Tuesday, October 28, 2014

Pengusaha Kuliner Padang Ini Dulunya Tukang Cuci Piring

Amril Restu Mande, pengusaha kuliner masakan Padang yang inovatif.


Kehidupan sebagai mahasiswa rantau  di Kota Kembang harus dijalani tak seglamour kebanyakan teman-temannya. Kiriman uang dari orangtua yang tak seberapa, membuat pria bernama Amril itu mengambil kerja serabutan selepas kuliah. Salah satunya adalah sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan di kawasan Pasar Baru, Bandung. Siapa sangka suatu hari kelak, pria ini menjadi seorang pengusaha kuliner masakan Sumatra Barat dengan brand yang mendunia.

Amril setelah wisuda pun melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan seperti kebanyakan lulusan universitas. Karirnya melesat, hingga mencapai posisi manajer pemasaran wilayah di sebuah peruasahaan  trading. Namun jiwa wirausahanya terus menggelitik pikiran.

“Saya berpikir terus, kalau bekerja di perusahaan orang lain mau jadi apa kelak?” cetus pria yang kini telah memiliki dua anak ini ketika bercakap dengan saya di sebuah mal di kota Bandung, akhir pekan lalu.

Saya dan Amril Restu Mande, pengusaha kuliner yang tak puas berinovasi dan ingin menduniakan masakan Sumatra Barat.

Amril kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja pada tahun 2003. “Padahal prestasi saya saat itu sedang bagus. Karena saya bisa memberi omset paling tinggi  secara nasional di antara manager lainnya. Dan karena saya yang mengajukan berhenti, saya tidak mendapat uang pesangon,” paparnya.

Keputusannya didukung penuh mojang Bandung yang dinikahinya, Nenden Rospiani. Amril pun banting stir mendirikan rumah makan Padang bernama Restu Mande. Kata ‘mande’ berarti ibu. Warung pertamanya didirikan di komplek Pasar Antri, Cimahi.

“Terus terang saya tidak banyak tahu tentang masakan rumah Padang. Saya tidak bisa masak. Tapi tekad saya sudah bulat untuk bisnis di rumah makan ini,” kata Amril yang kemudian karena keterbatasan modal harus mau bekerja rangkap. Mulai dari tukang belanja, mengolah bahan, memasak, melayani pembeli hingga kasir.


Saya dan Amril Restu Mande
Hebatnya, Amril tak mau menyerah karena keterbatasan pengetahuan ihwal masakan Padang. Setiap kali dia memasakah menu baru, dia selalu menelepon pamannya untuk memandunya memasak. “Jadi sering kali saya memasak sambil menelpon paman saya,” ujar pria asal Pariaman ini.

Tidak hanya itu, Amril banyak belajar tentang masakan Padang justru dari konsumen yang datang ke rumah makannya. Dia senantiasa menanyakan rasa masakan kepada tamu. Jika ada kekurangan, Amril akan memperbaiki resep masakannya.

Tentu saja usahanya tidak selalu mulus. Pengalaman pahit pun harus ditelan pada saat awal merintis bisnis kulinernya. Suatu hari dari rekan isterinya yang rajin berpromosi di acara pengajian dan arisan, Amril mendapat order katering acara sebanyak 500 porsi. Semua sudah disiapkan dengan baik. Namun kecelakaan fatal terjadi karena orang yang membantunya memasak berbuat teledor yang membuat daging sebanyak 30 kilogram hangus.

Amril dan Nenden pun berusaha memecahkan masalah sebisa mungkin. Mereka akhirnya menelepon sejumlah kerabat untuk meminjam uang, lalu membelikan masakan jadi dari rumah makan lainnya. Alhasil memang jadinya nombok, tapi setidaknya berhasil menyelamatkan nama baiknya di mata klien.

Hingga sebuah kejadian menyesakkan tak bisa dihindari kemudian. Kebakaran yang melanda Pasar Antri membuat bisnis rumah makan Amril ikutan terpuruk. Tapi tidak demikian dengan semangat Amril.

Inovasi dan Internasional


Restu Mande Ujungberung
Berbakal bantuan  pinjaman kredit usaha, Amril kemudian merintis kembali rumah makan padangnya di Jalan Brigjen Katamso 64 Bandung pada tahun 2004. Letak yang strategis di dekat kawasan militer membuat usahanya sudah berhasil stabil dalam waktu kurang dari dua tahun.

Tak mau cepat puas, Amril pun membuat terobosan baru dalam bisnisnya. Pada tahun 2010 dia mulai membuat percobaan rendang dalam kemasan yang awet. Ide ini juga muncul ketika isterinya mendapat permintaan dari rekan-rekannya agar dibuatkan rendang yang tahan lama untuk dibawa ke luar negeri sebagai oleh-oleh.
Restu Mande Jl. Brigjen Katamso Bandung

Setelah melakukan berbagai percobaan, juga melalui uji coba laboratorium, akhirnya Amril berhasil membuat rendang dalam kemasan yang mampu bertahan hingga 459 hari  untuk rendang sapi dan 294 hari untuk rendang ayam. Keduanya tanpa pengawet kimia dan MSG. Boleh dibilang Amril dengan merk Restu Mande merupakan pionir rendang dalam kemasan di dunia.

“Saat ini yang mengikuti produk rendang kemasan sudah banyak. Bukan masalah bagi saya.  Tapi saya menyayangkan beberapa di antaranya yang tidak melewati prosedur uji laboratorium lebih dulu,” kata pria yang berdomisili di kawasan Cibiru ini. Bahkan Amril pernah menemukan produk pengekor yang meniru persis desain kemasannya, padahal pelakunya adalah teman yang juga dikenalnya di pameran.

Rendang kemasan Amril umumnya banyak dibeli orang sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke luar negeri dalam waktu lama. Termasuk ketika musim haji. Malah belakangan banyak orang yang mengambil langkah praktis  untuk hidangan hari raya dengan mengambil produk ini.

Berkat inovasinya Amril pernah dinobatkan menjadi pengusaha terbaik tingkat Jawa Barat. Puaskah? Ternyata tidak. Amril saat ini juga mulai berbisnis lainnya di bidang kuliner, yakni bumbu siap saji, mulai dari bumbu rendang, bumbu gulai ikan, bumbu gulai ayam, bumbu gulai daging, dan bumbu bakar.
Produk andalan Restu Mande, rendang dalam kemasan.

“Banyak orang Indonesia yang tinggal di luar negeri saat ini. Contohnya di Korea Selatan. Mereka sering rindu masakan Indonesia seperti rendang. Sayangnya, untuk mengekspor rendang instan dalam kemasan kami sering menemukan masalah dengan kebjiakan impor daging di negara luar. Karena itu kami cari solusinya dengan membuat bumbu kuline Sumatra Barat dalam kemasan ini,” ungkap Amril yang kerap ikut pameran produk di dalam dan luar negeri.

Amril mengaku dia memang menghendaki masakan Sumatra Barat bisa dicicipi  seluruh dunia. Apalagi kini rendang sudah digadang-gadang sebagai masakan paling lezat di dunia. Apalagi menjelang AFTA dan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini.

“Jangan sampai kita malah dijajah oleh masakan asing. Sebaiknya malah kuliner kita yang tersebar ke seluruh dunia,” tandas pengusaha yang juga telah membuka cabang restorannya di Jalan AH Nasution Ujungberung, Bandung ini  sambil tersenyum.

^_^

foto-foto: Benny rhamdani dan dokumentasi Restu Mande