Friday, November 14, 2014

Menunggu Gebrakan Pariwisata di Madura


Gerbang menuju Jembatan Suramadu


Bulan Ramadan tahun ini saya harus dinas ke Surabaya, Jawa Timur. Karena ada satu hari luang, saya putuskan untuk melancong ke Madura. Setelah tanya sana-sini, dengan waktu sesingkat itu kebanyakan menyarankan saya untuk keliling Bangkalan di Madura.

Beruntunglah seorang anggota Forum Lingkar Pena, Noevil mau menemani saya, sekaligus memberi boncengan. Hmm, bagaimana rasanya ya menyeberangi Jembatan Suramadu pakai motor?

Sekitar pukul sembilan pagi kami sudah membelah kota Surabaya menuju ke arah Suramadu. Saya pun mulai memainkan kamera video untuk merekam jejak saat melintasi Jembatan Suramadu pertama kali. Biar bagaimana pun ini momen bersejarah saya melintasi jembatan terpanjang di Indonesia, yakni 5.438 meter.

Rasanya luar biasa dapat melintas jembatan yang mengeluaran biaya 4.5 triliun rupiah ini. Walaupun cuaca agak mendung dan angin bertiup kencang. Coba lihat di video  ini.




Sambil merekam sekitar jembatan, saya bertanya-tanya, kejutan apakah yang akan saya hadapi begitu sampai seberang? Saya berharap ada sesuatu yang berbeda dengan pemandangan kota Surabaya yang saya lewati tadi.

Ternyata, saya benar-benar terkejut. Begitu mendarat di Bangkalan saya menemukan area yang memang jauh dari kota Surabaya. Tapi juga jauh dari bayangan saya.


Ini gerbang Madura selepas Suramadu. Di luar perkiraan saya.
Lahan-lahan kosong ini bisa dioptimalkan untuk menunjang pariwisata.

Penataan kios-kios semi permanen sebaiknya diperhatikan.



Mendarat di Bangkalan membuat saya seperti masuk ke area tak berpenghuni. Belum ada fasilitas yang memadai sebagai sebuah kawasan yang diharapkan berkembang setelah diresmikannya Suramadu lima tahun lalu.

Baliho yang berdiri di sisi jalan maupun melintang adalah promosi perumahan. Tak ada informasi destinasi wisata di Madura. Selain itu, saya merasakan kurangnya penghijauan di sisi jalan. Apakah karena saya berkunjung di musim kemarau? Tapi kalau melihat jumlah batang pohon yang berdiri pun memang kurang meneduhi.

Noevil kemudian mengajak saya memasuki keramaian Bangkalan. Ada rumah makan terkenal yang terpaksa saya lewati begitu saja karena bulan puasa. Toko-toko batik pun belum buka karena menghadapi waktu shalat Jumat.

Suasana relijius ini cepat saya tangkap, apalagi ketika melihat warga pria Bangkalan mayoritas bersarung, walaupun sedang berkendaraan. Juga di beberapa sudut saya melihat baliho iklan sarung yang mendominasi.


Di kota Bangkalan, kami mendinginkan mesin motor sejenak di halaman masjid Agung Bangkalan.

Masjid-masjid Indah

 Hal paling saya suka dan membuat saya berdecak kagum saat keliling Bangkalan adalah melihat banyaknya masjid di pinggir jalan dengan artsitektur menarik. Saya jadi ingat perjalanan ke Lombok yang memang dipenuhi masjid-masjid indah dengan kubah warna-warni.

 Masjid yang pertama saya singgahi adalah Masjid Agung Bangkalan yang memiliki kaitan erat dengan sejarah awal perpindahan pusat pemerintahan kerajaan di Madura sekitar 1774. Dari mana saya tahu? Dari Internet setelah berkunjung ke sana. Bagusnya memang info sejarah masjid bisa dilihat di salah satu sudut.

Saya suka sekali dengan interior masjidnya yang dipenuhi ukiran kayu. Lihat yuk  lewat rekaman video amatiran saya ini.





Setelah dari Masjid Agung saya juga terkesan dengan Masjid Pesarean Syaichona Moh. Kholil Martajesah. Saat saya berkunjung kaget juga ketika melihat jumlah orang yang sedang itikaf di sana. Rupanya masjid ini menjadi destinasi wisata ziarah dari berbagai pelosok Nusantara. Tapi saya tidak mendapatkan infonya di papan petunjuk jalan selama di perjalanan. Padahal masjid ini sangat potensial mendongkrak wisata Madura.


Masjid Pesarean Syaichona Moh. Kholil Martajesah


Selfie dulu di depan Masjid Pesarean Syaichona Moh. Kholil Martajesah
Penampakan dalam Masjid Pesarean Syaichona Moh. Kholil Martajesah


Banyak masjid cantik di Madura. Kagum.





Di luar masjid-masjid itu, saya juga menyempatkan mampir ke Mercusuar ZM Williem III yang penuh corat-coret (baca tulisan saya: Mercusuar Galau di Bangkalan Madura) dan Bukit Geger yang mempunyai daya tarik istimewa (baca tulisan saya: Rahasia Kejantanan Pria Madura di Bukit Geger).

Terus terang, saya kurang puas keliling Madura. Saya ingin sekali ke Sumenep, yang menurut cerita banyak teman blogger memiliki pantai yang sangat indah dan potensial mengalahkan Bali. Saya juga ingin melihat sudut-sudut Madura lainnya. Tapi kereta Mutiara Selatan sudah menunggu saya untuk kembali ke Bandung sorenya.

Semoga, saya bisa mendapat kesempatan berkunjung lagi ke Madura. Mungkin harus sepekan di sana agar dapat mengeksplorasi banyak hal, lalu menuliskannya di blog dan media cetak seperti biasanya. Ada yang mau jadi sponsor?


Catatan Untuk Pengembangan Wisata Suramadu

 Mercusuar ZM Williem III yang menawan di
Bangkalan, Madura.



Entah mengapa, saya optimis sekali dengan kunjungan singkat ini dengan pariwisata Madura, suatu saat pasti akan menggebrak. Potensi budaya juga keunikan alamnya membuat Madura sangat eksotik bagi banyak penggemar wisata. Apalagi dengan adanya Jembatan Suramadu yang hingga kini rekornya belum terpecahkan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk percepatan pengembangan wisata kawasan Suramadu adalah:

1. Membangun informasi yang terintegrasi antara Surabaya dan Madura. Surabaya sebagai ibukota provinsi harus mengoptimalkan informasi wisata Madura dari segala titik penjuru kedatangan tamu, seperti di bandara, stasiun kereta, pelabuhan, hingga terminal bus. Bahkan di titik-titik keramaian seperti mall dan tujuan wisata di Surabaya, dipromosikan juga destinasi wisata Madura, termasuk keindahan Jembatan Suramadu.

2. Membangun infrastruktur yang menunjang pariwisata di sekitar kaki Jembatan Suramadu. Semisal membuat dermaga dan alun-alun di sekitar kedua pangkal Jembatan Suramadu. Dibuat taman seperti halnya yang sedang digalakkan di kota Surabaya, juga spot-spot menarik untuk berfoto dengan latar Jembatan Suramadu. Saya tahu dari website Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) sudah membuat program tersebut, semoga terjadi percepatan.

3. Menggalang komunitas-komunitas di kawasan Jembatan Suramadu untuk mengelar agenda seni budaya maupun olahraga, serta menjaga keasrian lingkungan di kawasan Jembatan Suramadu. Komunitas-komunitas ini harus didukung juga oleh pemerintah dan swasta. Cara ini sangat populer dilakukan oleh pemerintah kota Bandung saat ini.

4. Menyediakan beberapa fasilitas wisata yang unik, seperti bis tingkat wisata dari Surabaya ke Madura dan sebaliknya. Bisa juga perahu-perahu wisata milik pemerintah untuk melihat Jembatan Suramadu dari Selat Madura. Hal kecil lainnya, adalah menyediakan locker untuk menyimpan bagasi di stasiun kereta dan terminal bus untuk para traveler yang singgah di Surabaya dan ingin melakukan perjalanan singkat sehari melintasi Jembatan Suramadu.

5. Kepada masyarakat nasional maupun internasional, dilakukan promosi yang terpadu wisata Surabaya dan Madura. Baik promosi yang berbudget tinggi maupun rendah, seperti memanfaatkan media jejaring sosial.

Dengan fokus kepada pengembangan wisata, diharapkan bisa mendongkrak taraf ekonomi masyarakat di Suramadu, bahkan memberi konstribusi besar kepada pendapatan daerah setempat.

Semoga, suatu hari nanti ketika melintasi Jembatan Suramadu, saya bisa menemukan banyak perubahan yang mengejutkan.

^_^

Foto-foto: Benny Rhamdani