Wednesday, November 12, 2014

Inilah 5 Penulis Muda Genre Horor Indonesia


Siapa bilang anak muda Indonesia nggak kreatif?  Lima anak muda ini memilih berkarya di jalur penulisan novel. Jeli melihat persaingan ketat di dunia penulisan, mereka nggak tanggung-tanggung memilih jalur horor. Dan buku mereka best sellers! Bikin sirik nggak sih?

Biar makin sirik, kenalkan lima penulis tersebut. 

Sucia Ramadhani




Mojang Bogor berusia 17 tahun ini menulis sejak SMP dan kini sudah jadi mahasiswi  Sastra Indonesia, Universitas Indonesia 2014.

“Saya menulis novel horor  karena suka dengar cerita horor dari teman-teman. Jadi terinspirasi buat nulis horror,” kata penulis novel Ghost Dormitory 1 dan 2 yang sudah masuk cetakan ke 14.

Sebelumnya, Sucia pernah menulis genre fantasi  umum , persahabatan dan petualangan. Gara-gara menulis fiksi horror dia kini meraup royalty yang realtif besar. “Bahkan dikenal banyak orang gara-gara nulis Ghost Dormitory.  Sampai dijadikan jadi ulasan mahasiswa semester  lima,” sambung penulis yang menggunakan royaltinya untuk kuliah dan keperluan emmbeli buku kesukaannya.

Apa asyiknya jadi penulis genre horror? “Bisa berimajinasi lebih jauh, mengkreasikan cerita horror orang lain dengan imajinasi sendiri,” tandasnya.

Akbar Suganda



Cowok ganteng  berusia 17 tahun ini masih berstatus  siswa SMA 1 Batusangkar kelas XII IPA. Dia belum pernah menulis selain genre horror. “Karena horor itu menyenangkan,” kata Ganda yang menulis buku laris Haunted School 1 dan 2 serta Annabelle.

Hal yang membuat Ganda betah menekuni genre horror karena,”  Saya  suka yang horor-horor jadi idenya lebih mudah mengalir, dan biar orang-orang yang tidurnya telat jadi ketakutan hahaha.” Pastinya, dia bisa menabung untuk biaya kulianya kelak dengan menjadi penulis genre horor.


Alief Wheza Harsojo



Penulis berpostur jangkung ini baru berumur 16 tahun dan masih tercatat sebagai  siswa kelas  di Sekolah Indonesia Singapura di Siglap, Singapura. Miantanya menekuni fiksi horor karena satu hal.

“Aku melihat lebih banyak pembaca yang minat di genre horror ketimbang genre-genre yang lain,” ucap cowok yang sering bolak-balik ke Jakarta untuk kegiatan promosi dan gathering dengan penggemarnya.

Sebenarnya Wheza sendiri lebih suka menekuni genre fantasi. Namun penulis Halte Aggker ini mengaku sebenarnya lebih menyukai genre fantasi. “Tantangannya ada ketika aku yang awalnya menulis di genre Fantasi mencoba berbelok ke dunia horror. Ini menyenangkan! Dari horor siapa tahu bisa mengangkat novel fantasiku,” kata penulis Legend Hell Sword ini.

Setelah menekuni dunia penulisan horor, Wheza merasa ada pengaruh dengan kehidupannya di luar sekolah,t erutama di pertemanan. “Aku jadi punya banyak teman, dan masing-masing teman itu punya kepribadian unik, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Jadi bisa lebih mengenal dunia luar,” uncap cowok yang mengaku menyimpan royalti yang diterimanya, dan untuk saat ini tidak dipikirkan dulu untuk apa. “Aku hanya ingin menulis buku yang suatu saat nanti akan disukai oleh banyak orang.”

Ditta Hakha



Penulis muda berusia 17 tahun ini masih berstatus siswi  SMAN 1 Bojonegoro, Jawa timur . Alasan Ditta menulis cerita horor karena TREND. “genre horror sekarang lagi trend dan disukai pembaca. Selain itu, ada sensasi sendiri waktu nulis horror. Yang paling penting, harus bisa mengontrol rasa takut diri sendiri,” jelas penulis novel Wooley Dooley ini.

Dari cuman mencicipi, ternyata Dita yang semula menulis tema persahabatan mulai merasakan asyiknya menulis genre horor. “ Aku bisa mengekesplore seluruh imajinasi. Dan yang paling asik, aku bisa menciptakan "makhluk" sendiri,” kata  penulis yang menabung seluruh uang royalti yang diterimanya.

Billy Briliant


Cowok yang aktif dengan banyak kegiatan ini  baru berusia 17 tahun dan tecatat sebagai siswa SMA Negeri 1 Purwokerto, Jawa Tengah,  Kelas 2 IPA. Billy yang semula menulis genre pershabatan dan fantasi kini mulai menekuni fiksi horor.

“Aku suka banget nulis horor. Suka bermain dengan kata2 yang dapat menggetarkan hati,” jelas penulis Deadly Claws ini.

Karena kegiatan menulis ini, Billy beberapa kali memenangkan  lomba di luar menulis berskala nasional. Kadang Billy berpromosi juga bukunya di ajang-ajang pemilihan duta siswa ataupun delegasi konfrensi untuk anak SMA.


“Jadi penulis horor itu, walaupun suka takut sendiri, tapi iamjinasinya bisa mengalir terus,” kata cowok yang menggunakan uang royaltinya untuk menabung dan membeli barang yang disukainya.