Sunday, September 7, 2014

Rahasia Kejantanan Pria Madura di Bukit Geger



Situs Bukit Geger

Selain garam dan karapan sapi, setiap disebut kata Madura, banyak orang mengaitkan dengan jamu dan madu keperkasaan pria. Entah benar atau mitos, nyatanya ada sebuah tempat di Madura yang juga diyakini merupakan tempat untuk meningkatkan kejantanan pria. Di mana itu?

Setelah saya melintasi jembatan Suramadu sepanjang 5.438 meter, akhirnya tiba juga di Pulau Madura, Jawa Timur. Begitu keluar dari pintu tol, tampak deretan  warung menjajakan pernak-pernik makanan dan oleh-oleh khas Madura, mulai madu hingga layangan dengan hiasan khas Madura..
            
Ya, kali ini saya dalam perjalanan ke wana wisata dan situs Bukit Geger di Kecamatan Geger, Bangkalan. Dari Kota Bangkalan lurus terus sekitar 30 km ke arah utara yaitu ke arah Kecamatan Arosbaya, lalu ke timur ke Kecamatan Geger. Setibanya di desa Geger, bukit yang biasa disebut masyarakat Madura dengan Gunong Geger ini sudah mudah dijangkau karena letaknya tepat di pinggir jalan desa. Namun karena naik motor, sempat panas juga bokong J

Untuk pengunjung yang tidak didampingi warga lokal, bisa minta didampingi pemandu yang bisa ditemui di tempat parkir. Tidak ada tarif khusus untuk pemandu. Biasanya pengunjung akan langsung diajak menapaki tangga yang jumlahnya puluhan undakan dengan kecuraman 50 derajat. Perlu tenaga ekstra dan kesabaran bagi yang sudah berumur atau jarang berolahraga. Tidak jarang pengunjung terlihat kepayahan di pertengahan jalan. Tapi itulah ciri khas tempat-tempat yang berkaitan dengan ritual reliji.

Tanjakan ngos-ngosan. Ketahuan yang rajin olahraga atau nggak.


Begitu tiba di puncak bukit, pengunjung akan disambut udara segar dan sejuk yang jarang bisa ditemukan di Madura. Pengunjung juga bisa melihat gerombolan kera berwarna abu-abu berekor panjang. Kera-kera itu biasanya berebutan mengambil makanan yang diberikan pengunjung. Selain kera, di kasawan hutan Bukit Geger bisa juga ditemukan ular pecut, ular viper hijau, ular phyton, landak dan musang berbulu coklat.

Di bukit Geger ini terdapat situs Pelanggiran. Konon, di areal situs inilah, pada kisaran abad ke 8, orang pertama di Pulau Madura mendarat di Bukit Geger menggunakan rakit bambu. Mereka adalah Patih Pranggulang dan Dewi Sekar Tanjung, putri dari Raja Giling Wesi di kaki Gunung Semeru, yang dibuang lantaran hamil secara gaib di luar nikah. Dari rahim Dewi Sekar Tanjung yang kemudian populer dengan sebutan Potre Koneng itulah, kemudian lahir putra asli Madura pertama, yang bernama Raden Segara.

Situs Pelanggiran Putri Koneng

Berikutnya, di pucak bukit sisi barat, juga terdapat dua goa keramat, masing-masing Goa Petapan dan Goa Potre, yang diyakini sebagai tempat pertapaan Patih Pranggulang dan Dewi Sekar Tanjung. Kedua goa ini, pada kisaran abad ke 13, juga pernah digunakan sebagai tempat pertapaan Adipoday dan Putri Kuning, ayah bunda Kudho Panule alias Jokotole, tokoh legendaris dari Kraton Sumenep.

Di depan kedua goa, terdapat situs makam yang diyakini sebagai kuburan dari Dewi Sekar Tanjung alias Potre Koneng. Sementara sekitar 10 meter di depan goa dan makam, juga ada situs Palenggian, yakni onggokan batu alam berbentuk kursi panjang. Konon, situs ini sering digunakan oleh Dewi Sekar Tanjung untuk duduk memandangi keelokan panorama laut yang dahulu mengitari bukit.

Di bibir tebing sisi Selatan, bisa dilihat Goa Pelanangan dan Goa Pancong Pote. Goa Pelanganan ini memiliki keunikan tersendiri, lantaran dari atap goa tersembul sebuah stalaktit  berbentuk mirip dengan kelamin pria. Karenanya dinamakan Goa Pelanangan (kelamin pria). Di kalangan penduduk sekitar, ada kepercayaan pria manapun yang meminum tetesan air dari stalaktik itu, akan memiliki kualitas kejantanan yang prima. Nah, inilah yang membuat banyak pria kerap mendatangi tempat ini.

Dari bibir jurang di depan Goa Petapan, Goa Potre dan Situs Palenggian itulah, para pengunjung bisa menikmati keelokan panorama alam yang amat eksotis, karena hamparan hutan rakyat seluas 1.300 ha lebih yang mengitari semua desa di Kecamatan Geger. Sementara di tengah kawasan hutan, juga terdapat sejumlah situs makam dan mesjid keramat.

“Sepuluh hari sebelum lebaran tempat ini banyak didatangi peziarah. Apalagi kalau lebaran, sampai penuh tempat parkir. Peziarah tidak hanya dari Madura, tapi dari luar Madura. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei,” jelas juru parkir setempat.

Hmm, yang jelas, tidak semua demi mendapatkan khasiat kejantanan itu sih.

^_^