Monday, September 1, 2014

Secuil Tentang Frankfurt Book Fair



Jangan mengaku insan perbukuan jika belum ke Frankfurt Book Fair (FBF). Begitu kata beberapa praktisi di Industri perbukuan. Maka jadilah FBF impian banyak editor, penerjemah, petinggi penerbitan, desainer, ilustrator, penulis dan masih banyak lagi. Seberapa istimewanya FBF ini?


FBF atau  dalam bahasa Jerman disebut Frankfurter Buchmesse merupakan pameran buku terbesar di dunia yang telah dimulai sejak abad ke-15 di kota industri, Frankfurt, Jerman. Terbesar dari sisi penerbitan yang ikut berpartisipasi dan pengunjungnya setiap hari. 

FBF digelar setiap Otober di Area Frankfurt Trade Fair. Perwakilan dari penerbit buku dan multimedia hadir untuk bernegoisasi mendapatkan hak penerbitan di negara masing dengan harga yang realistis. Alhasil, FBF jadi ajang  bergengsi bagi dunia perbukuan internasional dan merupakan ajang terbesar untuk transaksi copyright maupun unjuk karya literasi bermutu dari berbagai bangsa di dunia.  Pameran ini diselenggarakan oleh German Publishers and Booksellers Association. Selama sepekan sekitar 7.000 peserta dari lebih 100 negara dan lebih dari 286.000 pengunjung ambil bagian. 



Menurut sejarah, cikal bakal FBF berawal dari penermuan mesin cetak pertama oleh  Johannes Guttenberg lebih dari 500 silam di Mainz, tak jauh dari Frankfurt. Sejak itu pula digelar book fair pertama, hingga akhir abad 17 menjadi pameran buku terpenting di Eropa. Namun  sesuai perkembangan masyarakat, ajang tersebut dihalangi Leipzig Book Fair. Setelah Perang Dunia, tepatnya 1949, pameran pun kembali ke asal.

Sejak tahun 1976, digelar ajang a Guest of Honour (tamu kehormatan) yang menjadi  fokus selama book fair. Sebuah ruang pameran khusus disiapkan untuk tamu negara untuk melakukan pameran sesuai tema negaranya.


Saat saya berkunjung ke FBF pada 2012, tamu kejormatan adalah Selandia Baru. Negara tersebut membuat pameran buku dan kebudayaan lokal yang menarik.



Indonesia akan menjadi tamu kehormatan pada 2015. Saat ini, semua insan perbukuan Indonesia tengah mempersiapkan diri meramaikan ajang FBF. Meskipun sepengetahuan saya, belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah, tapi tak menyurutkan gairah pegiat perbukuan. Semoga saja pada saatnya nanti dukungan semakin bertambah, dan nama Indonesia benar-benar terangkat di mata masyarakat perbukuan dunia.


Saat ini, perbukuan Indonesia masih dianggap sebelah mata oleh peserta FBF. Umumnya pula, wakil penerbitan Indonesia yang datang masih sebagai konsumen. Bukan yang berhasil banyak menjual hak terbit di luar negeri.

Dan saya berharap bisa menjadi saksi hidup dengan hadir di FBF 2015 untuk melihat kesuksesan tersebut.  Melihat banyak penulis Indonesia hadir dan membagikan tandatangan di bukunya. Bukan hanya pengarang Eropa.







foto-foto: Benny Rhamdani