Monday, April 13, 2015

Abidin Traveler (2): Chanakyapuri dan Chaseiro



Jadi tamu undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) India  adalah pengalaman pertama buat saya jadi tamu secara diplomatik. Ternyata menyenangkan. Hal itu terasa sejak mulai datang hingga kepulangan. Dan yang bikin saya terkejut, saya bertemu dengan personel band favorit saya dulu, Chasseiro.

Begitu sampai Indira Gandhi International Airport  saya  dijemput salah seorang staf KBRI yang warga India tapi mahir juga bebahasa Indonesia. Oh iya, perjalanan dinas ini saya masuk dalam rombongan utusan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dalam rangka New Delhi World Book Fair 2015, terdiri atas tujuh orang.

Saya bisa melenggang dari antrean panjang check out karena melintasi jalur diplomatik. Kecuali dua rekan saya yang memakai Visa on Arrival karena harus ke bagian Imigrasi terlebih dulu. Sambil menunggu, saya mulai menukar bekal uang dollar ke rupiah di money changer bandara.

Tak lama kemudian rombongan pun diajak bergegas ke luar bandara, dan rupanya rombongan kami sudah dinantikan. Bukan apa-apa, panitia pameran buku dari KBRI harus segera menyiapkan display pameran buku. Jadi terjadilah acara membongkar koper di pelataran bandara. Sejumlah buku yang dibawa harus segera dibawa ke pameran, sehingga langsung dipindahkan ke salah satu mobil.

Otomatis koper yang saya bawa pun turun bobot secara drastis. Lumayan buat tempat oleh-oleh nanti.


Chanakya Puri, Kawasan Menteng New Delhi

Serunya jadi tamu  KBRI India. (foto: Benny)




Kami tiba di Bandara sudah tengah malam. Tak ada waktu untuk berleha-leha karena harus segera istirahat. Tujuan kami adalah wisma KBRI India yang terletak di kawasan  Chanakyapuri. Kalau di Jakarta, seperti kawasan Menteng.  Sehubungan sudah malam, saya tidak begitu dapat melihat jelas bagaimana kawasan itu ketika datang.

Saat fajar menjelang, saya langsung kebelet melihat suasana di sekitar KBRI. Nggak seperti wajah India yang sering ditayangkan di media, kumuh dan jrorok.

Chanakyapuri dibangun oleh pemerintah India pada tahun 1950 memang khusus untuk kawasan diplomat. Letaknya hanya 14 km dari Bandara Internasional  Indira Gandhi. Sebagai kawasan khusus, tentu segalanya ditata khusus. Tak heran bila saya melihat keadaan sekitar tidak seperti di foto-foto teman-teman saya yang ke India.

Karena eratnya persahabatan Soekarno dengan Perdana Menteri kala itu yakni Nehru, letak kantor KBRI adalah yang paling dekat dengan rumah Nehru. Bahkan kabarnya adalah yang terluas areanya. Namun sayang, area tersebut tak terurus sehingga jadi merusak pemandangan. Alhasil, pemerintah India kemudian mengambil sebagain area untuk kantor militer.

Saya bisa membayangkan betapa luasnya area asli KBRI, karena saat ini pun area KBRI masih terbilang luas.

Banyak yang menyebutkan, pemerintah Indonesia kurang menghargai kebaikan pemerintah India. Bahkan di saat kantor kedutaan negara lain berlomba didesain menarik, kantor KBRI nyaris tampak dibiarkan begitu saja sejak berdiri tahun 1950. Baru dua tahun inilah mulai dibenahi, tapi belum juga selesai.

Jadi ketika saya menginap di wisma KBRI, terlihat pabalatak di sekitarnya. Bahkan suara tukang memalu terdengar hingga ke dalam ruangan.  Pastinya, saya merasa beruntung menjadi orang pertama yang menampati wisma KBRI setelah renovasi. Bau cat masih tercium. Seolah memang direnovasi untuk kedatangan saya dan rombongan.

Sepintas teringat komentar seorang teman yang pernah bercerita bahwa dia tak mau lagi menginap di wisma KBRI karena berkesan menyeramkan. Hmmm, ya mungkin dulu ketika belum dienovasi.

Kembali soal hubungan India dan Indonesia, sebenarnya tidak bisa dibilang baik, walaupun bukan berarti buruk.  Mengapa? Karena seharusnya kalau mengingat sejarah, semestinya India dan Indonesia benar-benar harus seperti bersaudara. Nyatanya tidak.

India pernah merasa kesal karena Indonesia yang katanya non-blok  ikut-ikutan mendukung Pakistan ketika terjadi konfrontasi dengan India.  Gara-gara ini pula, konon nama Soekarno tidak  dijadikan nama jalan di India. Tak ada satu pun. Sementara di Pakistan bisa ditemukan di dua kawasan.

Hubungan diplomatik pun sempat terganggu, ketika pemerintah Indonesia tidak mengutus dutabesarnya alias kosong selama dua tahun.



Personel Chaseiro

Foto bareng pejabat, siapa tahu menular sukses mereka. (foto: Benny)




Salah satu hal yang bikin saya senang tinggal di Wisma KBRI adalah dapat bertemu atasa pendidikan Prof. Iwan Pranoto.  Pria lulusan Institut Teknologi Bandung ini sangat banyak menjelaskan tentang kondisi India dengan gayanya yang santai. Pokoknya, saya nggak merasa ngobrol dengan seorang birokrat maupun profesor.

Dari professor ini pula saya tahu bahwa Indonesia masih memandang sebelah mata terhadap kekuatan India. Padahal menurutnya, dengan penduduk lebih dari satu milyar, Indonesia bisa membidik hubungan dagang dengan India. Di sektor pendidikan, Profesor Iwan juga menanggapi rendahnya minat mahasiswa di Indonesia belajar di sana.

“Jumlah mahasiswa Indonesia di India sekitar 90 orang  saja,” jelas Profesor Iwan. Padahal, menurutnya India memiliki beberapa universitas yang baik untuk dimasuki.  Bisa jadi lantaran masih banyak yang menganggap pendidikan di India tertinggal jauh.

Namun info yang sangat mencengangkan saya adalah ketika Prof. Iwan member informasi jika Duta Besar Indonesia di India adalah personel band Chaseiro. Lho, itu kan band yang dulu saya suka lagu-lagunya.  Tapi saya belum ‘ngeh’ yang mana, karena di Chaseiro nama yang paling saya ingat adalah Chandra Darusman. Sedangkan nama duta besar adalah Rizali Indrakesumah.

Akhirnya, ketika dijelaskan  Pak Dubes adalah juga personel Pancaran Sinar Petromaks dengan nama panggung Rojali, barulah saya ingat. Dan saya benar-benar ingat ketika bertemu langsung Pak Dubes dan beliau mengakuinya langsung. Wow, keren juga punya dubes yang seorang bassis dan vokalis.

Intinya sih, saya senang menjadi tamu di Wisma KBRI ini. Apalagi bisa bertemu orang-orang hebat di dalamnya.

^_^