coba kalau anginnya keras.

Sayang saja, pemandangan itu rusak seketika ketika melihat coretan di dinding mercusuar. Coretan galau dari pengunjung galau. Menurut penjaganya, sangat sulit mengggugah kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan. "Apalagi yang datang ke sini kebanyakan anak-anak muda yang sering galau," tambahnya.

Nah, itulah sebabnya saya menyebut mercusuar ini sebagai 'mercusuar galau'.

Kerjaan siapa ini?

Yang galau dilarang naik ke sini.
Foto: Benny Rhamdani